Tidak Ada “Aku” Hari Ini

Menulis puisi-puisi AADC2 membuat M Aan Mansyur harus masuk ke karakter Rangga.

Bandara dan udara memisahkan Jakarta dan New York. 14 tahun lalu, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cinta harus melepas Rangga, terbang ke New York membawa cintanya. Bertolak dari film Ada Apa Dengan Cinta, M Aan Mansyur menuliskan puisi-puisi untuk film AADC2 yang akan rilis 28 April mendatang. Bagaimana seorang Aan menuliskan 31 puisi yang terhimpun dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini.

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

“Saya harus masuk ke karakter Rangga,” ungkap Aan kepada Tempo, Ahad pagi lalu di katakerja—perpustakaan komunitas sekaligus ruang publik kreatif di kawasan Wesabbe, Makassar. Obrolan pagi itu, dimulai dengan kerja bakti bersama warga Kompleks Wesabbe. Aan yang baru saja memangkas rumput di halaman katakerja, duduk mengeringkan keringat. Ia mengajak saya membayangkan, Rangga yang sangat ‘Aku’, puisi Chairil Anwar yang menjadi ‘identitas’ AADC 1.

Lalu seperti apa Aan memberikan ‘identitas’ puisi yang tidak ‘Aku’ lagi. “Saya hanya membayangkan setelah empat belas tahun Rangga membaca buku-buku puisi lain yang kemudian mempengaruhi gaya bertuturnya,” ungkap Aan. Adalah Fablo Neruda, Sapardi Djoko Damono dan M Aan Mansyur, serta puisi dari penyair-penyair di Amerika Serikat yang menjadi bacaan Rangga yang kemudian mempengaruhi gaya bertuturnya.

Sebelum  menuliskan puisi-puisi untuk AADC2, Aan mengaku, harus melakukan riset yang mendalam, selain menonton AADC1 dan membaca skrip AADC2. Ia melakukan riset dengan membaca blog dan mengikuti instagram tentang New York selama 6 bulan. Buku Tidak Ada New York Hari ini adalah puisi dan gambar yang berbicara, dimana selain 31 puisi Aan juga ada foto-foto Moriza. “Buku ini dibayangkan adalah puisi-puisi dan foto-foto karya Rangga,” ungkap Aan.

‘Tidak Ada New York Hari Ini’ mengawali kumpulan puisi tentang AADC2, lalu ditutup dengan puisi berjudul ‘Cinta’. Film AADC2 sepertinya memberikan porsi puisi yang lebih besar. “Jika dulu Cinta dan Rangga dipertemukan puisi. Sekarang membayangkan Rangga menulis puisi-puisi untuk menemani kesepiaan dan kesedihannya,” kata penyair dan penulis yang sehari-hari juga sebagai pustakawan katakerja.

Membaca puisi-puisi Rangga yang ditulis Aan. Tak hanya kesepian, tapi juga ada rindu dan dendam. Dendam pada negaranya yang membuat Rangga harus pindah ke New York, meninggalkan cintanya. Ia juga menuliskan bagaimana ia merasa asing di tengah-tengah keramaian New York. “Seperti berusaha menolak sesuatu yang kau suka,” kata Aan.

Eko Rusdianto, M Aan Mansyur, Imhe Mawar di Hutan Pendidikan Unhas di Bengo. Foto/Irmawar

Eko Rusdianto, M Aan Mansyur, Imhe Mawar di Hutan Pendidikan Unhas di Bengo. Foto/Irmawar

Tingkat kesulitan dalam menuliskan puisi-puisi AADC2, kata Aan, karena dia harus masuk ke karakter Rangga. Meski demikian, Aan mengaku tidak begitu terbebani, “saya menulis seperti saya.” Bagi Aan, perasaan kesepian, jauh dari orang tua, dan suka jalan sendiri, tak hanya menjadi kehidupan Rangga tapi juga menjadi bagian dari kehidupan keseharian Aan.

Puisi-puisi AADC2 mulai digarap Aan, April 2015. Setelah peluncuran buku puisi Melihat Api Bekerja—kolaborasi puisi dan ilustrasi M Aan Mansyur dan Muhammad Taufiq alias Emte. Mira Lesmana, datang saat pameran di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta, pertengahan April tahun lalu. Di tempat itulah Aan dan Mira membicarakan tentang puisi-puisi AADC2. “Saya mungkin diajak karena Mira menyukai puisi-puisi saya,” ungkap Aan.

Dari 31 puisi yang terhimpun dalam buku Tak Ada New York Hari Ini, setidaknya ada empat puisi yang akan muncul dalam film AADC2. Salah satunya berjudul Batas, berikut potongan puisinya

“Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,

jurang antara kebodohan dan keinginanku

memilikimu sekali lagi.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  15 April 2016)

 

Dua Peran Aan Mansyur di AADC2

Di atas kereta yang sedang melaju, Rangga merangkai kata-kata menjadi sebait puisi. Jari-jarinya yang mengukir kata-kata kadang terhenti, ia diam, pandangannya menatap jauh menembus kaca jendela kereta. “…Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi,” sepenggal puisi Rangga yang ditulis M Aan Mansyur berjudul Batas.

“Saya punya dua peran, orang yang menulis puisi atas nama Rangga dan penyair yang dibaca karya-karyanya oleh Rangga,” ungkap Aan, Ahad pagi lalu di katakerja—perpustakaan komunitas sekaligus ruang publik kreatif di kawasan Wesabbe, Makassar.

M Aan Mansyur di Hutan Pendidikan Unhas di Bengo. Foto/Irmawar

M Aan Mansyur di Hutan Pendidikan Unhas di Bengo. Foto/Irmawar

Meski menulis puisi atas nama Rangga, penulis puisi Melihat Api Bekerja ini tetap mempertahankan gaya bertuturnya yang selalu bercerita. Meski puisi-puisi yang dituliskan untuk Rangga tetap ada jejak Chairil Anwar. Lalu dipengaruhi bacaan Rangga, sehingga ada aroma Pablo Neruda dan Sapardi Djoko Damono. Tapi puisi-puisi AADC2 tetap Aan banget, karena salah satu karya yang dibaca Rangga adalah puisi-puisi M Aan Mansyur.

Menulis puisi untuk film Ada Apa Dengan Cinta yang selama ini identik dengan film remaja, lalu setelah 14 tahun AADC2 rilis yang melanjutkan kisah Cinta dan Rangga. Menjadi tantangan tersendiri bagi Aan yang harus menyesuaikan genre bahasa untuk usia akhir 20-an dan awal  usia 30-an. “Tapi genre dan bahasa masih bisa dinikmati oleh remaja,” ungkap Aan. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  15 April 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/04/15/397357/Ada-Apa-dengan-Aan-Mansyur

https://seleb.tempo.co/read/news/2016/04/15/111762893/dua-peran-aan-mansyur-di-film-aadc2

 

Uang Panai’ Sampai Rental Tali Bra Emas

Tradisi panai’ seolah mengawinkan budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik.

Membincangkan tradisi Uang Panai' di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi Uang Panai’ di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

”Apakah pernah kau berfikir untuk menikah?” begitu pesan singkat yang diterima M Aan Mansyur dari ibunya, beberapa hari lalu. Cerita penulis dan penyair Makassar ini membuka perbincangan ‘Melihat Perasaan dengan Pikiran’ yakni tentang ‘uang panai’ digelar Komunitas Literasi Makassar, Selasa malam, di Katakerja.

Uang panai’ merupakan besaran uang yang diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita untuk keperluan pernikahan. Uang ini tidak terhitung mahar pernikahan, melainkan uang adat, namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati kedua belah pihak atau keluarga.

'posisi moral seorang penulis'

‘posisi moral seorang penulis’

Kembali ke pesan singkat sang ibu. Pertanyaan serupa mungkin Anda pernah dapatkan, apalagi jika usia Anda sudah dianggap cukup, studi sudah rampung, dan Anda sudah cukup mandiri alias punya penghasilan sendiri. Tapi itu saja belum cukup, sebab menikahi perempuan Bugis-Makassar berarti Anda harus siap dengan uang panai’. Bahkan, besarannya semakin hari semakin fantastis yang mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tak hanya memberatkan, tapi tradisi panai’ ini seolah menghilangkan nilai kesakralan sebuah pernikahan, mengubahnya sebagai ajang transaksional.

Membincangkan Tradisi Panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan Tradisi Panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Menurut Aan, tradisi panai’ membuat lelaki yang menjadi suami seperti punya properti bernama istri. Dimana semakin besar panai’ yang dibawa, seolah memberi kuasa makin besar kepada suami untuk bisa melakukan apapun kepada pasangannya. Di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, kata Aan ada banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan uang panai’.

Celakanya, jika ada yang melawan tradisi‘panai’ ini, cenderung dikucilkan dalam keluarga. Aan melanjutkan kisah, bagaimana ibunya ditentang oleh keluarga besarnya saat hendak menikahkan anak bungsu perempuannya di tahun 2007 lalu. “Kenapa kau jual murah anakmu?,” Aan menirukan perkataan keluarga besarnya kepada ibunya yang hanya meminta Rp 2,5 juta dari lelaki yang hendak menikahi putrinya. “Uang itu hanya untuk biaya sekali makan siang untuk keluarga dan undangan,” ungkap Aan.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Jika ibu Aan berhasil melawan, tapi tidak banyak orang yang tak sepakat bisa melawan. Mereka kadang akhirnya terjebak dalam pusaran tradisi yang makin tak masuk akal. Pernikahan yang transaksional juga menjadi ajang pamer materi, ikatan kekeluarga pudar karena semua harus berbayar, kerjasama dan kebersamaan makin terkikis. Lihatlah pernikahan hari ini, kata Aan, hanya untuk demi ‘dipamerkan’ beberapa jam, mempelai harus membayar belasan hingga puluhan juta hanya untuk make up semata.

Jadilah ajang pernikahan menjadi ruang perjodohan antara budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik. Masyarakat dengan latah meniru tanpa menyaring.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/irmawar

Lukman, mahasiswa Univesritas Islam Negeri Alauddin Makassar ini mengungkapkan, di kampungnya di Sidrap bahkan sudah ada tempat rental perhiasan yang akan laris manis jika ada pesta pernikahan. “Pesta pernikahan adalah ajang memamerkan perhiasan emas yang dipakai,” kata Lukman.

Masih di Sidrap, kata Eko Rusdianto, bahwa di daerah itu konon yang dipamerkan tak hanya perhiasan, tapi juga tali bra berlapis emas. “Kata teman saya bahkan ada tempat rental khusus tali bra berlapis emas,” ungkapnya. Begitulah pernikahan semakin rumit dan memberatkan.

Tapi, kata Eko, satu-satunya lelaki dalam forum yang telah menikah, besaran uang panai’ itu bukan harga mati, tapi sesuatu yang bisa dirundingkan. Pernyataan Eko ini berdasarkan pengalamannya melamar istrinya dahulu. Menurutnya, uang panai’ itu adalah cara laki-laki untuk memperlihatkan bahwa secara materi dia bisa membiaya anak perempuan orang lain.

Hari ini, tradisi panai’ kebanyakan sudah bergeser, kata Aan, pernikahan dan besaran panai’ menjadi jalan untuk menaikkan status sosial. Jadilah nilainya sangat besar dan memberatkan sehingga menjadi salah satu indikasi penyebab lelaki takut meminang perempuan Bugis-Makassar.

membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. foto/irmawar

membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. foto/irmawar

Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan pada akhirnya hubungan relasi  hari ini bergeser, karena terjadinya tumbukan-tumbukan kebudayaan dan identitas, dimana pernikahan kini menjadikan budaya kolektifitas harus ditanggung secara individulistik sehingga menjadi sangat mahal.  “Tradisi perkauman dan kebersamaan dalam pernikahan yang kolektif kini harus ditanggung sendiri.”

Jika berbicara budaya kolektif, kata Alwy, maka kita akan diperhadapkan pada nilai ‘malu’ yang sangat mahal. Dimana tak menjadi pertaruhan materi, tapi juga bisa dibayar dengan kematian. Alwy curiga, tradisi perkawinan hari ini  dimanfaatkan orang yang mencari kebangsawanan baru atau perkauman baru.

Semua dinilai dengan materi, mengakibatkan mekanisme tradisi yang selama ini punya fungsi sosial yang bagus kini pun bergeser. Dulu, kata Alwy, pernikahan menjadi ajang pembagian untuk menikmati protein secara merata.

kopi, pisang gorengnya mana?

kopi, pisang gorengnya mana?

Meski peserta yang ikut berbincang di Katakerja hanya belasan, obrolan yang direncanakan berlangsung dua jam menjadi lima jam. Semua peserta secara aktif berbagi informasi dan pengalaman seputar uang panai’ yang kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk disuarakan lewat tulisan. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  07 April 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/04/07/396876/Membincangkan-Tradisi-Uang-Panai

 

 

Tapak Tangan dan Sejarah Manusia Leang

Tapak tangan atau tradisi membedaki rumah adalah penanda bahwa telah berpenghuni.

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Langit biru begitu jernih, hamparan sawah nan hijau berpagar bukit-bukit karst yang menjulang dan cadas, berderet tak beraturan tapi memikat. Gugusan pegunungan karst di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan memiliki ratusan leang—sebutan gua oleh masyarakat setempat—yang menyimpan sejarah panjang manusia di Sulawesi Selatan dan Nusantara.

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Di dinding dan langit-langit leang, kita masih bisa melihat lukisan berupa cap tangan, babirusa, lukisan manusia, juga kerang-kerang laut. “Konon kerang-kerang laut ini adalah sisa makanan manusia penghuni leang,” kata Lahab, sambil menunjukkan beberapa bekas kerang-kerang yang menyatu dengan karst di Leang Pettae, Jumat 5 Februari lalu. Pria berusia 52 tahun ini adalah salah satu juru pelihara di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, yang berada di kawasan Bantimurung-Bulusaraung.

Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Di kawasan Bantimurung, kata Muhtar, Koordinator Taman Prasejarah Leang-leang Maros kepada Tempo, terdapat 67 leang yang memiliki lukisan atau cave art. Dari jumlah ini, baru tujuh leang yang telah diteliti yakni Jarie, Lompoa, Timpuseng, Sampea, Jing, Barugae, dan Salendrang. Tapi sebelum menjelajahi leang-leang yang menyimpan sejarah perjalanan manusia, sejenak kami beristirahat menikmati sejuknya udara di kawasan wisata Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, menunggu Jumatan selesai.

Pematang Sawah Menuju Leng Timpuseng. Foto/Irmawar

Pematang Sawah Menuju Leng Timpuseng. Foto/Irmawar

Untuk sampai ke Leang Timpuseng, kami harus meniti pematang yang menjadi pembatas sawah-sawah yang masih hijau. Berjalan di bawah terik matahari dengan angin yang bertiup lembut, cukup membantu mengusir lelah kaki kami. Setelah melalui pematang sawah yang berkelok-kelok, sampailah kami di mulut leang, tapi sebelum masuk, pintu pagar yang tergembok terlebih dahulu di buka oleh pak Muhtar.

Agar bisa melihat lukisannya dengan jelas, saya mengikuti pak Muhtar dengan memanjat tebing-tebing gua agar lukisan bisa tampak lebih dekat. Tapak-tapak tangan masih cukup jelas, ada juga lukisan babirusa—salah satu hewan purba khas pulau Celebes–, dan satu lagi ada sebuah tapak yang mirip tapak tangan tapi hanya terdiri dari tiga jari yang cukup panjang. Muhtar tak sekedar memberikan penjelasan tentang lukisan-lukisan gua tersebut, tapi juga menunjukkan beberapa bagian lukisan yang menjadi tempat pengambilan sampel untuk bahan penelitian.

Pak Muhtar menunjukkan lukisan di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Pak Muhtar menunjukkan lukisan di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Juni 2015 lalu, peserta The 5th Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium juga diajak melakukan perjalanan sehari ke Leang Timpuseng ini. Trip mereka ditemani langsung oleh Maxime Aubert, arkelog dari Griffith University di Queensland, Australia, salah satu tim peneliti Cave Art di Maros ini.

Kata Maxime, lukisan gua ini diperkirakan dibuat 39 ribu tahun lalu. Penemuan di pulau Sulawesi ini memperluas jelajah eksodus manusia modern dimana lukisan serupa ditemukan terlebih dahulu di Eropa. Menurut Maxime, lukisan-lukisan yang dibuat sama-sama spesies mamalia yang mungkin memiliki peranan penting dalam hidup dan kepercayaan orang-orang saat itu.

Tapak Tiga di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Tapak Tiga di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Lukisan-lukisan leang ini, kata arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri yang ditemui terpisah di kampus Unhas mengungkapkan, bahan yang dipakai untuk melukis mengandung zat uranium radioaktif. Bentuk leang ini cukup beragam, ada yang hanya berupa mulut, ada juga yang mengandung lorong-lorong yang berliku dengan kedalaman ratusan meter. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang harus dijaga.

Akhir 2014 lalu, Journal Science merilis sepuluh penemuan ilmiah terheboh. Salah satunya adalah lukisan tangan di Gua Salendrang, Maros, Sulawesi Selatan, yang usianya diperkirakan 35 ribu-40 ribu tahun. Goresan tersebut diciptakan dengan mencipratkan dan meniup cat berwarna merah di tangan, kemudian ditempelkan ke dinding gua. Lukisan itu bercampur dengan gambar babirusa berwarna merah serta pigmen berwarna mulberi. Penemuan ini menggambarkan jenis lukisan tersebut sudah dikenal di seluruh dunia, bahkan hingga Afrika, sejak 60 ribu tahun silam.

***

Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Foto/Irmawar

Meninggalkan jejak tapak-tapak tangan, kata Lahab, 52 tahun adalah sebuah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat tradisional di kawasan Bantimurung saat hendak masuk rumah baru, khususnya rumah panggung yang dikenal dengan sebutan bedak rumah. “Tiang-tiang rumah akan diberi penanda tapak-tapak tangan untuk penolak bala,” ungkap pria yang sudah menjadi juru pelihara di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, sejak 1984 lalu.

Bedak rumah ini menggunakan pewarna alami yang dikenal tanaman tawarrang—semacam tanaman yang mirip cocor bebek. Sebelum membedaki rumah, terlebih dahulu dilakukan ritual menggendong ayam sambil mengelilingi rumah sebanyak 3 kali.

Tradisi membedaki rumah ini adalah salah satu warisan leluhur yang jika ditarik kesamaannya dengan tapak-tapak tangan di leang, adalah sebuah simbol atau penanda bahwa rumah atau leang tersebut sudah memiliki penghuni. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  18 Februari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/02/18/393782/Tapak-Tangan-dan-Sejarah-Manusia-Leang

Dunia Kekeluargaan dalam Pasar

Di pasar lokal, pedagang mengidentifikasi pembelinya dengan bahasa ibu mereka.

Aroma buroncong, kayu bakar, asap, dan matahari pagi yang menyatu. Perut keroncongan memaksa saya langsung menyambar buroncong yang baru saja diangkat dengan gancu dari pembakaran. Panas yang masih mengepul dari penganan khas Makassar ini membuat saya sibuk meniup-niup, sebelum mengigitnya. Aroma kelapa yang terbakar dari buroncong begitu wangi dan menggoda.

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Saya tidak sendiri, ada beberapa pembeli lain yang juga berdiri di sekitar gerobak dorong buroncong. Satu, dua, tiga buroncong yang berpindah ke dalam perut saya. Cukup memberi tenaga untuk berkeliling Pasar Cidu yang berada di Kecamatan Ujung Tanah. Saya menyusuri Jalan Tinumbu untuk mencari teman-teman dari Katakerja, di kiri kanan jalan, berjejer lapak-lapak yang didominasi penjual cakar—pakaian bekas pakai. “Buka baru, buka baru,” kata beberapa pedagang. Buka baru—adalah istilah barang yang baru dibongkar dari karung.

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Berdelapan, bersama teman-teman dari Katakerja—sebuah komunitas ruang baca— dan Active Society Institute (AcSI) kami menyusuri lorong-lorong Pasar Cidu yang menjadi bagian dari acara Jappa-jappa ri Pasara—jalan-jalan di pasar—Ahad pagi lalu. Penulis/penyair M Aan Mansyur dan seorang pemerhati pasar lokal Zainal Siko turut dalam acara jalan-jalan kali ini.

Pasar Cidu adalah satu dari empat pasar utama di Makassar. Cidu sendiri adalah bahasa Makassar untuk buah nangka. Menurut Zainal, pemberian nama Pasar Cidu ini, karena di kawasan ini dulu banyak tumbuh pohon nangka. Kawasan Pasar Cidu, dulunya adalah gusung yang menjadi tempat persinggahan orang-orang pulau, pertemuan terjadi begitu pula transaksi. Seperti namanya, Pasar Cidu identik sebagai pasar buah.

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Pasar Cidu ini kemudian melahirkan Pasar Panampu dan Pasar Tinumbu. “Jadi ada pedagang-pedagang ‘pemburu dollar’ yang berjualan pagi di Cidu, siang sampai sore di Panampu, lalu lanjut malam di Tinumbu,” ungkap Enal—sapaan akrab Zainal.

Selain Cidu, tiga pasar utama lainnya adalah Pasar Butung yang merupakan pasar tertua di Makassar berdiri 1917, disebut Butung karena dulu ada banyak orang-orang Buton yang identik dengan kulit hitam. Lalu ada Pasar Kalimbu yang berarti berselimut atau bersarung, dan memang benar, di pasar ini kita akan menemukan banyak orang-orang yang berjualan sambil bersarung. Sebab transaksi di pasar ini sudah berlangsung sejak pukul 02.00 hingga pagi hari. Lalu ada Pasar Lette, yang terletak di Kampung Lette, lette—sendiri berarti berpindah-pindah.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Lette ini melahirkan Pasar Sambung Jawa. Pasar Butung yang identik menjual garmen kemudian melahirkan Pasar Sentral (sekarang dikenal sebagai Makassar Mall), Pasar Sentral ini juga melahirkan Pasar Bacan. Sedangkan Pasar Kalimbu yang berdiri 1920 adalah pasar tertua kedua di Makassar, kemudian melahirkan Pasar Terong yang barang dagangannya didominasi sayur-mayur seperti induknya.

Pasar Terong berdiri pada 1960, kala itu pagandeng dan palapara dari Pasar Kalimbu berkembang sepanjang Jalan Terong. Dalam buku ‘Pasar Terong Makassar: Dunia Dalam Kota’ menyebutkan, Pasar Terong pada tahun 1964 masih berupa rawa-rawa, jika hujan tiba maka kawasan pasar akan tergenang air. Tahun 1970, lokasi bekas kampung warga, oleh pemerintah kemudian dibangun pasar permanen berupa front toko dan los berbentuk huruf U. Setahun kemudian, Pasar Terong berfungsi permanen dan diresmikan oleh Wali Kota Makassar M Daeng Patompo.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Cabai, tomat, dan jeruk nipis adalah komoditi utama yang bisa ditemukan di Pasar Terong. Enal, yang juga pendamping pedagang Pasar Terong mengungkapkan jika jeruk nipis tak ada lagi di Terong, sering kali jeruk nipis dari Makassar yang sudah tiba di Jakarta dikirim lagi ke Makassar. Masyarakat Makassar memang akan sulit menikmati makanan tanpa jeruk nipis, sebab hampir semua makanan khasnya menggunakan jeruk nipis, sebut saja coto, konro, sop saudara, ikan bakar, sampai nasi goreng.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Menurut Enal, pasar itu lahir dari budaya kekeluargaan. Dimana orang-orang yang terlibat, mulai dari pedagang hingga pembeli hidup secara kekeluargaan. Enal yang juga anggota divisi kota di AcSI ini mengungkapkan budaya kekeluargaan ini bisa dilihat saat melakukan transaksi, pedagang biasanya mulai menawarkan barang menggunakan bahasa ibu mereka (misalnya Bugis/Makassar), biasanya pembeli yang masih satu suku akan menjawab dengan bahasa lokal. Tapi jika tak mendapat tanggapan, maka sang pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia. Dari bahasa inilah, pedagang mengidentifikasi pembelinya.

Di era supermaket dan minimarket mengepung Kota Makassar, sekelompok anak muda kembali menjelajah lorong-lorong pasar. Melakukan interaksi kekeluargaan. Ada tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Dan hanya dengan selembar uang 50 ribuan, teman-teman dari Katakerja membawa pulang hasil belanjaan, dimasak untuk makan siang. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

Gogoso Khas Pasar Kampung Baru

Aroma daun pisang yang terbakar sungguh menggoda pagi kami. Segelas teh susu dan gogoso—penganan khas Makassar—adalah sarapan kedua saya, Rabu pagi lalu, di Pasar Kampung Baru, Kecamatan Wajo, Makassar. Sebab, saya sudah sarapan bubur ayam sebelum keluar rumah.

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Membuka daun pisang yang membalut, lalu pada gigitan pertama, aroma wangi daun cemangi langsung memenuhi mulut. Gurih beras ketan bercampur abon ikan tuna adalah perpaduan yang sangat pas.

Gogoso buatan Siti Kasturi adalah salah satu jajanan khas di Pasar Kampung Baru Makassar, yang bersebelahan dengan Fort Rotterdam. “Saya sudah lebih dua puluh tahun berjualan gogoso,” ungkap perempuan berusia 80 tahun ini.

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Turti—sapaan Kasturi—mengaku, sudah punya konsumen sendiri. Dalam sehari, rata-rata ia menjual 300 biji gogoso yang dihargai Rp 7 ribu per biji. Ia akan membuat gogoso lebih banyak dihari Sabtu dan Minggu, karena konsumennya banyak juga orang-orang yang habis olahraga di Taman Macan. “Sebelum jam sepuluh pagi, dagangan saya sudah habis,” ungkap Turi, sembari mengipas pangganan gogosonya. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/01/13/391231/Dunia-Kekeluargaan-dalam-Pasar

 

 

 

Jejak Rempah Nusantara

Keberadaan rempah-rempah adalah salah satu alasan kolonial Barat menguasai Nusantara.

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Tiga tiang layar perahu Padewakang—cikal bakal perahu Phinisi—berdiri  kokoh di halaman Gedung Museum Nasional. Perahu dengan lambung membulat ini mengantar setiap pengunjung museum mengarungi Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Sebuah pameran yang mencoba menunjukkan bagaimana keberadaan rempah-rempah menjadi alasan penjelajahan dunia sampai ke bumi Nusantara.

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Di lobi museum, pengunjung disuguhkan foto-foto tentang wajah Indonesia,  di antaranya hasil jempretan Danny Tumbelaka. Memasuki ruang pameran, pengunjung disuguhkan film pendek tentang jejak rempah Nusantara.  Film berdurasi sekitar tiga menit itu bercerita tentang kehidupan Nusantara mulai dari masa sebelum Masehi hingga sekarang, bagaimana rempah-rempah menjadi komoditi berharga dan mempengaruhi kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma khas rempah-rempah menganjak saya berpindah ruangan.  Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Sampel-sampel rempah ini ditaruh dalam kotak kaca, bagi pengunjung yang ingin menikmati aromanya, bisa menghirup aromanya melalui lubang kecil yang disiapkan.

Berbicara soal Jalur Rempah Nusantara, kita akan diajak berlabuh ke Barus—salah satu kota kuno yang terkenal di seluruh Asia sejak abad ke-6 Masehi.  Barus menjadi tempat persinggahan dan tempat pemuatan bagi pedagang asing mencari bahan baku, wangi-wangian, dan obat-obatan. Barus didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, berkat hasil hutannya, terutama kamper  dan kemenyan. Tapi sekarang, masyarakat Barus hanya mengenal pembuatan minyak dari kayu kapur yang dikenal juga sebagai minyak umbil.

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Dari Barus, ruang-ruang pameran mengajak kita menjelajahi kerajaan-kerajaan di Nusantara, saya ditemani Raden, salah satu pemandu. Mulai dari Banten, Sriwijaya sampai Majapahit.  Di ruang-ruang pameran ini, kita bisa menemukan bagaimana akhirnya kekuasaan kolonial Barat menguasai Nusantara yang mulanya datang untuk berdagang rempah-rempah. Hingga kolonial sampai ke kawasan timur, hal ini bisa dilihat dari ilustrasi penyambutan Admiral Belanda Van Neck oleh Sultan Ternate yang dibuat  oleh Theodore De Bry tahun 1598.

***

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Jalur Rempah ini berkaitan dengan jalur-jalur pelayaran orang-orang Mandar dahulu. Dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937 – 1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar (yang berlangsung sampai saat penjajahan Belanda), bukan hanya terbatas sampai Maluku, tetapi bahkan sampai ke Papua Nugini.

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Dari catatan Caron dan Leijdst, diketahui jalur pelayaran utama para pelaut Mandar mengikuti garis timur-barat, yaitu Mandar – Borneo – Jawa – Sumatera – Singapura ke barat, dan sekembalinya dari Singapura mereka menempuh pula jalur pelayaran ke Ambon, Ternate, Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Irian dan juga ke Australia Utara untuk menangkap/membeli teripang. Didapati juga jalur-jalur pelayaran utara – selatan, yaitu jalur utara ke pelabuhan di Sulawesi Utara (Donggala – Tolitoli) sampai ke Philipina. Jalur ke selatan menuju ke Pulau Jawa dan terus ke pulau-pulau di NTB, NTT, dan Timor.

Lalu apa peran Mandar dalam Jalur Rempah atau perdagangan rempah? Bersama dengan Makassar, Bugis, dan Buton, pelaut Mandar adalah suku yang memiliki peran penting dalam perdagangan maritim di masa lalu. Pada bulan September, JJ Rizal, sejarawan yang terlibat di proyek Pameran Jalur Rempah sebagai kurator, datang ke Mandar bersama pihak event organizer untuk memesan pembuatan perahu yang konstruksinya menyerupai perahu yang dulu digunakan  berdagang. “Awalnya hanya potongan haluannya saja, tapi saya usulkan perahu utuh dengan anggaran yang sama,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, koordinator pembuatan Perahu Rempah.

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Dari hasil kajian pustaka dan sumber referensi termasuk relief Candi Borobudur, maka dipilihlah perahu yang oleh masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar dikenal sebagai perahu Padewakang. Perahu ini digunakan pelaut dan nelayan Mandar dan Makassar ratusan tahun lampau. “Saya perlihatkan desain perahu Padewakang untuk dicocokkan dengan pengetahuan mereka,” ungkap Ridwan.

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Berdasar foto dan teknik pembuatan perahu tradisional, Perahu Rempah dibuat di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Rampung dibuat 8 Oktober, pada hari yang sama, lambung perahu  yang panjangnya 10 meter dipotong menjadi tiga bagian untuk kemudian dimasukkan ke kontainer. Pada 15 Oktober malam, tukang Perahu Rempah Anwar dan Sakaria dibantu tiga pelaut Asad Mana, Yahya dan Arif serta teknisi Muliadi. Proses penyusunan ulang perahu mulai dari lambung, haluan, buritan, atap, dan layarnya berlangsung selama tiga hari.

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memimpin ritual akhir sebagai penanda selesainya perahu. Dengan memahat “sanggilang baine” atau sanggar kemudi bagian bawah Perahu Rempah. “Dalam tradisi pelaut Mandar, tempat kemudi dan nakhoda adalah faktor penting dalam keselamatan pelayaran,” kata Ridwan kepada Anies. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  06 November 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/11/06/386677/Jejak-Rempah-Nusantara

 

Membaca Literasi Kopi Nusantara

Teguk selagi hangat agar sensor perasa bekerja maksimal.

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Aroma kopi Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua mampu memikat orang-orang untuk singgah di salah satu stand di Festival Indonesia Membaca, yang berlangsung 22-24 Oktober di Karawang, Jawa Barat. Penulis yang juga berprofesi sebagai barista, Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi nusantara.

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Faiz menyajikan kopi-kopi kualitas premium yang diproses secara natural. Tak sekedar meracik, tapi sang barista juga menjelaskan bagaimana rasa sebuah kopi sangat dipengaruhi tempat dimana kopi. Jadi meski semua jenisnya arabika, tapi rasa arabika yang ditanam di Gayo, Toraja, dan Baliem, pasti memiliki cita rasa yang berbeda.

Sambil menunggu airnya mendidih, Faiz menggili kopi dengan mesin grinder. Untuk 10-14 gram biji kopi, dibutuhkan 150 milliliter air. Kopi yang telah digiling dimasukkan ke dalam rockpresso—alat untuk memeras sari kopi—lalu siram dengan air yang telah dididihkan. Sebelum menuangkan air panas, air diamkan sejenak. Untuk suhu air, sang barista tampak begitu ketat, dia bahkan mengukur suhu air dengan termometer, setelah menunjukkan 95 derajat celcius, barulah dituang ke wadah rockpresso. Lagi-lagi didiamkan sejenak, lalu ditekan agar sari kopinya keluar.

Aroma sari kopi mulai terasa. Sebelum meminum, Faiz menganjurkan agar menghirup dan menikmati aromanya terlebih dahulu. “Kopi bisa menjadi aroma terapi bagi saraf kita,” ungkapnya. Selanjutnya bisa diminum. Untuk mendeteksi kekhasan rasa kopi, kumur sari kopi sebelum ditelan.“Kopi sebaiknya diteguk selagi hangat agar sensor perasa kita bekerja maksimal.”

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Untuk menikmati citarasa kopi, kata Faiz, sebaiknya jangan langsung diberi gula. Lalu bagi Anda yang sudah terbiasa dengan sajian kopi susu atau latte, sebaiknya gunakan susu jenis UHT.  Jangan kental manis, karena memiliki kadar asam, kurang cocok dengan arabika yang juga memiliki kadar asam yang tinggi.

***

Sejak April lalu, Faiz yang juga pustakawan dan perintis Radio Buku, membuka Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”—nama yang diambil dari artefak pers Indonesia di kawasan Yogyakarta yang tahun ini genap berusia satu abad.

Sebelum membuka kafe, Faiz sendiri sudah aktif bersama teman-teman di Komunitas Kopi Lover—sebuah komunitas pencinta kopi—para pencinta kopi ini membangun jaringan dalam bentuk komunitas yang sifatnya tidak mengikat. Bersama-sama para pecinta kopi di komunitas ini, Faiz juga aktif memberikan edukasi kepada petani, terutama proses pasca panen. “Bagaimana kami mengajak mereka melakukan proses yang dianggap tepat yang baik.

Living Library. Foto/Irmawar

Living Library. Foto/Irmawar

Proses pengolahan kopi yang dikenal ada dua yakni hani dan natural proses. Hani adalah proses petik masak, cuci, pengupasan, dan penjemuran lagi yang dilakukan sekitar seminggu. Proses hani ini mampu mengurangi kadar air biji kopi hingga 40 persen. Sementara untuk kopi yang melalui natural proses, kadar airnya lebih rendah. Untuk natural proses, kata Faiz butuh waktu yang lebih lama yakni 2-3 tahun penyimpanan, lalu dijemur lagi. “Semakin kurang kadar airnya, maka kadar kafein kopi juga semakin rendah,” ungkap Faiz. Tak sekedar pengolahan, komunitas ini juga menganjurkan ke petani untuk memanen buah kopi kualitas cerry atau petik masak.

Selain literasi kopi yang disuguhkan oleh Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”, di stand ini, Anda juga bisa membaca buku-buku terbitan Komunitas Literasi Makassar, Inninawa dan Radio Buku, ada mading Pelangi, juga bisa menonton video dokumenter karya teman-teman di Kampung Halaman. Mengenal citarasa nusantara melalui kopi.  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

Kopi dan Kekuasaan

Keberadaan kopi di Nusantara sangat erat kaitannya dengan kekuasaan, terutama di kawasan Timur Indonesia. “Kopi dan kekuasaan sangat terlihat di wilayah Timur dibanding Jawa,” kata Faiz Ansoul, penulis dan pustakawan Radio Buku, saat ditemui di Festival Indonesia Membaca di Karawang, Jawa Barat, Jumat lalu.

Menurut Faiz yang juga berprofesi sebagai barista ini, di Jawa, seperti Yokyakarta, tanah-tanah dikuasai oleh keraton, sedangkan di luar Jawa, lahan kebanyakan dikuasai tuan tanah. Lahan kopi di Jawa juga tak sebanyak di Sumatera. “Rasa kopi sangat dipengaruhi tempatnya dimana ditanam,” ungkap Faiz. Karena setiap daerah punya citarasa kopi yang khas.

Di Sulawesi juga terkenal dengan kopi Arabika asal Toraja. Menurut peneliti genetik kopi dari Universitas Hasanuddin, Andi Ilham Latunra, di Sulawesi Selatan tepatnya di Enrekang terdapat areal purba yang dikenal sebagai tanah Lixisol Podzolik. Keberadaan perkebunan rakyat di Enrekang dan Toraja mulai dikenal sebagai penghasil kopi Kalo sejak 1750.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

Pada abad XIV, keberadaan perkebunan kopi Arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, poselen, tembikar dan kain, untuk dituker dengan kopi. Tahun 1887-1888, pasar kopi di Toraja didominasi Kerajaan Luwu. Mengakibatkan meletusnya Perang Kopi 1, dimana terjadi persaingan merebut sumber kopi oleh pedagang, hal ini menimbulkan banyak kerusakan di Toraja.

Pasukan kerajaan Bone dibawa pimpinan La Maddukelleng Petta Ponggawa memasuki Toraja pada 1898, mengakibatkan Perang Kopi II, karena masyarakat Toraja bersama Puang Tallu Lembangna melakukan perlawanan.

Tahun 1890, La Tanro Puang Mallajange ri Buttu Mario, Raja Agung Enrekang XVI menghentikan perang kopi dan mengatur tata niaga baru perdagangan kopi di Toraja dan Enrekang. Kerajaan Enrekang dan Kerajaan Tallu Lembangna takluk pada pasukan Belanda pada 1906. Penjajah kemudian membangun onderneming  di Bolokan dan Pedamaran. Selanjutnya, pada 1912, tata niaga kopi Toraja dilaksanakan oleh saudagar Cina, di antaranya Baba Pamarrasadan, Kwie Tjai Hind an Ing Goe An.

“Masih terdapat pohon induk Tipika yang berusia 250 tahun di Toraja dan Enrekang,” ungkap Ilham yang dihubungi terpisah. Kopi tipika alias Arabika Tipika dikenal juga sebagai Kopi Kalosi.(Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

 

Cara Riri Riza Menerjemahkan Athirah

Ini bukan film biografi, tapi tentang perempuan, tentang kekuatan seorang ibu.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Kadang-kadang ada hal yang sulit untuk dihindari, meski kita sudah berusaha menghindar dan berlari sejauh apapun. Ada bagian dari adegan-adegan hidup tak selalu seperti mau kita. Malam itu, Athirah bersama Ucu—panggilan Jusuf Kalla saat kecil—datang ke pesta pernikahan koleganya. Di pesta itu, terjadi pertemuan antara Athirah dengan suaminya Puang Haji Kalla yang datang bersama istri keduanya Adewiyah.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Begitulah sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Pengambilan gambar adegan ini dilakukan di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Sabtu lalu. Merupakan proses syuting terakhir di Makassar, sebelum berangkat ke Sengkang, Kabupaten Wajo dan Kota Parepare untuk syuting lanjutan.

Tapi ini film ini bukan soal poligami, atau biografi seorang Athirah. Ini tentang Emma’—sebutan ibu—bagaimana  perjuangan seorang perempuan yang juga seorang ibu, bagaimana perempuan survive dan menjadi pegangan keluarga. “Saya akan menceritakan secara personal sosok Emma’, melihatnya secara intim,” ungkap Riri di sela-sela syuting.

Menurut Riri, Emma’ atau Athirah adalah sosok yang punya sesuatu yang baik dari tokoh itu yang penting untuk diceritakan. Meski ini adalah kisah realis, tapi ada bagian-bagian tokoh utama,  terutama karakternya yang didramatisir. Riri menerjemahkan bagaimana sosok seorang Emma’ mengendalikan diri.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Menerjemahkan sosok Athirah bukanlah hal yang mudah bagi Cut Mini yang memerankan tokoh utama ini. “Sangat susah menjadi Athirah, bohongan saja cape’, bagaimana menjalaninya dalam kehidupan nyata,” kata Mini. Perempuan berdarah Aceh ini mengaku memerankan Emma’ itu adalah main dalam dan penuh perasaan. “Saya tidak bisa diam lama di satu titik untuk menjadi Athirah. Saat saya pakai bajunya, ego harus ditahan. Setelahnya saya akan kembali menjadi diri saya,” ungkap Mini yang ditemui di sela-sela syuting.

Tak hanya menjadi karakter tokoh yang bukan menjadi dirinya.  Bagi Mini, skenario film ini cukup berat, hingga membuat dia sering pulang dengan migren. Selain belajar menjadi sosok yang sabar seperti karakter tokoh utama, Mini juga harus belajar bahasa dengan dialeg Makassar.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Bagi Riri, salah satu hal yang diminati dalam membuat film adalah bahasanya. Bagaimana ia bisa mengeksplor bahasa-bahasa lokal dan menghadirkan pendekatan-pendekatan baru dalam bahasa.

Menyutradarai film Emma’ bagi Riri bukan sekedar menggarap film, kepada Tempo, Riri mengakun punya hubungan secara pribadi apa yang ingin dikatakan dalam film. Kisah kehidupan antara tahun 1950-1960, sesuatu dari Sulawesi Selatan yang ingin berkomunikasi lebih luas.

Lima tahun terakhir, sutradara asal Makassar ini kembali bekerja untuk kampung halamannya, memberikan nyawa bagi dunia perfilman di Makassar, salah satunya melalui program SeaScreen Academy. “Sekarang saya punya kesempatan untuk membuat film, tentang perempuan, tentang ibu,” ungkapnya.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Selain Cut Mini, ada Jajang C Noer yang berperan sebagai Hajja Kerra, ibunya Athirah. Lalu Puang Haji Kalla di perankan oleh Arman Dewarti, seorang pegiat film di Makassar. Sedangkan Adewiyah diperankan oleh Yuli Tarebbang, presenter salah satu televisi lokal. “Sekitar 20 persen tim film dari Makassar, 80 persen dari Jakarta, terutama tim teknisnya,” ungkap Riri. Asisten Sutradara 2 dan 3 juga dari Makassar yakni Andi Burhamzah dan Aditya Ahmad.

Rencananya film ini akan dirilis tahun depan. Dengan naskah skenario mencapai 70 halaman, diperkirakan durasi film sekitar 100 menit. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/17/375525/Cara-Riri-Riza-Menerjemahkan-Athirah

http://m.dev.tempo.co/read/news/2015/06/17/111675925/Ini-Cara-Riri-Riza-dan-Cut-Mini-Tafsir-Sosok-Ibu-Jusuf-Kalla

 

Pemikiran Semesta Karaeng Pattingalloang

Makassar International Writers Festival 2015

Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat.

Seorang ibu mencoba memperkenalkan sosok cendikiawan Makassar abad ke-17, Kareang Pattingalloang kepada anaknya. Bersama anaknya, sang ibu mendatangani sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Pattingalloang. Cuaca yang cukup cerah menemani perjalanan mereka ke makam Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Tak berhenti disitu, sang ibu juga mengajak putranya ke museum Karaeng Pattingalloang yang terletak di Benteng Somba Opu.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Adegan ini membawa saya ke masa 20 tahun lalu, dimana saya hanya mengenal Karaeng Pattingalloang sebagai nama pasukan yang  tersemat di seragam pramuka saya. Seperti anak itu, saya pun tak cukup kenal sosok Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654) yang menguasai banyak bahasa asing.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo IV yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang. Sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, menyukai ilmu sains dan belajar secara otodidak, serta update akan temuan-temuan terbaru dunia.  Seorang misionaris Katholik, Alexander Rhodes, pada 1646 menulis “Karaeng Pattingalloang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat…”.

Siapa Karaeng Pattingalloang akan diceritakan secara singkat dalam film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Film berdurasi sekitar 15 menit ini akan ditayangkan saat pembukaan Makassar International Writers Festival 2015, malam ini di Fort Rotterdam. Film garapan Andi Burhamzah ini diproduksi oleh Timur Pictures bekerjasama Rumata’ Art Space atas dukungan Bosowa Foundation.

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

“Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat,” kata Riri Riza, produser film pendek Patingalloang, yang dihubungi Senin lalu. Memproduksi video pendek dari subjek utama yang menjadi tema festival sudah menjadi ciki MIWF setiap tahun.

Setiap tahun, MIWF akan menghadirkan sosok-sosok tokoh inspirasi asal Sulawesi Selatan. Tahun lalu ada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang lurus dan tegas. Tahun sebelumnya ada AM Dg Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar. Tahun 2012, almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada almarhum Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF pertama tahun 2011 lalu.

Pendiri dan Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, tahun ini kami memilih Kareang Pattingalloang  sebagai tokoh dengan tema pengetahuan dan semesta. “Tokoh yang ada dan tak banyak tahu,” ungkapnya dalam jumpa pers di Kafe Mama Bau Mangga, kemarin.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Siapa dan bagaimana kiprah sosok Karaeng Pattingalloang akan dikupas lebih mendalam dalam seminar “Karaeng Pattingalloang : Knowledge & Universe”, Kamis besok di Auditorium Aksa Mahmud. Dengan pembicara Nirwan Ahmad Arsuka, JJ Rizal, dan budayawan Sulawesi Selatan, Alwy Rachman.

Kurator MIWF, Aslan Abidin yang ditemui secara terpisah mengatakan momen ini bisa menjadi langkah awal untuk menelusuri kapasitas intelektual Pattingalloang. “Dari catatan yang akan, Pattingalloang disebut tertarik ilmu pengetahuan, lalu kenapa karakter dan semangat intelektualnya tidak menurun ke masyarakat Sulawesi Selatan.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/03/374260/Pemikiran-Semesta-Karaeng-Pattingalloang

Melahirkan Perahu Pustaka

Makassar International Writers Festival 2015

Menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau di pesisir Sulawesi dan Kalimantan.

Semua berawal dari obrolan dunia maya antara Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin, Kamaruddin Azis, dan Anwar Jimpe Rachman. Tepatnya sekitar dua bulan lalu, Nirwan mengusulkan tentang Perahu Pustaka. “Urusan pembuatan perahu, pelayaran hingga pengelolaan saya yang tangani. Kak Nirwan bantu mencarikan pendanaan pembuatan perahu,” kata Ridwan, Pustakawan Perahu Pustaka kepada Tempo, Senin lalu.

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Penulis dan pengamat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan usul itu muncul karena melihat masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Saya sering ketakutan ketika bertemu anak-anak, mereka tidak bisa bercerita dan mimpi. Padahal kalau mereka membaca, mereka bisa menjelaskan dunia mereka dan mungkin punya mimpi yang lain,” ungkapnya dalam sesi Passion in Action, Makassar International Writers Festival, yang digelar di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, kemarin.

Sekitar pukul 07.00 Wita, Rabu kemarin, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh di dermaga depan Fort Rotterdam, Makassar. Ini adalah pelayaran perdana dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang ditempuh selama 14 jam perjalanan mengarungi lautan di selat Makassar. Menurut Ridwan yang juga peneliti maritime dan kelautan Mandar, perkiraan kecepatan kapal mencapai 7-8 knot atau 8 mil per jam.

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka adalah jenis perahu lambung lebar yang dikenal sebagai baqgo oleh orang Mandar dan pattorani oleh orang Makassar. kata Ridwan, jenis perahu ini sudah jarang digunakan karena dari segi hidrodinamis, perahu ini tidak laju. Tapi dahulu disukai karena bisa memuat banyak barang, berbeda dengan jenis phinisi.

Dahulu, nelayan mencari teripang ke Australia dengan kapal baqgo, orang Makassar sendiri menggunakannya untuk mencari ikan terbang. Kelebihan lainnya, kata Ridwan karena perahu ini relatif stabil dan bisa masuk ke sungai. Menurutnya, sampai tahun 80-an, jenis kapal ini masih banyak di Mandar. “Sekarang sudah jarang, tapi saya pernah melihat di Mandar, Bira dan Galesong.”

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Dalam budaya adat Mandar, perahu itu serupa anak. Karenanya, kata Ridwan, saat proses awal pembuatan perahu dipakai simbol-simbol kesuburan yang identik dengan hubungan suami-istri. “Kayu lunas disentuhkan ke putting susu tukang sebagai simbol disusui. Lalu saat penyambungan lunas, ada pemeran laki-laki dan juga perempuan. Saat memasukkan lunas, terlebih dahulu dilumuri dengan kelapa dan air yang sebelumnya direndam emas, ini simbol sperma,” jelas Ridwan.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

***

Adapun penggunaan nama Pattingalloang, kata Ridwan, sebagai pengingat adanya hubungan antara Mandar dan Makassar dalam sejarah kemaritiman. Dan kebetulan ada momen MIWF yang juga mengangkat tokoh inspirasi Karaeng Pattingalloang. “Dalam masa pembuatan perahu, kemudian ada ide memperkenalkan Perahu Pustaka di ajang MIWF 2015 ini,” ungkap Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang rencananya akan digunakan untuk menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau yang berada di pesisir Sulawesi dan Kalimantan. Kapal ini diperkirakan mampu memuat ribu-10 ribu buku. “Kebanyakan buku anak-anak, karena targetnya memang anak-anak pesisir,” ungkap Ridwan yang memilih resign sebagai jurnalis untuk lebih fokus mengurus Perahu Pustaka ini.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Selain perpustakaan, kata Ridwan, Perahu Pustaka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar teknik-teknik pelayaran tradisional. Salah satu peserta diskusi di Unhas, kemarin, siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian studi di Perahu Pustaka. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  04 Juni 2015)

 

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/04/374352/Melahirkan-Perahu-Pustaka

 

Perempuan yang Menenangkan Rindu

Bait-bait puisi Aan dengan ilustrasi Emte tampak saling menguatkan satu sama lain.

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

“Aku tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka…”. Selarik kalimat yang membuka puisi berjudul Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia. Barangkali ketidakpercayaan M Aan Mansyur punya alasan kuat. “Saya tak punya foto keluarga,” ungkapnya disela-sela peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Melihat Api Bekerja adalah sebuah kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Ada 54 puisi Aan yang ditemani 60 gambar Emte. Perpaduan bait-bait puisi dengan gambarnya tampak saling menguatkan satu sama lain. Padahal mereka hanya bertemu di dunia maya. Pertemuan fisik keduanya baru terjadi pada peluncuran kali ini.

Puisi dan ilustrasi yang saling menguatkan terlihat pada frame foto keluarga. Di sana, tampak sebuah keluarga dengan pakaian-pakaian modern.  Tapi, seperti kata Aan dalam puisinya, bahwa tidak ada yang mampu mereka lakukan selain berpura-pura. Emte menggambarkan anggota keluarga itu adalah manusia-manusia tanpa wajah dengan kepala yang menguap. Sebuah gambaran yang mengharukan.

Foto keluarga adalah salah satu ilustrasi favorit Aan, karena menggambarkan serupa keluarganya. Dia tidak pernah bisa memiliki foto keluarga, karena anggota keluarganya tidak pernah berkumpul lengkap. Jika foto keluarga adalah sebuah simbol kebahagian, maka ada benarnya jika Aan menganggap kebahagiaan sebagai sebuah kejahatan. “Kebahagian itu berbahaya sekali.”

“…Alasan utama mereka bahagia adalah tidak peduli. Mereka  tidak mau tahu kau masih punya alasan lain/ Mereka punya berlembar-lembar foto keluarga yang penuh hal tiruan.”

Sebaliknya, bagi Emte, Menenangkan Rindu adalah puisi favoritnya.  Emte menggambarkan menenangkan rindu adalah sosok perempuan yang tampak dari belakang dengan kedua tangannya saling berpegangan. Emte banyak menggunakan perempuan untuk mendampingi puisi-puisi Aan. “Puisi Aan itu naluriah banget, makanya banyak perempuan,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Saat membaca puisi Aan, Emte sering kali menemukan dirinya seperti sedang berbicara dengan seseorang dan itu perempuan.  Emte juga menemukan banyak kemarahan.  Dari 60 gambar, hanya 42 karya ilustrasi yang dipajang di Edwin’s Galllery. Pameran akan berlangsung hingga 26 April mendatang.

Emte membuat ilustrasi lebih banyak dari jumlah puisi Aan yang hanya 54. Alasannya, sebab ada beberapa puisi yang melompat-lompat, sehingga Emte tak mampu menggambarkannya hanya dengan satu gambar, butuh beberapa gambar.  Misalnya puisi Menunggu Perayaan, Senja Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam, Hantu Penyanyi, dan Mengunjungi Ambon, masing-masing dengan dua puisi.

Ada juga satu puisi yang digambarkan dengan tiga ilustrasi yakni Mengunjungi Museum, Ketika, Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir Ini Sebagai Dirinya. Bahkan puisi Seorang Lelaki dan Bintang-Bintang yang Hidup dalam Jasnya, Emte menggambarkannya dengan empat ilustrasi. “Ada rasa penasaran yang membuat saya bersemangat,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Emte adalah ilustrator dan desainer grafis freelence yang terkenal selalu bermain warna. Tapi kali ini kita melihat warna berbeda dari Emte, hanya putih-coklat. “Saat ini saya sedang memasuki fase dua warna, dan kebetulan mengerjakan buku ini,” ungkapnya. Tapi percayalah, bahwa warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus.

Menurut Denny, salah satu pengunjung menilai bahasa yang diungkapkan melalui ilustrasinya sangat jelas, apalagi dengan permainan detail yang tampaknya sengaja dibangun, sangat membantu pengunjung untuk menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Aan sendiri, melalui puisinya, ia memberikan pintu untuk orang menginterpretasikan karyanya, sebanyak-banyaknya. Seperti puisi Melihat Api Bekerja yang juga dipakai menjadi judul  buku ini. Berbeda dengan ilustrasi Emte yang memilih dua warna, puisi Aan justru mewakili banyak warna. Tentang kekasih, ketergesa-gesaan, kemarahan. Aan mengaku melalui karyanya ini, dia secara tidak langsung mewakili kemarahan ibunya, kemarahan bapaknya, kemarahan tentang masalah publik.

Di ajang ini, Aan juga mengungkapkan keheranannya pada orang-orang Jakarta yang tiap hari mengeluhkan tentang kemacetam, tapi dia tak menemukan satupun karya sastra yang menuliskannya. Salah satu puisinya di buku ini, berbicara tentang kemacetan Jakarta.

Bagi Aan, tulisan itu bagian dari lapisan. Penyair asal Makassar ini sengaja tak menerahkan tahun untuk menyembunyikan sejumlah lapisan-lapisan. “Banyak puisi di buku ini yang menunggu teman-temannya. Ada yang saya buat sejak tahun 2007,” ungkapnya.

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Tak hanya menjadi tempat bersembunyi. Bagi Aan, puisi adalah alat untuk berkomunikasi dengan ibunya. Setiap kali menelpon, Aan selalu membacakan puisi barunya kepada sang ibu. Jika dalam dua pekan tak ada komunikasi, sang ibu pasti menelpon dan bertanya, apakah tak ada puisi baru yang hendak dia bacakan. “Begitulah ibu saya dia tak pernah mau bilang rindu,” kata Aan. Dia  perempuan yang mampu menenangkan rindu. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 April 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/04/17/370571/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

http://www.tempo.co/read/news/2015/04/18/114658632/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

 

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.