Eksotisme di Negeri Seribu Landa

enrekang3.jpg

Menikmati nasi selembut kapas sembari menghirup udara segar dan mendengar gemercik air sungai.

Akhirnya saya tiba di Enrekang. Perjalanan bermobil sejauh 267 kilometer dari Makassar untuk sementara berakhir sudah. Dan kepenatan yang mendera semalaman pun perlahan-lahan menguap begitu menyaksikan panorama alam yang disajikan kabupaten di Sulawesi Selatan itu.

Pemandangan alam yang tergelar sungguh menggetarkan. Di bawah sinar matahari pagi, nun di sisi kiri-kanan jalan raya Enrekang-Tana Toraja, menjulang dua gunung yang begitu anggun: Gunung Nona dan Bambapuang. Lereng dan lembahnya nan rimbun tak kalah anggunnya menerima siraman cahaya keemasan matahari yang tengah merambat naik.

Saat mata terus lekat memandang Gunung Bambapuang, tiba-tiba cerita seorang kawan kembali kembali terngiang. Menurut cerita yang berkembang, gunung batu berketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut itu dipercaya masyarakat setempat sebagai tangga penghubung dari bumi menuju ke langit.

Salah satu kawasan di Gunung Bambapuang, Lura Bambapuang, juga dipercaya sebagai tempat peradaban manusia Sulawesi Selatan bermula. Masyarakat Bugis sangat menghormati tempat itu. Mereka menyebutnya tana ri galla tana riabbusungi atau negeri suci yang dihormati.

Beberapa waktu lalu, saya bersama empat orang teman bertandang ke Enrekang, bukan lantaran tergoda kawasan negeri sucinya itu, melainkan karena wisata pedesaanya. Khususnya agrowisata yang ditawarkan Desa Kendenan di Kecamatan Baraka, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari ibukota Kabupaten Enrekang.

Untuk menggapai desa yang bertengger di perbukitan itu memang butuh sedikit perjuangan, terutama sekitar 30 kilometer menjelang Kendenan. Jalanannya berkelok-kelok, menanjak dan agak rusak. Malah separuh perjalanan harus ditempuh dengan melewati jalanan tanah tanpa aspal.

Hanya keindahan alam nan memukau yang membuat saya dan teman-teman terus melaju. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan rimbunnya aneka pepohonan. Yang juga memukau adalah dinding batu yang tegak menjulang, mirip papan tulis raksasa. Di antara dinding itu ada yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mayat. Sejumlah peti mayat alias duni berbahan kayu tampak masih tersimpan di celah-celah batu.

Dan perjalanan terus kian menyenangkan karena keramahan penduduknya. Misalnya, saat kami singgah sejenak melihat dinding batu yang digunakan sebagai tempat penyimpangan mayat, warga di sekitar lokasi itu tak sekedar menyapa. Mereka malah meminta kami singgah ke rumahnya.

Keramahan juga ditemuai ketika kami mapir di sebuah rumah di kota Kecamatan Baraka, kira-kira 30 kilometer sebelum Kendenan, Kami dijamu aneka penganan kecil dan buah salak yang segar-segar. Enrekang memang dikenal sebagai penghasil salak terbaik se-Sulawesi Selatan.

Mobil Kijang yang mengantarkan kami sejak dari Makassar terpaksa harus diparkir. Sebab, rute berikutnya berupa jalan setapak yang sempit, berkelok-kelok, tak beraspal, dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Jadilah saya ajrut-ajrutan di atas sepeda motor ojek selama sekitar dua jam.

Matahari tergelincir ke barat ketika kami tiba di Kendenan. Hawa sejuk pegunungan langsung menyergap. Dan, lagi-lagi, pemandangan alam nan memukau memaku langkah saya. Petak-petak sawah terasering terhampar bagai undak-undakan yang ditutupi permadani hijau. Sebuah sungai yang mengalir di antara bukit dan lembah membuat pemandangan di desa itu kian mempesona.

Terdiri atas tiga dusun, Kendenan menyimpan potensi pertanian sejak ratusan tahun. Masyarakat desa nan damai itu sangat kental dengan tradisi pertaniannya, terutama bercocok tanam padi. Dan tradisi pertanian itu dipegang kuat secara turun-temurun hingga sekarang.

Menurut Agus Riadi, Ketua Yayasan Torabulan sekaligus pemandu kami, masyarakat setempat percaya bahwa padi dan manusia memiliki derajat sama. Makanya mereka menempatkan rumah dan lumbung padi sejajar. “Orang setempat menamakan lumbung padi itu landa,” kata pegiat lembaga swadaya masyarakat budaya dan pariwisata Enrekang itu.

Landa sudah menjadi pemandangan di desa-desa di Enrekang sejak ratusan tahun lalu. Kepala Desa Kendenan Bakri Puttung menyatakan pada zaman dulu, landa dibikin untuk menyimpan cadangan makanan. Ketika masa penjajahan, lumbung padi didirikan untuk mengantisipasi gagal panen.

Kini, kata Bakri, fungsi landa masih relatif sama. Ia menjadi tempat cadangan makanan, menjada kemungkinan terjadi kekeringan dan bencana. Plus, landa digunakan pula sebagai tabungan untuk menggelar suatu prosesi adat, seperti pernikahan dan kematian.

Landa yang menghiasi desa-desa di Enrekang berupa rumah panggung. Tiang dan dinding bangunan yang biasanya beratap rumbia atau seng itu terbuat dari batang pohon banga, yang memang banyak tumbuh di sana. Ukuran landa bervariasi, mulai 2 x 3 meter, 3 x 4 meter, hingga 4 x 5 meter. Menurut Jampi, 60 tahun, pande landa (tukang pembuat landa), semakin besar ukurannya, semakin berada pemiliknya.

Lalu derajat pemiliknya, kata Jampi, juga bisa dilihat dari hiasannya. Jika landa memakai ukiran kerbau, berarti pemiliknya adalah orang biasa-biasa saja. Sedangkan bila hiasannya berupa tanduk kerbau, itu menandakan pemiliknya orang berada atau berkedudukan.

Saat ini di Kendenan memang hanya Jampi yang dipercaya sebagai pande landa. Sebab, pembuat landa tak sembarangan orang. Dia harus mengikuti serangkaian ritual sebelum mulai membuatnya. Kalau salah satu prosesi tak diikuti, menurut kepercayaan setempat, bisa-bisa padi yang ditaruh tak awet dan landa bakal kemasukan tikus.

Menurut Jampi, prosesi pembuatan landa dimulai dengan upacara mappatindak landa. Ritual itu harus digelar pada hari baik, yakni Selasa. Sedangkan Jumat merupakan hari pantangannya, karena dipercaya sebagai hari keras. Lalu tanggal dan tahun pembuatan landa juga harus sama. “Kalau dilanggar, bisa dipastikan tikus akan mudah naik dan masuk ke landa.”

Proses pembuatan landa umumnya memakan waktu sekitar 20 hari. Upah pembuatnya adalah padi sebanyak sibasse, sebutan untuk 12 ikat padi, ditambah 6 lembar uang benggol, sebutan uang masa lalu. Kini uang yang diberikan setara dengan Rp 60 ribu.

Begitulah. Di Kendenan, daerah berpenduduk 800 jiwa atau 150 keluarga, tiap keluarga memiliki satu sampai empat landa. “Saya punya dua landa,” ujar Bakri. Lokasi landa tiap keluarga berbeda-beda: dihalaman rumah atau sekitar sawah. Ada pula yang menempatkannya di lereng atau lembah. Uniknya, ratusan landa di Kendenan banyak yang telah berusia ratusan tahun.

