Menabuh Lesung di Atas Danau Tempe

Danau Tempe

Ada pemotongan sapi untuk menyucikan Danau Tempe. Ada pula tarian bissu yang dimainkan waria.

ANGIN bertiup sepoi-sepoi menerpa lembut tubuh saya ketika saya turun dari mobil Daihatsu Xenia warna perak setiba di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 4 September lalu. Empat jam perjalanan saya tempuh dari Makassar sejauh 242 kilometer, dengan tujuan menyaksikan pesta ritual di Danau Tempe.

Ribuan warga Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo memenuhi tepian danau Tempe, yang terletak di Kecamatan Tempe, bagian barat Kabupaten Wajo, sekitar 7 kilometer dari kota Sengkang menuju Sungai Walanae. Dengan antusias, mereka menyaksikan Festival Danau Tempe. Acara yang dilaksanakan setiap tahun itu juga dirangkaikan dengan Maccera Tappareng-pesta ritual nelayan menyucikan danau dengan berbagai atraksi wisata yang sangat menarik.

Maccera Tappareng adalah bentuk kegiatan ritual yang dilaksanakan di atas Danau Tempe oleh masyarakat yang berdomisili di pinggir Danau Tempe. Ritual ini ditandai dengan pemotongan atau kurban sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan.

Kami tiba di tepian danau seluas 13 ribu hektare itu sekitar pukul 10.00 Wita. Saat itu lomba perahu hias sedang berlangsung. Sedikitnya ada 20 perahu hias berderet beriringan di atas air danau menunjukkan kebolehan mereka beratraksi. Ada perahu motor yang berbentuk ikan raksasa, ada juga perahu yang bertudung jagung raksasa, perahu yang dijadikan lumbung padi. Selain itu, ada kelompok penabuh lesung (padendang) yang menggelar atraksi di atas perahu dan berputar berkeliling agar dapat dilihat oleh warga.

Selain lomba perahu hias ini, masih banyak atraksi lain yang meramaikan festival ini, di antaranya lomba perahu tradisional, lomba layangan tradisional, serta pemilihan anak dara dan kallolona Tana Wajo-seperti pemilihan abang dan none di Jakarta.

Tak ketinggalan ada lomba menabuh lesung dan pergelaran musik tradisional. Yang tak kalah menarik adalah tari bissu yang dibawakan oleh waria.

Matahari berada tepat di atas kepala kami. Kami mulai lapar. Setelah menyaksikan lomba perahu hias, kami pun menuju pusat kota Sengkang untuk mencari warung makan.

Seusai makan siang, sebelum kembali ke tepian Danau Tempe untuk menyaksikan lomba perahu dayung yang akan dilaksanakan pukul 15.00 Wita, kami mengunjungi kawasan budaya rumah adat Atakkae. Letaknya di pinggir Danau Lampulung, sekitar 3 kilometer sebelah timur Kota Sengkang, tepatnya di Kelurahan Atakkae, Kecamatan Tempe.

Di sana kita dapat melihat puluhan duplikat rumah adat tradisional, termasuk sebuah rumah adat yang lebih besar berukurab panjang 42,20 meter, lebar 21 meter, dan tiang bubungan 15 meter. Rumah adat yang dijuluki Saoraja-Istana Tenribali-itu memiliki 101 tiang, yang dibangun pada 1995.

Tiang Istana Tenribali terbuat dari kayu ulin yang didatangkan dari Kalimantan. Setiap tiang beratnya 2 ton, lingkar tiang rumah 1,45 meter, dengan garis tengah 0,45 meter dan tinggi tiang dari tanah ke loteng 8,10 meter.

Megah sekali bangunan rumah kayu ini. Kata orang, jumlah tiangnya 101 buah. Saya penasaran untuk membuktikannya. Lalu saya naik untuk menghitung, dan ternyata benar jumlahnya 101 buah.

Dari teras Saoraja, pemandangan tampak sangat indah. Air Danau Lampulung tampak biru berpadu warna hijau yang ditutupi tanaman air seperti teratai. Keindahan itu ditambah dengan burung yang beterbangan di atas danau dan angsa yang bermain di tepi danau.

Udara terasa sangat segar dan sejuk ditambah angin yang bertiup membuat mata serasa ingin terpejam. Sejenak saya berbaring untuk meluruskan badan, melepas penat setelah melakukan perjalanan dari Makassar, yang berdesak-desakan di dalam mobil.

Penjaga rumah Atakkae mempersilahkan kami melihat-lihat bagian dalam rumah. Di dalam rumah, rasanya seperti sedang berada di masa lampau karena desain dan perabotnya dibuat semirip mungkin istana-istana masa lalu.

Setelah hampir dua jam berkeliling di kawasan rumah adat Atakkae, kami menuju Danau Tempe untuk menyaksikan lomba perahu dayung. Lomba tahunan ini adalah tradisi turun-temurun yang dipelihara oleh masyarakat nelayan.

Kami berbaur di tengah keramaian warga yang menonton lomba ini dari pinggir danau. Saya naik ke atas jembatan gantung untuk memotret. Awalnya saya takut karena jembatan ini bergoyang begitu ada orang melintas. Jembatan selebar 1 meter ini ternyata tidak hanya dilalui orang, tapi juga kendaraan roda dua. Jantung saya berdebar keras ketika ada sepeda motor melintas karena jembatan bergerak keras. Tapi lama-kelamaan saya menikmatinya.

