Dunia Kekeluargaan dalam Pasar

Di pasar lokal, pedagang mengidentifikasi pembelinya dengan bahasa ibu mereka.

Aroma buroncong, kayu bakar, asap, dan matahari pagi yang menyatu. Perut keroncongan memaksa saya langsung menyambar buroncong yang baru saja diangkat dengan gancu dari pembakaran. Panas yang masih mengepul dari penganan khas Makassar ini membuat saya sibuk meniup-niup, sebelum mengigitnya. Aroma kelapa yang terbakar dari buroncong begitu wangi dan menggoda.

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Saya tidak sendiri, ada beberapa pembeli lain yang juga berdiri di sekitar gerobak dorong buroncong. Satu, dua, tiga buroncong yang berpindah ke dalam perut saya. Cukup memberi tenaga untuk berkeliling Pasar Cidu yang berada di Kecamatan Ujung Tanah. Saya menyusuri Jalan Tinumbu untuk mencari teman-teman dari Katakerja, di kiri kanan jalan, berjejer lapak-lapak yang didominasi penjual cakar—pakaian bekas pakai. “Buka baru, buka baru,” kata beberapa pedagang. Buka baru—adalah istilah barang yang baru dibongkar dari karung.

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Berdelapan, bersama teman-teman dari Katakerja—sebuah komunitas ruang baca— dan Active Society Institute (AcSI) kami menyusuri lorong-lorong Pasar Cidu yang menjadi bagian dari acara Jappa-jappa ri Pasara—jalan-jalan di pasar—Ahad pagi lalu. Penulis/penyair M Aan Mansyur dan seorang pemerhati pasar lokal Zainal Siko turut dalam acara jalan-jalan kali ini.

Pasar Cidu adalah satu dari empat pasar utama di Makassar. Cidu sendiri adalah bahasa Makassar untuk buah nangka. Menurut Zainal, pemberian nama Pasar Cidu ini, karena di kawasan ini dulu banyak tumbuh pohon nangka. Kawasan Pasar Cidu, dulunya adalah gusung yang menjadi tempat persinggahan orang-orang pulau, pertemuan terjadi begitu pula transaksi. Seperti namanya, Pasar Cidu identik sebagai pasar buah.

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Pasar Cidu ini kemudian melahirkan Pasar Panampu dan Pasar Tinumbu. “Jadi ada pedagang-pedagang ‘pemburu dollar’ yang berjualan pagi di Cidu, siang sampai sore di Panampu, lalu lanjut malam di Tinumbu,” ungkap Enal—sapaan akrab Zainal.

Selain Cidu, tiga pasar utama lainnya adalah Pasar Butung yang merupakan pasar tertua di Makassar berdiri 1917, disebut Butung karena dulu ada banyak orang-orang Buton yang identik dengan kulit hitam. Lalu ada Pasar Kalimbu yang berarti berselimut atau bersarung, dan memang benar, di pasar ini kita akan menemukan banyak orang-orang yang berjualan sambil bersarung. Sebab transaksi di pasar ini sudah berlangsung sejak pukul 02.00 hingga pagi hari. Lalu ada Pasar Lette, yang terletak di Kampung Lette, lette—sendiri berarti berpindah-pindah.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Lette ini melahirkan Pasar Sambung Jawa. Pasar Butung yang identik menjual garmen kemudian melahirkan Pasar Sentral (sekarang dikenal sebagai Makassar Mall), Pasar Sentral ini juga melahirkan Pasar Bacan. Sedangkan Pasar Kalimbu yang berdiri 1920 adalah pasar tertua kedua di Makassar, kemudian melahirkan Pasar Terong yang barang dagangannya didominasi sayur-mayur seperti induknya.

Pasar Terong berdiri pada 1960, kala itu pagandeng dan palapara dari Pasar Kalimbu berkembang sepanjang Jalan Terong. Dalam buku ‘Pasar Terong Makassar: Dunia Dalam Kota’ menyebutkan, Pasar Terong pada tahun 1964 masih berupa rawa-rawa, jika hujan tiba maka kawasan pasar akan tergenang air. Tahun 1970, lokasi bekas kampung warga, oleh pemerintah kemudian dibangun pasar permanen berupa front toko dan los berbentuk huruf U. Setahun kemudian, Pasar Terong berfungsi permanen dan diresmikan oleh Wali Kota Makassar M Daeng Patompo.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Cabai, tomat, dan jeruk nipis adalah komoditi utama yang bisa ditemukan di Pasar Terong. Enal, yang juga pendamping pedagang Pasar Terong mengungkapkan jika jeruk nipis tak ada lagi di Terong, sering kali jeruk nipis dari Makassar yang sudah tiba di Jakarta dikirim lagi ke Makassar. Masyarakat Makassar memang akan sulit menikmati makanan tanpa jeruk nipis, sebab hampir semua makanan khasnya menggunakan jeruk nipis, sebut saja coto, konro, sop saudara, ikan bakar, sampai nasi goreng.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Menurut Enal, pasar itu lahir dari budaya kekeluargaan. Dimana orang-orang yang terlibat, mulai dari pedagang hingga pembeli hidup secara kekeluargaan. Enal yang juga anggota divisi kota di AcSI ini mengungkapkan budaya kekeluargaan ini bisa dilihat saat melakukan transaksi, pedagang biasanya mulai menawarkan barang menggunakan bahasa ibu mereka (misalnya Bugis/Makassar), biasanya pembeli yang masih satu suku akan menjawab dengan bahasa lokal. Tapi jika tak mendapat tanggapan, maka sang pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia. Dari bahasa inilah, pedagang mengidentifikasi pembelinya.

Di era supermaket dan minimarket mengepung Kota Makassar, sekelompok anak muda kembali menjelajah lorong-lorong pasar. Melakukan interaksi kekeluargaan. Ada tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Dan hanya dengan selembar uang 50 ribuan, teman-teman dari Katakerja membawa pulang hasil belanjaan, dimasak untuk makan siang. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

Gogoso Khas Pasar Kampung Baru

Aroma daun pisang yang terbakar sungguh menggoda pagi kami. Segelas teh susu dan gogoso—penganan khas Makassar—adalah sarapan kedua saya, Rabu pagi lalu, di Pasar Kampung Baru, Kecamatan Wajo, Makassar. Sebab, saya sudah sarapan bubur ayam sebelum keluar rumah.

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Membuka daun pisang yang membalut, lalu pada gigitan pertama, aroma wangi daun cemangi langsung memenuhi mulut. Gurih beras ketan bercampur abon ikan tuna adalah perpaduan yang sangat pas.

Gogoso buatan Siti Kasturi adalah salah satu jajanan khas di Pasar Kampung Baru Makassar, yang bersebelahan dengan Fort Rotterdam. “Saya sudah lebih dua puluh tahun berjualan gogoso,” ungkap perempuan berusia 80 tahun ini.

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Turti—sapaan Kasturi—mengaku, sudah punya konsumen sendiri. Dalam sehari, rata-rata ia menjual 300 biji gogoso yang dihargai Rp 7 ribu per biji. Ia akan membuat gogoso lebih banyak dihari Sabtu dan Minggu, karena konsumennya banyak juga orang-orang yang habis olahraga di Taman Macan. “Sebelum jam sepuluh pagi, dagangan saya sudah habis,” ungkap Turi, sembari mengipas pangganan gogosonya. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/01/13/391231/Dunia-Kekeluargaan-dalam-Pasar

 

 

 

Jejak Rempah Nusantara

Keberadaan rempah-rempah adalah salah satu alasan kolonial Barat menguasai Nusantara.

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Tiga tiang layar perahu Padewakang—cikal bakal perahu Phinisi—berdiri  kokoh di halaman Gedung Museum Nasional. Perahu dengan lambung membulat ini mengantar setiap pengunjung museum mengarungi Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Sebuah pameran yang mencoba menunjukkan bagaimana keberadaan rempah-rempah menjadi alasan penjelajahan dunia sampai ke bumi Nusantara.

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Di lobi museum, pengunjung disuguhkan foto-foto tentang wajah Indonesia,  di antaranya hasil jempretan Danny Tumbelaka. Memasuki ruang pameran, pengunjung disuguhkan film pendek tentang jejak rempah Nusantara.  Film berdurasi sekitar tiga menit itu bercerita tentang kehidupan Nusantara mulai dari masa sebelum Masehi hingga sekarang, bagaimana rempah-rempah menjadi komoditi berharga dan mempengaruhi kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma khas rempah-rempah menganjak saya berpindah ruangan.  Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Sampel-sampel rempah ini ditaruh dalam kotak kaca, bagi pengunjung yang ingin menikmati aromanya, bisa menghirup aromanya melalui lubang kecil yang disiapkan.

Berbicara soal Jalur Rempah Nusantara, kita akan diajak berlabuh ke Barus—salah satu kota kuno yang terkenal di seluruh Asia sejak abad ke-6 Masehi.  Barus menjadi tempat persinggahan dan tempat pemuatan bagi pedagang asing mencari bahan baku, wangi-wangian, dan obat-obatan. Barus didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, berkat hasil hutannya, terutama kamper  dan kemenyan. Tapi sekarang, masyarakat Barus hanya mengenal pembuatan minyak dari kayu kapur yang dikenal juga sebagai minyak umbil.

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Dari Barus, ruang-ruang pameran mengajak kita menjelajahi kerajaan-kerajaan di Nusantara, saya ditemani Raden, salah satu pemandu. Mulai dari Banten, Sriwijaya sampai Majapahit.  Di ruang-ruang pameran ini, kita bisa menemukan bagaimana akhirnya kekuasaan kolonial Barat menguasai Nusantara yang mulanya datang untuk berdagang rempah-rempah. Hingga kolonial sampai ke kawasan timur, hal ini bisa dilihat dari ilustrasi penyambutan Admiral Belanda Van Neck oleh Sultan Ternate yang dibuat  oleh Theodore De Bry tahun 1598.

***

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Jalur Rempah ini berkaitan dengan jalur-jalur pelayaran orang-orang Mandar dahulu. Dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937 – 1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar (yang berlangsung sampai saat penjajahan Belanda), bukan hanya terbatas sampai Maluku, tetapi bahkan sampai ke Papua Nugini.

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Dari catatan Caron dan Leijdst, diketahui jalur pelayaran utama para pelaut Mandar mengikuti garis timur-barat, yaitu Mandar – Borneo – Jawa – Sumatera – Singapura ke barat, dan sekembalinya dari Singapura mereka menempuh pula jalur pelayaran ke Ambon, Ternate, Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Irian dan juga ke Australia Utara untuk menangkap/membeli teripang. Didapati juga jalur-jalur pelayaran utara – selatan, yaitu jalur utara ke pelabuhan di Sulawesi Utara (Donggala – Tolitoli) sampai ke Philipina. Jalur ke selatan menuju ke Pulau Jawa dan terus ke pulau-pulau di NTB, NTT, dan Timor.

Lalu apa peran Mandar dalam Jalur Rempah atau perdagangan rempah? Bersama dengan Makassar, Bugis, dan Buton, pelaut Mandar adalah suku yang memiliki peran penting dalam perdagangan maritim di masa lalu. Pada bulan September, JJ Rizal, sejarawan yang terlibat di proyek Pameran Jalur Rempah sebagai kurator, datang ke Mandar bersama pihak event organizer untuk memesan pembuatan perahu yang konstruksinya menyerupai perahu yang dulu digunakan  berdagang. “Awalnya hanya potongan haluannya saja, tapi saya usulkan perahu utuh dengan anggaran yang sama,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, koordinator pembuatan Perahu Rempah.

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Dari hasil kajian pustaka dan sumber referensi termasuk relief Candi Borobudur, maka dipilihlah perahu yang oleh masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar dikenal sebagai perahu Padewakang. Perahu ini digunakan pelaut dan nelayan Mandar dan Makassar ratusan tahun lampau. “Saya perlihatkan desain perahu Padewakang untuk dicocokkan dengan pengetahuan mereka,” ungkap Ridwan.

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Berdasar foto dan teknik pembuatan perahu tradisional, Perahu Rempah dibuat di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Rampung dibuat 8 Oktober, pada hari yang sama, lambung perahu  yang panjangnya 10 meter dipotong menjadi tiga bagian untuk kemudian dimasukkan ke kontainer. Pada 15 Oktober malam, tukang Perahu Rempah Anwar dan Sakaria dibantu tiga pelaut Asad Mana, Yahya dan Arif serta teknisi Muliadi. Proses penyusunan ulang perahu mulai dari lambung, haluan, buritan, atap, dan layarnya berlangsung selama tiga hari.

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memimpin ritual akhir sebagai penanda selesainya perahu. Dengan memahat “sanggilang baine” atau sanggar kemudi bagian bawah Perahu Rempah. “Dalam tradisi pelaut Mandar, tempat kemudi dan nakhoda adalah faktor penting dalam keselamatan pelayaran,” kata Ridwan kepada Anies. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  06 November 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/11/06/386677/Jejak-Rempah-Nusantara

 

Membaca Literasi Kopi Nusantara

Teguk selagi hangat agar sensor perasa bekerja maksimal.

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Aroma kopi Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua mampu memikat orang-orang untuk singgah di salah satu stand di Festival Indonesia Membaca, yang berlangsung 22-24 Oktober di Karawang, Jawa Barat. Penulis yang juga berprofesi sebagai barista, Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi nusantara.

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Faiz menyajikan kopi-kopi kualitas premium yang diproses secara natural. Tak sekedar meracik, tapi sang barista juga menjelaskan bagaimana rasa sebuah kopi sangat dipengaruhi tempat dimana kopi. Jadi meski semua jenisnya arabika, tapi rasa arabika yang ditanam di Gayo, Toraja, dan Baliem, pasti memiliki cita rasa yang berbeda.

Sambil menunggu airnya mendidih, Faiz menggili kopi dengan mesin grinder. Untuk 10-14 gram biji kopi, dibutuhkan 150 milliliter air. Kopi yang telah digiling dimasukkan ke dalam rockpresso—alat untuk memeras sari kopi—lalu siram dengan air yang telah dididihkan. Sebelum menuangkan air panas, air diamkan sejenak. Untuk suhu air, sang barista tampak begitu ketat, dia bahkan mengukur suhu air dengan termometer, setelah menunjukkan 95 derajat celcius, barulah dituang ke wadah rockpresso. Lagi-lagi didiamkan sejenak, lalu ditekan agar sari kopinya keluar.

Aroma sari kopi mulai terasa. Sebelum meminum, Faiz menganjurkan agar menghirup dan menikmati aromanya terlebih dahulu. “Kopi bisa menjadi aroma terapi bagi saraf kita,” ungkapnya. Selanjutnya bisa diminum. Untuk mendeteksi kekhasan rasa kopi, kumur sari kopi sebelum ditelan.“Kopi sebaiknya diteguk selagi hangat agar sensor perasa kita bekerja maksimal.”

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Untuk menikmati citarasa kopi, kata Faiz, sebaiknya jangan langsung diberi gula. Lalu bagi Anda yang sudah terbiasa dengan sajian kopi susu atau latte, sebaiknya gunakan susu jenis UHT.  Jangan kental manis, karena memiliki kadar asam, kurang cocok dengan arabika yang juga memiliki kadar asam yang tinggi.

***

Sejak April lalu, Faiz yang juga pustakawan dan perintis Radio Buku, membuka Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”—nama yang diambil dari artefak pers Indonesia di kawasan Yogyakarta yang tahun ini genap berusia satu abad.

Sebelum membuka kafe, Faiz sendiri sudah aktif bersama teman-teman di Komunitas Kopi Lover—sebuah komunitas pencinta kopi—para pencinta kopi ini membangun jaringan dalam bentuk komunitas yang sifatnya tidak mengikat. Bersama-sama para pecinta kopi di komunitas ini, Faiz juga aktif memberikan edukasi kepada petani, terutama proses pasca panen. “Bagaimana kami mengajak mereka melakukan proses yang dianggap tepat yang baik.

Living Library. Foto/Irmawar

Living Library. Foto/Irmawar

Proses pengolahan kopi yang dikenal ada dua yakni hani dan natural proses. Hani adalah proses petik masak, cuci, pengupasan, dan penjemuran lagi yang dilakukan sekitar seminggu. Proses hani ini mampu mengurangi kadar air biji kopi hingga 40 persen. Sementara untuk kopi yang melalui natural proses, kadar airnya lebih rendah. Untuk natural proses, kata Faiz butuh waktu yang lebih lama yakni 2-3 tahun penyimpanan, lalu dijemur lagi. “Semakin kurang kadar airnya, maka kadar kafein kopi juga semakin rendah,” ungkap Faiz. Tak sekedar pengolahan, komunitas ini juga menganjurkan ke petani untuk memanen buah kopi kualitas cerry atau petik masak.

Selain literasi kopi yang disuguhkan oleh Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”, di stand ini, Anda juga bisa membaca buku-buku terbitan Komunitas Literasi Makassar, Inninawa dan Radio Buku, ada mading Pelangi, juga bisa menonton video dokumenter karya teman-teman di Kampung Halaman. Mengenal citarasa nusantara melalui kopi.  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

Kopi dan Kekuasaan

Keberadaan kopi di Nusantara sangat erat kaitannya dengan kekuasaan, terutama di kawasan Timur Indonesia. “Kopi dan kekuasaan sangat terlihat di wilayah Timur dibanding Jawa,” kata Faiz Ansoul, penulis dan pustakawan Radio Buku, saat ditemui di Festival Indonesia Membaca di Karawang, Jawa Barat, Jumat lalu.

Menurut Faiz yang juga berprofesi sebagai barista ini, di Jawa, seperti Yokyakarta, tanah-tanah dikuasai oleh keraton, sedangkan di luar Jawa, lahan kebanyakan dikuasai tuan tanah. Lahan kopi di Jawa juga tak sebanyak di Sumatera. “Rasa kopi sangat dipengaruhi tempatnya dimana ditanam,” ungkap Faiz. Karena setiap daerah punya citarasa kopi yang khas.

Di Sulawesi juga terkenal dengan kopi Arabika asal Toraja. Menurut peneliti genetik kopi dari Universitas Hasanuddin, Andi Ilham Latunra, di Sulawesi Selatan tepatnya di Enrekang terdapat areal purba yang dikenal sebagai tanah Lixisol Podzolik. Keberadaan perkebunan rakyat di Enrekang dan Toraja mulai dikenal sebagai penghasil kopi Kalo sejak 1750.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

Pada abad XIV, keberadaan perkebunan kopi Arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, poselen, tembikar dan kain, untuk dituker dengan kopi. Tahun 1887-1888, pasar kopi di Toraja didominasi Kerajaan Luwu. Mengakibatkan meletusnya Perang Kopi 1, dimana terjadi persaingan merebut sumber kopi oleh pedagang, hal ini menimbulkan banyak kerusakan di Toraja.

Pasukan kerajaan Bone dibawa pimpinan La Maddukelleng Petta Ponggawa memasuki Toraja pada 1898, mengakibatkan Perang Kopi II, karena masyarakat Toraja bersama Puang Tallu Lembangna melakukan perlawanan.

Tahun 1890, La Tanro Puang Mallajange ri Buttu Mario, Raja Agung Enrekang XVI menghentikan perang kopi dan mengatur tata niaga baru perdagangan kopi di Toraja dan Enrekang. Kerajaan Enrekang dan Kerajaan Tallu Lembangna takluk pada pasukan Belanda pada 1906. Penjajah kemudian membangun onderneming  di Bolokan dan Pedamaran. Selanjutnya, pada 1912, tata niaga kopi Toraja dilaksanakan oleh saudagar Cina, di antaranya Baba Pamarrasadan, Kwie Tjai Hind an Ing Goe An.

“Masih terdapat pohon induk Tipika yang berusia 250 tahun di Toraja dan Enrekang,” ungkap Ilham yang dihubungi terpisah. Kopi tipika alias Arabika Tipika dikenal juga sebagai Kopi Kalosi.(Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

 

Cara Riri Riza Menerjemahkan Athirah

Ini bukan film biografi, tapi tentang perempuan, tentang kekuatan seorang ibu.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Kadang-kadang ada hal yang sulit untuk dihindari, meski kita sudah berusaha menghindar dan berlari sejauh apapun. Ada bagian dari adegan-adegan hidup tak selalu seperti mau kita. Malam itu, Athirah bersama Ucu—panggilan Jusuf Kalla saat kecil—datang ke pesta pernikahan koleganya. Di pesta itu, terjadi pertemuan antara Athirah dengan suaminya Puang Haji Kalla yang datang bersama istri keduanya Adewiyah.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Begitulah sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Pengambilan gambar adegan ini dilakukan di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Sabtu lalu. Merupakan proses syuting terakhir di Makassar, sebelum berangkat ke Sengkang, Kabupaten Wajo dan Kota Parepare untuk syuting lanjutan.

Tapi ini film ini bukan soal poligami, atau biografi seorang Athirah. Ini tentang Emma’—sebutan ibu—bagaimana  perjuangan seorang perempuan yang juga seorang ibu, bagaimana perempuan survive dan menjadi pegangan keluarga. “Saya akan menceritakan secara personal sosok Emma’, melihatnya secara intim,” ungkap Riri di sela-sela syuting.

Menurut Riri, Emma’ atau Athirah adalah sosok yang punya sesuatu yang baik dari tokoh itu yang penting untuk diceritakan. Meski ini adalah kisah realis, tapi ada bagian-bagian tokoh utama,  terutama karakternya yang didramatisir. Riri menerjemahkan bagaimana sosok seorang Emma’ mengendalikan diri.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Menerjemahkan sosok Athirah bukanlah hal yang mudah bagi Cut Mini yang memerankan tokoh utama ini. “Sangat susah menjadi Athirah, bohongan saja cape’, bagaimana menjalaninya dalam kehidupan nyata,” kata Mini. Perempuan berdarah Aceh ini mengaku memerankan Emma’ itu adalah main dalam dan penuh perasaan. “Saya tidak bisa diam lama di satu titik untuk menjadi Athirah. Saat saya pakai bajunya, ego harus ditahan. Setelahnya saya akan kembali menjadi diri saya,” ungkap Mini yang ditemui di sela-sela syuting.

Tak hanya menjadi karakter tokoh yang bukan menjadi dirinya.  Bagi Mini, skenario film ini cukup berat, hingga membuat dia sering pulang dengan migren. Selain belajar menjadi sosok yang sabar seperti karakter tokoh utama, Mini juga harus belajar bahasa dengan dialeg Makassar.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Bagi Riri, salah satu hal yang diminati dalam membuat film adalah bahasanya. Bagaimana ia bisa mengeksplor bahasa-bahasa lokal dan menghadirkan pendekatan-pendekatan baru dalam bahasa.

Menyutradarai film Emma’ bagi Riri bukan sekedar menggarap film, kepada Tempo, Riri mengakun punya hubungan secara pribadi apa yang ingin dikatakan dalam film. Kisah kehidupan antara tahun 1950-1960, sesuatu dari Sulawesi Selatan yang ingin berkomunikasi lebih luas.

Lima tahun terakhir, sutradara asal Makassar ini kembali bekerja untuk kampung halamannya, memberikan nyawa bagi dunia perfilman di Makassar, salah satunya melalui program SeaScreen Academy. “Sekarang saya punya kesempatan untuk membuat film, tentang perempuan, tentang ibu,” ungkapnya.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Selain Cut Mini, ada Jajang C Noer yang berperan sebagai Hajja Kerra, ibunya Athirah. Lalu Puang Haji Kalla di perankan oleh Arman Dewarti, seorang pegiat film di Makassar. Sedangkan Adewiyah diperankan oleh Yuli Tarebbang, presenter salah satu televisi lokal. “Sekitar 20 persen tim film dari Makassar, 80 persen dari Jakarta, terutama tim teknisnya,” ungkap Riri. Asisten Sutradara 2 dan 3 juga dari Makassar yakni Andi Burhamzah dan Aditya Ahmad.

Rencananya film ini akan dirilis tahun depan. Dengan naskah skenario mencapai 70 halaman, diperkirakan durasi film sekitar 100 menit. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/17/375525/Cara-Riri-Riza-Menerjemahkan-Athirah

http://m.dev.tempo.co/read/news/2015/06/17/111675925/Ini-Cara-Riri-Riza-dan-Cut-Mini-Tafsir-Sosok-Ibu-Jusuf-Kalla

 

Pemikiran Semesta Karaeng Pattingalloang

Makassar International Writers Festival 2015

Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat.

Seorang ibu mencoba memperkenalkan sosok cendikiawan Makassar abad ke-17, Kareang Pattingalloang kepada anaknya. Bersama anaknya, sang ibu mendatangani sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Pattingalloang. Cuaca yang cukup cerah menemani perjalanan mereka ke makam Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Tak berhenti disitu, sang ibu juga mengajak putranya ke museum Karaeng Pattingalloang yang terletak di Benteng Somba Opu.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Adegan ini membawa saya ke masa 20 tahun lalu, dimana saya hanya mengenal Karaeng Pattingalloang sebagai nama pasukan yang  tersemat di seragam pramuka saya. Seperti anak itu, saya pun tak cukup kenal sosok Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654) yang menguasai banyak bahasa asing.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo IV yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang. Sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, menyukai ilmu sains dan belajar secara otodidak, serta update akan temuan-temuan terbaru dunia.  Seorang misionaris Katholik, Alexander Rhodes, pada 1646 menulis “Karaeng Pattingalloang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat…”.

Siapa Karaeng Pattingalloang akan diceritakan secara singkat dalam film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Film berdurasi sekitar 15 menit ini akan ditayangkan saat pembukaan Makassar International Writers Festival 2015, malam ini di Fort Rotterdam. Film garapan Andi Burhamzah ini diproduksi oleh Timur Pictures bekerjasama Rumata’ Art Space atas dukungan Bosowa Foundation.

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

“Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat,” kata Riri Riza, produser film pendek Patingalloang, yang dihubungi Senin lalu. Memproduksi video pendek dari subjek utama yang menjadi tema festival sudah menjadi ciki MIWF setiap tahun.

Setiap tahun, MIWF akan menghadirkan sosok-sosok tokoh inspirasi asal Sulawesi Selatan. Tahun lalu ada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang lurus dan tegas. Tahun sebelumnya ada AM Dg Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar. Tahun 2012, almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada almarhum Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF pertama tahun 2011 lalu.

Pendiri dan Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, tahun ini kami memilih Kareang Pattingalloang  sebagai tokoh dengan tema pengetahuan dan semesta. “Tokoh yang ada dan tak banyak tahu,” ungkapnya dalam jumpa pers di Kafe Mama Bau Mangga, kemarin.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Siapa dan bagaimana kiprah sosok Karaeng Pattingalloang akan dikupas lebih mendalam dalam seminar “Karaeng Pattingalloang : Knowledge & Universe”, Kamis besok di Auditorium Aksa Mahmud. Dengan pembicara Nirwan Ahmad Arsuka, JJ Rizal, dan budayawan Sulawesi Selatan, Alwy Rachman.

Kurator MIWF, Aslan Abidin yang ditemui secara terpisah mengatakan momen ini bisa menjadi langkah awal untuk menelusuri kapasitas intelektual Pattingalloang. “Dari catatan yang akan, Pattingalloang disebut tertarik ilmu pengetahuan, lalu kenapa karakter dan semangat intelektualnya tidak menurun ke masyarakat Sulawesi Selatan.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/03/374260/Pemikiran-Semesta-Karaeng-Pattingalloang

Melahirkan Perahu Pustaka

Makassar International Writers Festival 2015

Menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau di pesisir Sulawesi dan Kalimantan.

