Memori Penghujung Musim Panas di Puncak Fuji

Bagi warga Jepang, mendaki Fuji adalah bagian dari wisata.

Malam berselimut kabut, ditemani gelap, dingin dan gigil. Hujan mengiringi langkah kami berlima, saat bertolak dari Stasiun 5 rute Yoshida, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Penghujung musim panas, September lalu, kami mencoba menaklukkan puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yakni 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebelum mendaki, kami harus membayar restribusi 1.000 Yen atau Rp 115 ribu per orang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Jaket dan mantel membalut tubuh kami, tak ketinggalan headlamp yang siaga di kepala masing-masing. Gelap betul-betul menyelimuti pandangan, tanpa cahaya headlamp, hanya gulita yang kami temukan. Jangankan panorama, bulan dan bintang-bintang pun bersembunyi pada malam. Gelap membuat kami betul-betul tergantung pada cahaya untuk menuntun kami mengikuti jejak jalur pendakian.

Baru sekitar 500 meter kami berjalan menikmati dingin, salah satu teman langsung mengingatkan agar kami tak berjalan di tepian. Tanah berpasir sangat rawan longsor. Setelah melalui Stasiun 6 yang merupakan pusat bimbingan keselamatan. Medan pendakian menanti. Saatnya untuk mengatur pernafasan. Setiap kali menghirup dan melepas udara, maka mulut akan mengepulkan asap. Salah satu sensasi dari udara dingin. Tapi segar memenuhi paru-paru dan pikiran ini.

Dari kejauhan, kerlap-kerlip deretan cahaya memanjakan mata. Memberikan semangat untuk terus mendaki jalan yang semakin terjal. Semula saya mengira, itu adalah cahaya-cahaya tenda para pendaki. Ternyata, cahaya itu adalah deretan pondok penginapan. Hal berbeda yang saya temukan, saat mendaki gunung di Indonesia. Di Fuji, nyaris tak ada ruang untuk membangun tenda.

Sejumlah pondok yang tadi tampak hanya berupa cahaya, kami temukan saat mendekati Stasiun 7. Pondok ini menjual berbagai kebutuhan para pendaki, seperti tongkat, mantel, air minum, makanan. Kebanyakan, pendaki sudah membeli tongkat sejak di tempat star, Stasiun 5. Tongkat ini tak hanya media untuk berbagi beban tubuh, tapi juga media untuk menorehkan stempel dari setiap stasiun. Setiap stempel, harus ditebus senilai 300 yen setara dengan Rp 35 ribu.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Dingin merasuki tulang-tulang dan mulai membekukan langkah kaki ini. Tapi semangat untuk mencapai puncak, serta pendaki-pendaki lain yang terus berjalan membuat saya mengumpulkan semangat melawan gigil dan menembus badai yang mengancam perjalan kami. Hujan kembali mengguyur, saat kami sampai di Stasiun 8, di ketinggian 3.100 meter. Badai membuat saya terpisah dari kelompok. Dingin yang sudah mencapai minus 3 derajat Celcius, membuat kami menghentikan perjalanan. Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendakian menuju puncak ditutup.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Rencana untuk menunggu sunrise di puncak Fuji batal. Kami memilih menginap di Gonsu-muro, tarif yang cukup sensasional, 7.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu per orang permalam. Dengan seharga itu, kami hanya mendapat ruang untuk berbaring seukuran tubuh beralaskan papan. Beruntung kami membawa sleeping bag untuk memberikan kehangatan. Kami hanya sempat istirahat dua jam, karena kami baru masuk pondok pukul 02.00 WIT dan harus segera check out pada pukul 05.00 WIT.

Alarm berbunyi, memaksa kami bangun dan melawan dingin. Kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian. Kabut pagi masih menyelimuti sebagian punggung gunung. Kami kembali menebus kabut dan melawan dingin. Tapi panas tubuh saya tak kuasa mengalahkan dingin, membuat wajah dan tangan saya membeku. Badai dan hujan terus menghadang perjalanan kami menuju puncak. Setelah berjalan empat jam, kami baru bisa tiba di puncak yang juga tetap berselimut kabut.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Cuaca yang kurang bersahabat, membuat kami tak bisa berlama-lama. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun segera turun gunung. Tubuh saya mulai “memprotes”, terutama kaki saya yang makin berat melangkah. Cedera kaki tak terhindarkan akibat keseleo. Agar sakit tak begitu terasa, saya terpaksa berjalan mundur.

***

Gunung Fuji memiliki daya tarik abadi dan dianggap sebagai lambang Jepang. Setiap tahun, banyak warga Jepang dan orang luar yang mendaki. Pemandangan Gunung Fuji konon mampu menenangkan jiwa manusia, dan konon telah menjadi objek ibadah selama berabad-abad tahun lalu. Sebelum abad ke-17, orang-orang dilarang menginjakkan kaki di Gunung Fuji. Khusus perempuan, tidak diizinkan melakukannya sampai awal abad ke-19.

Kini, siapapun diperbolehkan mendaki Gunung Fuji. Tak hanya orang dewasa, banyak anak-anak juga turut serta untuk mencapai puncak Fuji. Bahkan orang-orang tua renta sekalipun tampak masih sangat bersemangat untuk mencapai puncak. Saat musim panas, mendaki Fuji adalah bagian dari kegiatan wisata di Jepang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan Gunung Fuji telah menjadi subyek dari banyak sekali karya seni, salah satu yang sangat terkenal adalah Ukiyoe (kayu-blok cetakan) dari Katsushika Hokusai (1760-1849). Tercatat ada 36 karya yang tercipta hingga 1831.

Gunung Fuji bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satu yang mempengaruhi adalah musim. Konon, Gunung Fuji tidak pernah menunjukkan wajah yang sama dua kali. Wajahnya bisa ditentukan oleh lokasi, sudut, musim, dan waktu. (*)(Koran Tempo Makassar, edisi  5 Desember 2014)

Tips Menuju Puncak Fuji Dengan Aman

  • Kondisi suhu dan cuaca di gunung rentan terhadap perubahan drastis. Jadi sebaiknya tetap siapkan pakaian dan peralatan untuk cuaca dingin dan hujan.
  • Jika langit menunjukkan tanda-tanda petir, berlindunglah di salah satu pondok samapi badai berlalu.
  • Jangan menyimpang dari jalur hiking, sebab sangat berbahaya, tak hanya bisa membuat tersesat tapi juga bisa menyebabkan batu jatuh.
  • Pilihlah daerah aman untuk beristirahat, jangan berhenti di jalan sempit, waspadai batu jatuh.
  • Jika merasa kurang sehat, jangan paksakan untuk melanjutkan pendakian. Terutama jika merasa mengalami gejala penyakit ketinggian.
  • Jika Anda naik berkelompok, jangan terpisah dari kelompoknya.
  • Pastikan Anda membawa air minum yang cukup.
  • Siapkan bekal yang cukup, tapi jangan sampai bawaan Anda terlalu berat.
  • Siapkan uang receh, ketika menggunakan toilet, tinggalkanlah Rp 200 yen atau Rp 23 ribu untuk pemeliharaan toilet di Mt.Fuji.
  • Jangan meninggalkan sampah Anda.