Selain usianya ratusan tahun, isi landa ada yang berusia sampai 100 tahun. padi setua itu dipercaya manjur menyembuhkan penyakit gula atau diabetes. Makanya banyak pemilik landa tetap menyimpan padinya meski telah berusi tua. Mereka lebih memilih membangun landa baru jika isinya telah penuh.

Yang menarik, nasi dari padi berusia ratusan tahun sungguh berbeda dengan padi yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Untuk memasak nasi seukuran tiga liter padi biasa, kita hanya cukup mengambil segenggam padi tua itu. Yang lebih menarik adalah rasanya. Saat memakannya, saya merasa seperti menyantap nasi selembut kapas. Alhasil, saya pun terpacu untuk tambah, tambah, dan tambah lagi.

Irmawati (Tulisan di Muat di Koran Tempo, Edisi Minggu, 13 Mei 2007, Rubrik Perjalanan)

 

 

 

 

 

 

 

Menjadi Pelancong Sekaligus Petani

Ketika bertandang ke Enrekang, boleh jadi kita akan menemukan sesuatu yang berbeda dari liburan biasanya. Sebab, sejak tahun lalu, kabupaten yang acap kali menjadi tempat persinggahan para wisatawan yang hendak ke Tana Toraja itu menawarkan agrowisata nan unik.

Ada tiga kecamatan–Alla, Baraka, dan Maiwa–yang dijadikan obyek agrowisata di kabupaten sebelah utara Makassar itu. Dan setiap kecamatan menawarkan jenis agrowisata yang berbeda, sesuai dengan potensinya masing-masing.

Tapi ketiga kecamatan itu memiliki kesamaan dalam sistem pengelolaan wisatanya. Para pengelola wisata di sana tidak menyediakan penginapan, seperti hotel, vila, dan sejenisnya. Yang ada, para turis akan diajak berbaur dan menyatu dengan masyarakat. Mereka disiapkan pnginapan di rumah-rumah warga. Makanan yang disajikan juga makanan khas setempat.

Kita juga diajak mengikuti segala tetek-bengek kegiatan pertanian dan perkebunan yang menjadi keseharian masyarakat di sana, di antaranya terjun langsung menanam padi, memotong padi, mengikat padi, dan kemudian menyimpannya di landa.

Yang pasti, saya menemukan sebuah kenikmatan tersendiri ketika berada di wilayah pertanian berhawa sejuk itu. Keramahan yang tulus dari pemandu wisata dan penduduk setempat membuat saya betah berlama-lama di sana.

Boleh dibilang, saya tak merasa dilayani hanya karena mengeluarkan duit. Di Enrekang, saya tak seperti sedang berlibur pada umumnya, ketika para pemandu dan pramusaji bersikap ramah lantaran bayaran kita.

Di sana, saya merasa begitu dekat dengan masyarakat, dapat berbaur secara wajar, dan diperlakukan sebagai keluarga sendiri. Keramahan yang saya terima tak palsu. Sungguh, itu memberikan kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai dengan uang.

Irmawati (Tulisan di Muat di Koran Tempo, Edisi Minggu, 13 Mei 2007, Rubrik Perjalanan)

 

 

 

 

4 Comments

  1. ally said,

    May 29, 2008 at 10:28 pm

    Enrekeng so biutifully place

  2. puput scorpio makassar said,

    October 8, 2008 at 7:33 am

    coba dech lanjut ke toraja. pasti lebihhhh…cantik lagi

  3. Feby said,

    February 8, 2009 at 1:20 am

    Tdk hx kota yg dah disbtkn td, tp Enrekang msh px bbrp t4 yg lbh mnrik lg! Di antarax adlh To’ cemba

  4. Zhul Poarank said,

    June 16, 2014 at 8:06 am

    Saya luruskan sedikit..

    Ini Desa Salukanan Dusun Gandeng tepatnya bukan Desa Kendenan..
    disinilah khas Puluk Mandoti..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: