Kisah Kirara dan Gagak di Negeri Gigil

Rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang, tapi bagi Mae, semua adalah keajaiban.

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Membaca lembaran demi lembaran, membawa saya berpetualang ke Sapporo—salah satu kota di Jepang yang konon diselimuti gigil. Di sana kita akan bertemu Mae—gadis Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Jurusan Humaniora di Universitas Hokkaido.

Kisah Mae dimulai dengan pertemannya dengan Kakek Yoshinaga, tetangga apartemennya. Kakek ini tinggal sendiri. Melihat wajah Kakek Yoshinaga, Mae terenyuh. Dia membayangkan jika di hari tuanya dia mengalami hal serupa : kesepian, tinggal sendirian, tanpa ada yang menemani. Mae tak ingin itu terjadi. Suatu waktu, Kakek Yoshinaga ditemukan wafat di kamar mandi. Kepergian Kakek Yoshinaga membuat hidup Mae kesepian, dia satu-satunya teman Mae di Sapporo.

Kematian Kakek Yoshinaga menambah catatan kesedihan Mae. Seperti peristiwa menyedikan pada 15 September, hari dimana ayah ibunya meninggal dalam kecelakaan kapal. Ingatannya merekam semua, Mae seperti menonton film kematian demi kematian.

Mae kemudian bertemu Nenek Osano—nenek penjual ramen yang setia merawat kenangannya. Tepat di hari ulang tahun Mae, ia berkenalan dengan Nenek Osano yang memberinya hadiah semangkuk ramen.

Mae percaya, hidup tak lepas dari keajaiban dan kejutan-kejutan kecil. Keajaiban akan muncul satu per satu selama Tuhan belum memutus napas seseorang. Keajaiban akan selalu hinggap dalam hidupnya, seperti burung kecil yang senantiasa kembali ke dahan yang disukainya. Pertemuanya dengan Nenek Osano dan Kakek Yoshinaga adalah bagian dari keajaiban itu.

Apartemen 2054 yang tadinya ditempati Kakek Yoshinaga. Berganti penghuni, sesosok pria misterius yang selalu berpakaian serba hitam, termasuk tas dan motornya. Mae memanggilnya Gagak. Tapi penampilan aneh pria tersebut, justru membuat Mae penasaran, bahkan terobsesi.

Satu per satu puzzle kehidupan Ken diketahui Mae. Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruh, sejak dia menyaksikan sendiri ibunya Kirei mati ditembak seseorang. Sementara ayahnya Shibata Shimotsuke sibuk dengan urusannya sendiri, nyaris tak peduli dengan keluarga, termasuk saat-saat dia diperlukan. Seperti saat ibunya sekarat setelah ditembak seseorang dan Ken yang masih berusia 7 tahun bingung mencari ayahnya.

Dan begitulah, Ken dan Mae kini mengerti, setiap hati menyimpan kekelaman sendiri-sendiri. Dan pada suatu waktu, kekelaman yang menebal harus didobrak, mereka sendirilah pendobraknya. Mereka tahu, Tuhan selalu paham beban beban yang mampu dipikul setiap orang.

Kehadiran Mae membuat hidup Ken seimbang yang dipenuhi kebencian kepada ayahnya. Mae sendiri punya berderet-deret daftar kebencian. “Aku benci perang. Aku benci anggota Dewan di negeriku. Aku benci partai yang membawa-bawa nama agama. Aku benci presiden tambun yang lemah. Aku benci negara yang menyiksa tenaga kerja perempuan dari negeriku. Aku membenci orang yang membuang sampah sembarangan. Aku benci iklan kosmetik,” kata Mae.

Mae terseret arus kehidupan dan persoalan-persoalan Ken. Tapi Mae berterimakasih pada Tuhan untuk semua keajaiban-keajaiban tak terduga ini, terima kasih telah mempercayakan semuanya. Dimulai dengan kematian Kakek Yoshinaga, perjumpaan dengan Nenek Osano, kemudian dengan Ken, Tamia, dan Tuan Shibata. Ada rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang ke dalam kehidupan Mae.

Mae punya kebiasaan membuang sedih dengan menulis, hal itu diajarkan mendiang ibunya. Maka, saat Ken dipenjara Mae menuliskan puisi berjudul Dari Kirara Untuk Seekor Gagak. Aku membawa sarang jerami di kepalaku hari ini/ mungkin bisa kita namakan rumah/ dengan beranda lebar menghadap laut/ dengen jendela selebar dinding/ lalu kita akan berbaring, melihat matahari bertamu dan pulang/ apakah kau sepakat, jika rumah itu tanpa televisi, / tetapi sesekali terjadi pertengkaran kecil, pertengkaran manis?/ sehingga kita saling memaafkan/ lalu lebih mesra dibandingkan hari sebelumnya?/ Kirara tahu, burung gagaknya sepakat…” Kirara adalah panggilan sayang Ken pada Mae.

Mae berjanji akan setia menunggu Ken. Penulis, Erni Aladjai sepertinya selalu membuat tokoh utama perempuan dalam novel-novelnya selalu menunggu. Seperti Namira yang menunggu Sala dalam novel berjudul Kei—pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Penulis memiliki imajinasi yang sangat ‘basah’ tentang lokasi-lokasi yang menjadi latar ceritanya. Meski penulis sendiri belum pernah ke Jepang, tepatnya Sapporo, dia mampu membawa pembaca merasakan gigil dan dinginnnya kota itu.

Saat membaca halaman-halaman buku ini, saya sedikit terganggu dengan adanya kata ‘dengan’ yang double di halaman 93. Sepertinya ini salah ketik, kata ‘dengan’ yang pertamanya harusnya ‘dekat’, mungkin. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  08 Oktober 2014)

Judul Buku : Dari Kirara untuk Seekor Gagak

Penulis : Erni Aladjai

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 192 halaman

ISBN : 978-602-03-0750-3

http://koran.tempo.co/konten/2014/10/08/353834/Keping-keping-Keajaiban-Kirara

 

Mengarungi Lingkaran Api dengan Pinisi



Blair bersaudara juga berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat.

oleh : Dani Kristianto

Ring of Fire . Foto Irmawar

Ring of Fire . Foto Irmawar

Pelayaran kakak beradik Lawrence Blair dan Lorne Blair dimulai di Makassar. Dari tempat ini, mereka mengarungi kepulauan Indonesia dengan kapal Pinisi. Merekam semua cerita yang ditemui. Kisah petualangan mereka dituliskan dalam buku berjudul “Ring of Fire, Indonesia dalam Lingkaran Api”. Buku dengan sampul bergambar gunung api yang tampak di seberang lautan, dan sebuah kapal pinisi yang berlayar mengarungi laut dengan latar jingga.

Petualangan ini, tak lepas dari minat dua bersaudara ini pada bidang ilmu psikoantropologi. Mereka tumbuh besar dengan kisah para penjelajah Eropa ke daerah di ujung timur dunia penghasil rempah-rempah. Memiliki wilayah yang elok serta kemistisan yang menyelimuti penduduknya. Christoporus Colombus, Marcopolo Kapten Cook dan masih banyak lagi. Alfred Russel Wallace melalui bukunya, The Malay Archipelago, menambah isi alam pikir mereka tentang flora fauna diwilayah itu.

Kompleksitas Indonesia dari segi geografi, hukum dan linguistik adalah sisi lain dari wilayah di belahan dunia timur menguatkan keinginan untuk mengeksplorasinya melalui penjelajahan, penelitian dan pembuatan film dokumenter.

Cerita petualangan ini berawal dari rencana mereka memfilmkan Burung Cenderawasih Kuning-Besar yang berada di Kepulauan Aru. Konon, burung ini begitu tersohor di Eropa. Musim dingin di tahun 1972, dari London-Inggris, kota asal mereka, penjelajahan dimulai. Setelah mereka mendapat sokongan dana dari Ringo Star (drummer The Beatles).

Blair bersaudara menjelajahi mistisme dalam masyarakat. Pemaparan tentang Sultan, Sunan, Loro Kidul serta Laut Selatan dan Gunung Merapi adalah salah satu kupasan mengenai Jawa khususnya Jawa Tengah. Melaut dari Jawa menuju Bali mengejar keberadaan Gunung Agung serta kehidupan para dewa di pura-puranya. Mereka juga menuturkan keterkaitan kehidupan rakyat dengan adat seperti Sangyang Dedari.

Dari Bali mereka bergerak ke Celebes mencari para pelaut Bugis, yang kisah dan penjelajahannya banyak diceritakan di lingkungan kerajaan-kerajaan Eropa sebagai pelaut tangguh dengan kapal Pinisinya. Bersama para pelaut Bugis, yang dinyatakan sebagai suku pelaut paling hebat di Asia Tenggara, kakak beradik ini mempelajari kehebatan dan turut berlayar bersama. “Selama kira-kira satu millennium, suku Bugis mengikuti siklus perniagaan muson. Meluncur ke timur seturut muson barat sampai ke Aru yang terletak di bibir angker rawa-rawa Nugini dan kembali ke barat seturut muson timur sampai ke Kalimantan”, tulisan mereka tentang hikayat pelaut Bugis.

“Makassar disarati kehidupan dan perniagaan. Pasar-pasarnya berdengung oleh hal-hal yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Pelabuhan dipadati Pinisi besar” ungkap mereka tentang Makassar. Tak hanya di pesisir, mereka juga terus bergerak ke pedalaman Celebes. Salah satu yang dikupas mendalam adalah suku Toraja, khususnya tentang kepercayaan animisme dan ritual kematian mereka. Dengan Pinisi, mereka menuju ke Maluku, pusat rempah-rempah yang dahulu menjadi sumber persaingan kerajaan-kerajaan Eropa.

Papua adalah tujuan eksplorasi penelitian berikutnya. Awalnya mereka hendak memuaskan keinginan melihat burung berekor emas yaitu Cenderawasih. Tapi penelitian tentang Papua kemudian berkutat tentang kehidupan suku-suku-nya seperti suku Asmat—sang suku kayu. Kabar di Eropa bahwa suku-suku di Papua adalah golongan kanibal (pemakan daging manusia) menggelitik keingintahuan mereka.

Hal menarik lain di buku ini, penulis berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat. Michael hilang saat melakukan ekspedisi perhimpunan karya seni di Papua pada tahun 1961.

Flores dan Sumbawa adalah tujuan berikutnya.Di tempat ini, mereka berharap melihat naga raksasa yang dinamakan Komodo. Tinggal bersama rakyat di rumah mereka, membuat kedua peneliti ini bisa merasakan keberuntungan. Mereka bisa melihat hal terbaik dari adat istiadat dari seni Sumba Timur, seperti makan nyale dan menyaksikan Pasola.

Borneo terekam kisah dalam memori masa kecil mereka sebagai pengayau, penyumpit racun, dan manusia liar. Sungguh menarik mengikuti penjelajahan dan apa yang mereka temukan di Borneo—sebutan untuk Kalimantan. Dari Borneo, kedua peneliti mengarahkan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera. Eksplorasi sejarah dan penelitian tentang seni budaya dan adat istiadat Sumatera seperti Boneka Sigale-gale di Sumatera Utara adalah beberapa yang diungkapkan dalam buku ini.

Saat menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada September 1983. Mengingatkan mereka tentang kisah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883, memacu mereka untuk meneliti sosok Krakatau. Mereka melihat banyak menjelajahi untaian gunung yang aktif di wilayah Indonesia. Mungkin alasan ini sehingga judul buku dan film dokumenternya “Ring of Fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api”.

Buku ini memaparkan keberagaman Indonesia. Mulai dari pelosok wilayah yang belum banyak terjamah manusia. Perjalanan Blair bersaudara berakhir di tahun 1983. Selain menyalurkan hasrat berpetualang, isi buku ini semoga bisa membangkitkan rasa ke-Indonesiaan dan semangat kita untuk menjaga warisan budaya.

Sayang, runtutan wilayah yang didatangi tidak dituliskan waktu-waktunya. Padahal pembaca, mungkin ingin mengetahui periode waktu perjalanan antar wilayah berlangsung, serta jangka waktu penelitian yang dilakukan di suatu wilayah. Dengan begitu, informasi ini mungkin bisa menjadi acuan bila hendak melakukan ekspedisi di Indonesia khususnya di wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi publik. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  17 September 2014)

Judul Buku : Ring of Fire (Indonesia Dalam Lingkaran Api)

Penulis : Lawrence Blair

Penerbit : Ufuk Press, 2012

Tebal : 420 halaman

ISBN : 978-602-934-607-7

http://koran.tempo.co/konten/2014/09/17/352075/Mengarungi-Lingkaran-Api-dengan-Pinisi


 

Takdir Bersemayam di Makassar

Sang Pangeran menghabiskan waktu dengan melahap bacaan dan menulis di Fort Rotterdam.

oleh : Dani Kristianto

Buku Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Buku Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), tapi isi buku ini tidak menggambarkan detail jalannya Perang Jawa yang dikobarkan Sang Pangeran. Peter Carey, lebih menekankan pada dinamika perjalanan hidup dan pergelutan pemikiran Sang Pangeran, kondisi perpolitikan di Kesultanan Yogyakarta, serta penjajahan yang dilakukan kerajaan dari Eropa di tanah Jawa.

Buku ini adalah buah hasil riset yang dilakukan selama 30 tahun oleh penulis yang juga sejarawan Inggris. Dalam lembaran-lembaran halaman, kita akan menemukan penggalian mendalam tentang sosok-sosok yang berkaitan dengan kehidupan Sang Pangeran, seperti para Sultan Yogyakarta, Gubernur Jenderal Kerajaan-Kerajaan Eropa di Indonesia, Residen Yogyakarta dan lain-lain. Beberapa karya tulis serta korespondensi dan sosok-sosok yang berkaitan dengan Sang Pangeran dalam Perang Jawa turut disertakan penulis di buku ini.

Mengawali biografi, kita akan bertemu dengan sketsa arang Diponegoro yang dilukis Adrianus Johannes Bik, Hakim Kelapa. Lukisan sampul ini dibuat pada April 1830, saat Sang Pangeran menjalani masa tahanan di Stadhuis Batavia.

Sang Pangeran lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar. Ayahnya adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono II dari permaisuri Ratu Kedaton. Kakek buyut Sang Pangeran adalah Sultan Mangkubumi, pendiri Kesultanan Yogyakarta yang bergelar Hamengku Buwono I (bertakhta 1749-1792). Dari garis keturunan, semestinya membuat Sang Pangeran berhak atas takhta Kerajaan tapi ia memilih untuk menjadi wali atau penasehat bagi keponakan-keponakannya yang diangkat menjadi Raja Hamengku Buwono III hingga V.

Sang Pangeran pada usia 7 tahun, diangkat anak oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng, dan dibawa serta olehnya meninggalkan Keraton Yogya untuk bermukim di daerah pedesaan Tegalrejo. Ratu Ageng kemudian menanamkan ajaran Islam, mengenalkan pada kehidupan santri dan meneladankan kehidupan yang berbaur dengan rakyat jelata kepada Sang Pangeran. Seiring bertambahnya usia, Sang Pangeran mengembangkan minatnya pada bidang pertanian, pengelolaan keuangan dan siasat perang.

Sang Pangeran juga memulai kesukaannya pada pengembaraan spiritual yang kemudian pada tahun 1805 membawanya pada pendengaran di Parangkusumo akan ramalan tentang runtuhnya tanah Jawa dan takdirnya.

Sebelumnya, 3 September 1803, Kasultanan Yogyakarta meresmikan nama Raden Ontowiryo sebagai nama dewasa Raden Mas Mustahar. Masa dewasa Raden Ontowiryo sebagai ningrat Jawa dimulai. Sayang, bagaimana namanya kemudian bermetamorfosis menjadi Pangeran Diponegoro tak diulas dalam buku ini.

***

Belanda kembali berkuasa di Nusantara, 19 Agustus 1816. Van der Capellen yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal kemudian mencari profit yang sebesar-besarnya di tanah Jawa tanpa memperdulikan hak rakyat dan bangsawan. Meski kecewa, para petinggi Kasultanan umumnya ragu menentang Belanda. Kondisi yang terjadi membuat Sang Pangeran melakukan rangkaian olah batin, penguatan diri, serta kalkulasi diperhitungkan detail. Pada 21 Juli 1825, panji-panji pemberontakan akhirnya dikibarkan Sang Pangeran. Perang Jawa dimulai.

Sang Pangeran melakukan rangkaian olah batin dari kondisi yang terjadi. Penguatan diri dilakukan, kalkulasi diperhitungkan detil. Panji-panji pemberontakan akhirnya dikibarkan Sang Pangeran pada 21 Juli 1825. Perang Jawa dimulai. Selama 5 tahun, pemberontakan terbesar masyarakat Jawa berlangsung yang menguras dan merugikan pihak kolonial.

Saat Johannes van den Bosch tiba di Nusantara untuk menjabat sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Penangkapan Sang Pangeran hidup atau mati semakin di agresifkan. Jenderal De Kock, panglima perang Belanda di Perang ini, mengupayakan Sang Pangeran menyerah dengan cara diplomasi. Siasat dijalankan yang membuat Sang Pangeran bersedia datang ke perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830 dan usai perundingan Sang Pangeran ditangkap Belanda dan hukuman segera dijatuhkan.

***

Dari penjara Semarang ke Batavia, Diponegoro harus meninggalkan tanah Jawa. Bersama keluarga dan beberapa pengikutnya dipindahkan ke Manado. Tahun 1833, peperangan antar kerajaan di Eropa mulai berkecamuk dan berefek hingga ke Hindia Belanda, membuat pemindahan lokasi penahanan  Sang Pangeran ke Fort Rotterdam di Makassar.

Diponegoro dan keluarga ditahan di ruang perwira dekat dengan pos jaga utama. Dari loteng ruang tahanan, pemandangan mengarah ke Teluk Makassar tapi tembok bagian dalam benteng menghalangi pemandangan ke arah kota Makassar. Naik ke loteng melihat kapal uap yang rutin datang bersandar di Teluk Makassar, begitu tulis Sang Pangeran dalam surat kepada ibunya.

Siang hari, Diponegoro memperoleh waktu berolahraga di dalam benteng. Walau dilarang berkomunikasi dengan warga Makassar, Sang Pangeran dapat melakukan komunikasi dan berkorespondensi. Para pengikut Sang Pangeran tinggal di blok para pelayan benteng, di situ mereka bergaul dengan para anggota garnisun dan orang sipil setempat sehingga banyak kesempatan untuk menyelundupkan surat serta berita ke dalam dan keluar benteng.

Kesalehan Diponegoro terhadap Islam dan perlawanan Diponegoro terhadap Belanda di Jawa mendatangkan rasa hormat dari orang Makassar. Rasa hormat yang sama datang dari Sang Pangeran kepada rakyat Makassar. April 1844, Diponegoro menolak tawaran Belanda untuk memindahkannya ke daerah lain di Hindia Belanda. Sang Pangeran menghabiskan waktu dengan melahap banyak bacaan dan menulis.

Pada 8 Januari 1855, jam 06.30, Pangeran Diponegoro wafat di Fort Rotterdam. Jenazah Sang Pangeran dikebumikan di pemakaman umum Kampung Melayu di antara Jalan Andalas dan Jalan Irian sekarang. Sebuah petak lahan dikhususkan bagi area pemakaman Pangeran Diponegoro. Setelah Sang Pangeran wafat, istri dan anak-anak Sang Pangeran meminta untuk tetap tinggal di Makassar agar tetap dekat dengan makam almarhum kepada Gubernur Celebes, Van der Hart.

10 November 1973, Pangeran Diponegoro resmi dinobatkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional. 22 Juni 2013, Babad Diponegoro dimasukkan sebagai salah satu dari 299 naskah dari seluruh dunia yang menjadi Daftar Ingatan kolektif Dunia oleh UNESCO. Takdir Sang Pangeran pun berlaku, “terbilang di antara para leluhur”. Buku ini bagaikan mengingatkan kembali pesan Presiden Sukarno, “Jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) dan Peter Carey memberikan ke rakyat Indonesia suatu bahan “Jasmerah”. [] (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  27 Agustus 2014)

Judul Buku : Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Penulis : Peter Carey

Penerbit : Penerbit Buku Kompas, 2014

Tebal : xxxviii + 434 halaman

ISBN : 978-979-709-799-8

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/27/350226/Takdir-Bersemayam-di-Makassar

Peran Perasaan Perempuan

Para perempuan dihadirkan sempurna dengan kecerdasan, kecantikan, dan juga penderitaan.

oleh : Irmawati Puan Mawar

Buku Perempuan-Perempuan Mahabharata

Buku Perempuan-Perempuan Mahabharata

Sederetan nama perempuan-perempuan, mulai dari Satyawati, Amba, Gandari, Kunti, dan Drupadi. Kisah Mahabharata tanpa kehadiran mereka, ibarat bunga tanpa warna dan aroma. Mereka adalah perempuan yang cerdas, terampil, terpelajar, menguasai urusan kenegaraan, dan cantik. Mereka dihormati dan dipuja, yang diperoleh dari hubungannya dengan seorang laki-laki, dari suami, putra, ayah, atau saudara.

Narasi kelahiran merupakan salah satu teknik yang dipakai dalam kisah Mahabharata untuk menunjukkan karakter istimewa seseorang. Seperti kelahiran para Pandawa dan Kurawa. Perempuan-perempuan ini pun dilahirkan dengan cara yang luar biasa dan darmatis. Satyawati dibesarkan oleh nelayan, tapi ia sebenarnya adalah putri Raja Uparichara dengan seorang bidadari perawan bernama Adrika. Lalu ada Kunti yang sejak bayi diserahkan oleh orangtuanya sendiri, Surasena, kepada Kuntiboja, yang masih sepupu dan temannya.  Serta Drupadi yang terlahir dari api.

Satyawati seperti badai yang menerpa Hastinapura. Dia adalah perempuan yang mengubah garis keturunan dinasti Kuru. Satyawati yang dikenal dengan nama Gandawati atau Yojanaganda membuat Santanu terpikat dengan kecantikan dan aroma wangi tubuhnya.

Karena mabuk asmara pada Satyawati, Santanu tidak peduli apa pun risikonya. Ia bahkan membuat Dewabrata—pewaris takhta Hastinapura yang sah, putra Santanu dan Gangga yakni Bisma—mengucapkan sumpah Brahmacarya, yakni melepaskan takhta Hastinapura, juga tidak menikah dan tidak memiliki keturunan untuk menghapus ancaman terhadap anak-anak Satyawati.

Dari anak pranikahnya, Kresna Dwipayana atau Abiyasa, menjadi ayah pewaris takhta Hastinapura, sehingga tercipta pembauran kasta dalam kelas sosial. Setelah Santanu mengkat, Bisma mematuhi sumpahnya dengan menobatkan adik tirinya, Citragada untuk menduduki takhta Hastinapura. Karena Citragada mati muda, Bisma kemudian menobatkan Wicitrawirya yang masih kanak-kanak sebagai raja. Tak hanya itu, Bisma juga mencarikan istri baginya. Ia menantang semua raja yang hadir dalam sayembara dan melarikan paksa ketiga putrid Prabu Darmahumbara yakni Amba, Ambika, dan Ambalika.

Perbuatan Bisma menjadi sumber kesengsaraan Amba. Sehingga perempuan inilah yang menjadi penyebab kematian Bisma. Ia terlahir kembali sebagai Srikandi dan membunuh Bisma dalam perang Bharatayudha.

Generasi selanjutnya, ada Kunti istri Pandu dan Gandari istri Drestarastra. Lagi-lagi peran Bisma yang meminta Gandari pada Raja Subala dari Gandharadesa. Mengetahui suaminya buta, Gandari pun membuat penglihatannya gelap dengan menutup matanya. Karena kesalehannya, ia mendapat anugerah seratus putra dari Siwa.

Gandari , meskipuntidak berhasil menghentikan perang akbar Bharatayudha, tapi ia mampu bertindak tegas pada saat-saat penting. Bahkan, kutukannyalah yang menghancurkan wangsa Wresni dan menyebabkan Kresna meninggal setelah kaki kirinya terkena panah Jara—seorang pemburu rusa.

Berbeda dengan Gandari, Kunti dimenangkan sendiri oleh Pandu. Tapi dia mendapat rival, yakni Madrim, adik Raja Salyapati. Bersama kedua istrinya, pandu pergi ke hutan untuk berburu rusa. saat berburu itulah, Pandu membuat kesalahan, panahnya yang tajam menancap disalah satu rusa yang sedang kawin, rusa itu tak lain adalah Brahmana Kamindana. Sebelum meninggal, Brahmana mengutuk Pandu, ia tak pernah bisa mengawini perempuan, jika mencoba, Pandu akan mati.

Atas bantuan Kunti, yang mendapat anugerah dari Resi Druwasa, berupa  Aji Pepanggil—sebuah mantra untuk memanggil siapapun penghuni khayangan yang diinginkan untuk menurunkan putra. Dalam hal ini, Kunti-lah yang memegang kendali, tapi meminta Pandu untuk memutuskan siapa yang akan dipanggil.  Dari Dharma, Kunti memperoleh Yudhistira, lalu dari Dewa Angin Bayu lahirlah Bima, dari Indra lahirlah Arjuna. Lalu Kunti memanggilkan dewa untuk Madrim sehingga lahirlah si kembar Nakula dan Sadewa.

Selanjutnya, Drupadi—istri kelima Pandawa—ia menjadi satu-satunya perempuan yang berani mempertanyakan norma-norma patriarkal secara terbuka dan menantang para lelaki. Ia juga menegaskan bahwa dirinya sederajat dengan mereka. Pada banyak kesempatan, Drupadi alias Pancali justru membela dan melindungi suami-suaminya. Terutama Yudistira, yang mengecewakan pada saat-saat genting : ketika pakaian Drupadi dilucuti di istana Kuru, diculik Jayadrata, dan saat dilecehkan oleh Kicaka di istana Wirata.

Tidak peduli dengan semua penghinaan Drupadi, para Pandawa cenderung mencari jalan damai ketimbang balas dendam. Tapi Drupadi, menjaga dendam selama 13 tahun, yang konon menjadi penyebab utama perang Bharatayudha.

Mahabharata menampilkan segala yang abu-abu dalam sifat manusia dan perilakunya ketika mengambil keputusan berhadapan dengan dilema-dilema etis. Tapi tak ada sosok ideal, baik ayah, laki-laki, ibu, dan, istri. Bahkan Yudistira yang lahir dari dewa keadilan yang paling berbudi luhur di antara semua makhluk kahyangan. Kesukaannya bermain dadu, yang membuatnya mempertaruhkan segalanya, termasuk saudara-saudaranya, dan istrinya Pancali.

Sosok lelaki dalam kisah Mahabharata memang cenderung peragu, mereka bahkan terkesan dalam menghadapi momen-momen penting. Kehadiran perempuan-perempuan inilah yang justru banyak berperan, mendukung suami dan anak-anaknya dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.

Kavita yang sudah menerbitkan 12 buku, baik pendidikan, sastra, isu perempuan, hingga agama. Tampak matang mengulas peran perempuan-perempuan yang mewarnai kisah Mahabharata.[] (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  20 Agustus 2014)

Judul Buku : Perempuan-Perempuan Mahabharata

Penulis : Kavita A. Sharma

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2013

Tebal : xvii + 178 halaman

ISBN : 978-979-91-0549-3

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/20/349603/Peran-Perasaan-Perempuan

Mereka yang Menggurat dan Menggugat

Oleh: Kamaruddin Azis (Sektretaris Eksekutif Yayasan Prakarsa Masyarakat untuk Transformasi (COMMIT), Makassar)

Buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Jujur saja, saya bukan pembaca buku yang ngotot. Meski menyimpan relatif banyak buku bagus di lemari namun saya malas merengkuhnya. Namun, buku “Esai Tanpa Pagar: 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013” adalah pengecualian.

Saya khatam membacanya jelang piala Dunia Brasil 2014 tuntas. Buku bersampul hitam bercover gambar sehelai bulu burung putih ini telah membuatku khusyu’ membaca halaman demi halaman meski perhelatan sepakbola tahunan itu juga amat menggoda.

***

Di lembaran pembuka buku itu, gaya Ahyar Anwar (Alfatiha untuk beliau) menguak Insting-Insting Kematian, sungguh memikat. Saya membacanya di atas Teluk Bone sembari memandangi hamparan Pulau-pulau Sembilan sepulang dari Wakatobi. Tentang makna kepulangan yang disengaja; kematian.

Selain Ahyar, ada Alwy Rahman, Andi Sri Wahyuni Handayani, Anwar Jimpe Rahman, Aslan Abidin, Dul Abdul Rahman, Erni Aladjai, Fadhli Amir, Fitrawan Umar, Hendragunawan S. Thayf, Idham Malik, M. Aan Mansyur, Mohd. Sabri AR, Muhary Wahyu Nurba, Muin Kubais M. Zeen, Mulyani Hasan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany, Wawan Kurniawan, dan Willy Kumurur.

Penyair Amarzan Loebis memberi prolog bahwa para penulis buku ini lebih tertarik ihwal ‘mikro’ yang bisa diolah ke solusi.  “Kemikroan dalam buku ini bukanlah kesempitan berpikir melainkan justru semacam ijtihad merayakan kedalaman dan ketajaman,” tulis Amarzan.

Bak mewakili 19 penulis lainnya, M. Aan Mansyur sebut bahwa mereka menulis sebab harus menunjukkan perhatian pada masalah-masalah di sekitarnya. Membaca realitas, buku, pikiran para tokoh berpengaruh dunia adalah jendela pengetahuan.  Aan mengutip Orwell, menulis (di buku ini) adalah aktivitas politik sementara membaca adalah tindakan subversif, bukan semata hiburan atau hobi.

Aan meminta pembaca untuk menimbang lahirnya inisiatif perubahan ke pembaca dengan menuliskan “Tidak semua orang beruntung bisa menjadi ibu yang mau terjun dari kenyamanan hidup dan mengubah kesedihan menjadi kekuatan, seperti Harriet Beecher Stowe,” tandas Aan (hal.213). Aan juga menunjuk sosok lain yang bisa jadi cermin, seperti Hellen Keller, Edward Osborne Wilson si peneliti serangga. Periset jendela, Matteo Pericoli hingga Arthur Miller yang menyorot metafora orang-orang berpandangan sempit.

Pembeda lainnya di buku ini adalah Sabri AR. Paparannya tentang bahasa, aksara dan Tuhan sangat kuat di esai “Kun dan Tradisi Keaksaraan”. Sabri sangat indah menuliskan filsafat penciptaan dan proses kreatif setelah itu. Kita terhibur dengan menulis Sabri yang dalam. Gaya ini juga tergambar dari esai Hendragunawan S. Thayf yang meliuk dan mengasikkan mengupas cinta dan penghambaan diri padanya.

Buku ini terasa berada di koridor ‘literasi’ yang sesungguhnya karena sosok Alwy Rachman. Ulasannya tentang kebebasan berekspresi, kebudayaan, sastra dan mengapa literasi menjadi

penting. Dia juga mengupas sikap banal politisi menjadi bahan lelucon yang baik bagi kehidupan warga kota. Tentang dunia anak-anak, kearifan lokal, demo anarkistis, kemiskinan hingga kritik pada dokter.

Jika ada yang sangat ‘tega’ menohok dan menggugat institusi dan sistem di buku ini maka itu adalah Aslan Abidin. Mengutip Jean Baudrillard, di buku Seduction, 1990 tentang rayuan. Aslan menggugat politisi sebagai perayu yang menipu.

“Rayuan beroperasi melalui pengosongan tanda-tanda dari maknanya,” begitu tuduhnya pada kiprah politisi yang mencampuradukkan estetika dan pengangkangan sosial, penipuan. Aslan, seperti Alwy, Ahyar, Aan, juga marah dengan elite di Makassar, pada jargon dan ekspektasi penguasa yang tak rasional dan lucu.

Setelah membaca buku ini, saya merasakan dan merayakan diri hanyut di dalamnya dan pada saat yang bersamaan mencoba menikmati kata-kata keluar dari pikiran penulis itu dengan lincah, menari dan mengagumkan. Bukan hanya tentang dimensi kota dan laku politisi dan elite pemerintahan tetapi menertawai gaya hidup orang berharta, berpartai dan berkopiah.

“Simbol agama dan pendidikan tinggi adalah komoditi yang juga mereka konsumsi untuk citra diri. Mereka tetap saja khusyuk membuang sampah di sepanjang jalan raya yang kita lalui,” gugat Aslan (hal 109).

Telak! Kisruh di jalan raya ini menumbuhkan kerinduan Aslan pada film animasi Sponge Bob di negeri Bikini Bottom. Serupa Aslan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany juga mencokok Pemerintah yang abai pada perannya mengayomi warga. Tulisan Nurhady tentang Boneka Kecil Bernyanyi tentang Cita-Cita layak diapresiasi sebagai kritik bagi penanganan kesehatan oleh negara yang dianggapnya tak adil dan pilih kasih.

***

Buku yang diperiksa aksaranya oleh Irmawati Puan Mawar serta diparipurnakan oleh Muhary Wahyu Nurba dan Imam Yunni ini layak dibaca oleh kita semua agar tercerahkan dan dapat mengambil sikap atas realitas yang nyaris serba cacat. Buku ini adalah oase pengetahuan dan kontemplasi di tengah ancaman kemalasan kita membincangkan isu bersama.

Mereka, ke-20 penulis itu sesungguhnya menggurat pesan di sanubari kita untuk tak meratap berkepanjangan pada persoalan kita dan kota, tetapi mengajak melawan ketidakadilan. Sebuah ikhtiar mulia namun langka di dunia yang serba materialistik ini.

Jika ada kelemahan (saya menyebutnya tantangan) pada buku ini maka itu adalah gaya bahasa yang amat rumit (sophisticated) dan membutuhkan energi ekstra untuk mengunyahnya. Masih ada kata berdempet, seperti pada halaman 86, yang mengisahkan legenda tentang suap. Kata dan titik rapat, kata dan kata rapat. Masih mending sebab hanya 1-2 halaman. Bandingkan dengan jumlah halaman, 399!

Buku ini pas bagi masyarakat luas terutama mahasiswa, atau sesiapa yang tertarik mendorong perubahan sosialnya, baik untuk diri, organisasi maupun lingkungan. Buku yang diterbitkan Nala Cipta Litera atas sokongan Komunitas Literasi ini ibarat oase di tengah minimnya buku-buku berkualitas di kota kita.

O iya, buku ini bisa menambah daftar bacaan bagi yang hendak menjadi penulis efektif, semisal, menggenapkan buku rujuk “Seandainya Saya Wartawan Tempo”, yang terkenal itu.[](Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  06 Agustus 2014)

 

Judul Buku : Esai Tanpa Pagar  (100 Pilihan Literasi  “Koran Tempo Makassar 2013”)

Prolog : Amarzan Loebis

Penerbit : Nala Cipta Litera

Tebal : xii + 400 halaman

ISBN : 978-602-8003-35-3

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/06/348451/Mereka-yang-Menggurat-dan-Menggugat

Bernostalgia di Kolong Tangga

Museum Kolong Tangga memiliki 10 ribu koleksi mainan.

Warna-warni keceriaan dinding bergambar cerita-cerita bernuansa anak menyambut seolah mengajak saya bermain. Apalagi saat memasuki pintu, seolah saya sedang melalui gerbang “Ular Naga”—permainan berbaris bergandeng pegang bak ular naga yang berjalan melewati “gerbang”—dua gambar anak yang menempati daun pintu bertindak sebagai “gerbang”.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Memasuki ruangan Museum Anak Kolong Tangga yang menempati lantai dua Gedung Taman Budaya Yogyakarta, pertengahan Agustusl lalu, seolah membawa saya bernostalgia ke masa kanak-kanak. Kaki saya baru melangkah empat kali, saya menemukan Dakon alias Congklak yang terbuat dari kayu lengkap dengan ukiran dekorasi Cina. Warna kayunya sudah tampak tua, konon ini dibuat pada tahun 1952 di Jawa Timur.

Permainan kesukaan saya yang lain adalah  Puzzle. Saya menyukai permainan ini, sampai sekarang saya masih sering memainkannya, karena dapat merangsang otak, membantu mengembangkan logika dan cara berpikir saya. Di museum ini, saya menemukan berbagai macam mainan puzzle, bahannya pun beraneka ragam, ada yang berbahan plastik, tapi paling banyak yang berbahan kayu. Salah satu permainan puzzle yang cukup tua adalah Puzzle Kawat atau Puzzle Paku, salah satu mainan asal Cina, yang konon diciptakan lebih dari 2.000 tahun lalu.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Jika saya sibuk bernostalgia dengan mainan-mainan tradisional. Kawan saya, Lutfi Retno Wahyudyanti sibuk mengabadikan gambar boneka, lengkap dengan baju tradisional, perabot boneka, hingga aneka topeng. Di antara koleksi tersebut, terdapat penjelasan tentang boneka dan puppet. Boneka adalah mainan yang mampu memberikan kesenangan dan mendidik anak-anak. Sedangkan puppet digunakan untuk pertunjukan, tapi juga bisa membantu melatih kelancaran berbicara bagi anak. Baik boneka maupun puppet dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dan bereksperimen, terutama menjadi kreatif dalam berbagai macam cara.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Saat memasuki dunia wayang, saya bertemu dengan Cepot (Bagong/Bawor) yakni wayang Golek Sunda Jawa Barat, lalu ada wayang kardus Hanoman, Batarai/ Dewa Brahma—wayang kulit Bali, ada wayang kulit Raden Wrekudara/Bimasena salah satu Pandawa dari cerita Mahabrata, wayang kardus Sakerah—salah satu tokoh cerita rakyat Jawa Timur, dan Angkrek—tokoh Gareng—mainan tradisional yang digerakkan dengan benang.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Mainan lain yang memiliki nilai pendidikan adalah Umbul-umbul. Dengan memainkan “umbul-umbul” ini, membantu saya menghafal nama dan karakter tokoh pewayangan Jawa, termasuk jalan ceritanya. Tapi mainan umbul-umbul sekarang, kebanyakan bergambar tokoh-tokoh fiksi luar negeri. Seperti, Superman, Batman, Bionic Woman dan masih banyak lagi.

Museum ini juga membawa saya bermain ke Afrika, hingga ke Benua Amerika. Salah satunya Katchina—boneka yang mengandung roh yang berasal dari suku Navajo (Indian) di negara Arizona, Amerika. Boneka ini terbuat dari kayu yang dipahat.

Tak melulu mainan tradisional, museum ini juga memiliki etalase dunia robot. Terdapat aneka robot plastik dari karakter transformer versi modern. Ada juga senjata-senjata yang tak bisa terhindarkan.   Tapi  penjelasan dekat mainan senjata ini seolah mengingatkan bahwa mainan ini hanya akan memicu perilaku agresif dan kekerasan dalam permainan anak-anak.

Koleksi museum ini, ada juga yang hanya berupa gambar, seperti permainan egrang, di Sulawesi Selatan dikenal dengan mana longga-longga. Permainan serupa biasa dimainkan penari suku DAN di Pantai Gading, Afrika. Lalu pada tahun 1930, di Bulgaria, di ibukota Sofia, petani yang keluar rumah diwajibkan menggunakan egrang selama musim hujan.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Berkeliling Museum Kolong Tangga betul-betul mengajak saya kembali bernostalgia ke masa kanak-kanak saya. Museum ini memiliki sekitar 10 ribu koleksi mainan. Untuk masuk, pengunjung cukup membayar retribusi Rp 4 ribu. Museum yang diprakarsai oleh Rudi Corens—seniman berkebangsaan Belgia—ini sangat berpihak pada anak, buktinya pengunjung anak-anak (usia di bawah 14 tahun) tidak dikenakan biaya. Jika berlibur ke Jogja bersama keluarga, museum ini adalah salah satu tempat yang patut dikunjungi. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  22 Agustus 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/22/349783/Bernostalgia-di-Kolong-Tangga

Menyapa Lewat Esai Tanpa Pagar

Dia punya keindahannya sendiri, dengan unsur sentuhan personal yang kuat. 

Pada suatu malam yang terbungkus gelap dan temaram lampu-lampu Kota Makassar, Nurhady Sirimorok bertanya kepada saya, “Menurut Bapak, apa aliran politik pencipta lagu anak-anak Layang-layangku?” Saya betul-betul terhenyak! Kalau dia bertanya tentang lagu kebangsaan Cina, Zhi Lai, ciptaan Nie Her, barangkali saya akan lebih siap menjawab, kata Amarzan Loebis, editor senior Tempo, dalam prolognya di buku Esai Tanpa Pagar100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Komunitas literasi disela peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Komunitas literasi disela peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Jawaban Amarzan ini kemudian diolah Dandy—sapaan akrab Nurhady—menjadi tulisan Literasi berjudul “Membayangkan Masa yang Menciptakan Layang-layang” yang dimuat di Koran Tempo Makassar pada 24 Juli 2013. Dalam tulisannya, Dandy mengungkapkan, bagaimana lagu Layang-layang dan permainan layang-layang bisa menjadi ilustrasi tentang latar masa yang mendasari penciptaannya dan bagaimana ia kian dilupakan seiring dengan berubahnya masyarakat.

Ingatan kolektif tentang pembuatannya jadi susut. Nyaris bersamaan, serangan lain datang dalam bentuk permainan bermesin dan kelak berkontrol jarak jauh. Pembangunan kota pun membuat tanah lapang untuk menerbangkannya menyempit. Aktivitas rekreasi anak-anak perlahan beralih menjadi nirgerak, antisosial, dan konsumtif, dimanjakan beragam fitur di telepon seluler, tablet, televisi, dan berbagai jenis video game. Ruang gerak mereka semakin terkurung teknologi. Bersama permainan rakyat lainnya, layang-layang takluk, lalu terkurung di museum dan festival-festival—menjadi tontonan, entah sampai kapan.

Sangat sedikit keterangan mengenai layang-layang di dunia maya. “NN” adalah pencipta lagunya dan mulai dikenal pada 1960-an. Itu saja. Jejak paling awal justru saya peroleh dari penuturan Amarzan Loebis, yang mengaku mendengarnya pertama kali ketika ia berusia belasan tahun pada pertengahan 1950-an—beberapa orang lain menyebutkan awal hingga akhir 1960-an sebagai masa pertama kali mereka mendengarnya. Jadi, anggaplah lagu ini dibuat pada paruh kedua 1950-an.

Begitulah salah satu kisah proses tulisan literasi bisa terbentuk. Amarzan mengatakan, dalam prolognya,

“literasi” pada akhirnya menjadi semacam “taman olah pikir” para intelektual Makassar, para jauhari dari berbagai disiplin, dengan cara yang rendah hati dan menginspirasi. Kemikroan sikap pandang mereka bukanlah representasi kesempitan berpikir, melainkan semacam ijtihad merayakan kedalaman dan ketajaman.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Seperti apa kedalaman dan ketajaman masing-masing penulis, itu bisa dilihat dalam buku Esai Tanpa Pagar ini. Dalam buku ini terdapat 100 tulisan literasi, yang dipilih dari 261 tulisan literasi yang terbit di Koran Tempo Makassar selama 2013. Buku ini diluncurkan pertama kali Sabtu sore lalu di Fort Rotterdam Makassar.

Buku seratus literasi ini menghimpun 20 kara penulis, yakni Ahyar Anwar (almarhum), Alwy Rachman, Andi Sri Wahyuni Handayani, Anwar Jimpe Rachman, Aslan Abidin, Dul Abdul Rahman, Erni Aladjai, Fadhli Amir, Fitrawan Umar, Hendragunawan S.Thayf, Idham Malik, M. Aan Mansyur, Mohd. Sabri A.R., Muhary Wahyu Nurba, Muin Kubais M. Zeen, Mulyani Hasan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany, Wawan Kurniawan, dan Willy Kumurur.

Kata Aslan, salah satu penulis, tulisan dalam literasi kebanyakan mengenai hal-hal serius yang kita lewatkan dan dianggap sepele. Misalnya, tentang membuang sampah di sembarang tempat dan tentang geng motor yang merisaukan warga Makassar. Dari pengalaman dan pengamatan yang disaksikan dalam masyarakat itu, kemudian dituliskan dengan menambahkan referensi, baik dari bacaan, pengalaman, maupun film.

Menurut dia, literasi punya niat dan punya manfaat secara sosial, karena pada umumnya menyentuh kepentingan banyak orang. “Kolom ini semacam ruang publik, kita bisa membicarakan masalah-masalah masyarakat,” tuturnya.

Selain untuk berbagi kepada masyarakat, kata Aslan, literasi dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan penguasa. “Penguasa kita tidak berfungsi dengan baik, anggota Dewan kita, pemerintah kita, tidak berfungsi dengan baik,” ucap Aslan. Selain itu, literasi diharapkan menjadikan pembacanya tergerak untuk membaca kenyataan sosial dan membaca buku.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Luna Vidya, salah satu penanggap buku Esai Tanpa Pagar, mengatakan literasi adalah media menuangkan kecerdasan subyektif. “Penulis dalam buku ini memberi pemahaman yang baik kepada pembaca,” tuturnya.

Lain lagi pendapat penulis dan seniman Moch Hasyimi Ibrahim. Menurut dia, literasi dalam buku Esai Tanpa Pagar ini sangat jeli mengangkat tema sosial. “Erni Aladjai, misalnya, mengangkat kebiasaan membuang nasi (tak menghabiskan nasi),” ucap Ami—sapaan akrabnya.

Rubrik literasi ini selalu dinikmati Ami setiap sore, menemaninya menunggu waktu mengurai kemacetan Makassar. Ditulis oleh penulis yang terpikat pada sesuatu gejala alam, lalu dimaksudkan untuk membagi, secara subyektif.

Literasi semacam ruang untuk menyapa, menyampaikan pandangan ke publik. “Dia punya keindahannya sendiri, unsur sentuhan personalnya kuat, serta memiliki rasa Makassar yang khas,” ujar Ami. Sesuai dengan namanya, tulisan literasi harus disertai rujukan, “Kami bisa menemukan bacaan-bacaan dunia yang menjadi literatur.” Umumnya tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki rujukan peristiwa sehingga terasa sangat segar. “Ini harus kita sambut dengan baik, saya kira rubrik ini jangan sampai mati. Enak dibaca dan perlu.”

Dewan Penasihat Komunitas Literasi Makassar, M. Iqbal Parewangi, yang datang agar tak kehabisan buku, mengungkapkan penilaiannya secara subyektif, bahwa literasi adalah godaan terhadap Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  10 Juni 2014)

Menerjemahkan Diri dalam Naskah

Memperpanjang karya sastra bisa dilakukan dengan cara selalu membacanya.

Kain-kain hitam seolah menyelimuti ruang Capitol Theater di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Sabtu malam lalu. Asdar Muis RMS memecah malam dengan membaca beberapa karya esainya. Tak hanya itu, ia juga meramaikan suasana Diskusi dan Kolaborasi Baca Sastra Landung Simatupang bersama beberapa seniman Makassar dengan aksi ‘pemulung kata’—mengumpulkan kata, lalu dirangkai menjadi cerita—Asdar menceritakan dirinya sendiri.

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seperti Asdar, Asia Ramli Prapanca alias Ram, yang menjadi penampil kedua, juga bercerita tentang dirinya. “Saya tak bisa banyak berimprovisasi karena sedang sakit,” tuturnya sebelum mulai bercerita.

Ram memulai cerita dari kampung halamannya di kampung Bajo yang melimpah hasil laut. “Di tempat saya, bukan suku Bajo yang mencari ikan, tapi ikan yang mencari suku Bajo.” Ia bahkan pernah menjadi ikan, “Saya pernah ikat dengan tali lalu digantung dan diasapi, saya juga pernah dimasukkan ke karung, lalu digantung dan diasapi.”

Saya lahir di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kata Ram. Dari tangga belakang rumahnya, ia biasa memancing ikan, lalu langsung memanggangnya di atas tungku dekat pintu belakang rumahnya. Begitulah masa-masa kecil Ram tumbuh sebagai anak suku Bajo, kini berdomisili di Makassar yang kesehariannya sebagai seniman dan pengajar di salah satu perguruan tinggi di kota ini.

Sang penyair menutup ceritanya dengan puisi “Jati Cinta”.

Kalau cintaku tak sampai padamu/ Di atas keranda/ Telah kusiapkan kain kafan/ Kemarin kubeli dengan nuraniku.

Di belakang rumah / Ada sepetak tanah/ Warisan nenek moyangku.

Kubur aku di sana/ Kelak, bakal tumbuh sebatang pohon / Tanpa nama / Tanpa ujung pangkal.

Pintaku/ Sebut ia jati cinta.

Tak mau kalah, penyair Irwan A.R. alias Brutus juga menyampaikan sajak-sajak rindunya. Penyair Muhary Wahyu Nurba juga memilih tema puisi yang senada. Melalui bait-bait puisinya, Muhary mencoba menceritakan dirinya yang menemukan pasangan bernama istri.

Berbeda dengan para penyair Ram dan Brutus, Yudhistira Sukatanya memilih tetap setia di tempatnya. Ia bercerita tentang “Perkawinan Kembar Emas” dalam Sure Galego—yang lebih dikenal sebagai kisah I La Galigo.

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Sawerigading dan We Tenriabeng adalah anak kembar emas, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Dari cerita ini diketahui, Batara Guru berpesan untuk membesarkan kedua anak kembar emas ini secara terpisah, agar kelak bila dewasa tak saling jatuh cinta.

Benar saja, saat melihat saudara kembarnya, Sawerigading langsung jatuh cinta dan bermaksud mengawininya. Tapi keinginannya itu mendapat tentangan dari orang tua dan rakyat banyak. Alasannya, mengawini saudara kandung adalah pantangan, dan jika dilanggar bisa terjadi bencana di seluruh negeri ini.

Lebih dari setengah jam cerita Yudhistira mengheningkan ruangan. Beruntung, ada suguhan singkong dan pisang goreng serta teh manis panas menemani penonton. Sambalnya yang pedas membuat mata terbebas dari kantuk.

Soeprapto Budisantoso, yang bertindak sebagai pemandu acara ini, mengatakan bahwa kehadiran Landung Simatupang berhasil membangkitkan Yudhistira Sukatanya, salah satu pencerita radio yang ulung di eranya. Cerita “Perkawinan Kembar Emas” oleh Yudhistira ini diiringi oleh pemusik Daeng Basri.

Sebelum Landung, Luna Vidya tampil lebih dulu. Ia minta didengar lalu berbagi cerita. “Membiarkan kerinduan menunggu dan melapuk. Kerinduan yang tidak selesai, itu seperti bangun pagi lalu ada peluh,” ucapnya dengan suara lirih.

Luna mengaku selalu menuliskan keintiman dirinya tapi tak mahir membacakan karyanya sendiri. Jika membaca karya sendiri, ia akan merasa ujung jari-jari pembaca akan menyentuhnya. “Saya tak sanggup menghadirkan diri saya, meski forum seperti ini membuat saya lebih nyaman. Saya selalu gagap menceritakan diri saya. Saya jagonya menerjemahkan diri saya dalam naskah orang lain,” tuturnya.

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Landung Simatupang, yang menjadi penampil berikutnya, mencoba menerjemahkan dirinya dalam naskah Seno Gumira Ajidarma. “Saya bangga kepada Mas Landung, yang bisa melepas dirinya lalu menjadi Chairil Anwar, bisa juga menjadi Seno,” kata Asdar. Begitulah karya-karya sastra dibacakan agar usianya makin panjang.

Membaca diri sendiri, serta membanggakan budaya lokal kita, adalah hal yang perlu dilestarikan. Saya kira kita harus mulai memperkenalkannya kepada orang luar, tak melulu membawa budaya luar untuk kita perkenalkan di sini di Makassar. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  11 Juni 2014)

 

Cerita Baharuddin Lopa dari Pambusuang

Menyusuri jejaknya di Pambusuang bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar

Orang-orang menyapa dan menyebutnya “Aqbana Khalid”, yang berarti bapaknya si Khalid—nama anak pertama Baharuddin Lopa. Di tanah kelahirannya, di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Makassar, Baharuddin tak dikenal sebagai “Pak Lopa”, karena Lopa adalah nama bapaknya. Selain “Aqbana Khalid”, sapaan akrab lainnya adalah “Jassa Agung” (jaksa agung).

Secara luas, masyarakat memang mengenal Baharuddin Lopa sebagai penegak hukum yang pemberani dan jujur. Tapi, dalam film berdurasi sekitar 15 menit berjudul Baharuddin Lopa, kita akan melihat sisi lain dari mantan jaksa agung itu.

“Mungkin tidak akan menjawab sepenuhnya, tapi sedikit-banyak akan memberi gambaran akan ‘akar’ yang membuat Baharuddin Lopa menjadi sosok yang pemberani dan jujur,” ucap Muhammad Ridwan Alimuddin, pembuat film dokumenter Baharuddin Lopa, kepada Tempo, Selasa lalu, melalui surat elektronik.

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Selama ini, sosok Baharuddin banyak dikenal lewat perspektif orang-orang di Makassar dan Jakarta. Tapi, dalam film ini, kita akan melihat perspektif orang-orang di Pambusuang tentang Baharuddin. Pambusuang adalah tanah kelahiran sekaligus tempat dia menghabiskan masa kecil dan remajanya. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, Baharuddin sudah tinggal di Makassar.

Tapi hal itu tak membuatnya terlupakan karena Baharuddin termasuk orang kota yang sering pulang kampung. Cerita mudik ini menjadi penambal kekurangan informasi tentang masa kecil hingga remajanya kala di Pambusuang. Hal ini juga memuat latar belakang keluarganya, tentang Pambususang, dan faktor-faktor budaya yang membentuk karakter Baharuddin.

“Sebagian besar informasi kami dapatkan dari narasumber dalam bentuk wawancara,” kata Ridwan. Menurut penuturan para narasumber di Pambusuang itu, Ridwan menjelaskan, Baharuddin dikenal sebagai orang yang agamanya kuat, menghargai ulama, dan senang bersenda gurau. Setiap kali pulang kampung, Baharuddin selalu mengundang ulama ke rumahnya untuk berdiskusi hingga larut malam.

Bukan hanya kalangan ulama, Baharuddin selalu mengundang sahabat-sahabatnya. Salah satunya Kurrudi, teman sekaligus tukang cerita yang ulung. Kalau dia bercerita, orang pasti tertawa, termasuk Baharuddin. Biasanya, begitu Kurrudi tiba di rumahnya, Baharuddin langsung menyambutnya dan berkata, “Loso-losonni bomaq doloq,” yang berarti, “Coba cerita yang bohong-bohong lagi kepada saya.”

Meski Baharuddin tahu itu cerita bohong atau karangan Kurrudi semata, ia tetap suka karena cerita-cerita itu, selain jenaka, mengandung hikmah. Kalau diambil perbandingan, kira-kira cerita Kurrudi itu seperti Nasaruddin Hoja, kisah dari Timur Tengah yang telah banyak dibukukan. “Sayangnya saya tak bisa mewawancarai Kurrudi karena telah wafat,” kata Ridwan.

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Film ini berusaha menghadirkan ruang-ruang kehidupan Baharuddin di Pambusuang, sehingga seluruh lokasi yang menjadi sorotan kamera adalah daerah ini. Menyusuri jejak Baharuddin di Pambusuang juga bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar tak lama setelah Baharuddin meninggal. Musibah ini membuat sebagian besar dokumentasi berupa foto-foto Baharuddin juga ikut terbakar.

Tapi, bagi Ridwan, Dahri Dahlan yang bertindak sebagai narator, dan Irwan Syamsi dari tim teknis, tak sulit menemukan cerita-cerita seputar Baharuddin. Sebab, seluruh personel tim pembuat film dokumenter ini masih sekampung dengan Baharuddin.

Ridwan, yang juga bertindak sebagai periset, penulis narasi, kamerawan, dan editor, mengaku baru sekali bertemu langsung dengan Baharuddin pada awal 1990-an. “Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, saya ikut seminar nasional bertema hak asasi manusia yang digelar di Tinambung, Polewali Mamasa—sekarang Polewali Mandar—Baharuddin Lopa salah satu pembicara.”

Bagi Ridwan, Baharuddin termasuk sosok yang memotivasi dirinya untuk lebih serius mempelajari dan mendokumentasikan kebudayaan bahari, khususnya kebaharian Mandar. “Peran Baharuddin secara tidak langsung yang menjadi faktor utama yang membuat saya seperti sekarang ini.”

Film dokumenter tentang sosok Baharuddin ini menjadi salah satu suguhan dalam pembukaan acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014, semalam, di halaman Fort Rotterdam Makassar.

Inisiator MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan penghargaan tokoh tahun jatuh pada Baharuddin Lopa, karena dia sosok yang lurus dan tegas. Ia merupakan sosok pejabat yang melarang keluarganya menggunakan mobil dinas, melarang anak-anaknya mengambil selembar kertas atau sebuah pulpen dari kantornya.

“Banyak sekali cerita tentang Baharuddin Lopa yang tak hanya jujur, tapi juga sederhana. Kesederhanaan inilah jalan untuk menemukan kesejatian,” kata dia, saat jumpa pers, kemarin, di Makassar. Tahun ini, MIWF telah memasuki tahun keempat dan mengambil tema “Finding Sincerity” (Menemukan Kesejatian).

Tahun lalu, ada A.M. Dg. Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933–1942) dari Makassar. Pada 2012, Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo,dalam MIWF 2011. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  05 Juni 2014)

 

Wajah Kusam Losari

Tak hanya airnya yang keruh, sampah mengapung juga menjadi penghias tepian Losari.

Pantai Losari, kawasan pesisir di bagian barat daya Kota Makassar, menjadi tempat favorit bagi Armita, 12 tahun, dan adiknya, Melisa, 11 tahun. Saban sore, sepulang sekolah, siswa sekolah dasar ini berenang di Losari, seperti pada Sabtu dua pekan lalu. Sedikitnya ada 20-an anak seperti mereka yang mempertunjukkan atraksi melompat dari anjungan ke laut, dengan ketinggian 3-4 meter dari permukaan laut.

Bagi Armita, yang penting bisa bersenang-senang, tak peduli berenang bersama sampah yang mengapung di laut. Warga Jalan Rajawali ini juga rela menantang bahaya demi bersenang-senang. “Kami sudah terbiasa. Sedikit gatal-gatal setelah berenang, itu biasa,” ujarnya.

Suasana Jalan Penghibur, Kawasan Pantai Losari Makassar. Foto/Irmawar

Suasana Jalan Penghibur, Kawasan Pantai Losari Makassar. Foto/Irmawar

Kawasan Anjungan Losari tak hanya menjadi tempat favorit bagi Armita. Wahab, 32 tahun, saban sore juga menghabiskan waktu dengan memancing di kawasan ini. Sore itu ia tampak gembira, kailnya berhasil menjerat ikan samelang atau ikan sembilang (Paraplotosus albilabris)–bentuknya mirip lele–ukurannya cukup besar, beratnya hampir 1 kilogram. Selain samelang, ada ikan sunu (squaretail coral grouper), dan gandrang eja alias ikan bambang (Latjanus sp.).

Bujang di salah satu sekolah dasar di Makassar itu sudah memancing di kawasan ini sejak tiga tahun lalu. Sejauh ini, menurut dia, mengkonsumsi ikan di Losari aman-aman saja. “Asal dicuci bersih, bau limbahnya juga hilang,” katanya.

Pada pertengahan Februari lalu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Jamaing, mengingatkan warga sebaiknya tak mengkonsumsi hasil tangkapan dari pesisir Losari. Alasannya, tingkat pencemarannya semakin tingginya. BLHD menguji sedikitnya dua kali setahun untuk memantau kualitas air laut di pesisir Makassar.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran BLHD Kota Makassar, Surono, mengungkapkan data pengujian lain yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Makassar Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Dilakukan di Anjungan Pantai Losari pada 2013, pengujian ini mendapati tingkat kekeruhan 10,2 NTU (nephelometric turbidity unit), artinya melebihi baku mutu yang seharusnya 5 NTU.

Hasil uji juga menemukan nitrat 5,005 Mg/L yang melebihi baku mutu 0,008 Mg/L, senyawa fenol 0,08 Mg/L yang seharusnya nihil. Lalu di pantai di depan Fort Rotterdam, tingkat kekeruhannya 44,32 NTU juga melebihi baku mutu. Mengandung BOD 34 Mg/L melebihi baku mutu 10 Mg/L, nitrat 4,831 Mg/L dan senyawa fenol 0,11 Mg/L, keduanya melebihi baku mutu. Di tempat ini juga ditemukan kandungan Sulfida <0,042 Mg/L, yang seharusnya nihil, serta seng (Zn) 0,3812 melebihi baku mutu yang seharusnya hanya 0,095 Mg/L.

Dari hasil pengujian, di Anjungan Pantai Losari total coliformkumpulan mikroorganisme yang hidup dalam jumlah besar—mencapai 16 ribu Mg/L. Jumlah ini melebihi batas maksimal yang diperbolehkan, hanya 1.000 Mg/L. Demikian halnya fecal coliformbakteri fakultatif-anaerob, yakni bio-organisme yang dapat hidup tanpa oksigen—yang mencapai 16 ribu Mg/L, sedangkan yang diperbolehkan hanya 200 Mg/L.

Hal serupa terjadi di pantai di depan Fort Rotterdam. Jumlah total coliform dan fecal coliform-nya melebihi batas maksimal yang diperbolehkan, masing-masing 2.400 Mg/L. “Jika melihat angka-angka ini, yang melebihi ambang batas baku mutu, artinya telah terjadi pencemaran,” kata Surono.

Pakar Oseanografi Kimia dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin M. Farid Samawi mengatakan laut adalah pelarut terbaik. Tapi, jika melebihi ambang batas daya dukung atau baku mutunya, akan tercemar. “Artinya, biota laut seperti kerang dan ikan tidak boleh dikonsumsi,” ujarnya.

Suasana tepian Losari di Jalan Metro Tanjung Bunga. Foto/Irmawar

Suasana tepian Losari di Jalan Metro Tanjung Bunga. Foto/Irmawar

Menurut Farid, Losari sudah tercemar sejak 2005, saat dia melakukan penelitian. Dari tahun ke tahun pencemarannya semakin tinggi karena jumlah populasi manusia juga meningkat. Tahun lalu, salah seorang mahasiswa bimbingannya kembali melakukan pengujian, dan pencemarannya diketahui makin meningkat. “Secara kasatmata, bisa dilihat dari tingkat kekeruhannya, air berwarna gelap sehingga dasar laut tak tampak,” katanya.

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Anis Irawan Anwar, mengatakan perlunya memperhatikan seberapa besar pencemarannya. Khusus untuk laut Makassar, termasuk Pantai Losari dan sekitarnya, menurut dia, pencemarannya masih dalam ambang yang rendah. Tapi ada beberapa kandungan senyawa, seperti nitrat, memang kurang bagus. “Setelah berenang, segeralah membilas diri, agar terbebas dari penyakit kulit,” tuturnya.

Meski tingkat pencemarannya masih rendah, Anis menyarankan agar warga tetap waspada, terutama jika limbah rumah tangga ini bercampur dengan limbah rumah sakit yang tidak melakukan pengolahan lebih dulu sebelum dibuang.

Laut Makassar, termasuk Losari, tak hanya dipenuhi sampah, tapi juga menjadi muara bagi 14 titik saluran drainase limbah Kota Makassar. Selain menampung limbah rumah tangga, saluran drainase ini menampung limbah industri dan rumah sakit.

Menurut Jamaing, demi mengatasi pencemaran dari limbah kota, pihaknya sudah mewajibkan badan usaha atau kegiatan yang menghasilkan air limbah untuk mengolah limbahnya sebelum dibuang ke saluran drainase ataupun ke laut. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2006. “Kami mewajibkan uji limbah dilakukan tiap bulan dan harus dilaporkan setiap tiga bulan ke BLHD.” Jika badan usaha melanggar, akan mendapat teguran hingga rekomendasi pembekuan izin usaha.

Tahun ini, Pemerintah Kota Makassar juga segera mengerjakan proyek instalasi pengolahan air limbah untuk mengolah limbah kota sebelum dibuang ke laut.

 (By Irmawati  Kosmo Koran Tempo Makassar, edisi  21 April 2014)

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.