Eastern Promise

Thank You for (Not) Smoking

Bone-bone village in South Sulawesi is famously known asa a smokefree village, the first of its kind in Indonesia, thanks to mayor Muhammad Idris, head of the village. His vision has been adopted by the local government, which plans a smoke-free regency by 2013.

 

Big billboards with the words ‘Thank you for not smoking’ and ‘Keep your heart healthy’ greet visitors entering Bone-bone village. Doors are glued with ‘Smoke-free Home’ stickers. There was definitely not a single person smoking in sight. Thereareb’t even any ashtrays. The luscious green landscape and its fresh air reinforce the image of a healthy village. Apparently, not only is smoking prohibited, bringing cigarettes is as well.

This idea of a healthy village took shape when Muhammad Idris, 46, was elected as Bone-bone mayor 19 years ago. He gradually turned the area into a smoke-free zona over the years. Residents’ health has improved since. “Nowadays smoker’s cough is rarely heard,” said Rahmatia, 24, Bone-bone health officer. The number of unemployed has also decreased as children get higher education. “Parents can now afford to send their children to school, since they longer  spend  it on cigarettes,” said Idris proudly. And he was well rewarded: In 2009 Idris received a gold brooch from the Ministry of Health for his ‘healthy village’ achievement.

***

  

Upon returning from his studies in Makassar, Idris was concerned at his village’s grave state : the  financial situation of the people had  worsened and children as young as 6 were smoking. In 1992, when he was elected mayor, the father of eight proposed to ban smoking. “At that time, 60 percent of smokers couldn’t afford to send their children to school,” said Idris. From 10 youngsters studying at university, only four, including him, could graduate. “The rest wasted all their money on cigarettes,” he recalled.

The mayor began by assessing, coversing and familiarizing himself with the people. In 2000, Idris finally gained the support of local figures. He started by greeting every resident, asking them if they still had difficulties to quit smoking.

In the same year he prohibited cigarettes sales. At first there there was opposition as shop owners feared they would lose money. Even carpenters feared that they could not concentrate if they did not smoke. But Idris patiently persuaded them to break their bad habit.

From 2001, smoking in public places and festivals was banned. By 2002, smoking was barred anywhere in the village. The campaingn gained momentum when the Indonesian Ulema Council issued a fatwa prohibiting cigarettes in 2004. “This makes my job easier because Bone-bone’s residents follow their religion strictly,” said Idris.

But it has not all been smooth sailing. “Some people did not  support the prohibition, as they could see smokers who lived comfortably,” said Idris. But that did not deter him. Fortunately, by 2008 al 600 residents decided to support the ban.

In 2009 a village bylew was made to establish a smoke-free zone indefinitely that includes sanctions. One has to perform a half day of community service for smoking in public. “I was once ordered to clean the mosque,” said Syahril, 28.

Residents feel the benefits now. “I feel healthier and stronfer,” said Amran, 25. Irba, 36 was thankful. “After my husband stopped smoking, I have additional household budget,” she said.

The advantages of quitting smoking ore not limites to Bone-bone. Enrekang Regent, La Tinro La Tunrung, was inspired by Idris’s effort. “It’s been four years since my last puff,” he said. La Tinro has been promoting a healthy lifestyle and plans to implement a smoke-free zone in his regency by 2013. “I will propose a bylaw for a smoke-free zone to the legislators soon,” he said. (by Irmawati,   Tempo English Edition, August 24-30, 2011. Outreach, hal 5)

Ritual Mendinginkan Alam Ala Kajang

Naskah & Foto : Irmawati

Suku Kajang percaya, jika manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga mereka.

Pagi  yang cerah dan  udara sejuk menyatutnampak kontras dengan suasana di kawasan Tana Toa, Sulawesi Selatan,  di mana masyarakat Kajang Dalam maupun Kajang Luar kompak mengenakan pakaian serba hitam.  Mereka   berbondong-bondong menuju gerbang Tana Toa. Tak jauh dari tempat itu akan digelar prosesi Andingingi,  yakni ritual  mendinginkan alam dan isinya serta memohon keselamatan. Kegiatan sekali  setahun ini digelar pada 23 Oktober lalu sebagai bagian dari Festival Pinisi.

Sebelum memulai upacara, warga Kajang berkumpul tepat digerbang masuk tanah adat Kajang. Bak pagar, lelaki dan kaum perempuan berbaur  dan berbaris membentuk saf. Mereka membentuk lorong sepanjang 10 meter dari gerbang. Ini adalah bentuk penyambutan masyarakat Kajang terhadap tamu yang hadir.

Tamu dalam pakaian serba hitam pun berbaur. Warna hitam dipercaya suku Kajang sebagai warna kesempurnaan yang melambangkan kesederhanaan. Warga ali Kajang tanpa alas kaki.

Rak lama, kami pun tiba di lokasi upacara Andingingi. Dua buah barung-barung atau pondok dibangun di sebelah kiri jalan. Satu barung-barung dipakai untuk para tamu dari luar. Sedangkan  barung-barung satu lagi ditempati oleh warga suku Kajang asli, termasuk pemimpin suku (Ammatoa). Barung-barung ini tergolong rendah jika dibandingkan ukuran barung-barung yang normal. Orang dewasa harus merunduk, dan hanya bisa berdiri jika berada tepatnya.

Tanpa aba-aba, kaum perempuan bersama anak-anak langsung masuk ke dalam barung-barung. Seorang bocah terlihat begitu asyik meneguk minuman dari tempurung kelapa yang bulatannya masih utuh, hanya ada lubang sebesar mulut botol. Tempat minum seperti ini tergantung dibeberapa tiang barung-barung. Masyarakat Kajang, terutama di kawasan Kajang Dalam atau di Tana Toa,  hidup secara alamiah.

Perlengkapan mereka sangat sederhana  dan dibuat dari bahan alam. Seperti tide—piring yang  terbuat dari anyaman daun tala, tempurung kelapa yang dibagi menjadi dua bagian dan menjadi  mangkuk, kemudian gelas terbuat dari bambu. Untuk penerangan,  masyarakat Kajang memanfaatkan kemiri yang dihaluskan, lalu dicampur kapas  dan dibalutkan pada bambu yang dibentuk pipih.

Di dalam barung-barung sudah duduk Ammatoa, didampingi permaisurinya dan para pejabat perangkat adat Kajang. Pemimpin dan rakyatnya duduk bersama dalam satu atap, bedanya, tempat Ammatoa lebih longgar. Di bagian tengah,  ada perangkat upacara,  yakni air suci yang telah didinginkan semalaman, dikenal sebagai prosesi  appalentenge ere. Seikat besar tumbuh-tumbuhan terdiri dari 40 jenis dikenal raung kayu patang pulo. Dan seperangkat kapur sirih di atas talam anyaman daun kelapa. Perangkat upacara ini dijaga oleh permaisuri Ammatoa dan dua perempuan kepercayaannya.

Tiga wanita penjaga perangkat upacara ini tampak sibuk membuat ramuan. Haliah,  misalnya, membuat ramuan bedak.Tangannya tampak lincah mengambil beberapa bungkusan daun yang berisi tepung beras dan kunyit halus. Bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam sai—mangkuk tempurung kelapa– lalu diberi sedikit air suci yang diambil dari dalam katoang tanah atau mirip guci. Bedak basah yang beraroma khas ini kemudian dipakai untuk bacca, yakni penanda  pada dahi dan pangkal leher, bagi semua warga yang ikut ritual Andingingi. Pemberian bacca ini bermakna  agar orang selalu jujur, dengan menyatukan apa yang dipikirkan dan isi hati.

Setelah proses pembuatan bedak selesai. Dua orang pria yang dikenal sebagai Tu’nete melakukan abbebese, yakni prosesi menyiramkan air ke arah empat penjuru mata angin dengan mengelilngi semua yang hadir sebanyak tiga kali. Dua pria ini hanya  menggunakan sarung hitam bergaris biru yang dibalut menutupi dada hingga  bawah lututnya. Tetapi masih lengkap dengan daster, yakni ikat kepala  berupa kain passapu. Satu lelaki bertugas mengangkat katoang atau baskom dari tanah berisi air suci. Satunya  lagi bertugas melakukan kebasan dengan 40 jenis dedaunan yang diikat menjadi satu. Dedaunan ini  telah direndam semalaman bersama air suci tersebut.

Tokoh masyarakat Kajang luar, Tamrin Rais, 34 tahun, mengatakan abbebese ini merupakan kegiatan inti dari ritual Andingingi. Kebasan pada empat penjuru mata angin dan mengelilingi seluruh yang hadir dimaksudkan agar alam akan kembali dingin, aman, tentram dan damai. Penggunaan seikat besar dedaunan bermakna bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sangat bergantung pada alam, sehingga harus menjaga alam. Dimana alam dan manusia bersahabat dan saling menjaga.  “Tiap percikan air diharapkan bisa mendinginkan seluruh alam,” ucap Tamrin.

Adapun jenis dedaunan yang dipakai untuk abbebese adalah tumbuhan khas. Diantaranya tobi—buah pinang muda, biruppa—daun siri, daun paliasa, koddoro buku, dan beberapa dedaunan yang biasa dimanfaatkan sebagai obat. Perlengkapan lain yang juga wajib ada dalam ritual Andingingi adalah padi sikarrang—seikat padi bulir dan loka katiung—pisang.

Prosesi selanjutnya, mengumpulkan hasil kebun dan sawah warga Kajang untuk diberkahi dan didoakan agar panen mendatang hasilnya tetap baik.Sampel hasil panen ini disimpan dalam wadah yang disebut kappara—semacam tempayan yang dibuat dari anyaman rotan kemudian diberi alas daun pisang.  Beberapa hasil panen seperti padi, kacang-kacangan, pisang dan kelapa.

Tak jauh dari tempat Ammatoa duduk,  sekitar 10 perempuan duduk berderet. Di hadapannya  ada kappara berisi pisang, kepala, daun siri, buah pinang, gelas bambu berisi arak dan pelita dari daging buah kemiri.  Bahan sesajen ini kemudian dibagi, ada yang dipersembahkan  untuk bumi, air dan alam gaib.

Di bagian luar barung-barung, beberapa pria  juga menyiapkan sesajen. Para pria ini membagi  sesajen ke dalam keranjang yang dibuat dari anyaman daun kelapa. Sesajen ini disebar dengan cara digantungkan pada pohon. Sesajen untuk bumi ditaruh di bawah pohon. Sesajen untuk penguasa air dihanyutkan ke sungai. Dan  bagi alam gaib ditaruh di balai di dalam hutan.

Proses terakhir adalah mencicipi makanan yang telah disediakan. Diantaranya beras ketan hasil ladang yang telah dikukus. Beras ketan  terdiri atas empat warna, yakni hitam, menyimbolkan tanah; kuning simbol angin; putih simbol air; dan merah simbol api. Kemudian sayur kacang merah kecil dan kacang hijau. Lauknya ada ikan dan ayam.

Tamrin mengatakan semua makanan ini dibawa oleh masing-masing rumpun keluarga suku Kajang. Sebab, selama prosesi Andingingi berlangsung, di kawasan Kajang Dalam tidak diperbolehkan ada kegiatan memasak. Makanan  dinikmati bersama, baik warga maupun pendatang.   Santap bersama ini bermakna kebersamaan.

-

“Andingingi adalah ritual untuk mendinginkan seluruh isi alam. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk meminta doa terhadap segaja sesuatu yang ada di muka bumi ini,” kata Puto Butong, 56 tahun, Mantan Kepala Dusun Tana Toa. Adapun  doa yang dipanjatkan ini agar alam dan seluruh isinya diberkahi dan dilindungi oleh Sang Pencipta. Menurut Puto, saat upacara berlangsung, masyarakat juga mengganggu dan mengusik binatang karena mereka merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. “Menurut adat kami, pada saat manusia menjaga alamnya, maka alam pun akan menjaga manusia.”

Saat ritual digelar, semua yang hadir,  termasuk para tamu dari luar,  diwajibkan berpakaian hitam. Lelaki  boleh memakai penutup kepala atau passapu. Perempuan memakai baju, sarung dan kerudung, juga berwarna hitam. Warna hitam adalah warna kebesaran yang menyimbolkan kesempurnaan.

Beberapa aturan yang juga harus dipatuhi adalah tidak meludah sembarangan, tidak melewati daerah yang bukan jalur jalan atau setapak karena akan menginjak tanaman, dilarang memetik tanaman tanpa izin, dilarang ribut, bahkan ada beberapa tempat orang dilarang untuk berbicara. Adapun bahasa pengantar yang dipakai selama proses Andingingi yakni bahasa Konjo. Ini adalah bahasa asli masyarakat adat Ammatoa Kajang.

Upacara selesai, warga Kajang Dalam meninggalkan lokasi barung-barung dan menuju ke barat daya menuju Benteng, yang tak lain adalah kediaman Ammatoa.Sementara para undangan dan warga Kajang Luar meninggalkan Desa Tana Toa Kajang.

(Irmawati)

Catatan : Dimuat di halaman Culture, Majalah Travelounge edisi Januari 2011

Menari Bersama Angin di Perairan Spermonde

 

Naskah & Foto : Irmawati

Sandeq meluncur cepat dan tenang, hanya ada suara gemericik air yang terbelah.

Pagi itu cuaca tak begitu cerah, matahari sedikit terhalang awan. Tapi bukan penanda hujan bakal turun. Udara sejuk terhirup segar di hidung saat menumpang becak menuju dermaga Ujung Batu. Cukup menyegarkan badan,meski hanya mendapat kesempatan tidur selama dua jam. Tak ada polusi, jalan lengang, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Tak lama kemudian, kami sampai di ujung jalan ke arah pantai, pada sisi kanan terdapat dinding tembok bertuliskan “Ujung Batu”. Aroma laut yang menyebar terbawa angin.

Dari kejauhan, 42 perahu sandeq (perahu bercadik) berjejer di pesisir pantai. Layarnya sudah dikembangkan, siap untuk memulai perjalanan etape terakhir Barru-Makassar, dalam ajang Sandeq Race 2010. Masing-masing punggawa (nahkoda) memberi aba-aba kepada dua asistennya, yang disebut pabeso baya-baya. Mereka bertugas mengontrol bukaan layar. Sedangkan lima orang sawi (anak buah kapal) mendorong perahu ke tengah laut.  Satu tim peserta lomba terdiri dari delapan orang passandeq (pelayar sandeq).

Sandeq-sandeq itu mulai melaju, saling berlomba tak mau kalah cepat, mengeluarkan keahlian mereka menaklukkan lautan.  Dalam sekejap, pesisir Ujung Batu bersih, kapal-kapal motor pengiring masing-masing peserta juga langsung menyalakan mesinnya dan menyusul sandeq. Kami sendiri menumpangi KM Duta Merlin, perahu milik panitia yang mengambil jalur tengah. Kami berhasil mengejar beberapa sandeq. Berjarak sekitar 30 meter di sisi kanan kami, tampak tim sandeq Anugrah berjuang. Si punggawa terlihat berwibawa memberikan aba-aba,  sementara matanya awas memperhatikan medan untuk menentukan jalur.

Menyusul tim sandeq Rezeki, tiga sawi mendayung, dua orang melakukan timbang (menjaga keseimbangan)di palatto (bambu lurus, tempat berdiri para awak untuk menjaga keseimbangan)  sebelah kanan. Dalam sekejap,  mereka melaju meninggalkan kami.  Wah, para awak itu begitu lincah berlari diatas sebatang bambu, mereka seperti penari begitu lentur mengikuti arah angin dan mempermainkan ombak, membelah lautan. Konon perahu sandeq adalah kapal bercadik tercepat di dunia. Jika angin baik, maka kecepatannya bisa mencapai 15-29 knot atau 30-40 kilometer per jam.

Mungkin dipengaruhi oleh desainnya yang ramping, panjang, dan ringan. “Kecepatan laju perahu bisa terlihat dari banyaknya awak yang melakukan timbang. Artinya,  angin baik dan tak perlu mendayung karena lima awak melakukan timbang,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, Ketua Panitia Sandeq Race 2010. Atraksi-atraksi passandeq ketika mengarungi lautan ini menjadi daya tarik tersendiri. Pada etape-etape sebelumnya, beberapa turis mancanegara  dari Canada, Rusia, Italia, Australia dan Prancis juga ikut menumpang kapal motor pengiring untuk menikmati objek wisata yang satu ini. Wisatawan asal Prancis malah mengikuti empat etape, mulai dari Mamuju hingga Polewali.

Sandeq race tahun ini dibagi dalam tujuh etape,  mulai start dari Mamuju ,Sulawesi Barat dan finis di Makassar, Sulawesi Selatan. Yakni etape pertama Mamuju-Deking, kedua Deking-Somba, ketiga Somba-Majene, keempat Majene-Polewali, kelima Polewali-Ujung Lero, keenam Ujung Lero-Barru, dan ketujuh Barru-Makassar. Menurut Ridwan, etape terakhir ini berjarak sekitar 60 kilometer.

Pada etapa terakhir ini, kita tak melulu menyaksikan sandeq. Tetapi kita juga akan disuguhi

pemandangan eksotis pulau-pulau karang yang berada disebelah barat jazirah Sulawesi Selatan.

Hamparan pulau membentang selatan-utara, mulai Kabupaten Takalar di Selatan hingga pulau-pulau Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di utara, dikenal sebagai Dangkalan Spermonde, dengan jumlah pulau sekitar 120 pulau, 12 diantaranya merupakan bagian wilayah Kota Makassar. Pulau terbanyak berada di perairan Pangkep.

Mendapat kode dari Ridwan, Syafaruddin Hatta, sang punggawa KM Duta Merlin, menghentikan kapal motor yang kami tumpangi, disekitar Pulau Bate Tiga, yakni tiga pulau kembar di perairan Pangkep. Pemandangan bawah lautnya sangat indah,  terlihat jelas, karena air sangat jernih. Koral-koralnya masih hidup, ada banyak bintang laut yang didominasi warna biru, serta ikan-ikan berukuran kecil bergerombol bermain pada air dangkal. Meski indah, tapi ternyata ini menjadi etape paling sulit bagi peserta lomba sandeq. Lingkungan perairan ini dinilai berbahaya karena dimana-mana ada gusung dan terumbu karang. Melintasi Kepulauan Spermonde, jika tak hati-hati melakukan manuver, bisa-bisa kemudi patah atau perahu pecah sebab kandas di karang.

Matahari tepat lurus di atas kepala, rasa lapar mulai menyerang. Tetapi langsung terobati oleh suguhan menu ala nelayan. Sepiring nasi panas, ikan Cakalang dan Tongkol kering bakar dicampur ulekan lombok, bawang dan garam. Hmmm…, mak nyus. Menu karya koki cilik, Aco, 10 tahun. Dan perahu sandeq peserta lomba jaraknya makin jauh, sekitar 20 kapal masih terjangkau pandangan mata. Itu pun posisinya terpencar. Meski jauh dari sandeq, kami  masih bisa menikmati suasana tenang mengapung di lautan. Menikmati atraksi ikan terbang yang muncul dari dalam air. Beberapa ikan mampu melompat cukup tinggi dan cukup jauh sekitar 10 meter. Penampilannya semakin indah dengan kilauan perak dari  berkas sinar matahari yang memantul pada air laut. Pemandangan seperti ini bisa kita nikmati ketika matahari mulai lengser ke barat.

Sekitar pukul 16.30 Wita, kami merapat di Pantai Losari, tiga peserta lomba sandeq telah masuk tiba mendahului kami. Beberapa perahu sandeq baru tiba pada malam hari. Keesokan harinya, kami  berkesempatan menguji adrenalin dengan mencoba berlayar menggunaan sandeq.  Menumpang Arawungan Pantai Ratu, yang di punggawai Ropong, 52 tahun, kami mengarungi perairan Makassar di sekitar Pulau Lae-lae.

Lima awak terlihat begitu lincah berlari diatas batang bambu, mengikuti irama angin. Sandeq meluncur cepat dan tenang.  Hanya ada suara gemericik  air yang terbelah. Kami ikut awas, memperhatikan layar yang diputar ke kiri dan kanan,  mengimbangi angin, membuat kami terpaksa bangun-tidur di bodi sandeq jika tidak akan terlempar ke laut.

Bagi mereka yang juga ingin mencoba sensasi menumpangi sandeq, beberapa peserta bersedia mewujudkan keinginan itu dengan senang hati.  Tarifnya  sekitar Rp 200 ribu. Ajang sandeq race ini merupakan salah satu objek wisata yang bisa dinikmati sekali setahun. Tahun ini adalah lomba sandeq ke-12. Diprakarsai Horst H Liebner, peneliti Maritim Nusantara, 1995 lalu. “Keberadaan lomba ini menjadi alasan bagi seluruh masyarakat Mandar untuk tidak meninggalkan begitu saja tradisi pelayaran dengan perahu sandeq,” katanya.

Menurut Horst, sekarang nelayan lebih memilih memakai kapal motor dengan kamar dan mesin penggerak yang tidak tergantung pada angin. Buat mereka , kapal motor lebih nyaman. Namun kecenderungan ini akan mengancam hilangnya sandeq sebagai salah satu kekayaan pengetahuan berlayar dan membangun perahu layar yang dikumpulkan para pelaut Mandar sejak ratusan tahun silam. (Irmawati)

Pulau-pulau di  Makassar

Kepulauan Spermonde memiliki 12 pulau yang sebagian besar masih asri. Empat dari 12 pulau itu dikembangkan  sebagai pulau wisata yakni Pulau Lanjukang, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona dan Pulau Kayangan. Sisanya dijadikan pulau hunian yakni Pulau Langkai, Lae-Lae, Lae-Lae Kecil, Bonetambung, Lumu-lumu, Kodingareng Lompo, Barrang Lompo, dan Barang Caddi.

Pulau Lanjukang atau Lanyukang alias Laccukang adalah pulau terluar yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Luasnya mencapai 6 hektar, dengan rata-rata terumbu mengelilingi seluas 11 hektar.  Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang lunak, ikan karang, ikan hias, serta biota laut lainnya.

Biasanya wisatawan memanfaatkan sebagai tempat transit sebelum meneruskan  ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (Pangkep) untuk olahraga memancing. Di Pulau Lanjukang ini terdapat fasilitas resor, yakni dua buah bangunan rumah semipermanen. Meski fasilitasnya sangat terbatas,  bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini salah satu tempat yang ttepat.  Ideal untuk berkemah atau bermain di pantai  pasir putihnya.

Pulau Kodingareng Keke, berjarak 14 kilometer dari Makassar. Luasnya  sekitar 1 hektar. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikil, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh  pasir putih yang berukuran sedang-halus. Bentuk pulau ini  berubah mengikuti musim barat dan timur. Terdapat bangunan semi permanen sebagai resor  yang dikelola  warga Belanda. Tempat ini idela bagi mereka yang senang snorkeling. Kondisi terumbu karangnya masih terjaga dengan baik.

Pulau Samalona, berjarak sekitar 7 kilometer dari Makassar, secara  administratif masuk wilayah Kecamatan Mariso. Bentuknya agak  bulat dengan luas sekitar 2 hektar. Cukup rindang dengan sejumlah pohon besar, seperti  pohon cina, pohon tammate,  dan pohon kelapa.  Di sisi barat laut terdapat hamparan pasir putih yang dimanfaatkan sebagai tempat bermain voli. Di pulau ini dapat dijumpai  sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat Samalona, letaknya disisi utara. Ada rumah penduduk yang bisa disewa serta tempat pemandingan, dan tempat ini nyaman untuk berenang.

Pulau Kayangan, di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang berjarak  sekitar 800 meter dari pelabuhan Soekarno-Hatta,  atau bisa ditempuhnya hanya sekitar 15 menit. Bentuknya agak bulat, luasnya sama dengan Samalona, juga berpasir putih. Dulu pulau ini bernama Marrouw atau Meraux, salah satu tempat wisata bahari favorite sejak tahun 1964. Ada fasilitas penginapan, pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, tempat bermain anak, sarana olahraga, anjungan memancing dan kolam renang air tawar.

Jika ingin mengunjungi pulau-pulau di kawasan Spermonde, kita bisa menyewa kapal dari marine popsa dan dermaga kapal Bangkoa.  Satu unit kapal berkapasitas  sepuluh orang, disewakan Rp 300 untuk rute Pulau Samalona pergi pulang. Tarifnya menjadi  Rp 500 ribu bila  ke Pulau Kodingareng Keke dengan waktu tempu sekitar satu jam. Dan jika ingin mengunjungi kedua pulau ini,  tarif lebih murah , yakni Rp 700 ribu. (Irmawati)

Catatan : Pernah dimuat di halaman Destination, Majalah Travelounge Edisi Oktober 2010

Foto Keluarga Mereka yang Hidup dan Mati

Foto keluarga dengan mereka yang diganti kain jasadnya. (Irmawati)

Jasad Utuh

Jasad Markus moli, yang wafat 2002. (Irmawati)

Arisan Kematian

Jasad Esra Lumbaa yang masih utuh, meninggal 11 tahun lalu. (Irmawati)

Penulis & Foto : Irmawati

’Arisan’ Kematian di Bululangkan

Tana Toraja terkenal akrab dengan kematian, tradisi yang melekat sejak animisme masih dianut. Salah satu kegiatan yang masih berlangsung sehubungan dengan itu adalah ma’nene, ziarah kubur dengan membersihkan dan mengganti pakaian para jasad. Wartawan Tempo, Irmawati, berkesempatan mengikuti warisan aluk todolo (adat orang dulu) ini di Desa Bululangkan, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, September lalu.

PULUHAN peti jenazah beraneka usia berjejer di depan setiap patane atau rumah makam keluarga. Setelah tiga tahun, baru peti-peti itu dikeluarkan. Wujudnya macam-macam. Ada yang polos, ada yang berukir khas Toraja. Beberapa jasad dalam peti masih terbungkus rapi, sebagian lainnya ada yang kotor berdebu. Nama-nama yang tercantum di masing-masing kain sulit dibaca.

Di samping puluhan peti itu, terdapat bungkusan jenazah lain tanpa peti. Bentuknya seukuran tubuh manusia yang dibalut kain tebal. ”Nek Banaa tak suka dikasih peti,” kata Sarlota Sanda, putrinya.

Di patane sebelah, tiba-tiba terdengar sorak-sorai. Keluarga yang sedang membuka peti mayat para leluhurnya itu tampak kegirangan. Satu mumi laki-laki sedang dipegang dalam posisi berdiri. Ia tampak utuh. Massa tubuhnya sedikit mengecil, meski tingginya bak orang normal. Namanya: Bapak Esra Lumbaa. Menurut keluarga, ia wafat pada 1998.

Jeprat-jepret kamera langsung terjadi, baik dengan kamera saku, handycam, maupun telepon seluler. Beberapa orang minta difoto bersama mumi-mumi itu. Tak ada rasa takut. Ada yang menciumi mumi-mumi tersebut berulang-ulang.

Tapi, dalam hitungan menit, ekspresi kegirangan itu segera berganti. Tawa berubah menjadi tangisan. Lambat-laun tangisan saling bersambut hingga terdengar seolah berkejaran satu sama lain. Setelah senang melihat wujud jasad yang masih utuh, kali ini mereka mengutarakan rindu dan kesedihan mereka, sepeninggal orang-orang kesayangan itu ke alam baka. Suasananya seperti drama sebuah arisan berkala dengan mereka yang telah pergi selamanya.

l l l

’Arisan’ berkala itu adalah ma’nene atau upacara penggantian kain jenazah yang menjadi wujud rasa hormat kepada para leluhur, atau semacam ziarah kubur. Ma’nene, yang artinya menanam bunga, adalah warisan aluk todolo (adat orang dulu) saat masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Prosesi ini digelar setelah pesta rambu solo, upacara pemakaman yang sering juga disebut pesta kematian, dan sebelum rambu tu’ka atau pesta naik rumah Tongkonan—rumah asli Toraja dengan atap menyerupai perahu.

Kepada antropolog Toby Alice Volkman, yang menuliskannya dalam buku Feast of Honor, Ritual and Change in The Toraja Highlands, seorang warga Toraja mengatakan bahwa dalam tradisi ma’nene, mereka yang masih mempercayai tradisi aluk ini harus ikut serta, yang paling miskin sekalipun. Ia biasanya diadakan pada Agustus, setelah mereka yang mati dikuburkan dan sebelum musim tanam dimulai. Di sejumlah daerah upacara ini diadakan hanya lima atau sepuluh tahun sekali.

Kali ini penyelenggaranya adalah Desa Bululangkan, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Toraja Utara adalah kabupaten baru, hasil pemisahan dari Kabupaten Tana Toraja. Beberapa kecamatan di Toraja Utara yang masih menggelar prosesi ini adalah Rindingallo, Ampang Batu, Kantun Poya, Baruppu, Awan, dan Sesean.

Desa Bululangkan berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Rantepao, pintu masuk wilayah Tana Toraja. Jarak ini jika kita menempuh jalur Tikala yang saat ini hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Jika bermobil, jalan yang harus dipilih adalah berputar melalui Lolai sehingga jaraknya lebih jauh dan medannya pun lebih berat karena kondisi jalan yang rusak. Di desa ini ma’nene disepakati digelar setiap tiga tahun.

Menurut Yunus Lumbaa, 53 tahun, tujuan prosesi ma’nene zaman dulu adalah menyembelih kerbau bagi mereka yang saat pemakaman belum melakukannya. Kini ma’nene tetap digelar, meski tujuannya lebih untuk mengingat leluhur dan menjaga silaturahmi keluarga. Apalagi ma’nene sering digunakan untuk ajang berkumpul mereka yang merantau.

Menumpang Toyota Avanza, Tempo dan tiga wartawan lain pada akhir Agustus lalu bergerak menuju Desa Bululangkan. Matahari sudah tampak, meski udara terasa dingin. Mobil mendaki dataran tinggi berbelok-belok, melalui banyak persimpangan dengan kondisi jalan yang hanya kadang-kadang mulus. Kontur daerahnya berbukit-bukit dengan vegetasi yang rapat. Udara sungguh segar. Kabut tebal menyelimuti meski waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh pagi.

Setiba di Lembang (Desa) Bululangkan, suasana terasa sunyi. Tak banyak warga lalu-lalang di rumah-rumah seperti lazimnya permukiman. Menyusuri jalan menuju bukit, sebagian orang mulai tampak. Di sisi sebelah kiri jalan terdapat enam buah patane: satu dari kayu, lima lainnya dari bangunan beton. Di situ banyak warga desa berkumpul. Mereka mengeluarkan peti-peti jenazah dan jasad yang terbungkus kain tebal dari dalam makam. Tak ada yang terganggu oleh kedatangan orang asing atau turis di lokasi.

Sebagian warga sudah mulai membuka lapisan-lapisan kain yang berisi jasad keluarga mereka. Tampak potongan tulang dari bagian tubuh ataupun kepala. Sambil dibersihkan, sebagian ditebar dan dijemur di bawah terik matahari pagi. Beberapa warga nongkrong, menikmati bekal mereka. Kaum lelaki mengisap rokok dan meminum kopi hitam. Nyaris tak ada bau apa pun dari jasad yang terbuka itu. Kalaupun ada yang tercium oleh hidung, yang terasa menyengat adalah bau kemenyan dan kapur barus.

Sarlota Sanda, 54 tahun, hadir di situ dengan tiga saudaranya, Debora Tumba’ (56), Samaa Moli’ (52), dan Benyamin Bondo (40). Namun, tak seperti keluarga Lumbaa, keluarga Sarlota hanya membuka sebagian. Jasad kedua orang tua mereka, Moli Sesa’ dan Nek Banaa, dikeluarkan dari peti, kemudian dibuka sepertiga pada bagian atas saja, sehingga yang kelihatan hanya muka dan kepala.

Dari penglihatan Tempo, bagian kepala jasad Moli Sesa’ terlihat agak basah. Ada balutan perban. Semacam daun-daunan sirih dan tembakau yang agak halus memenuhi beberapa pancaindranya, seperti di bagian mulut, hidung, telinga, dan mata. Jasad istrinya, Nek Banaa, terlihat kering-keropos, berwarna cokelat tua, dan rapuh seperti kertas. Semasa hidup Moli Sesa’ bertani serta berdagang kerbau dan kopi. Kini diteruskan oleh Samaa, anak lelakinya.

Di patane sebelah, kini giliran ibunda mumi laki-laki tadi yang dibuka petinya. Namanya Mama Sara. Agar semua warga bisa melihat, mumi perempuan tua ini juga dipegang oleh keluarga dalam keadaan berdiri. Ia terlihat masih sangat utuh, bahkan hingga ke wajah. Drama itu pun terulang kembali, dari suasana gembira dan tertawa-tawa hingga ke tangisan menyayat yang dilakukan keras-keras.

Kepala Lembang Bululangkan, E Ungke Toding Allo, 40 tahun, mengatakan sorak-sorai itu terjadi karena keluarga gembira menemukan jasad yang masih utuh dan bisa dikenali. ”Kondisi jasad yang utuh itu kebanggaan bagi keluarga yang ditinggal,” katanya. Adapun suasana haru dan sedih yang menyusulnya adalah pertanda para keluarga mengenang kehidupan tubuh-tubuh yang mati itu kala masih bersama mereka.

Banyak cerita bisa diperoleh dari peti-peti itu. Misalnya warna kain pembungkus jasad: ada yang polos, bermotif, tapi yang dominan adalah warna merah polos. Dalam penggunaan kain, merah menempati status sosial tertinggi. Untuk bisa menggunakan kain merah polos, keluarga harus memotong minimal tujuh ekor kerbau saat upacara rambu solo atau upacara pemakaman.

Yunus Lumbaa memberi contoh. Saat orang tua Thomas Seba, 69 tahun, wafat pada 1960, keluarganya belum mampu sehingga hanya memotong seekor kerbau. Mereka tak berhak menggunakan kain merah sebagai pembungkus jasad. Baru pada 1981, ketika Thomas yang merantau ke Papua sudah punya uang, ia mengorbankan delapan ekor kerbau untuk orang tuanya. Dengan kata lain, jasad orang tuanya sudah berhak mengenakan kain merah polos. Kini aturan soal kain itu sudah tak terlampau ketat lagi karena jenis kain yang tampak sudah beraneka ragam: ada pakaian bekas, sarung, seprai, bahkan karung terigu.

Ada lagi cerita tentang ukurannya, yang berbeda-beda karena sesuai dengan bentuk tubuh orang yang wafat. Seperti jasad-jasad di patane milik keluarga Ajun Komisaris Polisi Simon Moli. Jumlahnya ada sebelas—enam jasad orang dewasa dan lima jasad anak-anak berbagai usia. Yang paling kecil berukuran seperti bantal guling kecil dengan panjang 40 sentimeter. Kata Ne’ Maria, 70 tahun, jasad terkecil itu adalah anaknya yang meninggal saat masih dalam kandungan, berusia 5 bulan. ”Saat itu saya keguguran,” katanya. Setiap ma’nene, jasad yang satu itu hanya dijemur tanpa pernah dibuka kain bungkusannya.

Di patane lain, tampak keluarga memegang dengan gembira tiga jasad orang tua yang masih utuh, meski sudah wafat lebih dari dua dasawarsa lalu. Salah satunya perempuan, terlihat dari rambutnya yang panjang. Mumi tua ini bernama Nek Sombo Allo, yang meninggal di usia 80 tahun.

Setelah dibersihkan dan sedikit dijemur di bawah sinar matahari, bungkusan jasad-jasad itu kemudian dirapikan kembali. Kain-kain yang sudah kurang bagus dibuang dan kain yang masih bagus tetap dipakai, ditambah beberapa helai kain baru. Setelah rapi, sebagian kemudian diikat dengan tali rafia atau tali dari sobekan sarung bekas. Yang tidak diikat langsung dimasukkan kembali ke peti.

l l l

Setelah ”arisan” dengan jenazah itu rampung, berikutnya adalah ”arisan” dengan handai taulan. Ini biasa disebut ne pare lapuk atau acara bersyukur bersama menutup ma’nene. Ini digelar di Rante, lapangan khusus yang memiliki batu-batu menhir di sekelilingnya. Batu-batu ini konon simbol tokoh masyarakat kampung yang telah wafat. ”Semakin besar batu,” kata E Ungke Toding Allo, Kepala Lembang Bululangkan, ”semakin tinggi kedudukannya.”

Penutupan prosesi yang sedianya digelar pada Minggu ditunda karena hari itu adalah jadwal warga mengikuti kebaktian. Di sore hari, beberapa anak muda tampak bermain sepak takraw di lapangan Rante. Dekat dari situ terdapat rumah Tongkonan yang berusia ratusan tahun. Tongkonan ini sudah berlumut dan pada bagian atapnya sudah ditumbuhi tanaman pakis atau semacam benalu yang cukup lebat.

Para orang tua memanggil anak-anak agar membantu mereka membuat pa’piong, masakan dari daging babi yang dimasukkan ke bambu lalu dibakar—makanan wajib Mappakende. Anak-anak membantu mengangkat babi yang telah diikat dan memegang kakinya ketika badik menikam ternak itu tepat pada jantungnya. Darah yang mengalir ditampung di botol. Setelah itu, mereka berlarian menyiapkan kayu dan ranting bambu untuk membakar babi yang sudah disembelih tersebut. Anak-anak perempuan lalu menyiapkan bumbu pa’piong, seperti daun bawang, bawang putih, cabai, merica, garam, dan daun-daunan setempat. Kurang dari 30 menit, bulu-bulu babi tadi bersih dilahap api dan babi itu tampak kaku dengan tubuh yang hitam gosong. Setelah dikeluarkan isi perutnya dan dipotong kecil-kecil, potongan-potongan itu kemudian dimasukkan ke beberapa batangan bambu berukuran setengah meter, lalu dibakar.

Keesokan harinya, pagi-pagi, warga terlihat mulai berdatangan ke Rante. Mereka menggelar tikar. Di atasnya mereka menata makanan yang akan disantap bersama. Acara akan dimulai pukul 08.00 Waktu Indonesia Tengah. Hadirin dari anak-anak hingga mereka yang berusia lanjut hadir. Salah satunya Nek Rande, tokoh masyarakat yang usianya lebih dari 100 tahun. Tampak juga beberapa tamu dari desa tetangga, seperti rombongan dari Lembang Punglu, Kecamatan Buntu Pepasa. Rombongan ini dipimpin Bapak Pore, 40 tahun.

Sempat terjadi diskusi pembagian daging; beberapa orang berpendapat daging dibagi rata untuk semua, ada pula yang berpendapat daging dibagi untuk mereka yang menyumbang saja. ”Ta bagi ratai to, ri ma sumbang,” kata Yunus Lumbaa. Kerbau dibeli seharga Rp 6,5 juta, sedangkan total sumbangan mencapai dua pertiganya. Penyumbang memberi dengan nilai nominal yang berbeda-beda, mulai Rp 40 ribu hingga Rp 2 juta—nilai nominal terbesar yang disumbang Thomas Seba. Kerbau yang dikorbankan dalam upacara penutupan ini tak boleh utangan. Mesti lunas.

Akhirnya disepakati daging kerbau dibagi rata untuk semua. Daging lantas dipotong-potong seukuran setengah sampai satu kilo, lalu ”plok!” dilemparkan ke hadapan masing-masing warga. Di tempat lain boleh jadi hal ini kurang sopan, tapi begitulah adat di Bululangkan.

Daging habis, yang tersisa tinggal kepala kerbau di tengah lapangan. Kini giliran kepala babi, bagi mereka yang membuat pa’piong, yang dikumpulkan. Totalnya 37 ekor. Semuanya kemudian dilelang dengan harga bervariasi, dari Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu. Setelah semuanya terjual, dana yang terkumpul mencapai Rp 4,35 juta, yang disumbangkan untuk enam gereja di Bululangkan.

Sang pemandu acara, Yunus Lumbaa, sejenak beristirahat. Ia minum tuak nira dari batang bambu sebagai pengganti gelas. Setelah itu, ia kembali berdiri di tengah Rante dan berdialog. Kini ia menagih utang dan janji-janji warga yang belum diselesaikan. Hasil tagihan dan sumbangan, sebesar Rp 26 juta, dikumpulkan untuk pembangunan fasilitas umum desa.

Thomas Seba, sebagai anak rantau yang pulang dengan harta melimpah, lantas mengumumkan: ma’nene berikutnya akan digelar pada 2012. Pengumuman ini dilanjutkan dengan kebaktian bersama yang dipimpin seorang pendeta Bululangkan. Acara pun ditutup dengan makan bersama. Warga membuka bekal masing-masing, yakni pa’piong dalam berbagai rupa—ada yang bumbunya agak hitam, ada yang cokelat pucat, ada juga yang kekuningan. Tamu seperti Pore mendapat pa’piong utuh, masih dalam batang bambunya. Jumlahnya hingga 17 buah. ”Akan kami bawa pulang untuk dibagi-bagi kepada warga desa kami,” katanya.

Setelah makan, ”arisan” pun ditutup dengan warga beramai-ramai berjalan menuju tanah lapang tepat di halaman gereja, sekitar 1 km dari Rante. Di situ, para pria dewasa, minimal 12 tahun, beradu kaki sebagai perlambang kejantanan dalam olahraga sisemba. Siapa pun yang ikut harus menanggung akibatnya sendiri bila terluka, patah, atau bahkan meninggal dunia. Sekitar seratusan orang terlibat. Dalam riuhnya gerak tubuh dan kaki mereka yang beradu, beberapa orang sempat hampir adu jotos meski kemudian dapat didamaikan. Dengan damai seluruh prosesi ”arisan” pun usai. (***)

Majalah Tempo Edisi Oktober 2011, Halaman Intermezzo, Tempo vol. 38 no. 34 (Oct. 2009)

Tulisan Terkait :

Aluk Todolo Abad Ke-21

Antara Ramuan dan Jasad Terbang

 

 

Rindu

Rindu, semakin aq akrab dengan kata ini, aq seolah semakin tidak tahu maknanya. Semakin lama aq mengenalmu, aq seperti semakin bingung, siapa kamu, seseorang atau ada berapa orangkah dirimu. Atau sebenarnya kamu tak pernah ada…

 

Catatan Harian

Mawar merah itu masih segar dan secantik dulu,

Tidak ada yang berubah.

Tapi bagaimana jika durinya tak tajam lagi?

Apakah ia akan gampang dipetik oleh siapa saja?

Sampai akhirnya layu,

Tapi dia bukan bunga kertas,

Yang kecantikan dan keharumannya palsu,

Membuat mawar itu tetap menarik perhatian semua,

Apalagi disertai ketulusan.<….>

Catatan menjelang tidur, Mks 25 Februari 2009

Perempatan Jalan

Persimpangan HJ Bau

Kawasan Latimojong

Habitat Anoa

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.