Menyusuri Jejak Anoa

Menurut cerita penduduk kampong di sekitar Gunung Latimojong, telaga ini kerap menghilang.

Rasa lelah setelah mencapai Buntu Lebu, ketika mendaki Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Agustus tahun lalu, memaksaku memilih berbaring sejenak.Langit biru cerah tampak dari sela-sela ranting pohon tempat aku berbaring di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut itu. Sesekali awan putih melintas langit biru sehingga cuaca berubah mendung. Tidak lama setelah awan putih berlalu dan berganti dengan langit biru, cuaca akan cerah dan terang benderang.

Sinar matahari sangat terik, tapi panasnya dikalahkan oleh sejuknya udara yang dibawa angin yang bertiup tanpa henti.

Suasana itu membuat mataku terbuai dan memilih terpejam sejenak sambil mendengarkan gemericik air sungai kecil dekat tempatku berbaring. Sesekali mataku terjaga untuk mengagumi tanaman kerdil yang banyak tumbuh disekitarku, berbunga bak bunga sakura.

Sementara pemanduku, Ully, sedang sibuk membangun tenda bulan tepat di tepi sungai kecil, aku benar-benar tertidur. Aku baru tersadar saat Ully membangunkan aku untuk makan siang meski hari sudah menjelang sore.

Setelah makan dan duduk-duduk sebentar di sebuah batu di tepi sungai, aku mulai membersihkan diri dengan air sungai. Sesekali aku meminum air dari telapak tanganku. Wah, rasanya segar.

Sore itu kami memilih berjalan-jalan menyusuri jejak anoa-binatang khas Sulawesi. Kami memilih mendaki lebih tinggi memanjati tebing-tebing batu yang ditumbuhi pohon kerdil. Jalan akan terasa lebih mudah saat kami hanya melalui kerimbunan pohon yang medannya agak datar.

Mata kami tak kalah lincahnya disbanding kaki kami. Di antara kerimbunan pohon, kadang kami dapati jejak-jejak kaki binatang. Kata pemanduku, itu jejak anoa. Dalam pengamatanku, itu seperti jejak kaki sapi, tapi ukurannya sedikit lebih kecil.

Untuk dapat melihat anoa secara langsung, kami pun memilih menyusuri jejak-jejak kaki tersebut. Setelah beberapa lama berjalan, kami mendapati beberapa kotoran binatang yang mirip kotoran kuda tapi warnanya agak hitam. “Ini kotoran anoa,” ujar Ully.

Setelah lama berjalan, usaha kami ternyata tidak sia-sia. Di antara pepohonan yang tumbuh di tebing batu, terlihat dari kejauhan seekor anoa berwarna hitam. Sayang, kami tidak dapat mendekat karena tebing tempat anoa itu berada diseberang bukit.

Duduk sejenak untuk mengambil napas, kami pun mengambil arah ke kanan dengan medan sedikit memanjat. Ternyata Ully mengajakku melihat telaga biru, salah satu tempat minum bagi anoa.

Menurut cerita penduduk kampong di sekitar Gunung Latimojong, telaga ini kerap menghilang. Ternyata betul, saat kami tiba, kami tidak menemukan telaga tersebut.

Bukan menghilang, melainkan kering. Jadi, jika kita ingin melihat telaga ini, sebaiknya datang pada pagi hari karena telaga ini terbentuk dari kumpulan embun. Sehingga, pada siang hari, telaga akan menguap dan kering.

Meski demikian, kita dapat mengetahui lokasi telaga itu dari tumbuhannya, yakni berupa rerumputan yang khas dan berbeda dengan wilayah yang bukan telaga. Dari jenis tanaman ini, kami bisa memperkirakan luas telaga sekitar 50 meter persegi. Di sekitar telaga itu terdapat beberapa telaga lebih kecil.

Hari mulai gelap. Medan pun cukup sulit: terjal dan licin. Tentunya berbahaya untuk berjalan dalam keadaan seperti itu. Kami pun memutuskan untuk segera kembali ke tenda. Penyusuran anoa akan kami lanjutkan esok pagi dengan harapan kami dapat melihat anoa dari dekat.

Cuaca malam itu begitu dingin. Meski aku sudah memakai berlapis-lapis pakaian, ditambah jaket, hawa dingin masih menembus hingga menusuk tulang. Rasanya ingin masuk ke tenda dan memakai kantong tidur. Tapi pemandangan malam hari tak kalah indahnya disbanding siang hari. Di kejauhan terlihat bintang-bintang bertaburan. Cahaya yang terpancar tampak sangat jelas, membuat mata sulit terpejam.

Semakin larut, dingin semakin menusuk, sampai-sampai aku sulit untuk melawannya. Akibatnya, kedua kaki dan tanganku beku. Hal ini membuat aku sulit melewatkan malam dengan beristirahat dan tidur nyenyak. Sehingga malam itu terasa lebih panjang daripada biasanya.

Pagi harinya, setelah beristirahat dan bersiap-siap, kami melanjutkan perjalanan menuju telaga biru. Kami menemukan telaga yang dimaksud, tapi tidak seluas biasanya. Sayang, lagi-lagi kami tidak mendapati anoa karena matahari sudah mulai meninggi. Yang kami temukan hanya jejak-jejak kaki anoa. (Mawar)

POPULASI ANOA YANG TERUS BERKURANG

Selain di Pegunungan Latimojong, jejak-jejak kaki anoa dapat kita temukan di tempat lain di Sulawesi Selatan. Menurut data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, anoa dapat kita temukan di Pegunungan Quarles, Cagar Alam Faruhumpenai, Bone Majene, Luwu Utara, Luwu Timur, Mamuju, Enrekang, Mamasa dan Tana Toraja.

Di kabupaten Luwu Utara misalnya, kita dapat menemukan anoa di Kecamatan Rampi, yang terbagi dalam enam desa, dengan luas wilayah 1.565,65 kilometer persegi. Dari luasannya ini, 93,7 persen merupakan wilayah hutan yang medannya berupa pegunungan dengan ketinggian rata-rata 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut.

Akses menuju Rampi ini tak kalah menantang dibanding akses menuju Pegunungan Latimojong di Enrekang. Perjalanan kita mulai dari kota Masamba menuju Kecamatan Rampi, tepatnya Desa Leboni sebagai desa terdekat. Perlu waktu tiga hari untuk sampai ke sana. Setengah hari naik kendaraan jenis roda empat double gardan atau jenis jip, bisa juga dengan roda dua, tapi harus sepeda motor jenis tertentu. Selain kualitas kendaraan yang memadai, pengendaranya harus yang betul-betul menguasai medan.

Untuk dapat melihat langsung anoa, perjalanan harus dilanjutkan berjalan kaki selama dua hari.

Menurut Dewi Sulastriningsi, dari BBKSDA Sulawesi Selatan, anoa terbagi dalam dua spesies, yakni anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarles). “Anoa pegunungan tersebar di hutan pegunungan Sulawesi, yakni golongan hutan perawan yang terdapat jenis buah, daun-daun, rumput-rumput, lumut dan pakis sebagai bahan makanannya,” ujar Dewi.

Satwa endemic pulau Sulawesi ini sejak 1931 digolongkan sebagai salah satu satwa langka yang dilindungi Negara. Karena itu, kita sama sekali dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakannya dalam keadaan hidup atau mati ataupun bagian-bagian dari satwa ini. Kalau Cuma menyaksikan langsung, boleh-boleh saja.

Anoa pegunungan memiliki cirri berbeda dengan anoa dataran rendah. Anoa pegunungan umumnya memiliki warna lebih hitam, bulu lebih tebal, tanduk pendek berbentuk kerucut, panjang tubuh berkisar 160-172 sentimeter, panjang ekor berkisar 18-31 sentimeter, tinggi badan anoa dewasa hanya 75 sentimeter, dan berat badan sekitar 150-300 kilogram.

Mengenai populasi anoa, di daerah observasi seluas 8.942 hektare, misalnya, diperkirakan sekitar 30-138 ekor. Sementara itu, populasi dihutan lepas relative sulit dihitung mengingat sifatnya yang soliter dan daya jelajahnya sekitar 500 hektare atau radius sekitar 400 meter.

Meski satwa yang satu ini hidup di wilayah yang masih terisolasi, bukan berarti tanpa ancaman. Selain kondisi alam dan karakteristik satwa, tingkat reproduksinya rendah, yakni satu ekor per tahun.

Kegiatan manusia juga berpengaruh, apalagi jika ada perburuan dan perusakan hutan, yang berarti terjadi fragmentasi habitat yang dapat mengurangi pergerakan satwa ini sehingga meningkatkan risiko kepunahan. “Banyaknya kawasan konservasi yang ada sebagai habitat anoa bukan jaminan akan kelestariannya,” kata Dewi. (Mawar)

Catatan: Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, rubrik Perjalanan, Edisi Minggu, 13 Januari 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: