Cara Riri Riza Menerjemahkan Athirah

Ini bukan film biografi, tapi tentang perempuan, tentang kekuatan seorang ibu.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Kadang-kadang ada hal yang sulit untuk dihindari, meski kita sudah berusaha menghindar dan berlari sejauh apapun. Ada bagian dari adegan-adegan hidup tak selalu seperti mau kita. Malam itu, Athirah bersama Ucu—panggilan Jusuf Kalla saat kecil—datang ke pesta pernikahan koleganya. Di pesta itu, terjadi pertemuan antara Athirah dengan suaminya Puang Haji Kalla yang datang bersama istri keduanya Adewiyah.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Begitulah sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Pengambilan gambar adegan ini dilakukan di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Sabtu lalu. Merupakan proses syuting terakhir di Makassar, sebelum berangkat ke Sengkang, Kabupaten Wajo dan Kota Parepare untuk syuting lanjutan.

Tapi ini film ini bukan soal poligami, atau biografi seorang Athirah. Ini tentang Emma’—sebutan ibu—bagaimana  perjuangan seorang perempuan yang juga seorang ibu, bagaimana perempuan survive dan menjadi pegangan keluarga. “Saya akan menceritakan secara personal sosok Emma’, melihatnya secara intim,” ungkap Riri di sela-sela syuting.

Menurut Riri, Emma’ atau Athirah adalah sosok yang punya sesuatu yang baik dari tokoh itu yang penting untuk diceritakan. Meski ini adalah kisah realis, tapi ada bagian-bagian tokoh utama,  terutama karakternya yang didramatisir. Riri menerjemahkan bagaimana sosok seorang Emma’ mengendalikan diri.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Menerjemahkan sosok Athirah bukanlah hal yang mudah bagi Cut Mini yang memerankan tokoh utama ini. “Sangat susah menjadi Athirah, bohongan saja cape’, bagaimana menjalaninya dalam kehidupan nyata,” kata Mini. Perempuan berdarah Aceh ini mengaku memerankan Emma’ itu adalah main dalam dan penuh perasaan. “Saya tidak bisa diam lama di satu titik untuk menjadi Athirah. Saat saya pakai bajunya, ego harus ditahan. Setelahnya saya akan kembali menjadi diri saya,” ungkap Mini yang ditemui di sela-sela syuting.

Tak hanya menjadi karakter tokoh yang bukan menjadi dirinya.  Bagi Mini, skenario film ini cukup berat, hingga membuat dia sering pulang dengan migren. Selain belajar menjadi sosok yang sabar seperti karakter tokoh utama, Mini juga harus belajar bahasa dengan dialeg Makassar.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Bagi Riri, salah satu hal yang diminati dalam membuat film adalah bahasanya. Bagaimana ia bisa mengeksplor bahasa-bahasa lokal dan menghadirkan pendekatan-pendekatan baru dalam bahasa.

Menyutradarai film Emma’ bagi Riri bukan sekedar menggarap film, kepada Tempo, Riri mengakun punya hubungan secara pribadi apa yang ingin dikatakan dalam film. Kisah kehidupan antara tahun 1950-1960, sesuatu dari Sulawesi Selatan yang ingin berkomunikasi lebih luas.

Lima tahun terakhir, sutradara asal Makassar ini kembali bekerja untuk kampung halamannya, memberikan nyawa bagi dunia perfilman di Makassar, salah satunya melalui program SeaScreen Academy. “Sekarang saya punya kesempatan untuk membuat film, tentang perempuan, tentang ibu,” ungkapnya.

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Sepenggal adegan film berjudul Emma’ garapan Riri Riza. Foto/Irmawar

Selain Cut Mini, ada Jajang C Noer yang berperan sebagai Hajja Kerra, ibunya Athirah. Lalu Puang Haji Kalla di perankan oleh Arman Dewarti, seorang pegiat film di Makassar. Sedangkan Adewiyah diperankan oleh Yuli Tarebbang, presenter salah satu televisi lokal. “Sekitar 20 persen tim film dari Makassar, 80 persen dari Jakarta, terutama tim teknisnya,” ungkap Riri. Asisten Sutradara 2 dan 3 juga dari Makassar yakni Andi Burhamzah dan Aditya Ahmad.

Rencananya film ini akan dirilis tahun depan. Dengan naskah skenario mencapai 70 halaman, diperkirakan durasi film sekitar 100 menit. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/17/375525/Cara-Riri-Riza-Menerjemahkan-Athirah

http://m.dev.tempo.co/read/news/2015/06/17/111675925/Ini-Cara-Riri-Riza-dan-Cut-Mini-Tafsir-Sosok-Ibu-Jusuf-Kalla

 

Pemikiran Semesta Karaeng Pattingalloang

Makassar International Writers Festival 2015

Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat.

Seorang ibu mencoba memperkenalkan sosok cendikiawan Makassar abad ke-17, Kareang Pattingalloang kepada anaknya. Bersama anaknya, sang ibu mendatangani sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Pattingalloang. Cuaca yang cukup cerah menemani perjalanan mereka ke makam Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Tak berhenti disitu, sang ibu juga mengajak putranya ke museum Karaeng Pattingalloang yang terletak di Benteng Somba Opu.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Adegan ini membawa saya ke masa 20 tahun lalu, dimana saya hanya mengenal Karaeng Pattingalloang sebagai nama pasukan yang  tersemat di seragam pramuka saya. Seperti anak itu, saya pun tak cukup kenal sosok Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654) yang menguasai banyak bahasa asing.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo IV yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang. Sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, menyukai ilmu sains dan belajar secara otodidak, serta update akan temuan-temuan terbaru dunia.  Seorang misionaris Katholik, Alexander Rhodes, pada 1646 menulis “Karaeng Pattingalloang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat…”.

Siapa Karaeng Pattingalloang akan diceritakan secara singkat dalam film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Film berdurasi sekitar 15 menit ini akan ditayangkan saat pembukaan Makassar International Writers Festival 2015, malam ini di Fort Rotterdam. Film garapan Andi Burhamzah ini diproduksi oleh Timur Pictures bekerjasama Rumata’ Art Space atas dukungan Bosowa Foundation.

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

“Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat,” kata Riri Riza, produser film pendek Patingalloang, yang dihubungi Senin lalu. Memproduksi video pendek dari subjek utama yang menjadi tema festival sudah menjadi ciki MIWF setiap tahun.

Setiap tahun, MIWF akan menghadirkan sosok-sosok tokoh inspirasi asal Sulawesi Selatan. Tahun lalu ada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang lurus dan tegas. Tahun sebelumnya ada AM Dg Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar. Tahun 2012, almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada almarhum Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF pertama tahun 2011 lalu.

Pendiri dan Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, tahun ini kami memilih Kareang Pattingalloang  sebagai tokoh dengan tema pengetahuan dan semesta. “Tokoh yang ada dan tak banyak tahu,” ungkapnya dalam jumpa pers di Kafe Mama Bau Mangga, kemarin.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Siapa dan bagaimana kiprah sosok Karaeng Pattingalloang akan dikupas lebih mendalam dalam seminar “Karaeng Pattingalloang : Knowledge & Universe”, Kamis besok di Auditorium Aksa Mahmud. Dengan pembicara Nirwan Ahmad Arsuka, JJ Rizal, dan budayawan Sulawesi Selatan, Alwy Rachman.

Kurator MIWF, Aslan Abidin yang ditemui secara terpisah mengatakan momen ini bisa menjadi langkah awal untuk menelusuri kapasitas intelektual Pattingalloang. “Dari catatan yang akan, Pattingalloang disebut tertarik ilmu pengetahuan, lalu kenapa karakter dan semangat intelektualnya tidak menurun ke masyarakat Sulawesi Selatan.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/03/374260/Pemikiran-Semesta-Karaeng-Pattingalloang

Melahirkan Perahu Pustaka

Makassar International Writers Festival 2015

Menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau di pesisir Sulawesi dan Kalimantan.

Semua berawal dari obrolan dunia maya antara Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin, Kamaruddin Azis, dan Anwar Jimpe Rachman. Tepatnya sekitar dua bulan lalu, Nirwan mengusulkan tentang Perahu Pustaka. “Urusan pembuatan perahu, pelayaran hingga pengelolaan saya yang tangani. Kak Nirwan bantu mencarikan pendanaan pembuatan perahu,” kata Ridwan, Pustakawan Perahu Pustaka kepada Tempo, Senin lalu.

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Penulis dan pengamat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan usul itu muncul karena melihat masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Saya sering ketakutan ketika bertemu anak-anak, mereka tidak bisa bercerita dan mimpi. Padahal kalau mereka membaca, mereka bisa menjelaskan dunia mereka dan mungkin punya mimpi yang lain,” ungkapnya dalam sesi Passion in Action, Makassar International Writers Festival, yang digelar di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, kemarin.

Sekitar pukul 07.00 Wita, Rabu kemarin, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh di dermaga depan Fort Rotterdam, Makassar. Ini adalah pelayaran perdana dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang ditempuh selama 14 jam perjalanan mengarungi lautan di selat Makassar. Menurut Ridwan yang juga peneliti maritime dan kelautan Mandar, perkiraan kecepatan kapal mencapai 7-8 knot atau 8 mil per jam.

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka adalah jenis perahu lambung lebar yang dikenal sebagai baqgo oleh orang Mandar dan pattorani oleh orang Makassar. kata Ridwan, jenis perahu ini sudah jarang digunakan karena dari segi hidrodinamis, perahu ini tidak laju. Tapi dahulu disukai karena bisa memuat banyak barang, berbeda dengan jenis phinisi.

Dahulu, nelayan mencari teripang ke Australia dengan kapal baqgo, orang Makassar sendiri menggunakannya untuk mencari ikan terbang. Kelebihan lainnya, kata Ridwan karena perahu ini relatif stabil dan bisa masuk ke sungai. Menurutnya, sampai tahun 80-an, jenis kapal ini masih banyak di Mandar. “Sekarang sudah jarang, tapi saya pernah melihat di Mandar, Bira dan Galesong.”

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Dalam budaya adat Mandar, perahu itu serupa anak. Karenanya, kata Ridwan, saat proses awal pembuatan perahu dipakai simbol-simbol kesuburan yang identik dengan hubungan suami-istri. “Kayu lunas disentuhkan ke putting susu tukang sebagai simbol disusui. Lalu saat penyambungan lunas, ada pemeran laki-laki dan juga perempuan. Saat memasukkan lunas, terlebih dahulu dilumuri dengan kelapa dan air yang sebelumnya direndam emas, ini simbol sperma,” jelas Ridwan.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

***

Adapun penggunaan nama Pattingalloang, kata Ridwan, sebagai pengingat adanya hubungan antara Mandar dan Makassar dalam sejarah kemaritiman. Dan kebetulan ada momen MIWF yang juga mengangkat tokoh inspirasi Karaeng Pattingalloang. “Dalam masa pembuatan perahu, kemudian ada ide memperkenalkan Perahu Pustaka di ajang MIWF 2015 ini,” ungkap Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang rencananya akan digunakan untuk menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau yang berada di pesisir Sulawesi dan Kalimantan. Kapal ini diperkirakan mampu memuat ribu-10 ribu buku. “Kebanyakan buku anak-anak, karena targetnya memang anak-anak pesisir,” ungkap Ridwan yang memilih resign sebagai jurnalis untuk lebih fokus mengurus Perahu Pustaka ini.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Selain perpustakaan, kata Ridwan, Perahu Pustaka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar teknik-teknik pelayaran tradisional. Salah satu peserta diskusi di Unhas, kemarin, siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian studi di Perahu Pustaka. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  04 Juni 2015)

 

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/04/374352/Melahirkan-Perahu-Pustaka

 

Perempuan yang Menenangkan Rindu

Bait-bait puisi Aan dengan ilustrasi Emte tampak saling menguatkan satu sama lain.

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

“Aku tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka…”. Selarik kalimat yang membuka puisi berjudul Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia. Barangkali ketidakpercayaan M Aan Mansyur punya alasan kuat. “Saya tak punya foto keluarga,” ungkapnya disela-sela peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Melihat Api Bekerja adalah sebuah kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Ada 54 puisi Aan yang ditemani 60 gambar Emte. Perpaduan bait-bait puisi dengan gambarnya tampak saling menguatkan satu sama lain. Padahal mereka hanya bertemu di dunia maya. Pertemuan fisik keduanya baru terjadi pada peluncuran kali ini.

Puisi dan ilustrasi yang saling menguatkan terlihat pada frame foto keluarga. Di sana, tampak sebuah keluarga dengan pakaian-pakaian modern.  Tapi, seperti kata Aan dalam puisinya, bahwa tidak ada yang mampu mereka lakukan selain berpura-pura. Emte menggambarkan anggota keluarga itu adalah manusia-manusia tanpa wajah dengan kepala yang menguap. Sebuah gambaran yang mengharukan.

Foto keluarga adalah salah satu ilustrasi favorit Aan, karena menggambarkan serupa keluarganya. Dia tidak pernah bisa memiliki foto keluarga, karena anggota keluarganya tidak pernah berkumpul lengkap. Jika foto keluarga adalah sebuah simbol kebahagian, maka ada benarnya jika Aan menganggap kebahagiaan sebagai sebuah kejahatan. “Kebahagian itu berbahaya sekali.”

“…Alasan utama mereka bahagia adalah tidak peduli. Mereka  tidak mau tahu kau masih punya alasan lain/ Mereka punya berlembar-lembar foto keluarga yang penuh hal tiruan.”

Sebaliknya, bagi Emte, Menenangkan Rindu adalah puisi favoritnya.  Emte menggambarkan menenangkan rindu adalah sosok perempuan yang tampak dari belakang dengan kedua tangannya saling berpegangan. Emte banyak menggunakan perempuan untuk mendampingi puisi-puisi Aan. “Puisi Aan itu naluriah banget, makanya banyak perempuan,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Saat membaca puisi Aan, Emte sering kali menemukan dirinya seperti sedang berbicara dengan seseorang dan itu perempuan.  Emte juga menemukan banyak kemarahan.  Dari 60 gambar, hanya 42 karya ilustrasi yang dipajang di Edwin’s Galllery. Pameran akan berlangsung hingga 26 April mendatang.

Emte membuat ilustrasi lebih banyak dari jumlah puisi Aan yang hanya 54. Alasannya, sebab ada beberapa puisi yang melompat-lompat, sehingga Emte tak mampu menggambarkannya hanya dengan satu gambar, butuh beberapa gambar.  Misalnya puisi Menunggu Perayaan, Senja Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam, Hantu Penyanyi, dan Mengunjungi Ambon, masing-masing dengan dua puisi.

Ada juga satu puisi yang digambarkan dengan tiga ilustrasi yakni Mengunjungi Museum, Ketika, Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir Ini Sebagai Dirinya. Bahkan puisi Seorang Lelaki dan Bintang-Bintang yang Hidup dalam Jasnya, Emte menggambarkannya dengan empat ilustrasi. “Ada rasa penasaran yang membuat saya bersemangat,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Emte adalah ilustrator dan desainer grafis freelence yang terkenal selalu bermain warna. Tapi kali ini kita melihat warna berbeda dari Emte, hanya putih-coklat. “Saat ini saya sedang memasuki fase dua warna, dan kebetulan mengerjakan buku ini,” ungkapnya. Tapi percayalah, bahwa warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus.

Menurut Denny, salah satu pengunjung menilai bahasa yang diungkapkan melalui ilustrasinya sangat jelas, apalagi dengan permainan detail yang tampaknya sengaja dibangun, sangat membantu pengunjung untuk menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Aan sendiri, melalui puisinya, ia memberikan pintu untuk orang menginterpretasikan karyanya, sebanyak-banyaknya. Seperti puisi Melihat Api Bekerja yang juga dipakai menjadi judul  buku ini. Berbeda dengan ilustrasi Emte yang memilih dua warna, puisi Aan justru mewakili banyak warna. Tentang kekasih, ketergesa-gesaan, kemarahan. Aan mengaku melalui karyanya ini, dia secara tidak langsung mewakili kemarahan ibunya, kemarahan bapaknya, kemarahan tentang masalah publik.

Di ajang ini, Aan juga mengungkapkan keheranannya pada orang-orang Jakarta yang tiap hari mengeluhkan tentang kemacetam, tapi dia tak menemukan satupun karya sastra yang menuliskannya. Salah satu puisinya di buku ini, berbicara tentang kemacetan Jakarta.

Bagi Aan, tulisan itu bagian dari lapisan. Penyair asal Makassar ini sengaja tak menerahkan tahun untuk menyembunyikan sejumlah lapisan-lapisan. “Banyak puisi di buku ini yang menunggu teman-temannya. Ada yang saya buat sejak tahun 2007,” ungkapnya.

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Tak hanya menjadi tempat bersembunyi. Bagi Aan, puisi adalah alat untuk berkomunikasi dengan ibunya. Setiap kali menelpon, Aan selalu membacakan puisi barunya kepada sang ibu. Jika dalam dua pekan tak ada komunikasi, sang ibu pasti menelpon dan bertanya, apakah tak ada puisi baru yang hendak dia bacakan. “Begitulah ibu saya dia tak pernah mau bilang rindu,” kata Aan. Dia  perempuan yang mampu menenangkan rindu. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 April 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/04/17/370571/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

http://www.tempo.co/read/news/2015/04/18/114658632/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

 

Memori Penghujung Musim Panas di Puncak Fuji

Bagi warga Jepang, mendaki Fuji adalah bagian dari wisata.

Malam berselimut kabut, ditemani gelap, dingin dan gigil. Hujan mengiringi langkah kami berlima, saat bertolak dari Stasiun 5 rute Yoshida, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Penghujung musim panas, September lalu, kami mencoba menaklukkan puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yakni 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebelum mendaki, kami harus membayar restribusi 1.000 Yen atau Rp 115 ribu per orang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Jaket dan mantel membalut tubuh kami, tak ketinggalan headlamp yang siaga di kepala masing-masing. Gelap betul-betul menyelimuti pandangan, tanpa cahaya headlamp, hanya gulita yang kami temukan. Jangankan panorama, bulan dan bintang-bintang pun bersembunyi pada malam. Gelap membuat kami betul-betul tergantung pada cahaya untuk menuntun kami mengikuti jejak jalur pendakian.

Baru sekitar 500 meter kami berjalan menikmati dingin, salah satu teman langsung mengingatkan agar kami tak berjalan di tepian. Tanah berpasir sangat rawan longsor. Setelah melalui Stasiun 6 yang merupakan pusat bimbingan keselamatan. Medan pendakian menanti. Saatnya untuk mengatur pernafasan. Setiap kali menghirup dan melepas udara, maka mulut akan mengepulkan asap. Salah satu sensasi dari udara dingin. Tapi segar memenuhi paru-paru dan pikiran ini.

Dari kejauhan, kerlap-kerlip deretan cahaya memanjakan mata. Memberikan semangat untuk terus mendaki jalan yang semakin terjal. Semula saya mengira, itu adalah cahaya-cahaya tenda para pendaki. Ternyata, cahaya itu adalah deretan pondok penginapan. Hal berbeda yang saya temukan, saat mendaki gunung di Indonesia. Di Fuji, nyaris tak ada ruang untuk membangun tenda.

Sejumlah pondok yang tadi tampak hanya berupa cahaya, kami temukan saat mendekati Stasiun 7. Pondok ini menjual berbagai kebutuhan para pendaki, seperti tongkat, mantel, air minum, makanan. Kebanyakan, pendaki sudah membeli tongkat sejak di tempat star, Stasiun 5. Tongkat ini tak hanya media untuk berbagi beban tubuh, tapi juga media untuk menorehkan stempel dari setiap stasiun. Setiap stempel, harus ditebus senilai 300 yen setara dengan Rp 35 ribu.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Dingin merasuki tulang-tulang dan mulai membekukan langkah kaki ini. Tapi semangat untuk mencapai puncak, serta pendaki-pendaki lain yang terus berjalan membuat saya mengumpulkan semangat melawan gigil dan menembus badai yang mengancam perjalan kami. Hujan kembali mengguyur, saat kami sampai di Stasiun 8, di ketinggian 3.100 meter. Badai membuat saya terpisah dari kelompok. Dingin yang sudah mencapai minus 3 derajat Celcius, membuat kami menghentikan perjalanan. Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendakian menuju puncak ditutup.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Rencana untuk menunggu sunrise di puncak Fuji batal. Kami memilih menginap di Gonsu-muro, tarif yang cukup sensasional, 7.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu per orang permalam. Dengan seharga itu, kami hanya mendapat ruang untuk berbaring seukuran tubuh beralaskan papan. Beruntung kami membawa sleeping bag untuk memberikan kehangatan. Kami hanya sempat istirahat dua jam, karena kami baru masuk pondok pukul 02.00 WIT dan harus segera check out pada pukul 05.00 WIT.

Alarm berbunyi, memaksa kami bangun dan melawan dingin. Kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian. Kabut pagi masih menyelimuti sebagian punggung gunung. Kami kembali menebus kabut dan melawan dingin. Tapi panas tubuh saya tak kuasa mengalahkan dingin, membuat wajah dan tangan saya membeku. Badai dan hujan terus menghadang perjalanan kami menuju puncak. Setelah berjalan empat jam, kami baru bisa tiba di puncak yang juga tetap berselimut kabut.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Cuaca yang kurang bersahabat, membuat kami tak bisa berlama-lama. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun segera turun gunung. Tubuh saya mulai “memprotes”, terutama kaki saya yang makin berat melangkah. Cedera kaki tak terhindarkan akibat keseleo. Agar sakit tak begitu terasa, saya terpaksa berjalan mundur.

***

Gunung Fuji memiliki daya tarik abadi dan dianggap sebagai lambang Jepang. Setiap tahun, banyak warga Jepang dan orang luar yang mendaki. Pemandangan Gunung Fuji konon mampu menenangkan jiwa manusia, dan konon telah menjadi objek ibadah selama berabad-abad tahun lalu. Sebelum abad ke-17, orang-orang dilarang menginjakkan kaki di Gunung Fuji. Khusus perempuan, tidak diizinkan melakukannya sampai awal abad ke-19.

Kini, siapapun diperbolehkan mendaki Gunung Fuji. Tak hanya orang dewasa, banyak anak-anak juga turut serta untuk mencapai puncak Fuji. Bahkan orang-orang tua renta sekalipun tampak masih sangat bersemangat untuk mencapai puncak. Saat musim panas, mendaki Fuji adalah bagian dari kegiatan wisata di Jepang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan Gunung Fuji telah menjadi subyek dari banyak sekali karya seni, salah satu yang sangat terkenal adalah Ukiyoe (kayu-blok cetakan) dari Katsushika Hokusai (1760-1849). Tercatat ada 36 karya yang tercipta hingga 1831.

Gunung Fuji bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satu yang mempengaruhi adalah musim. Konon, Gunung Fuji tidak pernah menunjukkan wajah yang sama dua kali. Wajahnya bisa ditentukan oleh lokasi, sudut, musim, dan waktu. (*)(Koran Tempo Makassar, edisi  5 Desember 2014)

Tips Menuju Puncak Fuji Dengan Aman

  • Kondisi suhu dan cuaca di gunung rentan terhadap perubahan drastis. Jadi sebaiknya tetap siapkan pakaian dan peralatan untuk cuaca dingin dan hujan.
  • Jika langit menunjukkan tanda-tanda petir, berlindunglah di salah satu pondok samapi badai berlalu.
  • Jangan menyimpang dari jalur hiking, sebab sangat berbahaya, tak hanya bisa membuat tersesat tapi juga bisa menyebabkan batu jatuh.
  • Pilihlah daerah aman untuk beristirahat, jangan berhenti di jalan sempit, waspadai batu jatuh.
  • Jika merasa kurang sehat, jangan paksakan untuk melanjutkan pendakian. Terutama jika merasa mengalami gejala penyakit ketinggian.
  • Jika Anda naik berkelompok, jangan terpisah dari kelompoknya.
  • Pastikan Anda membawa air minum yang cukup.
  • Siapkan bekal yang cukup, tapi jangan sampai bawaan Anda terlalu berat.
  • Siapkan uang receh, ketika menggunakan toilet, tinggalkanlah Rp 200 yen atau Rp 23 ribu untuk pemeliharaan toilet di Mt.Fuji.
  • Jangan meninggalkan sampah Anda.

(imhe)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/menikmati-tokyo-dari-ketinggian/

Menikmati Tokyo dari Ketinggian

Gratis di Tokyo Tocho. Yang bikin jantung berdesir adalah Tokyo Tower.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Berwisata ke Negeri Sakura, rasanya tak lengkap jika tak menikmati pemandangan Kota Tokyo dari ketinggian. Ada tiga tempat yang direkomendasikan yakni Tokyo Tower, Tokyo Sky Tree, dan Tokyo Metropolitan Government Building. Dalam kunjungan kali kedua saya ke Jepang, September lalu, saya memilih menikmati pemandangan malam dari Tokyo Metropolitan Government—salah satu gedung perkantoran pemerintah yang terletak di kawasan Shinjuku—yang biasa disebut Tokyo Tocho.

Kita dengan mudah mengenali, Tokyo Metropolitan Goverment tampak menonjol di antara gedung-gedung tinggi di Shinjuku. Desainnya yang khas menghadirkan suasana, serasa kami sedang berada dalam film-film fiksi sains. Tempat yang asyik untuk bermain petak umpet. Tapi karena malam sudah cukup larut, kami tiba pukul 20.30, artinya kami cuma punya waktu 2 jam 30 menit untuk bisa menikmati pemandangan malam Tokyo dari ketinggian. Waktu buka observatory mulai 09.30-23.00.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Beruntung, malam itu, antrian tak begitu panjang. Untuk mencapai tempat observasi di lantai 45, kami naik lift dari lantai 1. Sebelum masuk lift, ada petugas yang mengatur dan memeriksa setiap pengunjung. Seorang petugas perempuan juga menemani saat kami melesat ke ketinggian dengan lift. Sesampai di tempat observasi, petugas akan mengarahkan kami, agar tidak mengganggu pengunjung lain yang hendak turun. Tak hanya sigap, para petugasnya juga ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung.

