Menyapa Lewat Esai Tanpa Pagar

Dia punya keindahannya sendiri, dengan unsur sentuhan personal yang kuat. 

Pada suatu malam yang terbungkus gelap dan temaram lampu-lampu Kota Makassar, Nurhady Sirimorok bertanya kepada saya, “Menurut Bapak, apa aliran politik pencipta lagu anak-anak Layang-layangku?” Saya betul-betul terhenyak! Kalau dia bertanya tentang lagu kebangsaan Cina, Zhi Lai, ciptaan Nie Her, barangkali saya akan lebih siap menjawab, kata Amarzan Loebis, editor senior Tempo, dalam prolognya di buku Esai Tanpa Pagar100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Komunitas literasi disela peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Komunitas literasi disela peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Jawaban Amarzan ini kemudian diolah Dandy—sapaan akrab Nurhady—menjadi tulisan Literasi berjudul “Membayangkan Masa yang Menciptakan Layang-layang” yang dimuat di Koran Tempo Makassar pada 24 Juli 2013. Dalam tulisannya, Dandy mengungkapkan, bagaimana lagu Layang-layang dan permainan layang-layang bisa menjadi ilustrasi tentang latar masa yang mendasari penciptaannya dan bagaimana ia kian dilupakan seiring dengan berubahnya masyarakat.

Ingatan kolektif tentang pembuatannya jadi susut. Nyaris bersamaan, serangan lain datang dalam bentuk permainan bermesin dan kelak berkontrol jarak jauh. Pembangunan kota pun membuat tanah lapang untuk menerbangkannya menyempit. Aktivitas rekreasi anak-anak perlahan beralih menjadi nirgerak, antisosial, dan konsumtif, dimanjakan beragam fitur di telepon seluler, tablet, televisi, dan berbagai jenis video game. Ruang gerak mereka semakin terkurung teknologi. Bersama permainan rakyat lainnya, layang-layang takluk, lalu terkurung di museum dan festival-festival—menjadi tontonan, entah sampai kapan.

Sangat sedikit keterangan mengenai layang-layang di dunia maya. “NN” adalah pencipta lagunya dan mulai dikenal pada 1960-an. Itu saja. Jejak paling awal justru saya peroleh dari penuturan Amarzan Loebis, yang mengaku mendengarnya pertama kali ketika ia berusia belasan tahun pada pertengahan 1950-an—beberapa orang lain menyebutkan awal hingga akhir 1960-an sebagai masa pertama kali mereka mendengarnya. Jadi, anggaplah lagu ini dibuat pada paruh kedua 1950-an.

Begitulah salah satu kisah proses tulisan literasi bisa terbentuk. Amarzan mengatakan, dalam prolognya,

“literasi” pada akhirnya menjadi semacam “taman olah pikir” para intelektual Makassar, para jauhari dari berbagai disiplin, dengan cara yang rendah hati dan menginspirasi. Kemikroan sikap pandang mereka bukanlah representasi kesempitan berpikir, melainkan semacam ijtihad merayakan kedalaman dan ketajaman.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Seperti apa kedalaman dan ketajaman masing-masing penulis, itu bisa dilihat dalam buku Esai Tanpa Pagar ini. Dalam buku ini terdapat 100 tulisan literasi, yang dipilih dari 261 tulisan literasi yang terbit di Koran Tempo Makassar selama 2013. Buku ini diluncurkan pertama kali Sabtu sore lalu di Fort Rotterdam Makassar.

Buku seratus literasi ini menghimpun 20 kara penulis, yakni Ahyar Anwar (almarhum), Alwy Rachman, Andi Sri Wahyuni Handayani, Anwar Jimpe Rachman, Aslan Abidin, Dul Abdul Rahman, Erni Aladjai, Fadhli Amir, Fitrawan Umar, Hendragunawan S.Thayf, Idham Malik, M. Aan Mansyur, Mohd. Sabri A.R., Muhary Wahyu Nurba, Muin Kubais M. Zeen, Mulyani Hasan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany, Wawan Kurniawan, dan Willy Kumurur.

Kata Aslan, salah satu penulis, tulisan dalam literasi kebanyakan mengenai hal-hal serius yang kita lewatkan dan dianggap sepele. Misalnya, tentang membuang sampah di sembarang tempat dan tentang geng motor yang merisaukan warga Makassar. Dari pengalaman dan pengamatan yang disaksikan dalam masyarakat itu, kemudian dituliskan dengan menambahkan referensi, baik dari bacaan, pengalaman, maupun film.

Menurut dia, literasi punya niat dan punya manfaat secara sosial, karena pada umumnya menyentuh kepentingan banyak orang. “Kolom ini semacam ruang publik, kita bisa membicarakan masalah-masalah masyarakat,” tuturnya.

Selain untuk berbagi kepada masyarakat, kata Aslan, literasi dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan penguasa. “Penguasa kita tidak berfungsi dengan baik, anggota Dewan kita, pemerintah kita, tidak berfungsi dengan baik,” ucap Aslan. Selain itu, literasi diharapkan menjadikan pembacanya tergerak untuk membaca kenyataan sosial dan membaca buku.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Luna Vidya, salah satu penanggap buku Esai Tanpa Pagar, mengatakan literasi adalah media menuangkan kecerdasan subyektif. “Penulis dalam buku ini memberi pemahaman yang baik kepada pembaca,” tuturnya.

Lain lagi pendapat penulis dan seniman Moch Hasyimi Ibrahim. Menurut dia, literasi dalam buku Esai Tanpa Pagar ini sangat jeli mengangkat tema sosial. “Erni Aladjai, misalnya, mengangkat kebiasaan membuang nasi (tak menghabiskan nasi),” ucap Ami—sapaan akrabnya.

Rubrik literasi ini selalu dinikmati Ami setiap sore, menemaninya menunggu waktu mengurai kemacetan Makassar. Ditulis oleh penulis yang terpikat pada sesuatu gejala alam, lalu dimaksudkan untuk membagi, secara subyektif.

Literasi semacam ruang untuk menyapa, menyampaikan pandangan ke publik. “Dia punya keindahannya sendiri, unsur sentuhan personalnya kuat, serta memiliki rasa Makassar yang khas,” ujar Ami. Sesuai dengan namanya, tulisan literasi harus disertai rujukan, “Kami bisa menemukan bacaan-bacaan dunia yang menjadi literatur.” Umumnya tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki rujukan peristiwa sehingga terasa sangat segar. “Ini harus kita sambut dengan baik, saya kira rubrik ini jangan sampai mati. Enak dibaca dan perlu.”

Dewan Penasihat Komunitas Literasi Makassar, M. Iqbal Parewangi, yang datang agar tak kehabisan buku, mengungkapkan penilaiannya secara subyektif, bahwa literasi adalah godaan terhadap Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  10 Juni 2014)

Menerjemahkan Diri dalam Naskah

Memperpanjang karya sastra bisa dilakukan dengan cara selalu membacanya.

Kain-kain hitam seolah menyelimuti ruang Capitol Theater di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Sabtu malam lalu. Asdar Muis RMS memecah malam dengan membaca beberapa karya esainya. Tak hanya itu, ia juga meramaikan suasana Diskusi dan Kolaborasi Baca Sastra Landung Simatupang bersama beberapa seniman Makassar dengan aksi ‘pemulung kata’—mengumpulkan kata, lalu dirangkai menjadi cerita—Asdar menceritakan dirinya sendiri.

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seperti Asdar, Asia Ramli Prapanca alias Ram, yang menjadi penampil kedua, juga bercerita tentang dirinya. “Saya tak bisa banyak berimprovisasi karena sedang sakit,” tuturnya sebelum mulai bercerita.

Ram memulai cerita dari kampung halamannya di kampung Bajo yang melimpah hasil laut. “Di tempat saya, bukan suku Bajo yang mencari ikan, tapi ikan yang mencari suku Bajo.” Ia bahkan pernah menjadi ikan, “Saya pernah ikat dengan tali lalu digantung dan diasapi, saya juga pernah dimasukkan ke karung, lalu digantung dan diasapi.”

Saya lahir di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kata Ram. Dari tangga belakang rumahnya, ia biasa memancing ikan, lalu langsung memanggangnya di atas tungku dekat pintu belakang rumahnya. Begitulah masa-masa kecil Ram tumbuh sebagai anak suku Bajo, kini berdomisili di Makassar yang kesehariannya sebagai seniman dan pengajar di salah satu perguruan tinggi di kota ini.

Sang penyair menutup ceritanya dengan puisi “Jati Cinta”.

Kalau cintaku tak sampai padamu/ Di atas keranda/ Telah kusiapkan kain kafan/ Kemarin kubeli dengan nuraniku.

Di belakang rumah / Ada sepetak tanah/ Warisan nenek moyangku.

Kubur aku di sana/ Kelak, bakal tumbuh sebatang pohon / Tanpa nama / Tanpa ujung pangkal.

Pintaku/ Sebut ia jati cinta.

Tak mau kalah, penyair Irwan A.R. alias Brutus juga menyampaikan sajak-sajak rindunya. Penyair Muhary Wahyu Nurba juga memilih tema puisi yang senada. Melalui bait-bait puisinya, Muhary mencoba menceritakan dirinya yang menemukan pasangan bernama istri.

Berbeda dengan para penyair Ram dan Brutus, Yudhistira Sukatanya memilih tetap setia di tempatnya. Ia bercerita tentang “Perkawinan Kembar Emas” dalam Sure Galego—yang lebih dikenal sebagai kisah I La Galigo.

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Sawerigading dan We Tenriabeng adalah anak kembar emas, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Dari cerita ini diketahui, Batara Guru berpesan untuk membesarkan kedua anak kembar emas ini secara terpisah, agar kelak bila dewasa tak saling jatuh cinta.

Benar saja, saat melihat saudara kembarnya, Sawerigading langsung jatuh cinta dan bermaksud mengawininya. Tapi keinginannya itu mendapat tentangan dari orang tua dan rakyat banyak. Alasannya, mengawini saudara kandung adalah pantangan, dan jika dilanggar bisa terjadi bencana di seluruh negeri ini.

Lebih dari setengah jam cerita Yudhistira mengheningkan ruangan. Beruntung, ada suguhan singkong dan pisang goreng serta teh manis panas menemani penonton. Sambalnya yang pedas membuat mata terbebas dari kantuk.

Soeprapto Budisantoso, yang bertindak sebagai pemandu acara ini, mengatakan bahwa kehadiran Landung Simatupang berhasil membangkitkan Yudhistira Sukatanya, salah satu pencerita radio yang ulung di eranya. Cerita “Perkawinan Kembar Emas” oleh Yudhistira ini diiringi oleh pemusik Daeng Basri.

Sebelum Landung, Luna Vidya tampil lebih dulu. Ia minta didengar lalu berbagi cerita. “Membiarkan kerinduan menunggu dan melapuk. Kerinduan yang tidak selesai, itu seperti bangun pagi lalu ada peluh,” ucapnya dengan suara lirih.

Luna mengaku selalu menuliskan keintiman dirinya tapi tak mahir membacakan karyanya sendiri. Jika membaca karya sendiri, ia akan merasa ujung jari-jari pembaca akan menyentuhnya. “Saya tak sanggup menghadirkan diri saya, meski forum seperti ini membuat saya lebih nyaman. Saya selalu gagap menceritakan diri saya. Saya jagonya menerjemahkan diri saya dalam naskah orang lain,” tuturnya.

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Landung Simatupang, yang menjadi penampil berikutnya, mencoba menerjemahkan dirinya dalam naskah Seno Gumira Ajidarma. “Saya bangga kepada Mas Landung, yang bisa melepas dirinya lalu menjadi Chairil Anwar, bisa juga menjadi Seno,” kata Asdar. Begitulah karya-karya sastra dibacakan agar usianya makin panjang.

Membaca diri sendiri, serta membanggakan budaya lokal kita, adalah hal yang perlu dilestarikan. Saya kira kita harus mulai memperkenalkannya kepada orang luar, tak melulu membawa budaya luar untuk kita perkenalkan di sini di Makassar. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  11 Juni 2014)

 

Cerita Baharuddin Lopa dari Pambusuang

Menyusuri jejaknya di Pambusuang bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar

Orang-orang menyapa dan menyebutnya “Aqbana Khalid”, yang berarti bapaknya si Khalid—nama anak pertama Baharuddin Lopa. Di tanah kelahirannya, di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Makassar, Baharuddin tak dikenal sebagai “Pak Lopa”, karena Lopa adalah nama bapaknya. Selain “Aqbana Khalid”, sapaan akrab lainnya adalah “Jassa Agung” (jaksa agung).

Secara luas, masyarakat memang mengenal Baharuddin Lopa sebagai penegak hukum yang pemberani dan jujur. Tapi, dalam film berdurasi sekitar 15 menit berjudul Baharuddin Lopa, kita akan melihat sisi lain dari mantan jaksa agung itu.

“Mungkin tidak akan menjawab sepenuhnya, tapi sedikit-banyak akan memberi gambaran akan ‘akar’ yang membuat Baharuddin Lopa menjadi sosok yang pemberani dan jujur,” ucap Muhammad Ridwan Alimuddin, pembuat film dokumenter Baharuddin Lopa, kepada Tempo, Selasa lalu, melalui surat elektronik.

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Selama ini, sosok Baharuddin banyak dikenal lewat perspektif orang-orang di Makassar dan Jakarta. Tapi, dalam film ini, kita akan melihat perspektif orang-orang di Pambusuang tentang Baharuddin. Pambusuang adalah tanah kelahiran sekaligus tempat dia menghabiskan masa kecil dan remajanya. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, Baharuddin sudah tinggal di Makassar.

Tapi hal itu tak membuatnya terlupakan karena Baharuddin termasuk orang kota yang sering pulang kampung. Cerita mudik ini menjadi penambal kekurangan informasi tentang masa kecil hingga remajanya kala di Pambusuang. Hal ini juga memuat latar belakang keluarganya, tentang Pambususang, dan faktor-faktor budaya yang membentuk karakter Baharuddin.

“Sebagian besar informasi kami dapatkan dari narasumber dalam bentuk wawancara,” kata Ridwan. Menurut penuturan para narasumber di Pambusuang itu, Ridwan menjelaskan, Baharuddin dikenal sebagai orang yang agamanya kuat, menghargai ulama, dan senang bersenda gurau. Setiap kali pulang kampung, Baharuddin selalu mengundang ulama ke rumahnya untuk berdiskusi hingga larut malam.

Bukan hanya kalangan ulama, Baharuddin selalu mengundang sahabat-sahabatnya. Salah satunya Kurrudi, teman sekaligus tukang cerita yang ulung. Kalau dia bercerita, orang pasti tertawa, termasuk Baharuddin. Biasanya, begitu Kurrudi tiba di rumahnya, Baharuddin langsung menyambutnya dan berkata, “Loso-losonni bomaq doloq,” yang berarti, “Coba cerita yang bohong-bohong lagi kepada saya.”

Meski Baharuddin tahu itu cerita bohong atau karangan Kurrudi semata, ia tetap suka karena cerita-cerita itu, selain jenaka, mengandung hikmah. Kalau diambil perbandingan, kira-kira cerita Kurrudi itu seperti Nasaruddin Hoja, kisah dari Timur Tengah yang telah banyak dibukukan. “Sayangnya saya tak bisa mewawancarai Kurrudi karena telah wafat,” kata Ridwan.

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Film ini berusaha menghadirkan ruang-ruang kehidupan Baharuddin di Pambusuang, sehingga seluruh lokasi yang menjadi sorotan kamera adalah daerah ini. Menyusuri jejak Baharuddin di Pambusuang juga bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar tak lama setelah Baharuddin meninggal. Musibah ini membuat sebagian besar dokumentasi berupa foto-foto Baharuddin juga ikut terbakar.

Tapi, bagi Ridwan, Dahri Dahlan yang bertindak sebagai narator, dan Irwan Syamsi dari tim teknis, tak sulit menemukan cerita-cerita seputar Baharuddin. Sebab, seluruh personel tim pembuat film dokumenter ini masih sekampung dengan Baharuddin.

Ridwan, yang juga bertindak sebagai periset, penulis narasi, kamerawan, dan editor, mengaku baru sekali bertemu langsung dengan Baharuddin pada awal 1990-an. “Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, saya ikut seminar nasional bertema hak asasi manusia yang digelar di Tinambung, Polewali Mamasa—sekarang Polewali Mandar—Baharuddin Lopa salah satu pembicara.”

Bagi Ridwan, Baharuddin termasuk sosok yang memotivasi dirinya untuk lebih serius mempelajari dan mendokumentasikan kebudayaan bahari, khususnya kebaharian Mandar. “Peran Baharuddin secara tidak langsung yang menjadi faktor utama yang membuat saya seperti sekarang ini.”

Film dokumenter tentang sosok Baharuddin ini menjadi salah satu suguhan dalam pembukaan acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014, semalam, di halaman Fort Rotterdam Makassar.

Inisiator MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan penghargaan tokoh tahun jatuh pada Baharuddin Lopa, karena dia sosok yang lurus dan tegas. Ia merupakan sosok pejabat yang melarang keluarganya menggunakan mobil dinas, melarang anak-anaknya mengambil selembar kertas atau sebuah pulpen dari kantornya.

“Banyak sekali cerita tentang Baharuddin Lopa yang tak hanya jujur, tapi juga sederhana. Kesederhanaan inilah jalan untuk menemukan kesejatian,” kata dia, saat jumpa pers, kemarin, di Makassar. Tahun ini, MIWF telah memasuki tahun keempat dan mengambil tema “Finding Sincerity” (Menemukan Kesejatian).

Tahun lalu, ada A.M. Dg. Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933–1942) dari Makassar. Pada 2012, Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo,dalam MIWF 2011. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  05 Juni 2014)

 

Wajah Kusam Losari

Tak hanya airnya yang keruh, sampah mengapung juga menjadi penghias tepian Losari.

Pantai Losari, kawasan pesisir di bagian barat daya Kota Makassar, menjadi tempat favorit bagi Armita, 12 tahun, dan adiknya, Melisa, 11 tahun. Saban sore, sepulang sekolah, siswa sekolah dasar ini berenang di Losari, seperti pada Sabtu dua pekan lalu. Sedikitnya ada 20-an anak seperti mereka yang mempertunjukkan atraksi melompat dari anjungan ke laut, dengan ketinggian 3-4 meter dari permukaan laut.

Bagi Armita, yang penting bisa bersenang-senang, tak peduli berenang bersama sampah yang mengapung di laut. Warga Jalan Rajawali ini juga rela menantang bahaya demi bersenang-senang. “Kami sudah terbiasa. Sedikit gatal-gatal setelah berenang, itu biasa,” ujarnya.

Suasana Jalan Penghibur, Kawasan Pantai Losari Makassar. Foto/Irmawar

Suasana Jalan Penghibur, Kawasan Pantai Losari Makassar. Foto/Irmawar

Kawasan Anjungan Losari tak hanya menjadi tempat favorit bagi Armita. Wahab, 32 tahun, saban sore juga menghabiskan waktu dengan memancing di kawasan ini. Sore itu ia tampak gembira, kailnya berhasil menjerat ikan samelang atau ikan sembilang (Paraplotosus albilabris)–bentuknya mirip lele–ukurannya cukup besar, beratnya hampir 1 kilogram. Selain samelang, ada ikan sunu (squaretail coral grouper), dan gandrang eja alias ikan bambang (Latjanus sp.).

Bujang di salah satu sekolah dasar di Makassar itu sudah memancing di kawasan ini sejak tiga tahun lalu. Sejauh ini, menurut dia, mengkonsumsi ikan di Losari aman-aman saja. “Asal dicuci bersih, bau limbahnya juga hilang,” katanya.

Pada pertengahan Februari lalu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Jamaing, mengingatkan warga sebaiknya tak mengkonsumsi hasil tangkapan dari pesisir Losari. Alasannya, tingkat pencemarannya semakin tingginya. BLHD menguji sedikitnya dua kali setahun untuk memantau kualitas air laut di pesisir Makassar.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran BLHD Kota Makassar, Surono, mengungkapkan data pengujian lain yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Makassar Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Dilakukan di Anjungan Pantai Losari pada 2013, pengujian ini mendapati tingkat kekeruhan 10,2 NTU (nephelometric turbidity unit), artinya melebihi baku mutu yang seharusnya 5 NTU.

Hasil uji juga menemukan nitrat 5,005 Mg/L yang melebihi baku mutu 0,008 Mg/L, senyawa fenol 0,08 Mg/L yang seharusnya nihil. Lalu di pantai di depan Fort Rotterdam, tingkat kekeruhannya 44,32 NTU juga melebihi baku mutu. Mengandung BOD 34 Mg/L melebihi baku mutu 10 Mg/L, nitrat 4,831 Mg/L dan senyawa fenol 0,11 Mg/L, keduanya melebihi baku mutu. Di tempat ini juga ditemukan kandungan Sulfida <0,042 Mg/L, yang seharusnya nihil, serta seng (Zn) 0,3812 melebihi baku mutu yang seharusnya hanya 0,095 Mg/L.

Dari hasil pengujian, di Anjungan Pantai Losari total coliformkumpulan mikroorganisme yang hidup dalam jumlah besar—mencapai 16 ribu Mg/L. Jumlah ini melebihi batas maksimal yang diperbolehkan, hanya 1.000 Mg/L. Demikian halnya fecal coliformbakteri fakultatif-anaerob, yakni bio-organisme yang dapat hidup tanpa oksigen—yang mencapai 16 ribu Mg/L, sedangkan yang diperbolehkan hanya 200 Mg/L.

Hal serupa terjadi di pantai di depan Fort Rotterdam. Jumlah total coliform dan fecal coliform-nya melebihi batas maksimal yang diperbolehkan, masing-masing 2.400 Mg/L. “Jika melihat angka-angka ini, yang melebihi ambang batas baku mutu, artinya telah terjadi pencemaran,” kata Surono.

Pakar Oseanografi Kimia dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin M. Farid Samawi mengatakan laut adalah pelarut terbaik. Tapi, jika melebihi ambang batas daya dukung atau baku mutunya, akan tercemar. “Artinya, biota laut seperti kerang dan ikan tidak boleh dikonsumsi,” ujarnya.

Suasana tepian Losari di Jalan Metro Tanjung Bunga. Foto/Irmawar

Suasana tepian Losari di Jalan Metro Tanjung Bunga. Foto/Irmawar

Menurut Farid, Losari sudah tercemar sejak 2005, saat dia melakukan penelitian. Dari tahun ke tahun pencemarannya semakin tinggi karena jumlah populasi manusia juga meningkat. Tahun lalu, salah seorang mahasiswa bimbingannya kembali melakukan pengujian, dan pencemarannya diketahui makin meningkat. “Secara kasatmata, bisa dilihat dari tingkat kekeruhannya, air berwarna gelap sehingga dasar laut tak tampak,” katanya.

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Anis Irawan Anwar, mengatakan perlunya memperhatikan seberapa besar pencemarannya. Khusus untuk laut Makassar, termasuk Pantai Losari dan sekitarnya, menurut dia, pencemarannya masih dalam ambang yang rendah. Tapi ada beberapa kandungan senyawa, seperti nitrat, memang kurang bagus. “Setelah berenang, segeralah membilas diri, agar terbebas dari penyakit kulit,” tuturnya.

Meski tingkat pencemarannya masih rendah, Anis menyarankan agar warga tetap waspada, terutama jika limbah rumah tangga ini bercampur dengan limbah rumah sakit yang tidak melakukan pengolahan lebih dulu sebelum dibuang.

Laut Makassar, termasuk Losari, tak hanya dipenuhi sampah, tapi juga menjadi muara bagi 14 titik saluran drainase limbah Kota Makassar. Selain menampung limbah rumah tangga, saluran drainase ini menampung limbah industri dan rumah sakit.

Menurut Jamaing, demi mengatasi pencemaran dari limbah kota, pihaknya sudah mewajibkan badan usaha atau kegiatan yang menghasilkan air limbah untuk mengolah limbahnya sebelum dibuang ke saluran drainase ataupun ke laut. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2006. “Kami mewajibkan uji limbah dilakukan tiap bulan dan harus dilaporkan setiap tiga bulan ke BLHD.” Jika badan usaha melanggar, akan mendapat teguran hingga rekomendasi pembekuan izin usaha.

Tahun ini, Pemerintah Kota Makassar juga segera mengerjakan proyek instalasi pengolahan air limbah untuk mengolah limbah kota sebelum dibuang ke laut.

 (By Irmawati  Kosmo Koran Tempo Makassar, edisi  21 April 2014)

Ahad Tenang di Halaman Rumata’

Ini mungkin sebuah renungan, bagaimana menjadi Indonesia?

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Selalu ada alasan untuk berkunjung ke Rumata’ artspace di Jalan Bontonompo No 12 Makassar.  Ahad lalu, sekitar 30 orang berkumpul di halaman belakang Rumata’, menikmati “Minggu Tenang” bersama pertunjukan music Fandy, ada juga pembacaan puisi hingga pidato. Tapi ini bukan pidato seorang Caleg—calon anggota legislatif—, Moch Hasymi Ibrahim berpidato tentang “Mengalami Indonesia”.

Ami Ibrahim, sapaan akrab Moch Hasymi, dalam pidatonya melempar kita ke masa lalu, bagaimana pentingnya Indonesia bagi warga Desa Binanga Benteng, Kecamatan Bonto Sikuyu, Kabupaten Selayar.

Konon kakek buyut warga Binanga pernah disapu rata dengan stigma-merah, pendukung partai terlarang, karena mereka pemeluk teguh keyakinan lama, lalu mereka terprovokasi jadi pemilih partai berlambang palu dan arit pada pemilu 1955. Usai pemerintahan Soekarno, mereka yang lolos dari penangkapan dan penjarahan, anak cucu dan kerabatnya wajib lapor ke Kodim setempat di Benteng Selayar dan mungkin terpaksa menjadi Islam. “Bagi mereka, Indonesia adalah Islam,” ungkap Ami.

Lalu apakah Indonesia bagi kita? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita jawab, 9 April besok, kita bisa memilih orang-orang yang akan mewakili suara rakyat dari dalam bilik suara. Tapi bisa jadi, pilihan kita juga tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

Kata Ami, Indonesia bgai sejumlah ahli adalah sebuah komunitas-terbayangkan, sebuah entitas yang nyaris permanen. Ada juga yang menyebut semua yang berlangsung dalam altar nusantara ini adalah proses berkesinambungan menuju Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukan sebuah proyek yang sudah final. Tapi seperti warga Binanga, Indonesia mungkin bisa dipandang sebagai identitas-tunggal.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita bisa jadi mengalami banyak guncangan dalam kehidupan sehari-hari kita. Apalagi harus mengenali sekitar 200 ribu Caleg yang akan memperebutkan 19 ribu kursi ditahun 2014 ini. Dari Sulawesi Selatan saja ada 9.240 Caleg yang bersaing memperebutkan 924 kursi parlemen di Dewan Perwakilan Rakyat RI, DPRD Sulawesi Selatan, dan DPRD kabupaten/kota.

Beberapa hari ini, bahkan sebelum masa kampanye dimulai, mereka hadirnya disemua titik kehidupan. Nyaris tak ada jalan, lorong, dan ruang yang bersih dari baliho, spanduk mereka. Di layar televisi mereka bisa muncul setiap saat. Hari ini adalah “Ahad Tenang” hingga tulisan ini diterbitkan masih menjadi hari yang tenang, tapi masih saja kita temukan slogan-slogan mereka menempel di pohon, berdiri di tepi jalan. “Pandanglah gambar-gambar Caleg itu, baca slogan-slogan mereka, sakikan selintas advertensi televise mereka dan engkau akan tiba pada titik tertinggi tragedy yaitu komedi,” kata Ami.

Tapi Rumata’ mengajak kita menikmati “Minggu Tenang”. Kata Ami, mungkin ini untuk mendorong kita menciptakan sejenak sunyi dalam diri kita, mengendapkan pengalaman ke-Indonesiaan kita masing-masing, ada baiknya kita menjernihkan diri sebelum menentukan pilihan. “Kita bisa mengelak dari prosedur mutlak demokrasi ini. Tapi mari kita menentukan pilihan melalui jalur lain,” kata Ami.

Mengisi “Minggu Tenang”, ada teman yang memilih jalan puisi. Seperti Ami Ibrahim yang menutup pidatonya dengan sebuah puisi “Post Scriptum Ibu Pertiwi” yang dibuatnya 6 Juni 1994 lalu. “…di tebing mana aku mesti berpijak/ menangkal turunnya senja/ agar tersedia waktu bagi pelayaran/ menahan laju kesangsian…”.

Sebait puisi juga dipersembahkan penyair Muhary Wahyu Nurba yang mengisahkan kepedihan saat Tsunami Aceh. Bagi Muhary, berbagi bait-bait sajak di halaman Rumata’ adalah sebuah kemewahan tak ternilai ditengah kepungan kebisingan kota. “Ini mungkin salah satu cara yang baik untuk merenungkan kembali Indonesia, agar kita tidak cepat ‘bunuh diri’,” katanya kepada Tempo.

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Sajak berjudul “Petak Umpet” juga dikirimkan M Aan Mansyur—seorang  penulis, penyair dan penyiar—melalui telepon seluler Lily Yulianti Farid, penggagas Rumata ‘ artspace. Aan tak bisa ikut “bermain” di halaman belakang Rumata’ karena harus menjenguk ibunya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini, Lily juga mengajak komunitas-komunitas yang ingin memanfaatkan halaman belakang, pihak Rumata’ terbuka.

Meski pertanyaan-pertanyaan di atas tak sepenuhnya terjawab. Fandy  menutup dengan manis “Minggu Tenang” dengan lantunan lagu Aku Papua ciptaan Franky Sahilatua. Dilanjutkan lagu ciptaan Fandy sendiri berjudul Jangan Memaki. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  08 April 2014)

Politik Menulis dan Menemukan Diri Sendiri

Untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar, dan berani.

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Dalam kisah mitologi Yunani, terciptalah perempuan pertama di dunia. Athena memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memberinya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Poseidon memberinya kalung mutiara, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Hera memberinya rasa penasaran, Hermes memberinya kepandaian berbicara dan menamainya Pandora—mendapat banyak hadiah.

Semua yang dimiliki Pandora memikat Epimetheus lalu menikahinya. Di hari pernikahannya, para dewa memberi hadiah, sebuah kotak tapi Pandora dilarang untuk membukanya. Karena penasaran, Pandora membukanya sekaligus melepas teror ke dunia. Rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, dan berbagai malapetaka. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti manusia. Pandora menyesali, berutung masih ada harapan yang tersisa.

Demikianlah kisah si ‘Yunani Cantik’ seperti yang dikisahkah Yudhistira Sukatanya dalam tulisannya berjudul “Ekstasi Pandora”, Literasi Koran Tempo Makassar, terbit 20 Maret 2014 lalu. Bagaimana proses penulisan Literasi ini, menjadi salah satu pertanyaan titipan peserta dalam ajang Panggung Literasi VI, yang di gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Samata, Jumat lalu.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Acara yang digelar mahasiswa Himpunan Jurusan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin bekerjasama dengan Komunitas Literasi Makassar ini mengangkat tema ‘Tradisi Menulis dan Kebebasan Berfikir’. “Menulislah agar tidak kehilangan gagasan,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, salah satu penulis Literasi yang menjadi pembicara dihadapan sekitar seratus peserta Panggung Literasi.

Sebab menulis itu menyangkut kedaulatan dan kedaulatan itu harus dilacak pada kehendak seseorang. “Menulis itu berpolitik,” ungkapnya. Penulis juga dituntut untuk berpolitik, artinya kalau mau berpolitik harus menyiapkan diri selalu hidup lalu mati. Menurut Alwy, lahirnya pembaca akan membunuh si penulis, lalu ia akan hidup kembali setelah melahirkan karyanya.

Jika menulis adalah bagian dari proses hidup dan matinya si penulis. Ada betulnya kata Muh Quraisy Mathar, Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin  yang juga menjadi pembicara bahwa

untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar dan berani. Muhary Wahyu Nurba menambahkan bahwa seorang penulis juga harus bisa mempertanggungjawabkan karyanya.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Alwy mengungkapkan hal serupa bahwa hanya orang yang jujur yang bisa menulis. Menulis adalah cara untuk mengecek kebebasan, sebab kalimat-kalimat terlalu sempit untuk menampung pikiran manusia. Dosen Linguistik ini juga mengingatkan agar jangan sekali-kali menulis saat Anda sedang marah.  Sebab suasana diri bisa terbawa dalam tulisan, artinya menulis bisa menjadi media untuk kita merefleksi diri sendiri. Dimana kita bisa menemukan diri sendiri dalam tulisan kita.

Menurut Yudhistira yang juga anggota Dewan Kesenian Makassar, kebebasan berfikir hanya ada dalam diri sendiri. Saat tulisan kita diserahkan ke pembaca, Anda harus siap memenjarakan diri sendiri.

Proses penulis sendiri harus dimulai dari membaca. Membaca, kata Muhary mampu menghadirkan kebabasan berimajinasi. Menurut Alwy, kemauan membaca adalah cara untuk menghargai diri sendiri, sebab membaca juga bisa digunakan untuk melacak diri sendiri.

Menulis itu membagi kebaikan, kata Muhary, caranya dengan belajar dulu membangun hal-hal kritis di sekitar kita. Menurut Alwy, penulis dituntut menghadirkan  kedaulatan agar selalu menghadirkan kebaikan. “Ketika kita ingin menyampaikan kebaikan, memang terlalu banyak penggoda,” kata Yudhistira. Seperti Pandora yang tak bermaksud menyebarkan keburukan. Tapi beruntung masih ada harapan. Mari kita menuliskan harapan-harapan kita untuk menemukan diri kita. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  01 April 2014)

 

Manrongrong ri Riburane

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’.

“Lantang banggi ja ku mat’tinja/ anro ri batarai/ sarea tenne ri tallasata—saya bernazar saat tengah malam/ menemui sang pencipta/ meminta agar saya diberi hal-hal baik dalam hidup,” ucap M Arsyad Kulle Daeng Aca’, 67 tahun, maestro dari Kampung Paropo, yang tampil begitu bersahaja, bertutur sambil menggesek biolanya. Berbeda dengan aksi panggung Abdul Muin Daeng Mile, 61 tahun yang begitu bersemangat menabuh gendangnya. Daeng Serang Dakko, 74 tahun, maestro gendang yang bermukim di Benteng Somba Opu, tak mau kalah, ia tampil sangat agresif saat menabuh gendangnya.

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Tiga maestro yang setia melestarikan seni tradisi Bugis-Makassar sejak usia belia, sudah puluhan tahun mereka konsisten. Kali ini mereka tampil sepanggung di pelataran Gedung Societeit de Harmonie Makassar di Jalan Riburane, Makassar, Sabtu malam lalu. Aksi panggungnya ibarat “manrongrong ri Riburane”–membangunkan orang-orang di Jalan Riburane.

Daeng Aca’ bersama rombongannya dari Sanggar Seni Tradisional Ilologading Paropo, menguasai panggung. Menampilkan Pepe-pepeka Ri Makka, yang menggunakan media api. Para penari lelaki beratraksi membakar tubuh mereka dengan obor api. Pasukan berbaju kuning juga menampilkan atraksi paraga—sepak takraw—dengan menggunakan bola api. Aksi-aksi mereka malam itu membakar semangat penonton yang hadir, ini kali pertama saya menyaksikan paraga yang menggunakan bola api.

Jika kelompok Daeng Aca’ mampu membakar semangat penonton. Tabuhan gendang Daeng Mile seperti membangunkan orang yang tidur. Tangan dan jari-jari Daeng Mile tampak sangat cekatan menabuh ‘Manronrong’—nama gendang yang berarti membangunkan orang tidur—mengiringi tarian Pakarena Samborita, sebuah tari yang bercerita tentang persahabatan.

Sekitar 20 menit, pemain musik dan penari saling berhadapan. Mereka kompak mengenakan baju merah. Dua pemain gendang termasuk Daeng Mile, satu peniup pui-pui, dan satu lagi pemukul gong dan katto-katto. Mereka kompak memainkan musik tradisional Makassar. Bunyi pui-pui yang melengking dan nyaring, disambut tabuhan gendang yang cepat tapi lembut.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Daeng Mile tak sekedar menabuh gendang, tubuhnya juga bergerak mengikuti irama. Kepalanya manggut-manggut, bahunya naik turun, dan ekspresi wajahnya juga berbicara, menunjukkan semangat yang tak pernah pupus.

Berbeda dengan gerakan empat penari perempuan Masrita Daeng Tonji dan Murkayati Daeng Kanang yang masih putri Daeng Mile, dua penari lagi adalah cucu sang maestro, Armayanti dan Sriwahyuni. Meski usia mereka sangat belia, tapi tarian dan gerakan mereka tampak sangat anggun. Lambat dengan ekspresi wajah yang datar.

“Tari Pakkarena yang diciptakan orang tua kita dahulu, adalah simbol dari jiwa lelaki yang kerap bergejolak dan berapi-api,” ucap Asmin Amin, usai  penampilan Daeng Mile. Menurut pemrakarsa kolaborasi tiga maestro ini, gaya bermain Daeng Mile yang bersemangat dan kadang jenaka adalah gambaran lelaki Makassar. Tapi masih bisa mengatur irama gendangnya sehingga tetap enak didengar. Para penarinya sendiri menggambarkan perempuan Makassar yang tenang, sabar, dan lebih banyak diam. Mereka menjadi penyeimbang. “Perempuan selalu membawa kipas, artinya ingin mendinginkan suasana,” ungkap Asmin.

Prof. Fumiko Tamura dari Chikushi Jogakuen University di Jepang  memuji penampilan Daeng Mile. “Sangat harmonis, saya merasakan sesuatu yang kuat,” ungkapnya disela-sela pertunjukan. Ia juga mempertanyakan kepada sang maestro makna Pakarena, kenapa pemusik dan penari harus berhadapan. “Ini sudah tradisi, anrong guru—maestro—ibarat menuntun nyanyian, dan penari mengikutinya,” kata Daeng Mile.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Berbeda dengan Daeng Serang yang memilih duduk di belakang para penarinya. Maestro yang satu ini selalu tampak percaya diri, dia duduk dibalik gendangnya yang berwarna kuning muda. Memakai jas hitam dan sarung berwarna senada, diadukan dengan pasapu—penutup kepala—bermotif tapi tetap dominan hitam. Di samping kiri-kanannya, juga duduk para pemusik lainnya yang memakai jas biru. Penari dan pemusik adalah anak asuhan dari Sanggar Alam Serang Dakko. Daeng Serang pun beraksi. Wajahnya terus melihat ke depan, dengan kepala yang terus bergoyang mengikuti musik. Sesekali senyumnya mengembang, menampakkan barisan giginya, dengan tabuhan gendangnya yang juga mengiringi tari Pakarena.

Menurut Syarifuddin Daeng Tutu, Daeng Mile mencoba menghadirkan sisa-sisa tradisi Pakarena. Pada zaman animism, Pakarena adalah media untuk memuja pencipta, dimana anrong guru menjadi “imam” Pakarena. Sedangkan Pakarena yang ditampilkan Daeng Serang adalah Pakarena Jangan Leang-leang, dimana posisi anrong guru ada dibeberapa tempat.

Malam itu, Gedung Kesenian disulap bak kampung halaman oleh Asia Ramli Prapanca yang membatasi pusat pertunjukan dengan pagar bambu, sebagai simbol tempat tinggal para maestro. “Menghadirkan mereka dalam satu panggung ini sudah ada sejak tahun lalu, tapi baru terwujud sekarang,” kata Asmin. Ia berharap ini menjadi angin segar agar kita tetap menghargai seni tradisi daerah dan bangsa ini.  (By Irmawati dan Rezki Alvionitasari, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  24 Maret 2014)

 

 

 

 

Imitasi Gerak-gerak Alam

Pentingnya sebuah narasi dalam menata alam.

“Tok, tok, tok, tok, tok…,” bunyi ini semakin lama semakin ramai, seiring bertambahnya manusia-manusia yang berlalu-lalang di atas panggung. Suara ini bersumber dari benturan kerang-kerang laut yang ada dikedua tangan manusia-manusia bernaju hitam ini. Bunyi-bunyi ini, jika dihayati,  seperti bercerita tentang manusia-manusia yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Ada juga cerita yang disampaikan lewat irama tepukan tangan, telapak tangan bertemu telapak tangan, telapak tangan mendarat di lengan, dan telapak tangan yang mendarat dip aha. Semua tepukan-tepukan ini juga bercerita tentang kehidupan manusia.

Selain cerita dari bunyi, cerita-cerita manusia juga disimbolkan dalam gerakan-gerakan tubuh. Ada yang memakai alat bantu berupa selendang, ada juga yang menggunakan tongkat hingga membentuk bingkai kehidupan manusia. Tarian kontemporer  berjudul “Bingkai” yang dibawakan oleh mahasiswa anggota Komunitas Seni KisSa, turut meramaikan  Dialog Seni dan Budaya ‘Refleksi dan Aksi’ yang digelar oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, akhir Desember lalu.

Ini adalah cara Komunitas KisSa membaca alam yang kemudian dibahasakan dengan gerak-gerak manusia, baik dengan atau tanpa bunyi. “Seni itu meniru alam,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu BUdaya Universitas Hasanuddin, salah satu pembicara dalam dialog ini.

Menurut Alwy, manusia bisa mengimitasi alam, baik dalam bentuk kesenian, kebudayaan, dan juga pewarisan. “Alam itu dibaca oleh manusia, seluruh gerak-gerak alam itu diimitasi oleh manusia,” ungkapnya. Kata Alwy, jika ingin menemukan kebenaran, jangan mencarinya pada peristiwa, karena kebenaran terdapat dibalik lipatan-lipatan alam.

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Pakar Tafsir dari Universitas Islam Negeri Alauddin, Profesor Mardan  mengatakan menjunjung kesenian selama sejalan dengan fitra manusia. Adapun seni Islam itu tidak harus berbicara soal islam, tak harus menganjurkan untuk berbuat bagus. Tapi seni dapat menyampaikan kata-kata Islam dan sesuai fitrah manusia.

Salah seorang seniman yang juga menjadi pembicara, Yudistira Sukatanya menyayangkan, ruang publik untuk berkreasi kesenian semakin terbatas di Makassar.  (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 8 Januari 2014)

Menonton Tari Kolosal di Balla Lompoa

Rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka mengisahkan sejarah Kerajaan Gowa.

Matahari baru saja tergelincir dari atas kepala, pertanda sore mulai menjemput. Suasana teduh langsung terasa di halaman  Balla Lompoa—dalam bahasa Makassar berarti rumah besar—,sinar matahari tak sampai karena terlindung di balik Istana Tamalate—duplikat Balla Lompoa yang terletak di sebelahnya dengan ukuran yang lebih besar.

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu pada 1936. Arsitektur dua bangunan ini berupa rumah panggung, yang seluruhnya terbuat dari kayu ulin dan kayu besi.  Bekas istana raja ini, kini berfungsi sebagai museum, tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa.

Tapi kedatangan saya kali ini bukan untuk menengok koleksi museum ini, tapi untuk melihat pertunjukan tarian kolosal yang konon mengisahkan perjalanan sejarah Kerajaan Gowa yang sengaja ditampilkan  untuk memperingati hari ulang tahun Gowa ke-693 tahun, di kawasan Museum Balla Lompoa, 17 November lalu.

Tari kolosal ini merupakan rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka yang merupakan kolaborasi siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan Somba Opu, sanggar seni Katangka, dan sanggar Sirajuddin Bantang.

Pertunjukan yang dimulai dengan tari Pakarena ini ditampilkan di halaman Balla Lompoa. Pakarena berasal dari dua kata yakni pa berarti orang dan akkarena yang berarti permainan atau tarian. Iringan gandrang atau gendang dan  puik-puik—semacam suling, mengiringi gerakan-gerakan artistic para penari yang gemulai dan halus. Tarian ini terbagi dalam beberapa gerakan, dimana setiap gerakan memiliki makna khusus. Misalnya gerakan berputar mengikuti jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia, lalu gerakan naik turun adalah simbol irama kehidupan.

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Almarhum guru saya, Sirajuddin Bantang yang kebetulan pemilik salah satu sanggar yang memainkan tari kolosal ini, dulu pernah bercerita bahwa tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (negeri kayangan) dengan penghuni lino—sebutan untuk bumi. Nah, sebelum perpisahan, penghuni kayangan mengajarkan kepada penghuni bumi mengenai tata cara hidup, mulai dari bercocok tanam hingga cara berburu.

Tapi hingga kini, tak ada yang bisa memastikan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang menciptakan. Yang pasti, versi tarian ini ada beberapa macam, tari Pakarena di Gowa yang dilestarikan oleh almarhum Mak Coppong. Ada juga Tari Pakarena Gantarang dari Kabupaten Selayar.

Lalu, ada permainan paraga yang dimainkan 6 penari lelaki. Seperti Pakarena, Paraga ini juga sudah ada sejak zaman kerajaan Gowa. Tari Paraga ini dimainkan dengan konstruksi bola raga atau bola takraw berpindah-pindah dari satu kaki ke kaki lainnya, terkadang juga bola singgah di atas kepala. Tak hanya itu, para pemainnya bersusun hingga tiga tingkat, membuat atraksi makin menarik dan banjir tepuk tangan penonton.

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Yang tak kalah menarik adalah pertunjukan tari Pepe Pepeka ri Makka. Konon  tarian ini menggunakan mantra magis, sebab tubuh  dan baju tak terbakar meski disulut api. Biasanya, tarian ini dilakonkan oleh penari laki-laki, tapi kali ini pertunjukan tari dilakukan oleh kaum hawa.

Busana penari Pepe Pepeka ri Makka yang biasanya identik dengan warna merah, tapi kali ini tampil dengan busana warna ungu. Dengan gerakan yang gemulai dan pandangan tajam ke depan, rapa penari ini nyaris tak ada keraguan menyulurkan obor yang menyalah ke tubuhnya masing-masing.

Tak hanya itu, dua penari Pepe Pepeka ri Makka secara bergantian mengajak penonton untuk ke depan untuk disulut api. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo juga diajak ke depan untuk merasakan sulutan obor yang menyala. Pertunjukan tari yang berdurasi sekitar 20 menit ini sungguh meriah dan menghibur.

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah keberadaan Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, yang menjadi salah satu tamu adat HUT Gowa. Yang unik, di belakang sang Datu selalu mengikut bassi pakka—semacam tongkat pusaka Kerajaan Luwu. Salah satu pemangku adat Luwu yang bergelar Opu Matoa Cenrana, Andi Oddang Opu Tossesungriu mengatakan tongkat ini memang harus selalu mengikuti kemana pun Datu Luwu pergi, tongkat dipegang oleh seorang pengawal yang akan selalu mengikut di belakang Datu.

Kekayaan khasanah budaya dan adat istiadat kita memang perlu dijaga dan dilestarikan, agar generasi muda tetap mengenalnya, betapa Indonesia sangat kaya dengan keberagamannya. (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 22 November 2013)

Keriangan di Taman Burung Somba Opu

Koleksinya mencapai 400 ekor yang terdiri dari 60 jenis burung.

 

Burung Pelicam di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Burung Pelicam di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Kicauan burung mewarnai sore ketika Amandra, Ai, dan Aulia, memasuki kawasan Taman Burung Gowa Discovery Park, di Somba Opu, Ahad lalu. Kakak adik ini saling berkejaran, meninggalkan kedua orang tua. Sesekali mereka berhenti lalu menari-nari mengikuti irama kicauan burung yang juga terdengar riang.

Berfoto dengan Makao Blue and Gold, salah satu burung paling langkah asal Brasil. Foto/Irmawar

Berfoto dengan Makao Blue and Gold, salah satu burung paling langkah asal Brasil. Foto/Irmawar

Pelikan menjadi salah satu andalan taman burung, yang dibangun di dekat situs bersejarah Benteng Somba Opu ini. Koleksi lain adalah berbagai jenis jalak, seperti jalak bodas, jalak turki, dan jalak bali. Nah, jalak bali ini, dari namanya menunjukkan jika burung ini endemik Pulau Bali. Konon jenis burung ini tak ditemukan dibelahan bumi manapun. Menurut perawat satwa di taman burung  ini, Iqbal Nur, harga anakan jalak bali bisa mencapai Rp 3 juta.

Burung yang juga dihargai cukup mahal adalah parkit, terutama yang warna bulunya kombinasi. Parkit dari penangkaran dan budidaya tak hanya bisa menghasilkan warna biru, abu-abu, kuning, dan putih, tapi juga warna kombinasi.

Koleksi burung di taman ini lebih dari 400 ekor, yang terdiri dari 60 jenis burung. Selain burung endemik Sulawesi dan pelosok Tanah Air, taman ini juga dilengkapi burung dari berbagai negara.

Pengunjung juga dihibur oleh beo alias Gracula religiosa rubosta, yang pandai berbicara. Tak jauh dari beo, ada sangkar kangkareng. Burung ini terlihat galak saat bertengger di atas pohon. Jenis burung ini biasa menghuni hutan primer dan sekunder dataran rendah di seluruh Sunda Besar.

Bermain dengan burung di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Bermain dengan burung di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Di sini bisa dijumpai kasuari bernama Pablo dan Lili. Menurut Iqbal, Lili pernah memacetkan tol saat dalam perjalanan ke Taman Burung ini, ia melompat dari mobil. Tak hanya itu, sebulan lalu, Lili juga pernah lepas dari kandangnya. Proses penangkapan dilakukan dari pukul 20.00 hingga 24.00, dan  beberapa petugas jaketnya sampai sobek.

Pengunjung juga bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan burung-burung, yang terbang lepas, dalam kandang besar. Beberapa jenis buah seperti potongan papaya dan pisang ditancapkan di dahan-dahan pohon. Di kandang ini, kita bisa menyaksikan bermacam-macam jenis burung, mulai perkutut, jalak, kepodang, nuri merah, dan merak.  Kita bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung ini, tapi sebaiknya hati-hati, apalagi kalau bulu Merak mekar, itu adalah tanda burung ini marah.

Tak jauh dari kandang besar ini, kita bisa melihat kelompok elang. Ada elang laut, elang sulawesi dan elang bondol. Elang bondol ini adalah burung yang menjadi maskot Jakarta. Jika ingin melihat burung ini melakukan akrobatik, datanglah saat bulan November-Desember yang merupakan musim kawin mereka.

Seorang petugas memberikan makan burung pelikan di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Seorang petugas memberikan makan burung pelikan di Taman Burung Somba Opu, Makassar. Foto/Irmawar

Setelah berkeliling, kita juga bisa beraksi dan foto bareng dengan burung-burung cantik ini. Tak perlu takut-takut, sebab kita didampingi para petugas. Salah satu favorit pengunjung adalah burung paling langka asal Brasil yakni makao blue and gold, yang berbulu  kombinasi biru dan keemasan. Meski sudah jinak, jangan coba-coba memegang bulunya, karena burung ini akan marah dan berteriak keras.

Jika Anda penasaran ingin berfoto sambil mengelus-elus bulu burungnya, pilihlah jenis bayan, karena burung ini jinak. Warnanya juga tak kalah cantik, ada kombinasi merah biru untuk betinanya dan kombinasi hijau kuning untuk jantannya.

Manager Gowa Discovery Park, Rosida Tayeb mengatakan wisata Taman Burung ini masih bagian dari Gowa Discovery Park. “Anda cukup menebus tiket seharga Rp 55 ribu per orang, sudah bisa bermain di wahana air dan taman burung,” katanya.   (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 8 November 2013)

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.