(imhe)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/menikmati-tokyo-dari-ketinggian/

Menikmati Tokyo dari Ketinggian

Gratis di Tokyo Tocho. Yang bikin jantung berdesir adalah Tokyo Tower.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Berwisata ke Negeri Sakura, rasanya tak lengkap jika tak menikmati pemandangan Kota Tokyo dari ketinggian. Ada tiga tempat yang direkomendasikan yakni Tokyo Tower, Tokyo Sky Tree, dan Tokyo Metropolitan Government Building. Dalam kunjungan kali kedua saya ke Jepang, September lalu, saya memilih menikmati pemandangan malam dari Tokyo Metropolitan Government—salah satu gedung perkantoran pemerintah yang terletak di kawasan Shinjuku—yang biasa disebut Tokyo Tocho.

Kita dengan mudah mengenali, Tokyo Metropolitan Goverment tampak menonjol di antara gedung-gedung tinggi di Shinjuku. Desainnya yang khas menghadirkan suasana, serasa kami sedang berada dalam film-film fiksi sains. Tempat yang asyik untuk bermain petak umpet. Tapi karena malam sudah cukup larut, kami tiba pukul 20.30, artinya kami cuma punya waktu 2 jam 30 menit untuk bisa menikmati pemandangan malam Tokyo dari ketinggian. Waktu buka observatory mulai 09.30-23.00.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Beruntung, malam itu, antrian tak begitu panjang. Untuk mencapai tempat observasi di lantai 45, kami naik lift dari lantai 1. Sebelum masuk lift, ada petugas yang mengatur dan memeriksa setiap pengunjung. Seorang petugas perempuan juga menemani saat kami melesat ke ketinggian dengan lift. Sesampai di tempat observasi, petugas akan mengarahkan kami, agar tidak mengganggu pengunjung lain yang hendak turun. Tak hanya sigap, para petugasnya juga ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung.

Salah satu alasan saya memilih Tokyo Metropolitan Government, karena pengunjung tak dipungut biaya alias gratis. Di lantai 45, terdapat temboshitsu—ruang berdinding kaca, dari sini kita bisa menikmati panorama Kota Tokyo dari ketinggian lebih dari 200 meter. Kita dapat memutari ruangan untuk menikmati pemandangan Tokyo selebar 360 derajat. Di arah timur laut, kita bisa melihat Tokyo Sky Tree dan Cocoon Tower dari Mode Gakuen. Kemudian di arah tenggara, kami bisa melihat keberadaan Tokyo Tower. Konon, jika hari cerah, kita bisa melihat Gunung Fuji yang berselimut salju dari arah barat.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Di tempat ini, kami bertemu banyak turis asing dan warga lokal, seperti kami, mereka tak sekedar menikmati pemandangan, tapi juga sibuk mengabadikannya dengan kamera dan ponsel. Jika lelah, lapar dan haus, di dalam temboshitsu terdapat kafe. Juga terdapat beberapa toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh.

Jika ingin melihat pemandangan yang lebih luas lagi, Anda bisa mendatangi Tokyo Sky Tree yang memiliki ketinggian 634 meter. Bangunan ini disebut-sebut sebagai gedung tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa yang memiliki ketinggian 829 meter. Landmark baru kota Tokyo ini dibangun 2008 lalu, konon proyek ini menghabiskan biaya hampir 40 miliar Yen atau setara dengan Rp 6,8 triliun.

Tokyo Sky Tree ini tampak sangat dekat dari kawasan Asakusa. Untuk bisa menikmati pemandangan dari atas, pengunjung terlebih dahulu harus membeli tiket di lantai 5. Untuk sampai ke Tembo Deck di ketinggian 350 meter, kita harus membayar tiket seharga 2.060 Yen atau Rp 236 ribu, lalu untuk sampai ke Tembo Galeria ada biaya tambahan 1.030 Yen atau Rp 118 ribu. Tapi karena budget terbatas, saya mengurunkan niat untuk naik lebih tinggi.

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Tower menawarkan biaya yang lebih murah, dimana biaya dibagi berdasarkan kategori usia. Untuk sampai pada lantai observasi utama di ketinggian 150 meter, biayanya 300-800 Yen atau setara dengan Rp 34 ribu- 92 ribu. Lalu untuk naik ke lantai observasi khusus di ketinggian 250 meter, harus menambah biaya 350-600 Yen atau Rp 40 ribu-69 ribu.

Hal yang mengasyikan dari Tokyo Tower, ada beberapa lantai di dek atas yang berupa kaca transparan. Sehingga perlu nyali yang cukup untuk melihat ke bawah. Atau jika ingin mencoba sensasi berbeda, merasakan angin bertiup sambil menikmati pemandangan Kota Tokyo dari atas, cobalah menggunakan tangga untuk sampai ke dek tengah di ketinggian 200 meter.

Andai gedung-gedung tinggi di Makassar juga menyiapkan layanan serupa. Sehingga masyarakat bisa melihat sisi lain pemandangan kotanya dari atas. Saya kira ada banyak gedung-gedung tinggi, di antaranya Menara Bosowa, Menara Phinisi, atau Tower Balai Kota Makassar. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

Jalan Jalur Kereta

Tokyo Metropolitan Government atau Tokyo Tocho terletak di kawasan Shinjuku. Stasiun terdekat adalah Stasiun JR Shinjuku, pilih pintu keluar di sebelah barat, dari sini Anda cukup perjalan kaki selama sepuluh menit. Tokyo Tocho juga bisa ditempuh jalan kaki dari Tochomae Stasiun, jika menggunakan Toei Oedo Line.

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Kemudian untuk sampai ke Tokyo Sky Tree di kawasan Oshiage, dari Shinjuku bisa menggunakan Oedo Line dan turun di stasiun Kuramae, selanjutnya pindah kereta ke jalur Asakusa, lalu Anda tinggal berjalan kaki sekitar lima menit. Kemudian dari Shibuya, akses kereta langsung menggunakan Akasuka Line dan Hanzomon Line.

Selanjutnya, Tokyo Tower, Anda bisa turun dibeberapa stasiun terdekat yakni Akabanebashi, Kamiyacho, Onarimon, Daimon, dan Hammamatsucho. Dari stasiun ini, Anda cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit.

Tokyo adalah salah satu kota yang terkenal dengan jalur keretanya yang rumit. Tapi Anda tak perlu khawatir, begitu mendarat di Bandara Udara Internasional Narita atau Haneda, jangan lupa mengambil peta jalur kereta yang disiapkan secara gratis. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

Merawat Tradisi di Asakusa

Meski dikepung oleh kehidupan yang serba modern, tapi masyarakat Tokyo tetap merawat tradisinya.

Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo. FOTO/Irmawar

Suasana riuh lalu lalang manusia menyambut, saat kami keluar dari stasiun subway di kawasan Asakusa, Tokyo, Jepang. Tempat ini adalah salah satu kawasan paling populer bagi wisatawan. Terdapat pintu gerbang besar Kaminarimon yang legendaris dan Kuil Sensoji—memiliki lampion terbesar di Tokyo.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pertengahan September lalu, beberapa jam sebelum terbang ke Indonesia, saya menyempatkan datang ke Asakusa. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini, kali pertama 2011 lalu. Bagi Anda yang suka belanja, menyusuri Jalan Nakamise menjadi hal menyenangkan. Sepanjang jalan, kurang lebih 500 meter ada banyak toko yang berjualan souvenir seperti yukata, kimono, baju kaos, gantungan kunci, makanan tradisional Jepang seperti Ningyoyaki (sejenis kue kacang merah). Konon, toko-toko ini sudah ada sejak abad 18, saat itu orang mulai diizinkan untuk berjualan berbagai macam barang untuk keperluan peziarah.

Asakusa adalah pusat hiburan di Tokyo. Pada masa Edo, daerah ini menjadi pusat pertunjukan teater Kabuki dan pertunjukan modern seperti bioskop. Saat perang Dunia II terjadi, kawasan ini musnah, hanya menyisakan Kuil Sensoji, yang kemudian dibangun ulang.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sebelum menjelajah kawasan kuil lebih jauh, bersama kawan saya dari Jambi. Menikmati es krim rasa anggur adalah pilihan paling tepat, menemani siang yang cukup panas. Untuk menikmati sebuah es krim berwarna anggur ini, kami harus menebusnya seharga 350 Yen atau setara dengan Rp 40 ribu. Saya kira harga yang pas untuk mendapatkan kesegaran buah anggur yang begitu lembut di lidah. Yummy.

Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo. Selain wisatawan asing, di tempat ini, kita bisa bertemu banyak warga Tokyo yang mengenakan kimono, mulai dari yang bermotif modern hingga tradisional. Banyak wisatawan yang tidak melewatkan untuk berfoto bersama perempuan-perempuan Jepang ini dengan latar Kuil Sensoji.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sensoji adalah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Di tempat ini, kita bisa melihat tradisi masih dirawat oleh masyarakat Jepang. Mereka yang datang tak sekedar berwisata, sebagian datang untuk beribadah. Kita bisa melihat serangkaian prosesi ibadah. Mulai dari mencuci tangan, mulut, bahkan ada yang meminum sumber air yang terdapat patung Sun Go Kung. Di dalam kuil utama, orang-orang berdoa, melempar koin, membakar lilin, serta mengambil ramalan. Dan saya sibuk mengambil gambar mereka menggunakan ponsel.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Setelah puas mengambil gambar, saya kembali menyusuri Kaminarimon Gate. Karena rasa haus kembali menyerang, sekarang giliran es krim teh hijau menjadi pilihan saya. Awalnya saya mengerutkan wajah, tapi lama-lama lidah saya terbiasa dengan rasa tehnya yang sangat kuat.

 

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Bagi Anda yang tidak cukup kuat menjelajahi Asakusa dengan berjalan kaki. Anda bisa menyewa Jinrikisha—becak berkapasitas dua orang yang ditarik oleh seorang lelaki. Harganya lumayan, saya sempat ditawari dengan harga 4500 Yen setara dengan Rp 500 ribu.

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Kegiatan merawat tradisi tak hanya saya temukan di Asakusa. Saban sore, begitu kelas di The National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS)—sebuah lembaga riset dan pendidikan pascasarjana milik pemerintah Jepang—tempat pelaksanaan Pertemuan Jurnalis Sains Asia. Saya selalu singgah Kediaman Nogi—salah satu aset budaya—konon tempat yang terletak di kawasan Akasaka, Tokyo ini adalah rumah seorang samurai. Sore itu, sebelum matahari terbenam, saya mendapati mereka menggelar upacara yang sepertinya hanya diikuti oleh anggota keluarga, jumlah mereka tak lebih dari sepuluh orang. Meski Tokyo adalah salah satu kota metropolitan, tapi di tengah kehidupan modern, mereka tetap merawat tradisinya. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  31 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

 

 

 

Kota Sahabat Pejalan Kaki

Bukan hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga sangat mendukung kalangan disabled.

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Merasakan kenyamanan berjalan kaki adalah salah satu kemewahan yang saya temukan di Jepang, awal September lalu. Jalur khusus pejalan kaki akan kita temukan disemua sisi ruas jalan. Tak peduli jalan utama maupun jalan-jalan kecil. Setiap hari, berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap, menuju GRIPS—perguruan tinggi sekaligus lembaga kajian di Tokyo—tempat saya belajar, adalah hal yang menyenangkan. Meski menggunakan sepatu high heels, saya nyaris tak mengalami kesulitan.

 

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Di jalur khusus para pejalan kaki, kaki saya mendapatkan kemerdekaan melangkah. Di jalur ini, pejalan kaki mendapatkan prioritas utama. Jika ada kendaraan yang hendak melintas, mobil itu harus menunggu hingga tak ada lagi pejalan kaki yang melintas di jalur tersebut. Selama menunggu, pengendara mobil tidak akan membunyikan klakson atau meninggikan bunyi mesin kendaraannya.

Jalan-jalan di Tokyo dan kota-kota besar lain di Jepang, tak hanya ramah kepada pejalan kaki, tapi juga bagi orang-orang yang secara fisik memiliki keterbatasan. Pengguna kursi roda bisa mandiri melajukan kursinya tanpa bantuan orang lain, karena jalan-jalannya sangat mendukung. Seluruh fasilitas umum di Jepang sangat mendukung kalangan disabled. Tak hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga memungkinkan bagi orang cacat.

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya nyaman di jalan, di Tokyo saya juga menemukan keteraturan dan kenyamanan transportasi. Meski sistem keretanya tergolong rumit, tapi pemerintahnya berhasil mengintegrasikan sistem transportasi masalnya dengan kegiatan berjalan kaki.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Selama berada di Tokyo, sedikitnya dalam sehari, jika diakumulasikan, saya berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer. Hal yang belum tentu saya lakukan di Makassar, kecuali saat-saat tertentu khusus untuk berolahraga. Sistem transportasi, memaksa warganya untuk berjalan kaki ke stasiun. Jika jaraknya cukup jauh, warga Jepang biasanya akan menggunakan sepeda. Mungkin, karena banyak berjalan kaki, warga Jepang berumur panjang.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kebiasaan berjalan kaki bagi warga Jepang, membuat kota ini dijuluki kota sejuta pejalan kaki. Saya menyaksikan pemadangan ini dipersimpangan Shibuya, Tokyo. Di wilayah ini, kita akan menemukan kerumunan orang yang begitu banyak saat berjalan kaki dan mulai menyeberang. Sedikitnya ada delapan persimpangan saling silang. Yang akan tiba-tiba kosong, lalu hanya hitungan tiga menit akan dipenuhi lautan manusia. Jika Anda berjalan bersama teman, berhati-hatilah, sering kali kita akan terpisah karena banyak dan begitu cepatnya orang-orang berjalan. (*)

Antrian Foto di Patung Hachiko

Di antara saling silang keramaian jalan di Shibuya yang dipenuhi lautan manusia. Salah satu sudut yang juga ramai dikunjungi adalah tempat patung Hachiko berada. Hanya sekitar 30 meter dari persimpangan depalan Shibuya. Patung Hachiko adalah sebuah simbol kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan patung ini adalah sebuah kisah nyata. Dulu di stasiun Shibuya ini, Hachiko setiap hari akan bertemu tuannya Profesor Ueno di Universitas Tokyo. Hingga suatu hari di tahun 1925, sang majikan tidak pernah muncul karena sakit dan meninggal. Namun, Hachiko tetap setia datang dan menunggu selama sepuluh tahun hingga akhir tewas, tepatnya 8 maret 1935. Cerita Hachiko ini sangat terkenal, sehingga untuk berfoto saja, kita harus antri. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

Sekali Mandi di Haneda Rp 120 Ribu

Sekitar tujuh jam kemudian, pesawat yang menerbangkan kami dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, tiba di Bandara International Haneda, Tokyo. Malam yang sudah sangat larut membuat kami menunda perjalanan kami menuju Yodhida, titik awal pendakian menuju puncak Gunung Fuji. Satu-satunya pilihan saya dan teman-teman adalah tidur di bandara Haneda.

Tak hanya kami berlima, ada banyak penumpang yang memilih menginap di bandara malam itu. Dan hampir setiap malam, kursi ruang tunggu bandara disulap menjadi tempat tidur bagi para penumpang yang kemalaman. Pemandangan ini sepertinya sudah menjadi hal biasa, karena petugas sama sekali tak mengusik, bahkan tetap siaga 24 jam. jadi jangan khawatir terlelap tidur, dijamin barang-barang bawaan Anda juga akan aman.

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya kalangan backpacker seperti kami, kalangan eksekutif muda juga banyak yang memilih tidur di bandara. Bandara Haneda sepertinya memang sudah didesain, agar penumpang bisa menginap jika kemalaman. Lihatlah saja salah satu fasilitasnya, di bandara ini disiapkan shower rooms alias kamar mandi. Jadi jangan sekali-kali mandi di toilet, karena pasti akan kena denda.

Sekali mandi shower rooms, saya harus merogoh kocek 1.030 yen atau setara dengan Rp 118.450. Itupun, waktunya dibatasi hanya 30 menit. Jika lewat, meski semenit saja, akan didenda 540 yen. Baru kali ini saya mandi dengan bayaran semahal ini. Terpaksa saya lakukan, selain karena penasaran untuk mencoba dan mengetahui fasilitasnya, saya akan lebih memilih tidak sarapan daripada tidak mandi pagi. (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

Merah Anggur Menghias Fuefuki

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. Bisa beralih pink pada bulan April.

Harumnya anggur hadir di seluruh Kota Fuefuki, Prefektur Yamanashi, yang terletak di tengah-tengah Jepang. Merahnya anggur terlihat dimana-mana, bergelantungan di halaman-halaman rumah warga.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Sejak awal Agustus hingga pertengahan November mendatang adalah musim pemetikan anggur. Saanya bagi warga Jepang untuk menggelar pesta kebun anggur, seperti di kebun Tsu Ka Ha Ra, meski kesulitan berkomunikasi, kami mendapat jamuan yang sangat ramah. “Arigato gozaimasu”, kalimat yang paling sering saya ucapkan.

Akhir pekan seperti saat ini, warga Jepang memanfaatkan untuk liburan keluarga.Salah satu tempat favorit yang menjadi pilihan adalah kebun anggur. Seperti Watanabe yang datang bersama lima anggota keluarganya. Di kebun ini, setiap pengunjung bisa memetik anggur sendiri, lalu memakannya sambil menikmati teduhnya beratap rambatan ranting-ranting anggur.

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Untuk masuk ke kebun anggur, setiap orang harus membeli tiket terlebih dahulu di kawasan Misakanoen. Harga selembar tiket untuk anak-anak 450 yen-650 yen atau setara dengan Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Untuk orang dewasa 880-1.200 yen atau setara dengan Rp 92 ribu-Rp 138 ribu. Dengan tiket ini, kita bisa makan anggur sepuasnya di areal kebun dan tidak boleh dibawa pulang. Jika ingin menjadikannya oleh-oleh, harus membeli sendiri.

Hamparan kebun anggur memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Kota Fuefuki adalah penghasil buah anggur dan peach terbesar di Jepang. Di kota ini, kita dapat menikmati beragam jenis anggur seperti Kaiji, Kyohou, dan Konsu. Tak hanya dinikmati dalam keadaan segar, di Fuefuki, kita dapat menemukan banyak tempat pembuatan wine. Khusus untuk Wine Koshu yang biasanya mulai diproduksi pada bulan November.

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya memetik buah anggur dan menikmati manisnya yang segar. Santap siang kami kali ini ditemani dengan wine. Ini kali pertama saya meminum wine dengan jumlah cukup banyak, tapi saya tak perlu khawatir karena tidak akan memabukkan. Grape Rouge yang diproduksi di Fuefuki adalah wine tanpa alkohol. Maka jadilah saya menuangkan wine lagi ke cangkir saya.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Belum lagi musim anggur berakhir, buah kesemak juga mengeluarkan buahnya pada akhir September hingga awal November. Fuyugaki adalah salah satu jenis kesemak andalan, buahnya besar dan rasanya manis. Penasaran ingin mencobanya.

Sebelum musim anggur, awal Juli hingga akhir Agustus di Feufuki adalah musim pemetikan buah peach. Seperti pesta kebun anggur, saat musim peach berbuah juga digelar pesta kebun peach. Tarif di kawasan Misakanoen adalah 880 yen hingga 1.200 yen. Pada akhir tahun, kita dapat menikmati stroberi, makan sepuasnya di dalam rumah kaca hingga awal Mei.

Tak hanya terkenal sebagai penghasil anggur dan peach terbesar di Jepang. Fuefuki juga dikenal sebagai kampung permandian mata air panas. Air yang sangat panas keluar dari mata air dengan suhu mencapai 68 derajat celsius, dengan volume air yang banyak. Pada musim dingin, permandian air panas menjadi tempat untuk melepaskan lelah pikiran maupun fisik dengan berendam di permandian mata air panas ini.

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Sehingga sangat pantas jika Kota Fuefuki menjadi salah satu kampung impian nomor satu di Jepang. Pada muism mekarnya bunga di awal hingga pertengahan April, kita bisa menemukan separuh kota berwarna merah muda, bak permadani yang terbentang luas menutupi separuh kota.Warna merah muda dari bunga sakura dan peach atau momo. Saya hanya menikmati pemandangan merah muda ini melalui gambar, karena saya berada di sini pertengahan September. (Koran Tempo Makassar, edisi  12 September 2014)

Tubuh di Atas Manuskrip

Lukisan rusak itu bagian dari proses  dalam berkarya.

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Manusia berkepala singa itu berlutut, pandangannya fokus menatap sosok lelaki dengan mahkota di kepalanya. Sang lelaki tak peduli jika sedang diamati. Ia fokus menjaga menjaga keseimbangan tubuhnya. Posisinya jongkok dengan kaki jinjit dan tangan direntangkan ke samping. Di dada lelaki bertubuh kekar itu, bertengger seekor kupu-kupu.

Sosok manusia berkepala singa dan lelaki bermahkota ini saya temukan dalam lukisan yang terpajang di ruang makan. Masing-masing berjudul “Perburuan” dan “Kink of Butterfly”. Kedua lukisan ini dibuat oleh Zam Kamil pada tahun 2004 lalu. Berbeda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan kanvas polos, sarjana Jurusan Seni Rupa Murni di Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia ini memanfaatkan manuskrip jadi media lukisnya. Tak melulu huruf-huruf abjad, tapi manuskrip itu ada yang ditulis dengan huruf-huruf lontarak—huruf khas suku Bugis-Makassar.

Awal Desember lalu, salah satu dari seri manuskrip yang berjudul “Homo Hamini Lupus” turut dipamerkan dalam ajang Cross Border. Dalam lukisannya ini, Zam mencoba mengeksplorasi tubuh-tubuh manusia. Lima tubuh manusia yang berkelapa binatang—ayam, kambing, tikus, rusa, dan anjing—dan  dua manusia yang berkepala manusia tapi geraknya binatang. “Ini adalah parodi sipakatau—saling mengingatkan–,” ungkap lelaki kelahiran Soppeng, 5 Agustus 1969.

Lukisan yang dibuat 2002 lalu ini, mencoba menunjukkan jiwa-jiwa yang sakit, dimana nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan. Menurut sang pelukis, perkembangan peradaban manusia tidak diiringi dengan perkembangan mental serta kualitas kemanusiaan. Meski peradaban sudah canggih, tapi hukum rimba tetap terjadi, siapa yang kuat dia yang kenyang. Homo Hamini Lupus ini mencoba menunjukkan bahwa manusia hidup seperti ‘berkepala binatang’, tanpa pikiran dengan hanya nafsu yang membara.

Sang pelukis seolah berpesan, bahwa manusia harus mampu mengendalikan dan menahan diri. Dengan menutupi bagian kemaluan tubuh-tubuh bugil ini menggunakan selembar daun. Dari ruang seni rupa Makassar di Losari, “Homo Hamini Lupus” ini berpindah ke kamar tidur.

Masih di seri yang sama, setahun kemudian, Zam menyatukan 12 manuskrip di atas kanvas. Tiap manuskrip terdapat tubuh-tubuh manusia yang sedang mencari ketenangan. Lukisan yang dibuat 2003 ini berjudul “Mencari Pencerahan”.

Berbeda dengan empat lukisan sebelumnya, lukisan berjudul “East, Elegy and Energy” ini, tak tampak ada tulisan-tulisan manuskrip. Ternyata lukisan yang diperbaharui 2011 ini, pernah rusak, akhirnya, sang pelukis mencoba memperbaikinya, dengan terpaksa harus menutupi permukaan manuskripnya dengan cat putih. “Lukisan rusak itu bagian dari proses berkarya,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya di Kompleks IDI Tello, Rabu malam lalu.

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Sepotong kayu yang terbaring berselimutkan plastik menghentikan langkah saya. Kayu yang diletakkan di ruang perantara antara ruang tengah dan ruang makan, adalah hal yang tak biasa. Saat membuka selimutnya, saya mendapati tubuh-tubuh putih tanpa identitas. Hanya geraknya yang membedakan tujuh sosok tubuh manusia ini. “Saya bisa memanfaatkan apa saja,” ungkap Zam.

Kali ini, ayah dua anak ini menggunakan sepotong kayu jati tua sebagai media lukisnya. Meski menggunakan media kayu, tapi unsur manuskripnya tetap ada. Menjadi pemanis, seolah menceritakan gerak tubuh-tubuh di sampingnya.

Lukisan yang dibuat 2010 ini belum selesai, kata Kamil, kelak kayu ini akan ditambahkan kaki-kaki berukuran kecil dalam jumlah yang banyak untuk menyanggahnya. Kaki-kaki ini serupa ombak yang menyanggah perahu.  “Saat membuat karya ini, saya membayangkan, kayu ini menolak jadi perahu, sehingga sekarang ada di sini,” ungkap perupa yang baru setahun terakhir ini berdomisili di Makassar. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

***

Menghapus Wajah

Zam Kamil, perupa yang lahir dan besar di Makassar. Kesukaannya terhadap dunia seni terlihat dari mejanya yang penuh gambar. Setelah tiba di Makassar dari Soppeng, ia pun mencari tau melalui radia, dimana dia bisa belajar melukis. Saat itu ada yang menyarankannya ke Fort Rotterdam. Di tempat ini dia belajar dan sempat ikut pameran sekali. Suatu hari ia jalan-jalan ke Yogyakarta, dan tinggal didekat Institut Seni Indonesia. Di tempat ini, Zam sering membantu mahasiswa perupa, terkadang ia ikut kuliah, dari sinilah ia mulai bisa menandai karya yang baik dan tidak.

Ia tercatat sebagai sarjana Jurusan Seni Rupa Murni angkatan 1990. Ia memiliki gaya melukis yang unik. Memanfaatkan gesture tubuh dan menghadirkan ritme gerak, dan menghilangkan detil-detil figurnya. Tanpa atribut yang jelas, bahkan kadangkala tak jelas kelaminnya, apakah perempuan atau lelaki.

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Tubuh-tubuh tanpa atribut ini muncul dengan proses menghapus. “Setiap menemukan ide, langsung saya gambarkan dengan media apapun, setelahnya dituangkan di atas kanvas, seluruh simbol-simbol wajahnya dihapus,” jelas Zam. “Dari ada menjadi tidak ada.” Seperti sosok perempuan dalam keramaian yang gerak tubuhnya seolah-olah sedang bermain biola. “Sketsa awal ada biolanya, lalu saya hilangkan,” ungkapnya.

Menurut Zam, semakin sedikit coretan, maka semakin berhasil sang perupa. Salah satu yang irit coretan dan warna adalah lukisannya yang berjudul “White on White”, lukisan ini sudah menjadi milik orang lain.

Bermain-main dengan tubuh manusia, membuat Zam juga sering kali menghadirikan dirinya sendiri dalam beberapa karyanya. Dalam karyanya berjudul “Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me”. Bagi Zam, berkarya adalah bagian dari cara untuk menyampaikan harapan-harapan.

Zam sudah beberapa kali menggelar pameran tunggal, di antaranya tahun 1998 bertema “Terapung” di Leangleang Art Studio di Yogyakarta,  “Dance of Life” di Aryaseni Gallery Singapura pada 2005, dan pameran tunggal “Aphostrophe” di CG Art Space Plaza Indonesia Jakarta pada 2008. Ia juga ikut beberapa pameran penting seperti, Behind The Myth di Athena; Indonesian Art today di Verona, Italy dan Jerman; dan beberapa kali ikut serta dalam Singapore Art Fair. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/23/360355/Tubuh-di-Atas-Manuskrip

 

Perahu-perahu Lintas Batas

Perupa Makassar sering membuat gebrakan-gebrakan melalui karyanya.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Lukisan berjudul “Kampung Garam #39” yang menyambut di depan pintu masuk ruang pameran perupa di Anjungan Toraja-Mandar, Makassar, Senin malam lalu. Seolah mengajak saya bermain-main, ada banyak perahu yang siap membawa saya berlayar. Sebuah perahu dengan layar payung yang lekat dalam ruang kanvas, seolah menghalau hujan senja. Satu lagi perahu terdampar di bibir merah. Perupa Ahmad Anzul tak hanya mengajak saya bermain dalam bidang kanvas, lukisannya ini juga dilengkapi karya instalasi.

Sepotong kain kafan dengan percahan tinta cumi, di atasnya  perahu-perahu kertas tertempel. Di lantai, sepiring garam dengan huruf-huruf tersuguh di lantai yang beralaskan kain kafan. Kain kafan ini sempat dipakai Asdar Muis RMS pentas di Fort Rotterdam, akhir Oktober lalu. Karya Anzul ini memang didedikasikan untuk almarhum. “Bicaramu laut, inginmu hujan.”

Di sisi kanan pintu kedua, perupa Firman Djamil mencoba melayarkan perahunya di atas gelombang rambut. Perahu dalam lukisan berjudul Transmission ini hanya bisa berlayar jika dua figura digabungkan. Dimana batas figura seolah berfungsi sebagai cermin, dua lukisan ini nyaris persis sama. Perempuan di sisi kiri, lelaki di kanan. Yang membedakan antara perempuan dan lelaki  hanya bentuk dada pinggulnya yang lebih berisi. Tubuh dan rambut dua sosok manusia ini adalah satu kesatuan. “Rambut adalah bahtera, perahu adalah bagian dari lambang pencipta,” ungkap Firman.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Tak hanya Firman, Zam Kamil juga mencoba mengeksplorasi tubuh-tubuh manusia dalam karyanya yang berjudul “Homo Hamini Lupus.” Lima tubuh manusia yang berkelapa binatang—ayam, kambing, tikus, rusa, dan anjing—dan  dua manusia yang berkepala manusia tapi geraknya binatang. “Ini adalah parodi sipakatau—saling mengingatkan–,” ungkap sarjana Jurusan Seni Rupa Murni di Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia.

Tapi bukan tubuh-tubuh bugil yang kemaluannya yang ditutup selembar daun ini yang mencuri perhatian saya. Tapi manuskrip berupa tulisan-tulisan tangan yang bertebaran di atas kanvas. Tak melulu huruf-huruf abjad, tapi manuskrip itu ada yang ditulis dengan huruf-huruf lontarak—huruf khas suku Bugis-Makassar. “Ini hanya satu dari lima seri lukisan ini,” ungkap Kamil.

Budi Haryawan, melalui lukisannya, mengajak kita ke kampung halamannya di Desa Ballabulo, Kabupaten Selayar. Untuk sampai ke sana, kita harus menyeberang dengan feri dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.

Budi yang juga dipercayakan sebagai ketua panitia pameran Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 ini mengatakan ada sekitar 30 lukisan yang dipamerkan. Setiap pelukis hanya bisa diwakili satu karya. Pameran yang bertajuk Humanitas Revitalisasi Lintas Batas ini, kata Budi, lebih menekankan perbedaannya. Makanya, setiap pelukis dibebaskan untuk memilih karyanya sendiri untuk dipamerkan.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Dimana peserta pameran tak hanya perupa-perupa Makassar, tapi juga sejumlah perupa dari Balikpapan, Kalimantan. Di antaranya Abi Ramadan Noor dengan karyanya yang berjudul “Jejak Masa Lalu”, Achmad Gani dengan “Signal Merah”, Adji Pranyoto “Anggrek Hitam”, Arrif Ismail dengan “Dynasty”, Heriadi “Databilang”, Ifrian Chacha “Diujung Batas”, dan  Marty “Pesona #9”.

“Secara teknis, perupa-perupa Kalimantan lebih kuat, tapi visinya tak jelas,” ungkap Firman Djamil. Sebaliknya, koordinator tim perupa Kalimantan, Jully Purnama  menilai, perupa Makassar sering membuat gebrakan-gebrakan melalui karyanya. “Tema dan visualisasi perupa Makassar berkembang bagus,” ungkap Jully. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/03/358552/Perahu-perahu-Lintas-Batas

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/04/114626258/Beda-Perupa-Makassar-dan-Balikpapan/1/1

 

Perjalanan Ekspresif Musik Sergey

Menyajikan genre musik Indie beard folk rock dengan gitar okulele.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Angin bersembunyi dalam sepi di sebuah sore yang mendung. Gedung-gedung kuliah mulai murung, hanya ada beberapa mahasiswa yang melintas. Suara ombak berkejaran tiba-tiba mengusik sore yang sepi itu. Irama deburan ombak laut itu berasal dari salah satu alat musik koleksi Sergey Onischenko, tak ketinggalan gitar okulele yang setia menemani dalam perjalanannya.

Selasa sore itu, musisi asal Ukraina ini menggelar mini show di taman Himpunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin. Bertajuk Make Like A Tree adalah sebuah project musik travelling. Sergey berhasil menahan sejumlah mahasiswa hingga Magrib. Tapi Sergey tak sendiri, dia juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal setempat. Sore itu Sergey bersama Next Delay. Bahkan beberapa dosen tak mau kalah dari mahasiswanya, mereka juga turut menghibur sore.

Malam itu, Sergey melanjutkan mini shownya di Coffeegrafer di Jalan Sungai Saddang Baru.

Sebelumnya, Senin malam, Sergey menggelar mini show di Kedai Buku Jenny. “Perjalanan adalah salah satu cara untuk menemukan ide dalam menciptakan musik,” katanya kepada Tempo.

Dalam melakukan pengembaraan selama dua tahun ini, Sergey sekaligus menyebarluaskan karyanya. Sebuah musik bergenre Indie beard folk rock. Sudah ada 12 negara yang pernah dikunjungi di antaranya Malaysia, Singapura, Vietman, Thailand, dan Jepang.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Aswin Baharuddin dari Kedai Buku Jenny mengatakan, di Indonesia sendiri, Sergey sudah memasuki bulan ke lima. Ia mulai mini shownya di Kota Medan. Dibulan pertama, tepatnya Agustus, Sergey berkeliling di kota-kota di pulau Sumatera. Desember ini, tur digelar di Malang tepatnya  Legipait, Oxen Free di Yogyakarta, Beehive di Jakarta,  C2O Surabaya, lalu terbang ke Makassar.

Beberapa lagu dalam album Make Like A Tree, di antaranya Grow a Beard, Saigon, Im a Fish, Sea a Hore, On The Run, Take it Over, Hode & Seek,  A Map, Water Thieves, dan Passing by.  Semua lagu-lagu Sergey memang melukiskan apa-apa yang dia temukan dalam perjalanannya, misalnya bagaimana dia melarikan diri, tentang pesawat, tentang kecintaan pada anjingnya, serta tentang adanya kekuatan ajaib dalam diri setiap orang.

Make Like a tree adalah nama yang terinspirasi dari filosofi hidup Sergey. “While one man was traveling, the seed of a tree fell into his heart, It grew up and reached God”. Sergey juga mendokumentasikan semua lagu-lagu Make Like A Tree di setiap tempat dan daerah yang pernah dikunjunginya. “Saya senang dengan respon penonton di Makassar,” ungkapnya.