Salah satu alasan saya memilih Tokyo Metropolitan Government, karena pengunjung tak dipungut biaya alias gratis. Di lantai 45, terdapat temboshitsu—ruang berdinding kaca, dari sini kita bisa menikmati panorama Kota Tokyo dari ketinggian lebih dari 200 meter. Kita dapat memutari ruangan untuk menikmati pemandangan Tokyo selebar 360 derajat. Di arah timur laut, kita bisa melihat Tokyo Sky Tree dan Cocoon Tower dari Mode Gakuen. Kemudian di arah tenggara, kami bisa melihat keberadaan Tokyo Tower. Konon, jika hari cerah, kita bisa melihat Gunung Fuji yang berselimut salju dari arah barat.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Di tempat ini, kami bertemu banyak turis asing dan warga lokal, seperti kami, mereka tak sekedar menikmati pemandangan, tapi juga sibuk mengabadikannya dengan kamera dan ponsel. Jika lelah, lapar dan haus, di dalam temboshitsu terdapat kafe. Juga terdapat beberapa toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh.

Jika ingin melihat pemandangan yang lebih luas lagi, Anda bisa mendatangi Tokyo Sky Tree yang memiliki ketinggian 634 meter. Bangunan ini disebut-sebut sebagai gedung tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa yang memiliki ketinggian 829 meter. Landmark baru kota Tokyo ini dibangun 2008 lalu, konon proyek ini menghabiskan biaya hampir 40 miliar Yen atau setara dengan Rp 6,8 triliun.

Tokyo Sky Tree ini tampak sangat dekat dari kawasan Asakusa. Untuk bisa menikmati pemandangan dari atas, pengunjung terlebih dahulu harus membeli tiket di lantai 5. Untuk sampai ke Tembo Deck di ketinggian 350 meter, kita harus membayar tiket seharga 2.060 Yen atau Rp 236 ribu, lalu untuk sampai ke Tembo Galeria ada biaya tambahan 1.030 Yen atau Rp 118 ribu. Tapi karena budget terbatas, saya mengurunkan niat untuk naik lebih tinggi.

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Tower menawarkan biaya yang lebih murah, dimana biaya dibagi berdasarkan kategori usia. Untuk sampai pada lantai observasi utama di ketinggian 150 meter, biayanya 300-800 Yen atau setara dengan Rp 34 ribu- 92 ribu. Lalu untuk naik ke lantai observasi khusus di ketinggian 250 meter, harus menambah biaya 350-600 Yen atau Rp 40 ribu-69 ribu.

Hal yang mengasyikan dari Tokyo Tower, ada beberapa lantai di dek atas yang berupa kaca transparan. Sehingga perlu nyali yang cukup untuk melihat ke bawah. Atau jika ingin mencoba sensasi berbeda, merasakan angin bertiup sambil menikmati pemandangan Kota Tokyo dari atas, cobalah menggunakan tangga untuk sampai ke dek tengah di ketinggian 200 meter.

Andai gedung-gedung tinggi di Makassar juga menyiapkan layanan serupa. Sehingga masyarakat bisa melihat sisi lain pemandangan kotanya dari atas. Saya kira ada banyak gedung-gedung tinggi, di antaranya Menara Bosowa, Menara Phinisi, atau Tower Balai Kota Makassar. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

Jalan Jalur Kereta

Tokyo Metropolitan Government atau Tokyo Tocho terletak di kawasan Shinjuku. Stasiun terdekat adalah Stasiun JR Shinjuku, pilih pintu keluar di sebelah barat, dari sini Anda cukup perjalan kaki selama sepuluh menit. Tokyo Tocho juga bisa ditempuh jalan kaki dari Tochomae Stasiun, jika menggunakan Toei Oedo Line.

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Kemudian untuk sampai ke Tokyo Sky Tree di kawasan Oshiage, dari Shinjuku bisa menggunakan Oedo Line dan turun di stasiun Kuramae, selanjutnya pindah kereta ke jalur Asakusa, lalu Anda tinggal berjalan kaki sekitar lima menit. Kemudian dari Shibuya, akses kereta langsung menggunakan Akasuka Line dan Hanzomon Line.

Selanjutnya, Tokyo Tower, Anda bisa turun dibeberapa stasiun terdekat yakni Akabanebashi, Kamiyacho, Onarimon, Daimon, dan Hammamatsucho. Dari stasiun ini, Anda cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit.

Tokyo adalah salah satu kota yang terkenal dengan jalur keretanya yang rumit. Tapi Anda tak perlu khawatir, begitu mendarat di Bandara Udara Internasional Narita atau Haneda, jangan lupa mengambil peta jalur kereta yang disiapkan secara gratis. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

Merawat Tradisi di Asakusa

Meski dikepung oleh kehidupan yang serba modern, tapi masyarakat Tokyo tetap merawat tradisinya.

Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo. FOTO/Irmawar

Suasana riuh lalu lalang manusia menyambut, saat kami keluar dari stasiun subway di kawasan Asakusa, Tokyo, Jepang. Tempat ini adalah salah satu kawasan paling populer bagi wisatawan. Terdapat pintu gerbang besar Kaminarimon yang legendaris dan Kuil Sensoji—memiliki lampion terbesar di Tokyo.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pertengahan September lalu, beberapa jam sebelum terbang ke Indonesia, saya menyempatkan datang ke Asakusa. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini, kali pertama 2011 lalu. Bagi Anda yang suka belanja, menyusuri Jalan Nakamise menjadi hal menyenangkan. Sepanjang jalan, kurang lebih 500 meter ada banyak toko yang berjualan souvenir seperti yukata, kimono, baju kaos, gantungan kunci, makanan tradisional Jepang seperti Ningyoyaki (sejenis kue kacang merah). Konon, toko-toko ini sudah ada sejak abad 18, saat itu orang mulai diizinkan untuk berjualan berbagai macam barang untuk keperluan peziarah.

Asakusa adalah pusat hiburan di Tokyo. Pada masa Edo, daerah ini menjadi pusat pertunjukan teater Kabuki dan pertunjukan modern seperti bioskop. Saat perang Dunia II terjadi, kawasan ini musnah, hanya menyisakan Kuil Sensoji, yang kemudian dibangun ulang.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sebelum menjelajah kawasan kuil lebih jauh, bersama kawan saya dari Jambi. Menikmati es krim rasa anggur adalah pilihan paling tepat, menemani siang yang cukup panas. Untuk menikmati sebuah es krim berwarna anggur ini, kami harus menebusnya seharga 350 Yen atau setara dengan Rp 40 ribu. Saya kira harga yang pas untuk mendapatkan kesegaran buah anggur yang begitu lembut di lidah. Yummy.

Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo. Selain wisatawan asing, di tempat ini, kita bisa bertemu banyak warga Tokyo yang mengenakan kimono, mulai dari yang bermotif modern hingga tradisional. Banyak wisatawan yang tidak melewatkan untuk berfoto bersama perempuan-perempuan Jepang ini dengan latar Kuil Sensoji.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sensoji adalah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Di tempat ini, kita bisa melihat tradisi masih dirawat oleh masyarakat Jepang. Mereka yang datang tak sekedar berwisata, sebagian datang untuk beribadah. Kita bisa melihat serangkaian prosesi ibadah. Mulai dari mencuci tangan, mulut, bahkan ada yang meminum sumber air yang terdapat patung Sun Go Kung. Di dalam kuil utama, orang-orang berdoa, melempar koin, membakar lilin, serta mengambil ramalan. Dan saya sibuk mengambil gambar mereka menggunakan ponsel.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Setelah puas mengambil gambar, saya kembali menyusuri Kaminarimon Gate. Karena rasa haus kembali menyerang, sekarang giliran es krim teh hijau menjadi pilihan saya. Awalnya saya mengerutkan wajah, tapi lama-lama lidah saya terbiasa dengan rasa tehnya yang sangat kuat.

 

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Bagi Anda yang tidak cukup kuat menjelajahi Asakusa dengan berjalan kaki. Anda bisa menyewa Jinrikisha—becak berkapasitas dua orang yang ditarik oleh seorang lelaki. Harganya lumayan, saya sempat ditawari dengan harga 4500 Yen setara dengan Rp 500 ribu.

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Kegiatan merawat tradisi tak hanya saya temukan di Asakusa. Saban sore, begitu kelas di The National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS)—sebuah lembaga riset dan pendidikan pascasarjana milik pemerintah Jepang—tempat pelaksanaan Pertemuan Jurnalis Sains Asia. Saya selalu singgah Kediaman Nogi—salah satu aset budaya—konon tempat yang terletak di kawasan Akasaka, Tokyo ini adalah rumah seorang samurai. Sore itu, sebelum matahari terbenam, saya mendapati mereka menggelar upacara yang sepertinya hanya diikuti oleh anggota keluarga, jumlah mereka tak lebih dari sepuluh orang. Meski Tokyo adalah salah satu kota metropolitan, tapi di tengah kehidupan modern, mereka tetap merawat tradisinya. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  31 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

 

 

 

Kota Sahabat Pejalan Kaki

Bukan hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga sangat mendukung kalangan disabled.

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Merasakan kenyamanan berjalan kaki adalah salah satu kemewahan yang saya temukan di Jepang, awal September lalu. Jalur khusus pejalan kaki akan kita temukan disemua sisi ruas jalan. Tak peduli jalan utama maupun jalan-jalan kecil. Setiap hari, berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap, menuju GRIPS—perguruan tinggi sekaligus lembaga kajian di Tokyo—tempat saya belajar, adalah hal yang menyenangkan. Meski menggunakan sepatu high heels, saya nyaris tak mengalami kesulitan.

 

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Di jalur khusus para pejalan kaki, kaki saya mendapatkan kemerdekaan melangkah. Di jalur ini, pejalan kaki mendapatkan prioritas utama. Jika ada kendaraan yang hendak melintas, mobil itu harus menunggu hingga tak ada lagi pejalan kaki yang melintas di jalur tersebut. Selama menunggu, pengendara mobil tidak akan membunyikan klakson atau meninggikan bunyi mesin kendaraannya.

Jalan-jalan di Tokyo dan kota-kota besar lain di Jepang, tak hanya ramah kepada pejalan kaki, tapi juga bagi orang-orang yang secara fisik memiliki keterbatasan. Pengguna kursi roda bisa mandiri melajukan kursinya tanpa bantuan orang lain, karena jalan-jalannya sangat mendukung. Seluruh fasilitas umum di Jepang sangat mendukung kalangan disabled. Tak hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga memungkinkan bagi orang cacat.

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya nyaman di jalan, di Tokyo saya juga menemukan keteraturan dan kenyamanan transportasi. Meski sistem keretanya tergolong rumit, tapi pemerintahnya berhasil mengintegrasikan sistem transportasi masalnya dengan kegiatan berjalan kaki.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Selama berada di Tokyo, sedikitnya dalam sehari, jika diakumulasikan, saya berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer. Hal yang belum tentu saya lakukan di Makassar, kecuali saat-saat tertentu khusus untuk berolahraga. Sistem transportasi, memaksa warganya untuk berjalan kaki ke stasiun. Jika jaraknya cukup jauh, warga Jepang biasanya akan menggunakan sepeda. Mungkin, karena banyak berjalan kaki, warga Jepang berumur panjang.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kebiasaan berjalan kaki bagi warga Jepang, membuat kota ini dijuluki kota sejuta pejalan kaki. Saya menyaksikan pemadangan ini dipersimpangan Shibuya, Tokyo. Di wilayah ini, kita akan menemukan kerumunan orang yang begitu banyak saat berjalan kaki dan mulai menyeberang. Sedikitnya ada delapan persimpangan saling silang. Yang akan tiba-tiba kosong, lalu hanya hitungan tiga menit akan dipenuhi lautan manusia. Jika Anda berjalan bersama teman, berhati-hatilah, sering kali kita akan terpisah karena banyak dan begitu cepatnya orang-orang berjalan. (*)

Antrian Foto di Patung Hachiko

Di antara saling silang keramaian jalan di Shibuya yang dipenuhi lautan manusia. Salah satu sudut yang juga ramai dikunjungi adalah tempat patung Hachiko berada. Hanya sekitar 30 meter dari persimpangan depalan Shibuya. Patung Hachiko adalah sebuah simbol kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan patung ini adalah sebuah kisah nyata. Dulu di stasiun Shibuya ini, Hachiko setiap hari akan bertemu tuannya Profesor Ueno di Universitas Tokyo. Hingga suatu hari di tahun 1925, sang majikan tidak pernah muncul karena sakit dan meninggal. Namun, Hachiko tetap setia datang dan menunggu selama sepuluh tahun hingga akhir tewas, tepatnya 8 maret 1935. Cerita Hachiko ini sangat terkenal, sehingga untuk berfoto saja, kita harus antri. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

Sekali Mandi di Haneda Rp 120 Ribu

Sekitar tujuh jam kemudian, pesawat yang menerbangkan kami dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, tiba di Bandara International Haneda, Tokyo. Malam yang sudah sangat larut membuat kami menunda perjalanan kami menuju Yodhida, titik awal pendakian menuju puncak Gunung Fuji. Satu-satunya pilihan saya dan teman-teman adalah tidur di bandara Haneda.

Tak hanya kami berlima, ada banyak penumpang yang memilih menginap di bandara malam itu. Dan hampir setiap malam, kursi ruang tunggu bandara disulap menjadi tempat tidur bagi para penumpang yang kemalaman. Pemandangan ini sepertinya sudah menjadi hal biasa, karena petugas sama sekali tak mengusik, bahkan tetap siaga 24 jam. jadi jangan khawatir terlelap tidur, dijamin barang-barang bawaan Anda juga akan aman.

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya kalangan backpacker seperti kami, kalangan eksekutif muda juga banyak yang memilih tidur di bandara. Bandara Haneda sepertinya memang sudah didesain, agar penumpang bisa menginap jika kemalaman. Lihatlah saja salah satu fasilitasnya, di bandara ini disiapkan shower rooms alias kamar mandi. Jadi jangan sekali-kali mandi di toilet, karena pasti akan kena denda.

Sekali mandi shower rooms, saya harus merogoh kocek 1.030 yen atau setara dengan Rp 118.450. Itupun, waktunya dibatasi hanya 30 menit. Jika lewat, meski semenit saja, akan didenda 540 yen. Baru kali ini saya mandi dengan bayaran semahal ini. Terpaksa saya lakukan, selain karena penasaran untuk mencoba dan mengetahui fasilitasnya, saya akan lebih memilih tidak sarapan daripada tidak mandi pagi. (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

Merah Anggur Menghias Fuefuki

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. Bisa beralih pink pada bulan April.

Harumnya anggur hadir di seluruh Kota Fuefuki, Prefektur Yamanashi, yang terletak di tengah-tengah Jepang. Merahnya anggur terlihat dimana-mana, bergelantungan di halaman-halaman rumah warga.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Sejak awal Agustus hingga pertengahan November mendatang adalah musim pemetikan anggur. Saanya bagi warga Jepang untuk menggelar pesta kebun anggur, seperti di kebun Tsu Ka Ha Ra, meski kesulitan berkomunikasi, kami mendapat jamuan yang sangat ramah. “Arigato gozaimasu”, kalimat yang paling sering saya ucapkan.

Akhir pekan seperti saat ini, warga Jepang memanfaatkan untuk liburan keluarga.Salah satu tempat favorit yang menjadi pilihan adalah kebun anggur. Seperti Watanabe yang datang bersama lima anggota keluarganya. Di kebun ini, setiap pengunjung bisa memetik anggur sendiri, lalu memakannya sambil menikmati teduhnya beratap rambatan ranting-ranting anggur.

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Untuk masuk ke kebun anggur, setiap orang harus membeli tiket terlebih dahulu di kawasan Misakanoen. Harga selembar tiket untuk anak-anak 450 yen-650 yen atau setara dengan Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Untuk orang dewasa 880-1.200 yen atau setara dengan Rp 92 ribu-Rp 138 ribu. Dengan tiket ini, kita bisa makan anggur sepuasnya di areal kebun dan tidak boleh dibawa pulang. Jika ingin menjadikannya oleh-oleh, harus membeli sendiri.

Hamparan kebun anggur memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Kota Fuefuki adalah penghasil buah anggur dan peach terbesar di Jepang. Di kota ini, kita dapat menikmati beragam jenis anggur seperti Kaiji, Kyohou, dan Konsu. Tak hanya dinikmati dalam keadaan segar, di Fuefuki, kita dapat menemukan banyak tempat pembuatan wine. Khusus untuk Wine Koshu yang biasanya mulai diproduksi pada bulan November.

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya memetik buah anggur dan menikmati manisnya yang segar. Santap siang kami kali ini ditemani dengan wine. Ini kali pertama saya meminum wine dengan jumlah cukup banyak, tapi saya tak perlu khawatir karena tidak akan memabukkan. Grape Rouge yang diproduksi di Fuefuki adalah wine tanpa alkohol. Maka jadilah saya menuangkan wine lagi ke cangkir saya.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Belum lagi musim anggur berakhir, buah kesemak juga mengeluarkan buahnya pada akhir September hingga awal November. Fuyugaki adalah salah satu jenis kesemak andalan, buahnya besar dan rasanya manis. Penasaran ingin mencobanya.

Sebelum musim anggur, awal Juli hingga akhir Agustus di Feufuki adalah musim pemetikan buah peach. Seperti pesta kebun anggur, saat musim peach berbuah juga digelar pesta kebun peach. Tarif di kawasan Misakanoen adalah 880 yen hingga 1.200 yen. Pada akhir tahun, kita dapat menikmati stroberi, makan sepuasnya di dalam rumah kaca hingga awal Mei.

Tak hanya terkenal sebagai penghasil anggur dan peach terbesar di Jepang. Fuefuki juga dikenal sebagai kampung permandian mata air panas. Air yang sangat panas keluar dari mata air dengan suhu mencapai 68 derajat celsius, dengan volume air yang banyak. Pada musim dingin, permandian air panas menjadi tempat untuk melepaskan lelah pikiran maupun fisik dengan berendam di permandian mata air panas ini.

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Sehingga sangat pantas jika Kota Fuefuki menjadi salah satu kampung impian nomor satu di Jepang. Pada muism mekarnya bunga di awal hingga pertengahan April, kita bisa menemukan separuh kota berwarna merah muda, bak permadani yang terbentang luas menutupi separuh kota.Warna merah muda dari bunga sakura dan peach atau momo. Saya hanya menikmati pemandangan merah muda ini melalui gambar, karena saya berada di sini pertengahan September. (Koran Tempo Makassar, edisi  12 September 2014)

Tubuh di Atas Manuskrip

Lukisan rusak itu bagian dari proses  dalam berkarya.

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Manusia berkepala singa itu berlutut, pandangannya fokus menatap sosok lelaki dengan mahkota di kepalanya. Sang lelaki tak peduli jika sedang diamati. Ia fokus menjaga menjaga keseimbangan tubuhnya. Posisinya jongkok dengan kaki jinjit dan tangan direntangkan ke samping. Di dada lelaki bertubuh kekar itu, bertengger seekor kupu-kupu.

Sosok manusia berkepala singa dan lelaki bermahkota ini saya temukan dalam lukisan yang terpajang di ruang makan. Masing-masing berjudul “Perburuan” dan “Kink of Butterfly”. Kedua lukisan ini dibuat oleh Zam Kamil pada tahun 2004 lalu. Berbeda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan kanvas polos, sarjana Jurusan Seni Rupa Murni di Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia ini memanfaatkan manuskrip jadi media lukisnya. Tak melulu huruf-huruf abjad, tapi manuskrip itu ada yang ditulis dengan huruf-huruf lontarak—huruf khas suku Bugis-Makassar.

Awal Desember lalu, salah satu dari seri manuskrip yang berjudul “Homo Hamini Lupus” turut dipamerkan dalam ajang Cross Border. Dalam lukisannya ini, Zam mencoba mengeksplorasi tubuh-tubuh manusia. Lima tubuh manusia yang berkelapa binatang—ayam, kambing, tikus, rusa, dan anjing—dan  dua manusia yang berkepala manusia tapi geraknya binatang. “Ini adalah parodi sipakatau—saling mengingatkan–,” ungkap lelaki kelahiran Soppeng, 5 Agustus 1969.

Lukisan yang dibuat 2002 lalu ini, mencoba menunjukkan jiwa-jiwa yang sakit, dimana nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan. Menurut sang pelukis, perkembangan peradaban manusia tidak diiringi dengan perkembangan mental serta kualitas kemanusiaan. Meski peradaban sudah canggih, tapi hukum rimba tetap terjadi, siapa yang kuat dia yang kenyang. Homo Hamini Lupus ini mencoba menunjukkan bahwa manusia hidup seperti ‘berkepala binatang’, tanpa pikiran dengan hanya nafsu yang membara.

Sang pelukis seolah berpesan, bahwa manusia harus mampu mengendalikan dan menahan diri. Dengan menutupi bagian kemaluan tubuh-tubuh bugil ini menggunakan selembar daun. Dari ruang seni rupa Makassar di Losari, “Homo Hamini Lupus” ini berpindah ke kamar tidur.

Masih di seri yang sama, setahun kemudian, Zam menyatukan 12 manuskrip di atas kanvas. Tiap manuskrip terdapat tubuh-tubuh manusia yang sedang mencari ketenangan. Lukisan yang dibuat 2003 ini berjudul “Mencari Pencerahan”.

Berbeda dengan empat lukisan sebelumnya, lukisan berjudul “East, Elegy and Energy” ini, tak tampak ada tulisan-tulisan manuskrip. Ternyata lukisan yang diperbaharui 2011 ini, pernah rusak, akhirnya, sang pelukis mencoba memperbaikinya, dengan terpaksa harus menutupi permukaan manuskripnya dengan cat putih. “Lukisan rusak itu bagian dari proses berkarya,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya di Kompleks IDI Tello, Rabu malam lalu.

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Sepotong kayu yang terbaring berselimutkan plastik menghentikan langkah saya. Kayu yang diletakkan di ruang perantara antara ruang tengah dan ruang makan, adalah hal yang tak biasa. Saat membuka selimutnya, saya mendapati tubuh-tubuh putih tanpa identitas. Hanya geraknya yang membedakan tujuh sosok tubuh manusia ini. “Saya bisa memanfaatkan apa saja,” ungkap Zam.

Kali ini, ayah dua anak ini menggunakan sepotong kayu jati tua sebagai media lukisnya. Meski menggunakan media kayu, tapi unsur manuskripnya tetap ada. Menjadi pemanis, seolah menceritakan gerak tubuh-tubuh di sampingnya.

Lukisan yang dibuat 2010 ini belum selesai, kata Kamil, kelak kayu ini akan ditambahkan kaki-kaki berukuran kecil dalam jumlah yang banyak untuk menyanggahnya. Kaki-kaki ini serupa ombak yang menyanggah perahu.  “Saat membuat karya ini, saya membayangkan, kayu ini menolak jadi perahu, sehingga sekarang ada di sini,” ungkap perupa yang baru setahun terakhir ini berdomisili di Makassar. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

***

Menghapus Wajah

Zam Kamil, perupa yang lahir dan besar di Makassar. Kesukaannya terhadap dunia seni terlihat dari mejanya yang penuh gambar. Setelah tiba di Makassar dari Soppeng, ia pun mencari tau melalui radia, dimana dia bisa belajar melukis. Saat itu ada yang menyarankannya ke Fort Rotterdam. Di tempat ini dia belajar dan sempat ikut pameran sekali. Suatu hari ia jalan-jalan ke Yogyakarta, dan tinggal didekat Institut Seni Indonesia. Di tempat ini, Zam sering membantu mahasiswa perupa, terkadang ia ikut kuliah, dari sinilah ia mulai bisa menandai karya yang baik dan tidak.

Ia tercatat sebagai sarjana Jurusan Seni Rupa Murni angkatan 1990. Ia memiliki gaya melukis yang unik. Memanfaatkan gesture tubuh dan menghadirkan ritme gerak, dan menghilangkan detil-detil figurnya. Tanpa atribut yang jelas, bahkan kadangkala tak jelas kelaminnya, apakah perempuan atau lelaki.

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Tubuh-tubuh tanpa atribut ini muncul dengan proses menghapus. “Setiap menemukan ide, langsung saya gambarkan dengan media apapun, setelahnya dituangkan di atas kanvas, seluruh simbol-simbol wajahnya dihapus,” jelas Zam. “Dari ada menjadi tidak ada.” Seperti sosok perempuan dalam keramaian yang gerak tubuhnya seolah-olah sedang bermain biola. “Sketsa awal ada biolanya, lalu saya hilangkan,” ungkapnya.

Menurut Zam, semakin sedikit coretan, maka semakin berhasil sang perupa. Salah satu yang irit coretan dan warna adalah lukisannya yang berjudul “White on White”, lukisan ini sudah menjadi milik orang lain.

Bermain-main dengan tubuh manusia, membuat Zam juga sering kali menghadirikan dirinya sendiri dalam beberapa karyanya. Dalam karyanya berjudul “Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me”. Bagi Zam, berkarya adalah bagian dari cara untuk menyampaikan harapan-harapan.

Zam sudah beberapa kali menggelar pameran tunggal, di antaranya tahun 1998 bertema “Terapung” di Leangleang Art Studio di Yogyakarta,  “Dance of Life” di Aryaseni Gallery Singapura pada 2005, dan pameran tunggal “Aphostrophe” di CG Art Space Plaza Indonesia Jakarta pada 2008. Ia juga ikut beberapa pameran penting seperti, Behind The Myth di Athena; Indonesian Art today di Verona, Italy dan Jerman; dan beberapa kali ikut serta dalam Singapore Art Fair. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/23/360355/Tubuh-di-Atas-Manuskrip

 

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.