Semua berawal dari obrolan dunia maya antara Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin, Kamaruddin Azis, dan Anwar Jimpe Rachman. Tepatnya sekitar dua bulan lalu, Nirwan mengusulkan tentang Perahu Pustaka. “Urusan pembuatan perahu, pelayaran hingga pengelolaan saya yang tangani. Kak Nirwan bantu mencarikan pendanaan pembuatan perahu,” kata Ridwan, Pustakawan Perahu Pustaka kepada Tempo, Senin lalu.

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Penulis dan pengamat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan usul itu muncul karena melihat masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Saya sering ketakutan ketika bertemu anak-anak, mereka tidak bisa bercerita dan mimpi. Padahal kalau mereka membaca, mereka bisa menjelaskan dunia mereka dan mungkin punya mimpi yang lain,” ungkapnya dalam sesi Passion in Action, Makassar International Writers Festival, yang digelar di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, kemarin.

Sekitar pukul 07.00 Wita, Rabu kemarin, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh di dermaga depan Fort Rotterdam, Makassar. Ini adalah pelayaran perdana dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang ditempuh selama 14 jam perjalanan mengarungi lautan di selat Makassar. Menurut Ridwan yang juga peneliti maritime dan kelautan Mandar, perkiraan kecepatan kapal mencapai 7-8 knot atau 8 mil per jam.

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka adalah jenis perahu lambung lebar yang dikenal sebagai baqgo oleh orang Mandar dan pattorani oleh orang Makassar. kata Ridwan, jenis perahu ini sudah jarang digunakan karena dari segi hidrodinamis, perahu ini tidak laju. Tapi dahulu disukai karena bisa memuat banyak barang, berbeda dengan jenis phinisi.

Dahulu, nelayan mencari teripang ke Australia dengan kapal baqgo, orang Makassar sendiri menggunakannya untuk mencari ikan terbang. Kelebihan lainnya, kata Ridwan karena perahu ini relatif stabil dan bisa masuk ke sungai. Menurutnya, sampai tahun 80-an, jenis kapal ini masih banyak di Mandar. “Sekarang sudah jarang, tapi saya pernah melihat di Mandar, Bira dan Galesong.”

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Dalam budaya adat Mandar, perahu itu serupa anak. Karenanya, kata Ridwan, saat proses awal pembuatan perahu dipakai simbol-simbol kesuburan yang identik dengan hubungan suami-istri. “Kayu lunas disentuhkan ke putting susu tukang sebagai simbol disusui. Lalu saat penyambungan lunas, ada pemeran laki-laki dan juga perempuan. Saat memasukkan lunas, terlebih dahulu dilumuri dengan kelapa dan air yang sebelumnya direndam emas, ini simbol sperma,” jelas Ridwan.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

***

Adapun penggunaan nama Pattingalloang, kata Ridwan, sebagai pengingat adanya hubungan antara Mandar dan Makassar dalam sejarah kemaritiman. Dan kebetulan ada momen MIWF yang juga mengangkat tokoh inspirasi Karaeng Pattingalloang. “Dalam masa pembuatan perahu, kemudian ada ide memperkenalkan Perahu Pustaka di ajang MIWF 2015 ini,” ungkap Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang rencananya akan digunakan untuk menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau yang berada di pesisir Sulawesi dan Kalimantan. Kapal ini diperkirakan mampu memuat ribu-10 ribu buku. “Kebanyakan buku anak-anak, karena targetnya memang anak-anak pesisir,” ungkap Ridwan yang memilih resign sebagai jurnalis untuk lebih fokus mengurus Perahu Pustaka ini.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Selain perpustakaan, kata Ridwan, Perahu Pustaka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar teknik-teknik pelayaran tradisional. Salah satu peserta diskusi di Unhas, kemarin, siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian studi di Perahu Pustaka. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  04 Juni 2015)

 

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/04/374352/Melahirkan-Perahu-Pustaka

 

Perempuan yang Menenangkan Rindu

Bait-bait puisi Aan dengan ilustrasi Emte tampak saling menguatkan satu sama lain.

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

“Aku tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka…”. Selarik kalimat yang membuka puisi berjudul Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia. Barangkali ketidakpercayaan M Aan Mansyur punya alasan kuat. “Saya tak punya foto keluarga,” ungkapnya disela-sela peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Melihat Api Bekerja adalah sebuah kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Ada 54 puisi Aan yang ditemani 60 gambar Emte. Perpaduan bait-bait puisi dengan gambarnya tampak saling menguatkan satu sama lain. Padahal mereka hanya bertemu di dunia maya. Pertemuan fisik keduanya baru terjadi pada peluncuran kali ini.

Puisi dan ilustrasi yang saling menguatkan terlihat pada frame foto keluarga. Di sana, tampak sebuah keluarga dengan pakaian-pakaian modern.  Tapi, seperti kata Aan dalam puisinya, bahwa tidak ada yang mampu mereka lakukan selain berpura-pura. Emte menggambarkan anggota keluarga itu adalah manusia-manusia tanpa wajah dengan kepala yang menguap. Sebuah gambaran yang mengharukan.

Foto keluarga adalah salah satu ilustrasi favorit Aan, karena menggambarkan serupa keluarganya. Dia tidak pernah bisa memiliki foto keluarga, karena anggota keluarganya tidak pernah berkumpul lengkap. Jika foto keluarga adalah sebuah simbol kebahagian, maka ada benarnya jika Aan menganggap kebahagiaan sebagai sebuah kejahatan. “Kebahagian itu berbahaya sekali.”

“…Alasan utama mereka bahagia adalah tidak peduli. Mereka  tidak mau tahu kau masih punya alasan lain/ Mereka punya berlembar-lembar foto keluarga yang penuh hal tiruan.”

Sebaliknya, bagi Emte, Menenangkan Rindu adalah puisi favoritnya.  Emte menggambarkan menenangkan rindu adalah sosok perempuan yang tampak dari belakang dengan kedua tangannya saling berpegangan. Emte banyak menggunakan perempuan untuk mendampingi puisi-puisi Aan. “Puisi Aan itu naluriah banget, makanya banyak perempuan,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Saat membaca puisi Aan, Emte sering kali menemukan dirinya seperti sedang berbicara dengan seseorang dan itu perempuan.  Emte juga menemukan banyak kemarahan.  Dari 60 gambar, hanya 42 karya ilustrasi yang dipajang di Edwin’s Galllery. Pameran akan berlangsung hingga 26 April mendatang.

Emte membuat ilustrasi lebih banyak dari jumlah puisi Aan yang hanya 54. Alasannya, sebab ada beberapa puisi yang melompat-lompat, sehingga Emte tak mampu menggambarkannya hanya dengan satu gambar, butuh beberapa gambar.  Misalnya puisi Menunggu Perayaan, Senja Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam, Hantu Penyanyi, dan Mengunjungi Ambon, masing-masing dengan dua puisi.

Ada juga satu puisi yang digambarkan dengan tiga ilustrasi yakni Mengunjungi Museum, Ketika, Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir Ini Sebagai Dirinya. Bahkan puisi Seorang Lelaki dan Bintang-Bintang yang Hidup dalam Jasnya, Emte menggambarkannya dengan empat ilustrasi. “Ada rasa penasaran yang membuat saya bersemangat,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Emte adalah ilustrator dan desainer grafis freelence yang terkenal selalu bermain warna. Tapi kali ini kita melihat warna berbeda dari Emte, hanya putih-coklat. “Saat ini saya sedang memasuki fase dua warna, dan kebetulan mengerjakan buku ini,” ungkapnya. Tapi percayalah, bahwa warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus.

Menurut Denny, salah satu pengunjung menilai bahasa yang diungkapkan melalui ilustrasinya sangat jelas, apalagi dengan permainan detail yang tampaknya sengaja dibangun, sangat membantu pengunjung untuk menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Aan sendiri, melalui puisinya, ia memberikan pintu untuk orang menginterpretasikan karyanya, sebanyak-banyaknya. Seperti puisi Melihat Api Bekerja yang juga dipakai menjadi judul  buku ini. Berbeda dengan ilustrasi Emte yang memilih dua warna, puisi Aan justru mewakili banyak warna. Tentang kekasih, ketergesa-gesaan, kemarahan. Aan mengaku melalui karyanya ini, dia secara tidak langsung mewakili kemarahan ibunya, kemarahan bapaknya, kemarahan tentang masalah publik.

Di ajang ini, Aan juga mengungkapkan keheranannya pada orang-orang Jakarta yang tiap hari mengeluhkan tentang kemacetam, tapi dia tak menemukan satupun karya sastra yang menuliskannya. Salah satu puisinya di buku ini, berbicara tentang kemacetan Jakarta.

Bagi Aan, tulisan itu bagian dari lapisan. Penyair asal Makassar ini sengaja tak menerahkan tahun untuk menyembunyikan sejumlah lapisan-lapisan. “Banyak puisi di buku ini yang menunggu teman-temannya. Ada yang saya buat sejak tahun 2007,” ungkapnya.

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Tak hanya menjadi tempat bersembunyi. Bagi Aan, puisi adalah alat untuk berkomunikasi dengan ibunya. Setiap kali menelpon, Aan selalu membacakan puisi barunya kepada sang ibu. Jika dalam dua pekan tak ada komunikasi, sang ibu pasti menelpon dan bertanya, apakah tak ada puisi baru yang hendak dia bacakan. “Begitulah ibu saya dia tak pernah mau bilang rindu,” kata Aan. Dia  perempuan yang mampu menenangkan rindu. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 April 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/04/17/370571/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

http://www.tempo.co/read/news/2015/04/18/114658632/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

 

Memori Penghujung Musim Panas di Puncak Fuji

Bagi warga Jepang, mendaki Fuji adalah bagian dari wisata.

Malam berselimut kabut, ditemani gelap, dingin dan gigil. Hujan mengiringi langkah kami berlima, saat bertolak dari Stasiun 5 rute Yoshida, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Penghujung musim panas, September lalu, kami mencoba menaklukkan puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yakni 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebelum mendaki, kami harus membayar restribusi 1.000 Yen atau Rp 115 ribu per orang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Jaket dan mantel membalut tubuh kami, tak ketinggalan headlamp yang siaga di kepala masing-masing. Gelap betul-betul menyelimuti pandangan, tanpa cahaya headlamp, hanya gulita yang kami temukan. Jangankan panorama, bulan dan bintang-bintang pun bersembunyi pada malam. Gelap membuat kami betul-betul tergantung pada cahaya untuk menuntun kami mengikuti jejak jalur pendakian.

Baru sekitar 500 meter kami berjalan menikmati dingin, salah satu teman langsung mengingatkan agar kami tak berjalan di tepian. Tanah berpasir sangat rawan longsor. Setelah melalui Stasiun 6 yang merupakan pusat bimbingan keselamatan. Medan pendakian menanti. Saatnya untuk mengatur pernafasan. Setiap kali menghirup dan melepas udara, maka mulut akan mengepulkan asap. Salah satu sensasi dari udara dingin. Tapi segar memenuhi paru-paru dan pikiran ini.

Dari kejauhan, kerlap-kerlip deretan cahaya memanjakan mata. Memberikan semangat untuk terus mendaki jalan yang semakin terjal. Semula saya mengira, itu adalah cahaya-cahaya tenda para pendaki. Ternyata, cahaya itu adalah deretan pondok penginapan. Hal berbeda yang saya temukan, saat mendaki gunung di Indonesia. Di Fuji, nyaris tak ada ruang untuk membangun tenda.

Sejumlah pondok yang tadi tampak hanya berupa cahaya, kami temukan saat mendekati Stasiun 7. Pondok ini menjual berbagai kebutuhan para pendaki, seperti tongkat, mantel, air minum, makanan. Kebanyakan, pendaki sudah membeli tongkat sejak di tempat star, Stasiun 5. Tongkat ini tak hanya media untuk berbagi beban tubuh, tapi juga media untuk menorehkan stempel dari setiap stasiun. Setiap stempel, harus ditebus senilai 300 yen setara dengan Rp 35 ribu.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Dingin merasuki tulang-tulang dan mulai membekukan langkah kaki ini. Tapi semangat untuk mencapai puncak, serta pendaki-pendaki lain yang terus berjalan membuat saya mengumpulkan semangat melawan gigil dan menembus badai yang mengancam perjalan kami. Hujan kembali mengguyur, saat kami sampai di Stasiun 8, di ketinggian 3.100 meter. Badai membuat saya terpisah dari kelompok. Dingin yang sudah mencapai minus 3 derajat Celcius, membuat kami menghentikan perjalanan. Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendakian menuju puncak ditutup.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Rencana untuk menunggu sunrise di puncak Fuji batal. Kami memilih menginap di Gonsu-muro, tarif yang cukup sensasional, 7.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu per orang permalam. Dengan seharga itu, kami hanya mendapat ruang untuk berbaring seukuran tubuh beralaskan papan. Beruntung kami membawa sleeping bag untuk memberikan kehangatan. Kami hanya sempat istirahat dua jam, karena kami baru masuk pondok pukul 02.00 WIT dan harus segera check out pada pukul 05.00 WIT.

Alarm berbunyi, memaksa kami bangun dan melawan dingin. Kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian. Kabut pagi masih menyelimuti sebagian punggung gunung. Kami kembali menebus kabut dan melawan dingin. Tapi panas tubuh saya tak kuasa mengalahkan dingin, membuat wajah dan tangan saya membeku. Badai dan hujan terus menghadang perjalanan kami menuju puncak. Setelah berjalan empat jam, kami baru bisa tiba di puncak yang juga tetap berselimut kabut.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Cuaca yang kurang bersahabat, membuat kami tak bisa berlama-lama. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun segera turun gunung. Tubuh saya mulai “memprotes”, terutama kaki saya yang makin berat melangkah. Cedera kaki tak terhindarkan akibat keseleo. Agar sakit tak begitu terasa, saya terpaksa berjalan mundur.

***

Gunung Fuji memiliki daya tarik abadi dan dianggap sebagai lambang Jepang. Setiap tahun, banyak warga Jepang dan orang luar yang mendaki. Pemandangan Gunung Fuji konon mampu menenangkan jiwa manusia, dan konon telah menjadi objek ibadah selama berabad-abad tahun lalu. Sebelum abad ke-17, orang-orang dilarang menginjakkan kaki di Gunung Fuji. Khusus perempuan, tidak diizinkan melakukannya sampai awal abad ke-19.

Kini, siapapun diperbolehkan mendaki Gunung Fuji. Tak hanya orang dewasa, banyak anak-anak juga turut serta untuk mencapai puncak Fuji. Bahkan orang-orang tua renta sekalipun tampak masih sangat bersemangat untuk mencapai puncak. Saat musim panas, mendaki Fuji adalah bagian dari kegiatan wisata di Jepang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan Gunung Fuji telah menjadi subyek dari banyak sekali karya seni, salah satu yang sangat terkenal adalah Ukiyoe (kayu-blok cetakan) dari Katsushika Hokusai (1760-1849). Tercatat ada 36 karya yang tercipta hingga 1831.

Gunung Fuji bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satu yang mempengaruhi adalah musim. Konon, Gunung Fuji tidak pernah menunjukkan wajah yang sama dua kali. Wajahnya bisa ditentukan oleh lokasi, sudut, musim, dan waktu. (*)(Koran Tempo Makassar, edisi  5 Desember 2014)

Tips Menuju Puncak Fuji Dengan Aman

  • Kondisi suhu dan cuaca di gunung rentan terhadap perubahan drastis. Jadi sebaiknya tetap siapkan pakaian dan peralatan untuk cuaca dingin dan hujan.
  • Jika langit menunjukkan tanda-tanda petir, berlindunglah di salah satu pondok samapi badai berlalu.
  • Jangan menyimpang dari jalur hiking, sebab sangat berbahaya, tak hanya bisa membuat tersesat tapi juga bisa menyebabkan batu jatuh.
  • Pilihlah daerah aman untuk beristirahat, jangan berhenti di jalan sempit, waspadai batu jatuh.
  • Jika merasa kurang sehat, jangan paksakan untuk melanjutkan pendakian. Terutama jika merasa mengalami gejala penyakit ketinggian.
  • Jika Anda naik berkelompok, jangan terpisah dari kelompoknya.
  • Pastikan Anda membawa air minum yang cukup.
  • Siapkan bekal yang cukup, tapi jangan sampai bawaan Anda terlalu berat.
  • Siapkan uang receh, ketika menggunakan toilet, tinggalkanlah Rp 200 yen atau Rp 23 ribu untuk pemeliharaan toilet di Mt.Fuji.
  • Jangan meninggalkan sampah Anda.

(imhe)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/menikmati-tokyo-dari-ketinggian/

Menikmati Tokyo dari Ketinggian

Gratis di Tokyo Tocho. Yang bikin jantung berdesir adalah Tokyo Tower.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Berwisata ke Negeri Sakura, rasanya tak lengkap jika tak menikmati pemandangan Kota Tokyo dari ketinggian. Ada tiga tempat yang direkomendasikan yakni Tokyo Tower, Tokyo Sky Tree, dan Tokyo Metropolitan Government Building. Dalam kunjungan kali kedua saya ke Jepang, September lalu, saya memilih menikmati pemandangan malam dari Tokyo Metropolitan Government—salah satu gedung perkantoran pemerintah yang terletak di kawasan Shinjuku—yang biasa disebut Tokyo Tocho.

Kita dengan mudah mengenali, Tokyo Metropolitan Goverment tampak menonjol di antara gedung-gedung tinggi di Shinjuku. Desainnya yang khas menghadirkan suasana, serasa kami sedang berada dalam film-film fiksi sains. Tempat yang asyik untuk bermain petak umpet. Tapi karena malam sudah cukup larut, kami tiba pukul 20.30, artinya kami cuma punya waktu 2 jam 30 menit untuk bisa menikmati pemandangan malam Tokyo dari ketinggian. Waktu buka observatory mulai 09.30-23.00.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Beruntung, malam itu, antrian tak begitu panjang. Untuk mencapai tempat observasi di lantai 45, kami naik lift dari lantai 1. Sebelum masuk lift, ada petugas yang mengatur dan memeriksa setiap pengunjung. Seorang petugas perempuan juga menemani saat kami melesat ke ketinggian dengan lift. Sesampai di tempat observasi, petugas akan mengarahkan kami, agar tidak mengganggu pengunjung lain yang hendak turun. Tak hanya sigap, para petugasnya juga ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung.

Salah satu alasan saya memilih Tokyo Metropolitan Government, karena pengunjung tak dipungut biaya alias gratis. Di lantai 45, terdapat temboshitsu—ruang berdinding kaca, dari sini kita bisa menikmati panorama Kota Tokyo dari ketinggian lebih dari 200 meter. Kita dapat memutari ruangan untuk menikmati pemandangan Tokyo selebar 360 derajat. Di arah timur laut, kita bisa melihat Tokyo Sky Tree dan Cocoon Tower dari Mode Gakuen. Kemudian di arah tenggara, kami bisa melihat keberadaan Tokyo Tower. Konon, jika hari cerah, kita bisa melihat Gunung Fuji yang berselimut salju dari arah barat.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Di tempat ini, kami bertemu banyak turis asing dan warga lokal, seperti kami, mereka tak sekedar menikmati pemandangan, tapi juga sibuk mengabadikannya dengan kamera dan ponsel. Jika lelah, lapar dan haus, di dalam temboshitsu terdapat kafe. Juga terdapat beberapa toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh.

Jika ingin melihat pemandangan yang lebih luas lagi, Anda bisa mendatangi Tokyo Sky Tree yang memiliki ketinggian 634 meter. Bangunan ini disebut-sebut sebagai gedung tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa yang memiliki ketinggian 829 meter. Landmark baru kota Tokyo ini dibangun 2008 lalu, konon proyek ini menghabiskan biaya hampir 40 miliar Yen atau setara dengan Rp 6,8 triliun.

Tokyo Sky Tree ini tampak sangat dekat dari kawasan Asakusa. Untuk bisa menikmati pemandangan dari atas, pengunjung terlebih dahulu harus membeli tiket di lantai 5. Untuk sampai ke Tembo Deck di ketinggian 350 meter, kita harus membayar tiket seharga 2.060 Yen atau Rp 236 ribu, lalu untuk sampai ke Tembo Galeria ada biaya tambahan 1.030 Yen atau Rp 118 ribu. Tapi karena budget terbatas, saya mengurunkan niat untuk naik lebih tinggi.

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Tower menawarkan biaya yang lebih murah, dimana biaya dibagi berdasarkan kategori usia. Untuk sampai pada lantai observasi utama di ketinggian 150 meter, biayanya 300-800 Yen atau setara dengan Rp 34 ribu- 92 ribu. Lalu untuk naik ke lantai observasi khusus di ketinggian 250 meter, harus menambah biaya 350-600 Yen atau Rp 40 ribu-69 ribu.

Hal yang mengasyikan dari Tokyo Tower, ada beberapa lantai di dek atas yang berupa kaca transparan. Sehingga perlu nyali yang cukup untuk melihat ke bawah. Atau jika ingin mencoba sensasi berbeda, merasakan angin bertiup sambil menikmati pemandangan Kota Tokyo dari atas, cobalah menggunakan tangga untuk sampai ke dek tengah di ketinggian 200 meter.

Andai gedung-gedung tinggi di Makassar juga menyiapkan layanan serupa. Sehingga masyarakat bisa melihat sisi lain pemandangan kotanya dari atas. Saya kira ada banyak gedung-gedung tinggi, di antaranya Menara Bosowa, Menara Phinisi, atau Tower Balai Kota Makassar. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

Jalan Jalur Kereta

Tokyo Metropolitan Government atau Tokyo Tocho terletak di kawasan Shinjuku. Stasiun terdekat adalah Stasiun JR Shinjuku, pilih pintu keluar di sebelah barat, dari sini Anda cukup perjalan kaki selama sepuluh menit. Tokyo Tocho juga bisa ditempuh jalan kaki dari Tochomae Stasiun, jika menggunakan Toei Oedo Line.

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Kemudian untuk sampai ke Tokyo Sky Tree di kawasan Oshiage, dari Shinjuku bisa menggunakan Oedo Line dan turun di stasiun Kuramae, selanjutnya pindah kereta ke jalur Asakusa, lalu Anda tinggal berjalan kaki sekitar lima menit. Kemudian dari Shibuya, akses kereta langsung menggunakan Akasuka Line dan Hanzomon Line.

Selanjutnya, Tokyo Tower, Anda bisa turun dibeberapa stasiun terdekat yakni Akabanebashi, Kamiyacho, Onarimon, Daimon, dan Hammamatsucho. Dari stasiun ini, Anda cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit.

Tokyo adalah salah satu kota yang terkenal dengan jalur keretanya yang rumit. Tapi Anda tak perlu khawatir, begitu mendarat di Bandara Udara Internasional Narita atau Haneda, jangan lupa mengambil peta jalur kereta yang disiapkan secara gratis. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

Merawat Tradisi di Asakusa

Meski dikepung oleh kehidupan yang serba modern, tapi masyarakat Tokyo tetap merawat tradisinya.

Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo. FOTO/Irmawar

Suasana riuh lalu lalang manusia menyambut, saat kami keluar dari stasiun subway di kawasan Asakusa, Tokyo, Jepang. Tempat ini adalah salah satu kawasan paling populer bagi wisatawan. Terdapat pintu gerbang besar Kaminarimon yang legendaris dan Kuil Sensoji—memiliki lampion terbesar di Tokyo.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pertengahan September lalu, beberapa jam sebelum terbang ke Indonesia, saya menyempatkan datang ke Asakusa. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini, kali pertama 2011 lalu. Bagi Anda yang suka belanja, menyusuri Jalan Nakamise menjadi hal menyenangkan. Sepanjang jalan, kurang lebih 500 meter ada banyak toko yang berjualan souvenir seperti yukata, kimono, baju kaos, gantungan kunci, makanan tradisional Jepang seperti Ningyoyaki (sejenis kue kacang merah). Konon, toko-toko ini sudah ada sejak abad 18, saat itu orang mulai diizinkan untuk berjualan berbagai macam barang untuk keperluan peziarah.

Asakusa adalah pusat hiburan di Tokyo. Pada masa Edo, daerah ini menjadi pusat pertunjukan teater Kabuki dan pertunjukan modern seperti bioskop. Saat perang Dunia II terjadi, kawasan ini musnah, hanya menyisakan Kuil Sensoji, yang kemudian dibangun ulang.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sebelum menjelajah kawasan kuil lebih jauh, bersama kawan saya dari Jambi. Menikmati es krim rasa anggur adalah pilihan paling tepat, menemani siang yang cukup panas. Untuk menikmati sebuah es krim berwarna anggur ini, kami harus menebusnya seharga 350 Yen atau setara dengan Rp 40 ribu. Saya kira harga yang pas untuk mendapatkan kesegaran buah anggur yang begitu lembut di lidah. Yummy.

Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo. Selain wisatawan asing, di tempat ini, kita bisa bertemu banyak warga Tokyo yang mengenakan kimono, mulai dari yang bermotif modern hingga tradisional. Banyak wisatawan yang tidak melewatkan untuk berfoto bersama perempuan-perempuan Jepang ini dengan latar Kuil Sensoji.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sensoji adalah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Di tempat ini, kita bisa melihat tradisi masih dirawat oleh masyarakat Jepang. Mereka yang datang tak sekedar berwisata, sebagian datang untuk beribadah. Kita bisa melihat serangkaian prosesi ibadah. Mulai dari mencuci tangan, mulut, bahkan ada yang meminum sumber air yang terdapat patung Sun Go Kung. Di dalam kuil utama, orang-orang berdoa, melempar koin, membakar lilin, serta mengambil ramalan. Dan saya sibuk mengambil gambar mereka menggunakan ponsel.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Setelah puas mengambil gambar, saya kembali menyusuri Kaminarimon Gate. Karena rasa haus kembali menyerang, sekarang giliran es krim teh hijau menjadi pilihan saya. Awalnya saya mengerutkan wajah, tapi lama-lama lidah saya terbiasa dengan rasa tehnya yang sangat kuat.

 

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Bagi Anda yang tidak cukup kuat menjelajahi Asakusa dengan berjalan kaki. Anda bisa menyewa Jinrikisha—becak berkapasitas dua orang yang ditarik oleh seorang lelaki. Harganya lumayan, saya sempat ditawari dengan harga 4500 Yen setara dengan Rp 500 ribu.

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Kegiatan merawat tradisi tak hanya saya temukan di Asakusa. Saban sore, begitu kelas di The National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS)—sebuah lembaga riset dan pendidikan pascasarjana milik pemerintah Jepang—tempat pelaksanaan Pertemuan Jurnalis Sains Asia. Saya selalu singgah Kediaman Nogi—salah satu aset budaya—konon tempat yang terletak di kawasan Akasaka, Tokyo ini adalah rumah seorang samurai. Sore itu, sebelum matahari terbenam, saya mendapati mereka menggelar upacara yang sepertinya hanya diikuti oleh anggota keluarga, jumlah mereka tak lebih dari sepuluh orang. Meski Tokyo adalah salah satu kota metropolitan, tapi di tengah kehidupan modern, mereka tetap merawat tradisinya. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  31 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

 

 

 

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.