Hari-hari tanpa Guru

Anak-anak suku Rampi lebih banyak belajar pada alam ketimbang pada gurunya yang lebih sering absen.

Kabut tebal yang menyelimuti Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, perlahan terkikis oleh sinar mentari yang mulai muncul dari balik pegunungan di sebelah barat, pekan lalu. Suara beberapa bocah berseragam merah-putih terdengar riang. Tak ada keluhan sedikit pun meski mereka tak mengenakan alas kaki. Begitu bersemangat, anak-anak suku Rampi ini berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Namun, hingga pukul 09.41 Wita, puluhan siswa Sekolah Dasar 108 Rampi masih tampak asyik bermain di lapangan bola, yang terletak di depan sekolah itu. Ada yang bermain kejar-kejaran, kasti, padende, dan bermain dengan kerbau. Mereka tak segan-segan berpelukan dengan badan kerbau yang berlumpur. Topan Beni, 11 tahun, naik-turun di badan kerbau, tanpa peduli seragamnya kotor. “Gurunya belum datang,” ujarnya, berlalu sambil berlari melanjutkan permainannya.

Greslin, 10 tahun, mengatakan gurunya biasa datang pukul 09.00 Wita. Tapi, hingga beberapa jam ditunggu, sang guru tak kunjung datang. Hari ini berlalu tanpa ada kegiatan belajar. Mereka harus pulang dengan kecewa tanpa hasil. Kondisi ini membuat beberapa siswa juga jadi malas datang ke sekolah. Berdasarkan pantauan Tempo, tak sampai separuh dari sekitar 100 jumlah siswa yang datang hari ini.

Pemandangan serupa terlihat di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Rampi, di Jalan Pelongkoa, Desa Onondowa. Beberapa kelompok siswa tampak asyik bercengkerama satu sama lain. Ada juga yang sibuk memainkan ponselnya meski tak ada sinyal. “Lumayan untuk mendengarkan beberapa lagu,” kata Fenni Gerosi, 15 tahun. Di belakang sekolah, beberapa siswa bermain sepak takraw sambil bertelanjang dada setelah menanggalkan seragamnya.

   

Libertin Damo, 21 tahun, siswa kelas III Sekolah Menengah Atas Rampi, memilih pergi menarik ternak sapi dan kerbau dari Rampi menuju Masamba ketimbang pergi ke sekolah. “Di sekolah kami kebanyakan tidak belajar,” katanya.

Lube–panggilan akrab Libertin–ikut rombongan Haeruddin, 40 tahun. Ia berangkat dari Rampi sejak 29 Januari dan baru tiba di Masamba pada 2 Februari. Berpartner dengan Dalvin Tonain, 22 tahun, mereka bertanggung jawab menarik dan menjaga tiga sapi hingga ke Masamba. Dari setiap ekor ternak yang ditarik, mereka mendapat upah Rp 250 ribu. Jadi, sekali jalan seperti ini, Lube bisa memperoleh Rp 375 ribu. “Lumayan buat biaya sekolah,” katanya.

Ini perjalanan kedua Lube. Ia sangat senang karena, selain upah, banyak pengalaman dan pelajaran yang didapatkan. Berbeda dengan Dalvin, yang terpaksa menggantikan ayahnya untuk menarik ternak karena harus menggarap sawah.
Mereka adalah anak-anak suku Rampi yang haus akan ilmu, tapi guru-guru pengajar di daerah ini sangat jarang masuk.

Padahal, untuk membiayai sekolahnya, mereka harus banting tulang untuk membantu orang tua. Tak hanya Lube, saat tak sekolah, Topan, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, biasanya mencari belut di sawah atau kayu bakar di hutan untuk membantu orang tuanya.

Camat Rampi Yau Imbo mengatakan sekolah-sekolah di Rampi masih kekurangan guru. Di SD 108 Onondowa saja hanya ada satu pengajar yang berstatus pegawai negeri sipil, yakni kepala sekolahnya. Sedangkan lima guru lainnya hanya berstatus sukarela. Adapun di SMP dan SMA Onondowa, beberapa tenaga pengajarnya yang bukan putra daerah terkadang hanya datang tiga hari di Rampi, selanjutnya berminggu-minggu tidak pernah masuk karena pulang ke daerahnya.

Seringnya guru-guru yang bertugas di Rampi absen membuat Karel S. Narait, warga Onondowa, memilih menyekolahkan anak-anaknya di Badak, Sulawesi Tengah.

Pemandangan serupa terlihat di SD Salu Seba, Desa Pincara, Kecamatan Masamba, Rabu lalu. “Kami sudah tiga hari tak belajar karena tak ada guru,” kata Muhammad Rezki, siswa kelas III SD Salu Seba. Di sekolah yang hanya ada tiga ruang kelas tersebut, terdapat sekitar 30 siswa yang ditangani tiga guru honorer dari Masamba.

“Hampir semua daerah mengalami hal serupa,” kata Arifin Junaidi, Bupati Luwu Utara. Menurut dia, hal ini terjadi karena di daerah tersebut masih kekurangan guru, ditambah pendistribusian tenaga pengajar yang belum merata. (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, Edisi 3 Februari 2012, Komunita, hal B15)

About these ads

2 Comments

  1. saymawar said,

    February 6, 2012 at 1:20 pm

    Prihatin dengan anak-anak Suku Rampi, rasanya pengen mengabdikan diri di daerah tersebut…

  2. October 20, 2013 at 3:48 am

    smogarampi cpat merdeka (tahap awal adlh segi pendidikan)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: