Ahad Tenang di Halaman Rumata’

Ini mungkin sebuah renungan, bagaimana menjadi Indonesia?

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Selalu ada alasan untuk berkunjung ke Rumata’ artspace di Jalan Bontonompo No 12 Makassar.  Ahad lalu, sekitar 30 orang berkumpul di halaman belakang Rumata’, menikmati “Minggu Tenang” bersama pertunjukan music Fandy, ada juga pembacaan puisi hingga pidato. Tapi ini bukan pidato seorang Caleg—calon anggota legislatif—, Moch Hasymi Ibrahim berpidato tentang “Mengalami Indonesia”.

Ami Ibrahim, sapaan akrab Moch Hasymi, dalam pidatonya melempar kita ke masa lalu, bagaimana pentingnya Indonesia bagi warga Desa Binanga Benteng, Kecamatan Bonto Sikuyu, Kabupaten Selayar.

Konon kakek buyut warga Binanga pernah disapu rata dengan stigma-merah, pendukung partai terlarang, karena mereka pemeluk teguh keyakinan lama, lalu mereka terprovokasi jadi pemilih partai berlambang palu dan arit pada pemilu 1955. Usai pemerintahan Soekarno, mereka yang lolos dari penangkapan dan penjarahan, anak cucu dan kerabatnya wajib lapor ke Kodim setempat di Benteng Selayar dan mungkin terpaksa menjadi Islam. “Bagi mereka, Indonesia adalah Islam,” ungkap Ami.

Lalu apakah Indonesia bagi kita? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita jawab, 9 April besok, kita bisa memilih orang-orang yang akan mewakili suara rakyat dari dalam bilik suara. Tapi bisa jadi, pilihan kita juga tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

Kata Ami, Indonesia bgai sejumlah ahli adalah sebuah komunitas-terbayangkan, sebuah entitas yang nyaris permanen. Ada juga yang menyebut semua yang berlangsung dalam altar nusantara ini adalah proses berkesinambungan menuju Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukan sebuah proyek yang sudah final. Tapi seperti warga Binanga, Indonesia mungkin bisa dipandang sebagai identitas-tunggal.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita bisa jadi mengalami banyak guncangan dalam kehidupan sehari-hari kita. Apalagi harus mengenali sekitar 200 ribu Caleg yang akan memperebutkan 19 ribu kursi ditahun 2014 ini. Dari Sulawesi Selatan saja ada 9.240 Caleg yang bersaing memperebutkan 924 kursi parlemen di Dewan Perwakilan Rakyat RI, DPRD Sulawesi Selatan, dan DPRD kabupaten/kota.

Beberapa hari ini, bahkan sebelum masa kampanye dimulai, mereka hadirnya disemua titik kehidupan. Nyaris tak ada jalan, lorong, dan ruang yang bersih dari baliho, spanduk mereka. Di layar televisi mereka bisa muncul setiap saat. Hari ini adalah “Ahad Tenang” hingga tulisan ini diterbitkan masih menjadi hari yang tenang, tapi masih saja kita temukan slogan-slogan mereka menempel di pohon, berdiri di tepi jalan. “Pandanglah gambar-gambar Caleg itu, baca slogan-slogan mereka, sakikan selintas advertensi televise mereka dan engkau akan tiba pada titik tertinggi tragedy yaitu komedi,” kata Ami.

Tapi Rumata’ mengajak kita menikmati “Minggu Tenang”. Kata Ami, mungkin ini untuk mendorong kita menciptakan sejenak sunyi dalam diri kita, mengendapkan pengalaman ke-Indonesiaan kita masing-masing, ada baiknya kita menjernihkan diri sebelum menentukan pilihan. “Kita bisa mengelak dari prosedur mutlak demokrasi ini. Tapi mari kita menentukan pilihan melalui jalur lain,” kata Ami.

Mengisi “Minggu Tenang”, ada teman yang memilih jalan puisi. Seperti Ami Ibrahim yang menutup pidatonya dengan sebuah puisi “Post Scriptum Ibu Pertiwi” yang dibuatnya 6 Juni 1994 lalu. “…di tebing mana aku mesti berpijak/ menangkal turunnya senja/ agar tersedia waktu bagi pelayaran/ menahan laju kesangsian…”.

Sebait puisi juga dipersembahkan penyair Muhary Wahyu Nurba yang mengisahkan kepedihan saat Tsunami Aceh. Bagi Muhary, berbagi bait-bait sajak di halaman Rumata’ adalah sebuah kemewahan tak ternilai ditengah kepungan kebisingan kota. “Ini mungkin salah satu cara yang baik untuk merenungkan kembali Indonesia, agar kita tidak cepat ‘bunuh diri’,” katanya kepada Tempo.

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Sajak berjudul “Petak Umpet” juga dikirimkan M Aan Mansyur—seorang  penulis, penyair dan penyiar—melalui telepon seluler Lily Yulianti Farid, penggagas Rumata ‘ artspace. Aan tak bisa ikut “bermain” di halaman belakang Rumata’ karena harus menjenguk ibunya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini, Lily juga mengajak komunitas-komunitas yang ingin memanfaatkan halaman belakang, pihak Rumata’ terbuka.

Meski pertanyaan-pertanyaan di atas tak sepenuhnya terjawab. Fandy  menutup dengan manis “Minggu Tenang” dengan lantunan lagu Aku Papua ciptaan Franky Sahilatua. Dilanjutkan lagu ciptaan Fandy sendiri berjudul Jangan Memaki. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  08 April 2014)

Politik Menulis dan Menemukan Diri Sendiri

Untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar, dan berani.

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Dalam kisah mitologi Yunani, terciptalah perempuan pertama di dunia. Athena memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memberinya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Poseidon memberinya kalung mutiara, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Hera memberinya rasa penasaran, Hermes memberinya kepandaian berbicara dan menamainya Pandora—mendapat banyak hadiah.

Semua yang dimiliki Pandora memikat Epimetheus lalu menikahinya. Di hari pernikahannya, para dewa memberi hadiah, sebuah kotak tapi Pandora dilarang untuk membukanya. Karena penasaran, Pandora membukanya sekaligus melepas teror ke dunia. Rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, dan berbagai malapetaka. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti manusia. Pandora menyesali, berutung masih ada harapan yang tersisa.

Demikianlah kisah si ‘Yunani Cantik’ seperti yang dikisahkah Yudhistira Sukatanya dalam tulisannya berjudul “Ekstasi Pandora”, Literasi Koran Tempo Makassar, terbit 20 Maret 2014 lalu. Bagaimana proses penulisan Literasi ini, menjadi salah satu pertanyaan titipan peserta dalam ajang Panggung Literasi VI, yang di gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Samata, Jumat lalu.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Acara yang digelar mahasiswa Himpunan Jurusan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin bekerjasama dengan Komunitas Literasi Makassar ini mengangkat tema ‘Tradisi Menulis dan Kebebasan Berfikir’. “Menulislah agar tidak kehilangan gagasan,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, salah satu penulis Literasi yang menjadi pembicara dihadapan sekitar seratus peserta Panggung Literasi.

Sebab menulis itu menyangkut kedaulatan dan kedaulatan itu harus dilacak pada kehendak seseorang. “Menulis itu berpolitik,” ungkapnya. Penulis juga dituntut untuk berpolitik, artinya kalau mau berpolitik harus menyiapkan diri selalu hidup lalu mati. Menurut Alwy, lahirnya pembaca akan membunuh si penulis, lalu ia akan hidup kembali setelah melahirkan karyanya.

Jika menulis adalah bagian dari proses hidup dan matinya si penulis. Ada betulnya kata Muh Quraisy Mathar, Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin  yang juga menjadi pembicara bahwa

untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar dan berani. Muhary Wahyu Nurba menambahkan bahwa seorang penulis juga harus bisa mempertanggungjawabkan karyanya.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Alwy mengungkapkan hal serupa bahwa hanya orang yang jujur yang bisa menulis. Menulis adalah cara untuk mengecek kebebasan, sebab kalimat-kalimat terlalu sempit untuk menampung pikiran manusia. Dosen Linguistik ini juga mengingatkan agar jangan sekali-kali menulis saat Anda sedang marah.  Sebab suasana diri bisa terbawa dalam tulisan, artinya menulis bisa menjadi media untuk kita merefleksi diri sendiri. Dimana kita bisa menemukan diri sendiri dalam tulisan kita.

Menurut Yudhistira yang juga anggota Dewan Kesenian Makassar, kebebasan berfikir hanya ada dalam diri sendiri. Saat tulisan kita diserahkan ke pembaca, Anda harus siap memenjarakan diri sendiri.

Proses penulis sendiri harus dimulai dari membaca. Membaca, kata Muhary mampu menghadirkan kebabasan berimajinasi. Menurut Alwy, kemauan membaca adalah cara untuk menghargai diri sendiri, sebab membaca juga bisa digunakan untuk melacak diri sendiri.

Menulis itu membagi kebaikan, kata Muhary, caranya dengan belajar dulu membangun hal-hal kritis di sekitar kita. Menurut Alwy, penulis dituntut menghadirkan  kedaulatan agar selalu menghadirkan kebaikan. “Ketika kita ingin menyampaikan kebaikan, memang terlalu banyak penggoda,” kata Yudhistira. Seperti Pandora yang tak bermaksud menyebarkan keburukan. Tapi beruntung masih ada harapan. Mari kita menuliskan harapan-harapan kita untuk menemukan diri kita. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  01 April 2014)

 

Manrongrong ri Riburane

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’.

“Lantang banggi ja ku mat’tinja/ anro ri batarai/ sarea tenne ri tallasata—saya bernazar saat tengah malam/ menemui sang pencipta/ meminta agar saya diberi hal-hal baik dalam hidup,” ucap M Arsyad Kulle Daeng Aca’, 67 tahun, maestro dari Kampung Paropo, yang tampil begitu bersahaja, bertutur sambil menggesek biolanya. Berbeda dengan aksi panggung Abdul Muin Daeng Mile, 61 tahun yang begitu bersemangat menabuh gendangnya. Daeng Serang Dakko, 74 tahun, maestro gendang yang bermukim di Benteng Somba Opu, tak mau kalah, ia tampil sangat agresif saat menabuh gendangnya.

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Tiga maestro yang setia melestarikan seni tradisi Bugis-Makassar sejak usia belia, sudah puluhan tahun mereka konsisten. Kali ini mereka tampil sepanggung di pelataran Gedung Societeit de Harmonie Makassar di Jalan Riburane, Makassar, Sabtu malam lalu. Aksi panggungnya ibarat “manrongrong ri Riburane”–membangunkan orang-orang di Jalan Riburane.

