Archive for January 9, 2011

Ritual Mendinginkan Alam Ala Kajang

Naskah & Foto : Irmawati

Suku Kajang percaya, jika manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga mereka.

Pagi  yang cerah dan  udara sejuk menyatutnampak kontras dengan suasana di kawasan Tana Toa, Sulawesi Selatan,  di mana masyarakat Kajang Dalam maupun Kajang Luar kompak mengenakan pakaian serba hitam.  Mereka   berbondong-bondong menuju gerbang Tana Toa. Tak jauh dari tempat itu akan digelar prosesi Andingingi,  yakni ritual  mendinginkan alam dan isinya serta memohon keselamatan. Kegiatan sekali  setahun ini digelar pada 23 Oktober lalu sebagai bagian dari Festival Pinisi.

Sebelum memulai upacara, warga Kajang berkumpul tepat digerbang masuk tanah adat Kajang. Bak pagar, lelaki dan kaum perempuan berbaur  dan berbaris membentuk saf. Mereka membentuk lorong sepanjang 10 meter dari gerbang. Ini adalah bentuk penyambutan masyarakat Kajang terhadap tamu yang hadir.

Tamu dalam pakaian serba hitam pun berbaur. Warna hitam dipercaya suku Kajang sebagai warna kesempurnaan yang melambangkan kesederhanaan. Warga ali Kajang tanpa alas kaki.

Rak lama, kami pun tiba di lokasi upacara Andingingi. Dua buah barung-barung atau pondok dibangun di sebelah kiri jalan. Satu barung-barung dipakai untuk para tamu dari luar. Sedangkan  barung-barung satu lagi ditempati oleh warga suku Kajang asli, termasuk pemimpin suku (Ammatoa). Barung-barung ini tergolong rendah jika dibandingkan ukuran barung-barung yang normal. Orang dewasa harus merunduk, dan hanya bisa berdiri jika berada tepatnya.

Tanpa aba-aba, kaum perempuan bersama anak-anak langsung masuk ke dalam barung-barung. Seorang bocah terlihat begitu asyik meneguk minuman dari tempurung kelapa yang bulatannya masih utuh, hanya ada lubang sebesar mulut botol. Tempat minum seperti ini tergantung dibeberapa tiang barung-barung. Masyarakat Kajang, terutama di kawasan Kajang Dalam atau di Tana Toa,  hidup secara alamiah.

Perlengkapan mereka sangat sederhana  dan dibuat dari bahan alam. Seperti tide—piring yang  terbuat dari anyaman daun tala, tempurung kelapa yang dibagi menjadi dua bagian dan menjadi  mangkuk, kemudian gelas terbuat dari bambu. Untuk penerangan,  masyarakat Kajang memanfaatkan kemiri yang dihaluskan, lalu dicampur kapas  dan dibalutkan pada bambu yang dibentuk pipih.

Di dalam barung-barung sudah duduk Ammatoa, didampingi permaisurinya dan para pejabat perangkat adat Kajang. Pemimpin dan rakyatnya duduk bersama dalam satu atap, bedanya, tempat Ammatoa lebih longgar. Di bagian tengah,  ada perangkat upacara,  yakni air suci yang telah didinginkan semalaman, dikenal sebagai prosesi  appalentenge ere. Seikat besar tumbuh-tumbuhan terdiri dari 40 jenis dikenal raung kayu patang pulo. Dan seperangkat kapur sirih di atas talam anyaman daun kelapa. Perangkat upacara ini dijaga oleh permaisuri Ammatoa dan dua perempuan kepercayaannya.

Tiga wanita penjaga perangkat upacara ini tampak sibuk membuat ramuan. Haliah,  misalnya, membuat ramuan bedak.Tangannya tampak lincah mengambil beberapa bungkusan daun yang berisi tepung beras dan kunyit halus. Bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam sai—mangkuk tempurung kelapa– lalu diberi sedikit air suci yang diambil dari dalam katoang tanah atau mirip guci. Bedak basah yang beraroma khas ini kemudian dipakai untuk bacca, yakni penanda  pada dahi dan pangkal leher, bagi semua warga yang ikut ritual Andingingi. Pemberian bacca ini bermakna  agar orang selalu jujur, dengan menyatukan apa yang dipikirkan dan isi hati.

Setelah proses pembuatan bedak selesai. Dua orang pria yang dikenal sebagai Tu’nete melakukan abbebese, yakni prosesi menyiramkan air ke arah empat penjuru mata angin dengan mengelilngi semua yang hadir sebanyak tiga kali. Dua pria ini hanya  menggunakan sarung hitam bergaris biru yang dibalut menutupi dada hingga  bawah lututnya. Tetapi masih lengkap dengan daster, yakni ikat kepala  berupa kain passapu. Satu lelaki bertugas mengangkat katoang atau baskom dari tanah berisi air suci. Satunya  lagi bertugas melakukan kebasan dengan 40 jenis dedaunan yang diikat menjadi satu. Dedaunan ini  telah direndam semalaman bersama air suci tersebut.

Tokoh masyarakat Kajang luar, Tamrin Rais, 34 tahun, mengatakan abbebese ini merupakan kegiatan inti dari ritual Andingingi. Kebasan pada empat penjuru mata angin dan mengelilingi seluruh yang hadir dimaksudkan agar alam akan kembali dingin, aman, tentram dan damai. Penggunaan seikat besar dedaunan bermakna bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sangat bergantung pada alam, sehingga harus menjaga alam. Dimana alam dan manusia bersahabat dan saling menjaga.  “Tiap percikan air diharapkan bisa mendinginkan seluruh alam,” ucap Tamrin.

Adapun jenis dedaunan yang dipakai untuk abbebese adalah tumbuhan khas. Diantaranya tobi—buah pinang muda, biruppa—daun siri, daun paliasa, koddoro buku, dan beberapa dedaunan yang biasa dimanfaatkan sebagai obat. Perlengkapan lain yang juga wajib ada dalam ritual Andingingi adalah padi sikarrang—seikat padi bulir dan loka katiung—pisang.

Prosesi selanjutnya, mengumpulkan hasil kebun dan sawah warga Kajang untuk diberkahi dan didoakan agar panen mendatang hasilnya tetap baik.Sampel hasil panen ini disimpan dalam wadah yang disebut kappara—semacam tempayan yang dibuat dari anyaman rotan kemudian diberi alas daun pisang.  Beberapa hasil panen seperti padi, kacang-kacangan, pisang dan kelapa.

Tak jauh dari tempat Ammatoa duduk,  sekitar 10 perempuan duduk berderet. Di hadapannya  ada kappara berisi pisang, kepala, daun siri, buah pinang, gelas bambu berisi arak dan pelita dari daging buah kemiri.  Bahan sesajen ini kemudian dibagi, ada yang dipersembahkan  untuk bumi, air dan alam gaib.

Di bagian luar barung-barung, beberapa pria  juga menyiapkan sesajen. Para pria ini membagi  sesajen ke dalam keranjang yang dibuat dari anyaman daun kelapa. Sesajen ini disebar dengan cara digantungkan pada pohon. Sesajen untuk bumi ditaruh di bawah pohon. Sesajen untuk penguasa air dihanyutkan ke sungai. Dan  bagi alam gaib ditaruh di balai di dalam hutan.

Proses terakhir adalah mencicipi makanan yang telah disediakan. Diantaranya beras ketan hasil ladang yang telah dikukus. Beras ketan  terdiri atas empat warna, yakni hitam, menyimbolkan tanah; kuning simbol angin; putih simbol air; dan merah simbol api. Kemudian sayur kacang merah kecil dan kacang hijau. Lauknya ada ikan dan ayam.

Tamrin mengatakan semua makanan ini dibawa oleh masing-masing rumpun keluarga suku Kajang. Sebab, selama prosesi Andingingi berlangsung, di kawasan Kajang Dalam tidak diperbolehkan ada kegiatan memasak. Makanan  dinikmati bersama, baik warga maupun pendatang.   Santap bersama ini bermakna kebersamaan.

-

“Andingingi adalah ritual untuk mendinginkan seluruh isi alam. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk meminta doa terhadap segaja sesuatu yang ada di muka bumi ini,” kata Puto Butong, 56 tahun, Mantan Kepala Dusun Tana Toa. Adapun  doa yang dipanjatkan ini agar alam dan seluruh isinya diberkahi dan dilindungi oleh Sang Pencipta. Menurut Puto, saat upacara berlangsung, masyarakat juga mengganggu dan mengusik binatang karena mereka merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. “Menurut adat kami, pada saat manusia menjaga alamnya, maka alam pun akan menjaga manusia.”

Saat ritual digelar, semua yang hadir,  termasuk para tamu dari luar,  diwajibkan berpakaian hitam. Lelaki  boleh memakai penutup kepala atau passapu. Perempuan memakai baju, sarung dan kerudung, juga berwarna hitam. Warna hitam adalah warna kebesaran yang menyimbolkan kesempurnaan.

Beberapa aturan yang juga harus dipatuhi adalah tidak meludah sembarangan, tidak melewati daerah yang bukan jalur jalan atau setapak karena akan menginjak tanaman, dilarang memetik tanaman tanpa izin, dilarang ribut, bahkan ada beberapa tempat orang dilarang untuk berbicara. Adapun bahasa pengantar yang dipakai selama proses Andingingi yakni bahasa Konjo. Ini adalah bahasa asli masyarakat adat Ammatoa Kajang.

Upacara selesai, warga Kajang Dalam meninggalkan lokasi barung-barung dan menuju ke barat daya menuju Benteng, yang tak lain adalah kediaman Ammatoa.Sementara para undangan dan warga Kajang Luar meninggalkan Desa Tana Toa Kajang.

(Irmawati)

Catatan : Dimuat di halaman Culture, Majalah Travelounge edisi Januari 2011

Menari Bersama Angin di Perairan Spermonde

 

Naskah & Foto : Irmawati

Sandeq meluncur cepat dan tenang, hanya ada suara gemericik air yang terbelah.

Pagi itu cuaca tak begitu cerah, matahari sedikit terhalang awan. Tapi bukan penanda hujan bakal turun. Udara sejuk terhirup segar di hidung saat menumpang becak menuju dermaga Ujung Batu. Cukup menyegarkan badan,meski hanya mendapat kesempatan tidur selama dua jam. Tak ada polusi, jalan lengang, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Tak lama kemudian, kami sampai di ujung jalan ke arah pantai, pada sisi kanan terdapat dinding tembok bertuliskan “Ujung Batu”. Aroma laut yang menyebar terbawa angin.

Dari kejauhan, 42 perahu sandeq (perahu bercadik) berjejer di pesisir pantai. Layarnya sudah dikembangkan, siap untuk memulai perjalanan etape terakhir Barru-Makassar, dalam ajang Sandeq Race 2010. Masing-masing punggawa (nahkoda) memberi aba-aba kepada dua asistennya, yang disebut pabeso baya-baya. Mereka bertugas mengontrol bukaan layar. Sedangkan lima orang sawi (anak buah kapal) mendorong perahu ke tengah laut.  Satu tim peserta lomba terdiri dari delapan orang passandeq (pelayar sandeq).

Sandeq-sandeq itu mulai melaju, saling berlomba tak mau kalah cepat, mengeluarkan keahlian mereka menaklukkan lautan.  Dalam sekejap, pesisir Ujung Batu bersih, kapal-kapal motor pengiring masing-masing peserta juga langsung menyalakan mesinnya dan menyusul sandeq. Kami sendiri menumpangi KM Duta Merlin, perahu milik panitia yang mengambil jalur tengah. Kami berhasil mengejar beberapa sandeq. Berjarak sekitar 30 meter di sisi kanan kami, tampak tim sandeq Anugrah berjuang. Si punggawa terlihat berwibawa memberikan aba-aba,  sementara matanya awas memperhatikan medan untuk menentukan jalur.

Menyusul tim sandeq Rezeki, tiga sawi mendayung, dua orang melakukan timbang (menjaga keseimbangan)di palatto (bambu lurus, tempat berdiri para awak untuk menjaga keseimbangan)  sebelah kanan. Dalam sekejap,  mereka melaju meninggalkan kami.  Wah, para awak itu begitu lincah berlari diatas sebatang bambu, mereka seperti penari begitu lentur mengikuti arah angin dan mempermainkan ombak, membelah lautan. Konon perahu sandeq adalah kapal bercadik tercepat di dunia. Jika angin baik, maka kecepatannya bisa mencapai 15-29 knot atau 30-40 kilometer per jam.

Mungkin dipengaruhi oleh desainnya yang ramping, panjang, dan ringan. “Kecepatan laju perahu bisa terlihat dari banyaknya awak yang melakukan timbang. Artinya,  angin baik dan tak perlu mendayung karena lima awak melakukan timbang,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, Ketua Panitia Sandeq Race 2010. Atraksi-atraksi passandeq ketika mengarungi lautan ini menjadi daya tarik tersendiri. Pada etape-etape sebelumnya, beberapa turis mancanegara  dari Canada, Rusia, Italia, Australia dan Prancis juga ikut menumpang kapal motor pengiring untuk menikmati objek wisata yang satu ini. Wisatawan asal Prancis malah mengikuti empat etape, mulai dari Mamuju hingga Polewali.

Sandeq race tahun ini dibagi dalam tujuh etape,  mulai start dari Mamuju ,Sulawesi Barat dan finis di Makassar, Sulawesi Selatan. Yakni etape pertama Mamuju-Deking, kedua Deking-Somba, ketiga Somba-Majene, keempat Majene-Polewali, kelima Polewali-Ujung Lero, keenam Ujung Lero-Barru, dan ketujuh Barru-Makassar. Menurut Ridwan, etape terakhir ini berjarak sekitar 60 kilometer.

Pada etapa terakhir ini, kita tak melulu menyaksikan sandeq. Tetapi kita juga akan disuguhi

pemandangan eksotis pulau-pulau karang yang berada disebelah barat jazirah Sulawesi Selatan.

Hamparan pulau membentang selatan-utara, mulai Kabupaten Takalar di Selatan hingga pulau-pulau Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di utara, dikenal sebagai Dangkalan Spermonde, dengan jumlah pulau sekitar 120 pulau, 12 diantaranya merupakan bagian wilayah Kota Makassar. Pulau terbanyak berada di perairan Pangkep.

Mendapat kode dari Ridwan, Syafaruddin Hatta, sang punggawa KM Duta Merlin, menghentikan kapal motor yang kami tumpangi, disekitar Pulau Bate Tiga, yakni tiga pulau kembar di perairan Pangkep. Pemandangan bawah lautnya sangat indah,  terlihat jelas, karena air sangat jernih. Koral-koralnya masih hidup, ada banyak bintang laut yang didominasi warna biru, serta ikan-ikan berukuran kecil bergerombol bermain pada air dangkal. Meski indah, tapi ternyata ini menjadi etape paling sulit bagi peserta lomba sandeq. Lingkungan perairan ini dinilai berbahaya karena dimana-mana ada gusung dan terumbu karang. Melintasi Kepulauan Spermonde, jika tak hati-hati melakukan manuver, bisa-bisa kemudi patah atau perahu pecah sebab kandas di karang.

Matahari tepat lurus di atas kepala, rasa lapar mulai menyerang. Tetapi langsung terobati oleh suguhan menu ala nelayan. Sepiring nasi panas, ikan Cakalang dan Tongkol kering bakar dicampur ulekan lombok, bawang dan garam. Hmmm…, mak nyus. Menu karya koki cilik, Aco, 10 tahun. Dan perahu sandeq peserta lomba jaraknya makin jauh, sekitar 20 kapal masih terjangkau pandangan mata. Itu pun posisinya terpencar. Meski jauh dari sandeq, kami  masih bisa menikmati suasana tenang mengapung di lautan. Menikmati atraksi ikan terbang yang muncul dari dalam air. Beberapa ikan mampu melompat cukup tinggi dan cukup jauh sekitar 10 meter. Penampilannya semakin indah dengan kilauan perak dari  berkas sinar matahari yang memantul pada air laut. Pemandangan seperti ini bisa kita nikmati ketika matahari mulai lengser ke barat.

Sekitar pukul 16.30 Wita, kami merapat di Pantai Losari, tiga peserta lomba sandeq telah masuk tiba mendahului kami. Beberapa perahu sandeq baru tiba pada malam hari. Keesokan harinya, kami  berkesempatan menguji adrenalin dengan mencoba berlayar menggunaan sandeq.  Menumpang Arawungan Pantai Ratu, yang di punggawai Ropong, 52 tahun, kami mengarungi perairan Makassar di sekitar Pulau Lae-lae.

Lima awak terlihat begitu lincah berlari diatas batang bambu, mengikuti irama angin. Sandeq meluncur cepat dan tenang.  Hanya ada suara gemericik  air yang terbelah. Kami ikut awas, memperhatikan layar yang diputar ke kiri dan kanan,  mengimbangi angin, membuat kami terpaksa bangun-tidur di bodi sandeq jika tidak akan terlempar ke laut.

Bagi mereka yang juga ingin mencoba sensasi menumpangi sandeq, beberapa peserta bersedia mewujudkan keinginan itu dengan senang hati.  Tarifnya  sekitar Rp 200 ribu. Ajang sandeq race ini merupakan salah satu objek wisata yang bisa dinikmati sekali setahun. Tahun ini adalah lomba sandeq ke-12. Diprakarsai Horst H Liebner, peneliti Maritim Nusantara, 1995 lalu. “Keberadaan lomba ini menjadi alasan bagi seluruh masyarakat Mandar untuk tidak meninggalkan begitu saja tradisi pelayaran dengan perahu sandeq,” katanya.

Menurut Horst, sekarang nelayan lebih memilih memakai kapal motor dengan kamar dan mesin penggerak yang tidak tergantung pada angin. Buat mereka , kapal motor lebih nyaman. Namun kecenderungan ini akan mengancam hilangnya sandeq sebagai salah satu kekayaan pengetahuan berlayar dan membangun perahu layar yang dikumpulkan para pelaut Mandar sejak ratusan tahun silam. (Irmawati)

Pulau-pulau di  Makassar

Kepulauan Spermonde memiliki 12 pulau yang sebagian besar masih asri. Empat dari 12 pulau itu dikembangkan  sebagai pulau wisata yakni Pulau Lanjukang, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona dan Pulau Kayangan. Sisanya dijadikan pulau hunian yakni Pulau Langkai, Lae-Lae, Lae-Lae Kecil, Bonetambung, Lumu-lumu, Kodingareng Lompo, Barrang Lompo, dan Barang Caddi.

Pulau Lanjukang atau Lanyukang alias Laccukang adalah pulau terluar yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Luasnya mencapai 6 hektar, dengan rata-rata terumbu mengelilingi seluas 11 hektar.  Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang lunak, ikan karang, ikan hias, serta biota laut lainnya.

Biasanya wisatawan memanfaatkan sebagai tempat transit sebelum meneruskan  ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (Pangkep) untuk olahraga memancing. Di Pulau Lanjukang ini terdapat fasilitas resor, yakni dua buah bangunan rumah semipermanen. Meski fasilitasnya sangat terbatas,  bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini salah satu tempat yang ttepat.  Ideal untuk berkemah atau bermain di pantai  pasir putihnya.

Pulau Kodingareng Keke, berjarak 14 kilometer dari Makassar. Luasnya  sekitar 1 hektar. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikil, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh  pasir putih yang berukuran sedang-halus. Bentuk pulau ini  berubah mengikuti musim barat dan timur. Terdapat bangunan semi permanen sebagai resor  yang dikelola  warga Belanda. Tempat ini idela bagi mereka yang senang snorkeling. Kondisi terumbu karangnya masih terjaga dengan baik.

Pulau Samalona, berjarak sekitar 7 kilometer dari Makassar, secara  administratif masuk wilayah Kecamatan Mariso. Bentuknya agak  bulat dengan luas sekitar 2 hektar. Cukup rindang dengan sejumlah pohon besar, seperti  pohon cina, pohon tammate,  dan pohon kelapa.  Di sisi barat laut terdapat hamparan pasir putih yang dimanfaatkan sebagai tempat bermain voli. Di pulau ini dapat dijumpai  sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat Samalona, letaknya disisi utara. Ada rumah penduduk yang bisa disewa serta tempat pemandingan, dan tempat ini nyaman untuk berenang.

Pulau Kayangan, di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang berjarak  sekitar 800 meter dari pelabuhan Soekarno-Hatta,  atau bisa ditempuhnya hanya sekitar 15 menit. Bentuknya agak bulat, luasnya sama dengan Samalona, juga berpasir putih. Dulu pulau ini bernama Marrouw atau Meraux, salah satu tempat wisata bahari favorite sejak tahun 1964. Ada fasilitas penginapan, pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, tempat bermain anak, sarana olahraga, anjungan memancing dan kolam renang air tawar.

Jika ingin mengunjungi pulau-pulau di kawasan Spermonde, kita bisa menyewa kapal dari marine popsa dan dermaga kapal Bangkoa.  Satu unit kapal berkapasitas  sepuluh orang, disewakan Rp 300 untuk rute Pulau Samalona pergi pulang. Tarifnya menjadi  Rp 500 ribu bila  ke Pulau Kodingareng Keke dengan waktu tempu sekitar satu jam. Dan jika ingin mengunjungi kedua pulau ini,  tarif lebih murah , yakni Rp 700 ribu. (Irmawati)

Catatan : Pernah dimuat di halaman Destination, Majalah Travelounge Edisi Oktober 2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.