Salah satu kelebihan Sergey, dia mampu berkomunikasi dan mengajak penontonnya terlibat dalam pertunjukannnya.  Ia juga menghasilkan warna berbeda dari setiap lagu yang dimainkan. Petikan irama gitar okulelenya dipadu padankan dengan sejumlah alat-alat musik yang menghasilkan bunyi-bunyi di luar nada diatonis dan pentatonis. Make Like A Tree adalah sebuah perjalanan musik ekspresif yang luar biasa.

***

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Menariknya, ekspresi-ekspresi yang ditemukan Sergey dalam perjalanannya, tak hanya dituangkan dalam bentuk alunan musik dan lagu. Tapi juga diabadikan dalam bentuk foto-foto. Dari frame-framenya, terlihat jika Sergey sangat menikmati panorama alam yang dijumpainya, terutama pegunungan dan laut. Dalam beberapa fotonya, terdapat sosok feminis. Perempuan yang menatap ke lautan lepas.

Karya-karya fotonya ini dicetak, kemudian dijadikan ornamen-ornamen pelengkap di atas panggungnya. Sebagian foto lagi dicetak dalam bentuk stiker. Untuk bisa memilikinya, Anda harus menebusnya dengan nilai Rp 5 ribu-15 ribu. Hasil penjualan ini digunakan untuk melanjutkan perjalanannya ke Papua. Dari Papua, musisi yang juga fotografer dan jurnalis ini akan melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini. Di tempat inilah, Sergey merayakan pergantian tahun. (*) ((Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  19 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/19/360037/Perjalanan-Musik-Sergey

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/21/112629961/Perjalanan-Musik-Sergey-Onischenko/1/0

Kisah Kirara dan Gagak di Negeri Gigil

Rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang, tapi bagi Mae, semua adalah keajaiban.

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Membaca lembaran demi lembaran, membawa saya berpetualang ke Sapporo—salah satu kota di Jepang yang konon diselimuti gigil. Di sana kita akan bertemu Mae—gadis Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Jurusan Humaniora di Universitas Hokkaido.

Kisah Mae dimulai dengan pertemannya dengan Kakek Yoshinaga, tetangga apartemennya. Kakek ini tinggal sendiri. Melihat wajah Kakek Yoshinaga, Mae terenyuh. Dia membayangkan jika di hari tuanya dia mengalami hal serupa : kesepian, tinggal sendirian, tanpa ada yang menemani. Mae tak ingin itu terjadi. Suatu waktu, Kakek Yoshinaga ditemukan wafat di kamar mandi. Kepergian Kakek Yoshinaga membuat hidup Mae kesepian, dia satu-satunya teman Mae di Sapporo.

Kematian Kakek Yoshinaga menambah catatan kesedihan Mae. Seperti peristiwa menyedikan pada 15 September, hari dimana ayah ibunya meninggal dalam kecelakaan kapal. Ingatannya merekam semua, Mae seperti menonton film kematian demi kematian.

Mae kemudian bertemu Nenek Osano—nenek penjual ramen yang setia merawat kenangannya. Tepat di hari ulang tahun Mae, ia berkenalan dengan Nenek Osano yang memberinya hadiah semangkuk ramen.

Mae percaya, hidup tak lepas dari keajaiban dan kejutan-kejutan kecil. Keajaiban akan muncul satu per satu selama Tuhan belum memutus napas seseorang. Keajaiban akan selalu hinggap dalam hidupnya, seperti burung kecil yang senantiasa kembali ke dahan yang disukainya. Pertemuanya dengan Nenek Osano dan Kakek Yoshinaga adalah bagian dari keajaiban itu.

Apartemen 2054 yang tadinya ditempati Kakek Yoshinaga. Berganti penghuni, sesosok pria misterius yang selalu berpakaian serba hitam, termasuk tas dan motornya. Mae memanggilnya Gagak. Tapi penampilan aneh pria tersebut, justru membuat Mae penasaran, bahkan terobsesi.

Satu per satu puzzle kehidupan Ken diketahui Mae. Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruh, sejak dia menyaksikan sendiri ibunya Kirei mati ditembak seseorang. Sementara ayahnya Shibata Shimotsuke sibuk dengan urusannya sendiri, nyaris tak peduli dengan keluarga, termasuk saat-saat dia diperlukan. Seperti saat ibunya sekarat setelah ditembak seseorang dan Ken yang masih berusia 7 tahun bingung mencari ayahnya.

Dan begitulah, Ken dan Mae kini mengerti, setiap hati menyimpan kekelaman sendiri-sendiri. Dan pada suatu waktu, kekelaman yang menebal harus didobrak, mereka sendirilah pendobraknya. Mereka tahu, Tuhan selalu paham beban beban yang mampu dipikul setiap orang.

Kehadiran Mae membuat hidup Ken seimbang yang dipenuhi kebencian kepada ayahnya. Mae sendiri punya berderet-deret daftar kebencian. “Aku benci perang. Aku benci anggota Dewan di negeriku. Aku benci partai yang membawa-bawa nama agama. Aku benci presiden tambun yang lemah. Aku benci negara yang menyiksa tenaga kerja perempuan dari negeriku. Aku membenci orang yang membuang sampah sembarangan. Aku benci iklan kosmetik,” kata Mae.

Mae terseret arus kehidupan dan persoalan-persoalan Ken. Tapi Mae berterimakasih pada Tuhan untuk semua keajaiban-keajaiban tak terduga ini, terima kasih telah mempercayakan semuanya. Dimulai dengan kematian Kakek Yoshinaga, perjumpaan dengan Nenek Osano, kemudian dengan Ken, Tamia, dan Tuan Shibata. Ada rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang ke dalam kehidupan Mae.

Mae punya kebiasaan membuang sedih dengan menulis, hal itu diajarkan mendiang ibunya. Maka, saat Ken dipenjara Mae menuliskan puisi berjudul Dari Kirara Untuk Seekor Gagak. Aku membawa sarang jerami di kepalaku hari ini/ mungkin bisa kita namakan rumah/ dengan beranda lebar menghadap laut/ dengen jendela selebar dinding/ lalu kita akan berbaring, melihat matahari bertamu dan pulang/ apakah kau sepakat, jika rumah itu tanpa televisi, / tetapi sesekali terjadi pertengkaran kecil, pertengkaran manis?/ sehingga kita saling memaafkan/ lalu lebih mesra dibandingkan hari sebelumnya?/ Kirara tahu, burung gagaknya sepakat…” Kirara adalah panggilan sayang Ken pada Mae.

Mae berjanji akan setia menunggu Ken. Penulis, Erni Aladjai sepertinya selalu membuat tokoh utama perempuan dalam novel-novelnya selalu menunggu. Seperti Namira yang menunggu Sala dalam novel berjudul Kei—pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Penulis memiliki imajinasi yang sangat ‘basah’ tentang lokasi-lokasi yang menjadi latar ceritanya. Meski penulis sendiri belum pernah ke Jepang, tepatnya Sapporo, dia mampu membawa pembaca merasakan gigil dan dinginnnya kota itu.

Saat membaca halaman-halaman buku ini, saya sedikit terganggu dengan adanya kata ‘dengan’ yang double di halaman 93. Sepertinya ini salah ketik, kata ‘dengan’ yang pertamanya harusnya ‘dekat’, mungkin. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  08 Oktober 2014)

Judul Buku : Dari Kirara untuk Seekor Gagak

Penulis : Erni Aladjai

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 192 halaman

ISBN : 978-602-03-0750-3

http://koran.tempo.co/konten/2014/10/08/353834/Keping-keping-Keajaiban-Kirara

 

Mengarungi Lingkaran Api dengan Pinisi



Blair bersaudara juga berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat.

oleh : Dani Kristianto

Ring of Fire . Foto Irmawar

Ring of Fire . Foto Irmawar

Pelayaran kakak beradik Lawrence Blair dan Lorne Blair dimulai di Makassar. Dari tempat ini, mereka mengarungi kepulauan Indonesia dengan kapal Pinisi. Merekam semua cerita yang ditemui. Kisah petualangan mereka dituliskan dalam buku berjudul “Ring of Fire, Indonesia dalam Lingkaran Api”. Buku dengan sampul bergambar gunung api yang tampak di seberang lautan, dan sebuah kapal pinisi yang berlayar mengarungi laut dengan latar jingga.

Petualangan ini, tak lepas dari minat dua bersaudara ini pada bidang ilmu psikoantropologi. Mereka tumbuh besar dengan kisah para penjelajah Eropa ke daerah di ujung timur dunia penghasil rempah-rempah. Memiliki wilayah yang elok serta kemistisan yang menyelimuti penduduknya. Christoporus Colombus, Marcopolo Kapten Cook dan masih banyak lagi. Alfred Russel Wallace melalui bukunya, The Malay Archipelago, menambah isi alam pikir mereka tentang flora fauna diwilayah itu.

Kompleksitas Indonesia dari segi geografi, hukum dan linguistik adalah sisi lain dari wilayah di belahan dunia timur menguatkan keinginan untuk mengeksplorasinya melalui penjelajahan, penelitian dan pembuatan film dokumenter.

Cerita petualangan ini berawal dari rencana mereka memfilmkan Burung Cenderawasih Kuning-Besar yang berada di Kepulauan Aru. Konon, burung ini begitu tersohor di Eropa. Musim dingin di tahun 1972, dari London-Inggris, kota asal mereka, penjelajahan dimulai. Setelah mereka mendapat sokongan dana dari Ringo Star (drummer The Beatles).

Blair bersaudara menjelajahi mistisme dalam masyarakat. Pemaparan tentang Sultan, Sunan, Loro Kidul serta Laut Selatan dan Gunung Merapi adalah salah satu kupasan mengenai Jawa khususnya Jawa Tengah. Melaut dari Jawa menuju Bali mengejar keberadaan Gunung Agung serta kehidupan para dewa di pura-puranya. Mereka juga menuturkan keterkaitan kehidupan rakyat dengan adat seperti Sangyang Dedari.

Dari Bali mereka bergerak ke Celebes mencari para pelaut Bugis, yang kisah dan penjelajahannya banyak diceritakan di lingkungan kerajaan-kerajaan Eropa sebagai pelaut tangguh dengan kapal Pinisinya. Bersama para pelaut Bugis, yang dinyatakan sebagai suku pelaut paling hebat di Asia Tenggara, kakak beradik ini mempelajari kehebatan dan turut berlayar bersama. “Selama kira-kira satu millennium, suku Bugis mengikuti siklus perniagaan muson. Meluncur ke timur seturut muson barat sampai ke Aru yang terletak di bibir angker rawa-rawa Nugini dan kembali ke barat seturut muson timur sampai ke Kalimantan”, tulisan mereka tentang hikayat pelaut Bugis.

“Makassar disarati kehidupan dan perniagaan. Pasar-pasarnya berdengung oleh hal-hal yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Pelabuhan dipadati Pinisi besar” ungkap mereka tentang Makassar. Tak hanya di pesisir, mereka juga terus bergerak ke pedalaman Celebes. Salah satu yang dikupas mendalam adalah suku Toraja, khususnya tentang kepercayaan animisme dan ritual kematian mereka. Dengan Pinisi, mereka menuju ke Maluku, pusat rempah-rempah yang dahulu menjadi sumber persaingan kerajaan-kerajaan Eropa.

Papua adalah tujuan eksplorasi penelitian berikutnya. Awalnya mereka hendak memuaskan keinginan melihat burung berekor emas yaitu Cenderawasih. Tapi penelitian tentang Papua kemudian berkutat tentang kehidupan suku-suku-nya seperti suku Asmat—sang suku kayu. Kabar di Eropa bahwa suku-suku di Papua adalah golongan kanibal (pemakan daging manusia) menggelitik keingintahuan mereka.

Hal menarik lain di buku ini, penulis berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat. Michael hilang saat melakukan ekspedisi perhimpunan karya seni di Papua pada tahun 1961.

Flores dan Sumbawa adalah tujuan berikutnya.Di tempat ini, mereka berharap melihat naga raksasa yang dinamakan Komodo. Tinggal bersama rakyat di rumah mereka, membuat kedua peneliti ini bisa merasakan keberuntungan. Mereka bisa melihat hal terbaik dari adat istiadat dari seni Sumba Timur, seperti makan nyale dan menyaksikan Pasola.

Borneo terekam kisah dalam memori masa kecil mereka sebagai pengayau, penyumpit racun, dan manusia liar. Sungguh menarik mengikuti penjelajahan dan apa yang mereka temukan di Borneo—sebutan untuk Kalimantan. Dari Borneo, kedua peneliti mengarahkan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera. Eksplorasi sejarah dan penelitian tentang seni budaya dan adat istiadat Sumatera seperti Boneka Sigale-gale di Sumatera Utara adalah beberapa yang diungkapkan dalam buku ini.

Saat menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada September 1983. Mengingatkan mereka tentang kisah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883, memacu mereka untuk meneliti sosok Krakatau. Mereka melihat banyak menjelajahi untaian gunung yang aktif di wilayah Indonesia. Mungkin alasan ini sehingga judul buku dan film dokumenternya “Ring of Fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api”.

Buku ini memaparkan keberagaman Indonesia. Mulai dari pelosok wilayah yang belum banyak terjamah manusia. Perjalanan Blair bersaudara berakhir di tahun 1983. Selain menyalurkan hasrat berpetualang, isi buku ini semoga bisa membangkitkan rasa ke-Indonesiaan dan semangat kita untuk menjaga warisan budaya.

Sayang, runtutan wilayah yang didatangi tidak dituliskan waktu-waktunya. Padahal pembaca, mungkin ingin mengetahui periode waktu perjalanan antar wilayah berlangsung, serta jangka waktu penelitian yang dilakukan di suatu wilayah. Dengan begitu, informasi ini mungkin bisa menjadi acuan bila hendak melakukan ekspedisi di Indonesia khususnya di wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi publik. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  17 September 2014)

Judul Buku : Ring of Fire (Indonesia Dalam Lingkaran Api)

Penulis : Lawrence Blair

Penerbit : Ufuk Press, 2012

Tebal : 420 halaman

ISBN : 978-602-934-607-7

http://koran.tempo.co/konten/2014/09/17/352075/Mengarungi-Lingkaran-Api-dengan-Pinisi


 

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.