Daeng Aca’ bersama rombongannya dari Sanggar Seni Tradisional Ilologading Paropo, menguasai panggung. Menampilkan Pepe-pepeka Ri Makka, yang menggunakan media api. Para penari lelaki beratraksi membakar tubuh mereka dengan obor api. Pasukan berbaju kuning juga menampilkan atraksi paraga—sepak takraw—dengan menggunakan bola api. Aksi-aksi mereka malam itu membakar semangat penonton yang hadir, ini kali pertama saya menyaksikan paraga yang menggunakan bola api.

Jika kelompok Daeng Aca’ mampu membakar semangat penonton. Tabuhan gendang Daeng Mile seperti membangunkan orang yang tidur. Tangan dan jari-jari Daeng Mile tampak sangat cekatan menabuh ‘Manronrong’—nama gendang yang berarti membangunkan orang tidur—mengiringi tarian Pakarena Samborita, sebuah tari yang bercerita tentang persahabatan.

Sekitar 20 menit, pemain musik dan penari saling berhadapan. Mereka kompak mengenakan baju merah. Dua pemain gendang termasuk Daeng Mile, satu peniup pui-pui, dan satu lagi pemukul gong dan katto-katto. Mereka kompak memainkan musik tradisional Makassar. Bunyi pui-pui yang melengking dan nyaring, disambut tabuhan gendang yang cepat tapi lembut.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Daeng Mile tak sekedar menabuh gendang, tubuhnya juga bergerak mengikuti irama. Kepalanya manggut-manggut, bahunya naik turun, dan ekspresi wajahnya juga berbicara, menunjukkan semangat yang tak pernah pupus.

Berbeda dengan gerakan empat penari perempuan Masrita Daeng Tonji dan Murkayati Daeng Kanang yang masih putri Daeng Mile, dua penari lagi adalah cucu sang maestro, Armayanti dan Sriwahyuni. Meski usia mereka sangat belia, tapi tarian dan gerakan mereka tampak sangat anggun. Lambat dengan ekspresi wajah yang datar.

“Tari Pakkarena yang diciptakan orang tua kita dahulu, adalah simbol dari jiwa lelaki yang kerap bergejolak dan berapi-api,” ucap Asmin Amin, usai  penampilan Daeng Mile. Menurut pemrakarsa kolaborasi tiga maestro ini, gaya bermain Daeng Mile yang bersemangat dan kadang jenaka adalah gambaran lelaki Makassar. Tapi masih bisa mengatur irama gendangnya sehingga tetap enak didengar. Para penarinya sendiri menggambarkan perempuan Makassar yang tenang, sabar, dan lebih banyak diam. Mereka menjadi penyeimbang. “Perempuan selalu membawa kipas, artinya ingin mendinginkan suasana,” ungkap Asmin.

Prof. Fumiko Tamura dari Chikushi Jogakuen University di Jepang  memuji penampilan Daeng Mile. “Sangat harmonis, saya merasakan sesuatu yang kuat,” ungkapnya disela-sela pertunjukan. Ia juga mempertanyakan kepada sang maestro makna Pakarena, kenapa pemusik dan penari harus berhadapan. “Ini sudah tradisi, anrong guru—maestro—ibarat menuntun nyanyian, dan penari mengikutinya,” kata Daeng Mile.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Berbeda dengan Daeng Serang yang memilih duduk di belakang para penarinya. Maestro yang satu ini selalu tampak percaya diri, dia duduk dibalik gendangnya yang berwarna kuning muda. Memakai jas hitam dan sarung berwarna senada, diadukan dengan pasapu—penutup kepala—bermotif tapi tetap dominan hitam. Di samping kiri-kanannya, juga duduk para pemusik lainnya yang memakai jas biru. Penari dan pemusik adalah anak asuhan dari Sanggar Alam Serang Dakko. Daeng Serang pun beraksi. Wajahnya terus melihat ke depan, dengan kepala yang terus bergoyang mengikuti musik. Sesekali senyumnya mengembang, menampakkan barisan giginya, dengan tabuhan gendangnya yang juga mengiringi tari Pakarena.

Menurut Syarifuddin Daeng Tutu, Daeng Mile mencoba menghadirkan sisa-sisa tradisi Pakarena. Pada zaman animism, Pakarena adalah media untuk memuja pencipta, dimana anrong guru menjadi “imam” Pakarena. Sedangkan Pakarena yang ditampilkan Daeng Serang adalah Pakarena Jangan Leang-leang, dimana posisi anrong guru ada dibeberapa tempat.

Malam itu, Gedung Kesenian disulap bak kampung halaman oleh Asia Ramli Prapanca yang membatasi pusat pertunjukan dengan pagar bambu, sebagai simbol tempat tinggal para maestro. “Menghadirkan mereka dalam satu panggung ini sudah ada sejak tahun lalu, tapi baru terwujud sekarang,” kata Asmin. Ia berharap ini menjadi angin segar agar kita tetap menghargai seni tradisi daerah dan bangsa ini.  (By Irmawati dan Rezki Alvionitasari, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  24 Maret 2014)

 

 

 

 

Imitasi Gerak-gerak Alam

Pentingnya sebuah narasi dalam menata alam.

“Tok, tok, tok, tok, tok…,” bunyi ini semakin lama semakin ramai, seiring bertambahnya manusia-manusia yang berlalu-lalang di atas panggung. Suara ini bersumber dari benturan kerang-kerang laut yang ada dikedua tangan manusia-manusia bernaju hitam ini. Bunyi-bunyi ini, jika dihayati,  seperti bercerita tentang manusia-manusia yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Ada juga cerita yang disampaikan lewat irama tepukan tangan, telapak tangan bertemu telapak tangan, telapak tangan mendarat di lengan, dan telapak tangan yang mendarat dip aha. Semua tepukan-tepukan ini juga bercerita tentang kehidupan manusia.

Selain cerita dari bunyi, cerita-cerita manusia juga disimbolkan dalam gerakan-gerakan tubuh. Ada yang memakai alat bantu berupa selendang, ada juga yang menggunakan tongkat hingga membentuk bingkai kehidupan manusia. Tarian kontemporer  berjudul “Bingkai” yang dibawakan oleh mahasiswa anggota Komunitas Seni KisSa, turut meramaikan  Dialog Seni dan Budaya ‘Refleksi dan Aksi’ yang digelar oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, akhir Desember lalu.

Ini adalah cara Komunitas KisSa membaca alam yang kemudian dibahasakan dengan gerak-gerak manusia, baik dengan atau tanpa bunyi. “Seni itu meniru alam,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu BUdaya Universitas Hasanuddin, salah satu pembicara dalam dialog ini.

Menurut Alwy, manusia bisa mengimitasi alam, baik dalam bentuk kesenian, kebudayaan, dan juga pewarisan. “Alam itu dibaca oleh manusia, seluruh gerak-gerak alam itu diimitasi oleh manusia,” ungkapnya. Kata Alwy, jika ingin menemukan kebenaran, jangan mencarinya pada peristiwa, karena kebenaran terdapat dibalik lipatan-lipatan alam.

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Pakar Tafsir dari Universitas Islam Negeri Alauddin, Profesor Mardan  mengatakan menjunjung kesenian selama sejalan dengan fitra manusia. Adapun seni Islam itu tidak harus berbicara soal islam, tak harus menganjurkan untuk berbuat bagus. Tapi seni dapat menyampaikan kata-kata Islam dan sesuai fitrah manusia.

Salah seorang seniman yang juga menjadi pembicara, Yudistira Sukatanya menyayangkan, ruang publik untuk berkreasi kesenian semakin terbatas di Makassar.  (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 8 Januari 2014)

Menonton Tari Kolosal di Balla Lompoa

Rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka mengisahkan sejarah Kerajaan Gowa.

Matahari baru saja tergelincir dari atas kepala, pertanda sore mulai menjemput. Suasana teduh langsung terasa di halaman  Balla Lompoa—dalam bahasa Makassar berarti rumah besar—,sinar matahari tak sampai karena terlindung di balik Istana Tamalate—duplikat Balla Lompoa yang terletak di sebelahnya dengan ukuran yang lebih besar.

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu pada 1936. Arsitektur dua bangunan ini berupa rumah panggung, yang seluruhnya terbuat dari kayu ulin dan kayu besi.  Bekas istana raja ini, kini berfungsi sebagai museum, tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa.

Tapi kedatangan saya kali ini bukan untuk menengok koleksi museum ini, tapi untuk melihat pertunjukan tarian kolosal yang konon mengisahkan perjalanan sejarah Kerajaan Gowa yang sengaja ditampilkan  untuk memperingati hari ulang tahun Gowa ke-693 tahun, di kawasan Museum Balla Lompoa, 17 November lalu.

Tari kolosal ini merupakan rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka yang merupakan kolaborasi siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan Somba Opu, sanggar seni Katangka, dan sanggar Sirajuddin Bantang.

Pertunjukan yang dimulai dengan tari Pakarena ini ditampilkan di halaman Balla Lompoa. Pakarena berasal dari dua kata yakni pa berarti orang dan akkarena yang berarti permainan atau tarian. Iringan gandrang atau gendang dan  puik-puik—semacam suling, mengiringi gerakan-gerakan artistic para penari yang gemulai dan halus. Tarian ini terbagi dalam beberapa gerakan, dimana setiap gerakan memiliki makna khusus. Misalnya gerakan berputar mengikuti jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia, lalu gerakan naik turun adalah simbol irama kehidupan.

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Almarhum guru saya, Sirajuddin Bantang yang kebetulan pemilik salah satu sanggar yang memainkan tari kolosal ini, dulu pernah bercerita bahwa tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (negeri kayangan) dengan penghuni lino—sebutan untuk bumi. Nah, sebelum perpisahan, penghuni kayangan mengajarkan kepada penghuni bumi mengenai tata cara hidup, mulai dari bercocok tanam hingga cara berburu.

Tapi hingga kini, tak ada yang bisa memastikan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang menciptakan. Yang pasti, versi tarian ini ada beberapa macam, tari Pakarena di Gowa yang dilestarikan oleh almarhum Mak Coppong. Ada juga Tari Pakarena Gantarang dari Kabupaten Selayar.

Lalu, ada permainan paraga yang dimainkan 6 penari lelaki. Seperti Pakarena, Paraga ini juga sudah ada sejak zaman kerajaan Gowa. Tari Paraga ini dimainkan dengan konstruksi bola raga atau bola takraw berpindah-pindah dari satu kaki ke kaki lainnya, terkadang juga bola singgah di atas kepala. Tak hanya itu, para pemainnya bersusun hingga tiga tingkat, membuat atraksi makin menarik dan banjir tepuk tangan penonton.

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Yang tak kalah menarik adalah pertunjukan tari Pepe Pepeka ri Makka. Konon  tarian ini menggunakan mantra magis, sebab tubuh  dan baju tak terbakar meski disulut api. Biasanya, tarian ini dilakonkan oleh penari laki-laki, tapi kali ini pertunjukan tari dilakukan oleh kaum hawa.

Busana penari Pepe Pepeka ri Makka yang biasanya identik dengan warna merah, tapi kali ini tampil dengan busana warna ungu. Dengan gerakan yang gemulai dan pandangan tajam ke depan, rapa penari ini nyaris tak ada keraguan menyulurkan obor yang menyalah ke tubuhnya masing-masing.

Tak hanya itu, dua penari Pepe Pepeka ri Makka secara bergantian mengajak penonton untuk ke depan untuk disulut api. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo juga diajak ke depan untuk merasakan sulutan obor yang menyala. Pertunjukan tari yang berdurasi sekitar 20 menit ini sungguh meriah dan menghibur.

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah keberadaan Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, yang menjadi salah satu tamu adat HUT Gowa. Yang unik, di belakang sang Datu selalu mengikut bassi pakka—semacam tongkat pusaka Kerajaan Luwu. Salah satu pemangku adat Luwu yang bergelar Opu Matoa Cenrana, Andi Oddang Opu Tossesungriu mengatakan tongkat ini memang harus selalu mengikuti kemana pun Datu Luwu pergi, tongkat dipegang oleh seorang pengawal yang akan selalu mengikut di belakang Datu.

Kekayaan khasanah budaya dan adat istiadat kita memang perlu dijaga dan dilestarikan, agar generasi muda tetap mengenalnya, betapa Indonesia sangat kaya dengan keberagamannya. (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 22 November 2013)

Keriangan di Taman Burung Somba Opu

Koleksinya mencapai 400 ekor yang terdiri dari 60 jenis burung.

 

Burung Pelicam di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Burung Pelicam di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Kicauan burung mewarnai sore ketika Amandra, Ai, dan Aulia, memasuki kawasan Taman Burung Gowa Discovery Park, di Somba Opu, Ahad lalu. Kakak adik ini saling berkejaran, meninggalkan kedua orang tua. Sesekali mereka berhenti lalu menari-nari mengikuti irama kicauan burung yang juga terdengar riang.

Berfoto dengan Makao Blue and Gold, salah satu burung paling langkah asal Brasil. Foto/Irmawar

Berfoto dengan Makao Blue and Gold, salah satu burung paling langkah asal Brasil. Foto/Irmawar

Pelikan menjadi salah satu andalan taman burung, yang dibangun di dekat situs bersejarah Benteng Somba Opu ini. Koleksi lain adalah berbagai jenis jalak, seperti jalak bodas, jalak turki, dan jalak bali. Nah, jalak bali ini, dari namanya menunjukkan jika burung ini endemik Pulau Bali. Konon jenis burung ini tak ditemukan dibelahan bumi manapun. Menurut perawat satwa di taman burung  ini, Iqbal Nur, harga anakan jalak bali bisa mencapai Rp 3 juta.

Burung yang juga dihargai cukup mahal adalah parkit, terutama yang warna bulunya kombinasi. Parkit dari penangkaran dan budidaya tak hanya bisa menghasilkan warna biru, abu-abu, kuning, dan putih, tapi juga warna kombinasi.

Koleksi burung di taman ini lebih dari 400 ekor, yang terdiri dari 60 jenis burung. Selain burung endemik Sulawesi dan pelosok Tanah Air, taman ini juga dilengkapi burung dari berbagai negara.

Pengunjung juga dihibur oleh beo alias Gracula religiosa rubosta, yang pandai berbicara. Tak jauh dari beo, ada sangkar kangkareng. Burung ini terlihat galak saat bertengger di atas pohon. Jenis burung ini biasa menghuni hutan primer dan sekunder dataran rendah di seluruh Sunda Besar.

Bermain dengan burung di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Bermain dengan burung di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Di sini bisa dijumpai kasuari bernama Pablo dan Lili. Menurut Iqbal, Lili pernah memacetkan tol saat dalam perjalanan ke Taman Burung ini, ia melompat dari mobil. Tak hanya itu, sebulan lalu, Lili juga pernah lepas dari kandangnya. Proses penangkapan dilakukan dari pukul 20.00 hingga 24.00, dan  beberapa petugas jaketnya sampai sobek.

Pengunjung juga bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan burung-burung, yang terbang lepas, dalam kandang besar. Beberapa jenis buah seperti potongan papaya dan pisang ditancapkan di dahan-dahan pohon. Di kandang ini, kita bisa menyaksikan bermacam-macam jenis burung, mulai perkutut, jalak, kepodang, nuri merah, dan merak.  Kita bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung ini, tapi sebaiknya hati-hati, apalagi kalau bulu Merak mekar, itu adalah tanda burung ini marah.

Tak jauh dari kandang besar ini, kita bisa melihat kelompok elang. Ada elang laut, elang sulawesi dan elang bondol. Elang bondol ini adalah burung yang menjadi maskot Jakarta. Jika ingin melihat burung ini melakukan akrobatik, datanglah saat bulan November-Desember yang merupakan musim kawin mereka.

Seorang petugas memberikan makan burung pelikan di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Seorang petugas memberikan makan burung pelikan di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Setelah berkeliling, kita juga bisa beraksi dan foto bareng dengan burung-burung cantik ini. Tak perlu takut-takut, sebab kita didampingi para petugas. Salah satu favorit pengunjung adalah burung paling langka asal Brasil yakni makao blue and gold, yang berbulu  kombinasi biru dan keemasan. Meski sudah jinak, jangan coba-coba memegang bulunya, karena burung ini akan marah dan berteriak keras.

Jika Anda penasaran ingin berfoto sambil mengelus-elus bulu burungnya, pilihlah jenis bayan, karena burung ini jinak. Warnanya juga tak kalah cantik, ada kombinasi merah biru untuk betinanya dan kombinasi hijau kuning untuk jantannya.

Manager Gowa Discovery Park, Rosida Tayeb mengatakan wisata Taman Burung ini masih bagian dari Gowa Discovery Park. “Anda cukup menebus tiket seharga Rp 55 ribu per orang, sudah bisa bermain di wahana air dan taman burung,” katanya.   (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 8 November 2013)

Liburan Segar di Takapala

Irama air terjun adalah pengantar yoga yang pas.

Udara sejuk menyesaki tubuh. Tepat di depan saya, ada sebuah gerbang bertulisan “Malino Kota Bunga”, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu. Angin bertiup pelan masuk dari jendela mobil yang terbuka setengah. Dinginnya seperti menembus pori-pori. Malam dan dingin adalah perpaduan apik di Kota Malino, yang berada di ketinggian 1.050 meter dari permukaan laut.

Malino 1927, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Malino 1927, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Lalu saya membayangkan secangkir teh manis panas dan jagung rebus yang baru diangkat dari panci. Agar bisa menikmati menu ini, kami melajukan kendaraan menuju kawasan wisata hutan pinus, menembus kabut. Di tempat ini ada banyak warung di tepi jalan yang menyajikan jajanan panas.

Untuk sampai ke kawasan hutan pinus, kami melalui jalan utama, di sisi kiri-kanan jalan masih tumbuh kokoh tanaman peninggalan Belanda, yakni pohon turi yang bunga berwarna oranye. Daunnya tampak jarang sehingga dahannya menghadirkan suasana angker.

Keesokannya, cahaya pagi membangunkan saya. Baru pukul 05.30 Wita, tapi hari sudah begitu terang. Setelah sarapan, saya bergegas mandi di air terjun yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah. Di kawasan ini ada dua air terjun, Air Terjun Takapala dan Air Terjun Ketemu Jodoh. Dua air terjun dipisahkan oleh ruas jalan yang menuju Desa Majannang, Kecamatan Parigi.

Air Terjun Takapala, Malino, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Air Terjun Takapala, Malino, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Sebagai pemanasan untuk merenggangkan otot-otot kaki, saya memilih ke Air Terjun Ketemu Jodoh, mengingat jalannya yang relatif lebih datar. Lokasi ini masih sepi, baru dikunjungi tak lebih dari 10 orang pengunjung, dan hanya 2-3 orang yang mandi. Saat saya menurunkan kaki ke air, bbrrrr. Airnya sangat dingin, seperti diambil dari kulkas.

Seorang kakek mendekati saya, lalu memandu saya menuju pancuran yang sumber airnya dari dinding yang sama, tempat di mana air terjun berada. Ada dua pancuran. Konon, jika sepasang kekasih membasuh wajah dengan airnya, insya Allah akan cepat berjodoh.

Tergoda oleh air jernih yang jatuh dari dinding batu, saya melawan dingin dan menceburkan diri. Walhasil, saya nyaris tak kuat menggerakkan kaki dan tangan lantaran membeku. Tak sampai 5 menit berenang, saya memilih duduk berjemur di atas batu.

Setelah baju cukup kering, saya dan beberapa kawan melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Takapala. Untuk sampai ke Air Terjun Takapala, pengunjung harus melalui seribu anak tangga. Seorang kawan mencoba menghitung. Dari jalan poros menuju Takapala, ternyata hanya 399 anak tangga. Banyak penjaja menawarkan berbagai macam gorengan, ada pisang, singkong, sukun, dan bakwan.

Tempat ini jauh lebih ramai daripada Air Terjun Ketemu Jodoh. Mungkin karena hari sudah lebih siang. Fasilitas lokasi ini jauh lebih lengkap. Juga terdapat berbagai macam jajanan dengan harga relatif terjangkau.

Air Terjun Takapala, Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Air Terjun Takapala, Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Karena pakaian sudah kering, dan tempat ini juga sangat ramai, kami tak lagi menceburkan diri ke air. Kami memilih bersantai duduk-duduk di sebongkah batu besar, seukuran sebuah mobil. Sinar matahari yang sangat terik tak terasa. Seperti terhalang kesegaran udara dan semburan air terjun yang terbawa angin.

Begitu menyegarkan. Meski ramai, tempat ini tetap asyik untuk melakukan yoga. Saya pun memejamkan mata, lalu berkonsentrasi mendengarkan gemericik air.

Sebelum meninggalkan Malino, kami sempatkan diri singgah berfoto di depan prasasti “Malino 1927”. Kota Malino ini sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Terutama saat Gubernur Jenderal Caron memerintah di “Celebes on Onderhorighodon” pada 1927.

Sejak itu, Malino menjadi tempat favorit tetirah para pegawai pemerintah. Malino dulu dikenal dengan nama kampung “Lapparak”, yang dalam bahasa Makassar berarti datar. Malino memang berupa wilayah datar yang diapit oleh lembah dan bukit-bukit hijau yang menjulang. Seharian rasanya tak cukup untuk menikmati kawasan di sini.  (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 25 Oktober 2013)

Penulis-Penulis tanpa Pagar

Menghasilkan tulisan yang bagus harus dimulai dengan membaca.

Dari kiri ke kanan--Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Dari kiri ke kanan–Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Setiap kali hendak menulis, Yusnawati selalu kesulitan membuat ending tulisan. Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Makassar ini bakhan sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai menulis. Hal serupa dialami Irfan yang seringkali pikirannya terasa buntu.

Berbeda dengan Fahrul Syarif, mahasiswa Fakultas Psikologi UNM ini justru termasuk mahasiswa yang aktif menulis, sayang karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buletin justru dicekal.

Menurut Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Aslan Abidin, menulis memang harus dibarengi dengan nyali. Penulis tetap kolom Literasi Rabu di Koran Tempo Makassar ini mengungkapkan, dirinya juga terkadang merasa ketakutan setelah tulisannya dipublis. Salah satunya saat ia menulis tema ‘Geng Motor’ di halaman Literasi.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Lalu bagaimana menuliskan pemikiran kita, kata Aslan, kadang imajinasi di kepala itu tidak terbentuk, nah, untuk menuliskannya perlu perangkat yang namanya bahasa dan memiliki kosa kata yang cukup untuk merangkainya menjadi tulisan. Agar memiliki variasi kata-kata diperlukan membaca. “Jadi resep menulis adalah membaca,” ungkapnya dihadapan peserta Panggung Literasi yang digelar di Auditorium Amanagappa, Kampus UNM Gunungsari, kemarin.

Hal serupa diungkapkan Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater yang juga penulis tetap Literasi ini mengatakan proses kreatif dari literasinya itu muncul ketika mendapat stimulan seperti bacaan. Hal itulah yang  menimbulkan rangsangan untuk menulis.

Hendragunawan S. Thayf, penyair  yang  juga anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea ini berpendapat konsep penulisan Literasi dituntut untuk menggalakkan niat membaca dan menulis. “Ada muatan literer dan sastrawi. Ketika tangan menulis, otak menari,” ucap dia. Lalu penggiat di Kampung Sastra Sungai Aksara, Muhary Wahyu Nurba mengatakan membuka tulisan sangat ditentukan oleh bacaan kita sebelumnya.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Dosen Ilmu Budaya dari Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan membaca sama dengan melawan diri sendiri. Begitu pula menulis sama dengan melawan diri sendiri. Proses menulis sama dengan proses dialog dengan diri sendiri. Kebiasaan membaca, kata dia, selalu bisa membuat kita melihat diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain. Literasi membangun karakter, Belajar literasi sama dengan menjalani pendidikan moral. “Bangunlah panggung-panggung di luar kelas (kuliah),” ujarnya.

Di Eropa, kata Alwy, anak-anaknya,  sejak sekolah dasar hingga menengah, diajarkan menulis dengan cara menuliskan pengalaman sehari-harinya di rumah. Sehingga ketika memasuki perguruan tinggi, pendidikan menulisnya sudah selesai. Hasilnya mereka mampu mencetak sarjana-sarjana yang mahir menulis dalam hal apa saja. Contoh fisikawan, sejarawan, antropolog, cara menulis mereka sangat sastrawi.

Tapi itu berbeda yang terjadi di Indonesia, kultur Literasi tidak menjadi ideologi dalam sistem pendidikan di negeri ini . “Anak sekolah diajarkan menghafal, bukan berpikir,” Alwy menambahkan. Menurutnya, pada saat menulislah, orang dibiasakan menulis.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Masih merujuk Eropa, masyarakatnya dibiasakan hidup tanpa pagar, sehingga tercipta ruang-ruang komunikasi yang lapang antar tetangga. Panggung Literasi ini juga bisa dibilang merupakan cara penulis-penulis Literasi hidup ‘tanpa pagar’ yakni berbagi dan menularkan virus-virus positif. Selain para penulis tetap, dua penulis tamu juga turut berbagi yakni Wawan Kurniawan dan Fadhli Amir, keduanya adalah mahasiswa kampus orange ini.  (By Rezki Alvionitasari & Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 Oktober 2013)

Jangan Membaca Ahyar dengan Linier

Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra.

Kematian tak pernah membuat kita kehilangan orang yang kita cintai. Kehidupanlah yang membuat kita tak saja kehilangan orang yang kita cintai, tapi juga kehilangan diri kita sendiri. 

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Kalimat itu ditulis Ahyar Anwar dalam bukunya, Aforisma Cinta (2013). Senin malam lalu, apa yang ditulisnya itu terbukti: meski ia telah berpulang pada 27 Agustus lalu, orang-orang tetap mengingatnya. Mereka berkumpul untuk mengenang dan mengirim doa kepada lelaki kelahiran 15 Februari 1970 ini dalam acara “Mengenang Ahyar Anwar” di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar. Ada Seniman, budayawan, akademikus, mahasiswa, dan jurnalis .

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

M. Aan Mansyur, misalnya, bercerita tentang sosok almarhum dengan membacakan tulisannya berjudul Ahyar Anwar dan Pesimisme yang dimuat di Koran Tempo Makassar, 29 Agustus lalu. Menurut penyair ini, Ahyar adalah pembaca yang tekun dan penulis yang produktif.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai dosen, Ahyar selalu punya waktu untuk menulis. Setiap minggu, dia membagi pikirannya di media massa. Dia juga telah menerbitkan sejumlah buku. Tulisan-tulisan terakhirnya banyak menyoroti perilaku para politikus menggunakan filsafat dan sastra, bidang yang diajarkannya di Universitas Negeri Makassar.

Suatu kali, ketika pertama kali bertemu dan berbincang di sebuah kafe pada 2004, Ahyar bertanya apakah Chairil Anwar seorang yang optimistis atau pesimistis. Karena Aan tidak menjawab, Ahyar lalu bilang bahwa penyair yang mati muda itu adalah seorang yang pesimistis. Aku ingin hidup seribu tahun lagi, kata Ahyar, adalah ungkapan pesimistis, bukan optimistis.

Penulis Literasi lainnya yang juga dosen ilmu budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman, mengenang almarhum sebagai dosen muda yang punya pemikiran-pemikiran cemerlang. Pemikirannya dipengaruhi dunia filsafat, tapi tidak meninggalkan aspek sosial. Pemikirannya kemudian dituliskan secara santun dengan gaya sastra.

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Sudirman H.N. dari Komunitas Masyarakat Sastra Tamalanrea mengatakan Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra. Almarhum telah melahirkan delapan buku, di antaranya Teori Sastra dan Sosial, Menidurkan Cinta (2007), Kisah Tak Berwajah (2009), serta novel Infinitum (2010) dan Aforisma Cinta (2013).

Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar ini memang sangat produktif menulis. Ia penulis kolom tetap di beberapa media lokal. Di Koran Tempo Makassar, misalnya, Ahyar menjadi penulis tetap setiap Senin. Dalam tulisannya, dia banyak mengkritik perilaku politikus. Tak hanya menulis, Ahyar juga aktif menjadi pembicara dalam sejumlah forum.

A.M. Iqbal Parewangi, senior almarhum saat studi di Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan, di balik kata-kata cinta yang sering diungkapkan, Ahyar sesungguhnya sosok panglima perang. Sementara dulu ia selalu membawa badik, setelah selesai dan menjadi dosen ia membawa pedang samurai. “Jadi jangan melihat Ahyar dengan cara yang linier karena almarhum menguasai filsafat, sosiologi, dan sastra,” tuturnya.

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku 'Kisah Tak Berwajah'. Foto/Irmawar

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku ‘Kisah Tak Berwajah’. Foto/Irmawar

Tak hanya diisi dengan kisah dan testimoni. Ada pula Aslan Abidin—dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra UNM—berkolaborasi dengan Shinta Febriany, sutradara dan penyair, yang membacakan tulisan “Melankoli” dari buku Kisah Tak Berwajah karya almarhum. Ada pula pembacaan puisi oleh Anil Hukma dan Luna Vidya.

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Aksi tiga menit Asdar Muis RMS juga tak kalah mengharukan. Ia muncul dari belakang layar proyektor, dengan membawa gumbang—tong air dari bahan tanah liat—serta ada baskom besi. Dua wadah itu menjadi tempat pembakaran buku-buku yang dimakan rayap. Dia sedih buku-bukunya dimakan rayap, tapi dia lebih sedih kehilangan sahabat, yakni Ahyar.

Sang istri, Risma Niswaty, juga memberi testimoni malam itu. Menurut dia, suaminya punya kerajaan sendiri di rumah. “Jika sudah masuk ke ruangan itu, lalu pintu diberi tanda ditutup atau celahnya hanya 5 sentimeter, maka kami tahu bahwa tak ada alasan untuk mengganggu, kami membiarkannya merdeka. Agar pikiran-pikirannya tidak terpenjara.” (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 September 2013)

Mengenang Pemikiran Ahyar

Kepergian  Ahyar Anwar, Selasa malam lalu meninggalkan luka dalam bagi sahabat-sahabatnya. Untuk mengenang pemikiran-pemikiran sastrawan, budayawan, akasemikusm kolumnis, dan kritikus sastra ini. Komunitas Literasi bersama sahabat-sahabat pria kelahiran 15 Februari 1970 ini akan menggelar acara “Mengenang Ahyar Anwar”, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Senin malam (2/9).

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

“Menjadi penting untuk mengenang sosok dan membaca pemikiran serta karya-karya Ahyar Anwar”, kata  Aslan Abidin,  sahabat yang juga rekan sesame dosen si Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar.

Menurutnya, Gagasan-gagasan almarhum, baik lisan maupun terutama yang tertulis, dapat terus membuka ruang kepada kita untuk menerjemahkan, menganalisis, dan memperdebatkannya. Itulah semestinya salah satu “kewajiban” orang yang hidup kepada intelektual yang meninggal. Sekaligus merupakan tanggungjawab sosial kita bagi semakin terbentuknya masyarakat yang lebih tercerahkan. “Hidup dan meninggalnya Ahyar Anwar memberi kita kesempatan untuk senantiasa berada dalam lingkup intelektual,” ungkapnya.

Dalam acara ini, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman akan mencoba merefleksi arti kehadiran Ahyar Anwar selama ini.  Selain Alwy, sahabat-sahabat almarhum juga akan bercerita kesan-kesannya dengan almarhum, ada  A M Iqbal Parewangi , Sudirman, dan  Sabri. Istri almarhum Risma Niswaty bersama empat putranya juga akan hadir malam nanti.

Rencananya, karya-karya almarhum juga akan dibacakan. Di antaranya, ada Hendragunawan S.Thayf  serta Mariati Atkah berkolaborasi dengan Madia Gaddafi membacakan tulisan Literasi almarhum yang dimuat di Koran Tempo Makassar, Shinta Febriany berduet dengan Aslan Abidin membacakan salah satu karya dalam buku “Kisah Tak Berwajah”, M Aan Mansyur, Asia Ramli Prapanca, Fahmi Syarif, dan Asdar Muis RMS yang menjanjikan sebuah kejutan. “Saya akan menawarkan sebuah kenangan,” kata Asdar. (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 2 September 2013)

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.