Kami menyewa sebuah perahu motor (katinting) untuk melihat tempat start para pendayung. Katinting dengan lebar kurang dari 1 meter dan panjang 10 meter itu hanya muat maksimal tujuh orang, termasuk pengemudinya.

Awalnya, ada rasa takut saat naik katinting. Bagaimana tidak, kami baru hendak naik, katinting sudah oleh ke kiri-kanan.

Setelah 15 menit, katinting yang kami tumpangi melaju di atas Danau Tempe. Ketika tiba di lokasi start, saya memilih duduk di teras rumah terapung milik warga. Dari situ saya dapat melihat dengan jelas perahu-perahu dayung yang akan berlomba.

Nah, sekali putaran lomba perahu dayung ini hanya diikuti tiga sampai empat perahu, disesuaikan dengan lebar danau. Menurut pengemudi katinting, Wahid, lomba perahu dayung ini terbagi atas tiga kelas, yakni kelas I yang terdiri atas 11 pendayung dalam satu perahu, kelas II dengan sembilang pendayung, dan kelas III dengan tujuh pendayung.

“Kelas lomba perahu dayung ini ditentukan dari jumlah pendayungnya, sedangkan panjang perahu yang digunakan sama, yakni 15 meter,” ujar Wahid.

Setelah menyaksikan beberapa putarab lomba perahu dayung, kami meninggalkan arena lomba meski perlombaan belum usai. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 16.30 Wita. Kami pun mengarungi Danau Tempe dengan katinting menunggu matahari terbenam. Kami melalui perkampungan nelayan berciri Bugis berjejer di sepanjang tepi danau. Semakin lama kami semakin jauh dari keramaian. Tujuan kami: rumah terapung yang ada di tengah-tengah danau.

Sepanjang perjalanan, kami dapat melihat bermacam burung di danau. Ada yang terbang beriringan, ada juga yang terlihat hinggap di rerumputan dan bunga-bunga yang tumbuh terapung di tengah danau. Selain itu, ada burung-burung yang menunggui ikan-ikan muncul di atas permukaan air lalu menyambarnya.

Tidak cuma itu. Kami juga berpapasan dengan beberapa perahu nelayan yang sedang menangkap ikan. Menurut Wahid, di danau itu para nelayan bisa menangkap udang dan berbagai jenis ikan, seperti kandea, mujair, gabus, ikan mas, lele jumbo, dan cambang.

Sejak 1948, Danau Tempe sudah menjadi sentra perikanan air tawar di Indonesia, dengan produksi ikan bisa mencapai 55 ribu ton. Tapi jumlah produksi ikan di danau ini menurun sejak lima tahun lalu, yang tercatat kurang-lebih hanya 11 ribu ton.

Para nelayan ini tidak hanya menggunakan jaring atau pansingan untuk menangkap ikan, tapi mereka juga memasang pagar pembatas bak tambak. Nah, di dalam pagar itulaj ikan-ikan dipelihara. Setelah air mulai surut dan ikan mulai besar, nelayan akan memanennya.

Ada juga nelayan yang menangkap ikan ditengah danau dari atas rumah terapungnya. Jika kita melihat Danau Tempe ini dari ketinggian, akan tampak seperti baskom raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten, yaitu Wajo, Soppeng dan Sidrap.

Setelah sekitar 45 menit mengarungi danau, sampailah kami di sebuah rumah terapung di tengah danau. Rumah itu bak perahu yang terapung di tengah danau. Rumah ini terbuat dari kayu, dengan sekelilingnya dibuat teras dari bambu, dan pada bagian depan tampak lebih luas. Meski bergerak, rumah ini tidak akan hanyut terlau jauh, karena rumah diikatkan pada tiang pancang yang tertanam di dalam danau dengan menggunakan tali tambak.

Begitu sampai, saya langsung melompat dari perahu ke teras rumah tersebut. Hari itu cuaca tidak begitu cerah. Matahari yang hendak terbenam di ufuk barat tampak tertutup awan tebal, sehingga hanya berkas cahayanya yanng memancar dan berusaha menembus keluar. Meski demikian, keindahan sore itu tetap dapat kami nikmati.

Kata Wahid, banyak pengunjung atau wisatawan yang memilih menginap dirumah terapung ini bersama para nelayan. Nah, pada malam hari, keindahan cahaya rembulan yang menerangi Danau Tempe akan sangat indah, ditemani taburan bintang-bintang, suatu paduan yang sangat cocok bila kita sekalian memancing ikan untuk makan malam.

Ada satu lagi yang unik saat nelayan menangkap ikan, yakni mereka diiringi musik tradisional yang dimainkan penduduk.

Sebenarnya kami masih ingin mengunjungi satu tempat, yaitu perkampungan nelayan terapung Salo Tengngae. Di sana ada puluhan nelayan yang semuanya bermukim di atas rumah terpung. Sayangnya, ombak saat itu sangat besar dan persiapan kami kurang memadai untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi tersebut, yang masih membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Setelah menikmati matahari tenggelam, kami mengakhiri perjalanan malam itu. Esok harinya kami menyaksikan pembuatan kain sutra di Sengkang, yang merupakan salah satu daya tarik wisata kawasan itu. (Mawar)

Catatan : Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, edisi Minggu 30 September 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: