Menari Bersama Angin di Perairan Spermonde

 

Naskah & Foto : Irmawati

Sandeq meluncur cepat dan tenang, hanya ada suara gemericik air yang terbelah.

Pagi itu cuaca tak begitu cerah, matahari sedikit terhalang awan. Tapi bukan penanda hujan bakal turun. Udara sejuk terhirup segar di hidung saat menumpang becak menuju dermaga Ujung Batu. Cukup menyegarkan badan,meski hanya mendapat kesempatan tidur selama dua jam. Tak ada polusi, jalan lengang, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Tak lama kemudian, kami sampai di ujung jalan ke arah pantai, pada sisi kanan terdapat dinding tembok bertuliskan “Ujung Batu”. Aroma laut yang menyebar terbawa angin.

Dari kejauhan, 42 perahu sandeq (perahu bercadik) berjejer di pesisir pantai. Layarnya sudah dikembangkan, siap untuk memulai perjalanan etape terakhir Barru-Makassar, dalam ajang Sandeq Race 2010. Masing-masing punggawa (nahkoda) memberi aba-aba kepada dua asistennya, yang disebut pabeso baya-baya. Mereka bertugas mengontrol bukaan layar. Sedangkan lima orang sawi (anak buah kapal) mendorong perahu ke tengah laut.  Satu tim peserta lomba terdiri dari delapan orang passandeq (pelayar sandeq).

Sandeqsandeq itu mulai melaju, saling berlomba tak mau kalah cepat, mengeluarkan keahlian mereka menaklukkan lautan.  Dalam sekejap, pesisir Ujung Batu bersih, kapal-kapal motor pengiring masing-masing peserta juga langsung menyalakan mesinnya dan menyusul sandeq. Kami sendiri menumpangi KM Duta Merlin, perahu milik panitia yang mengambil jalur tengah. Kami berhasil mengejar beberapa sandeq. Berjarak sekitar 30 meter di sisi kanan kami, tampak tim sandeq Anugrah berjuang. Si punggawa terlihat berwibawa memberikan aba-aba,  sementara matanya awas memperhatikan medan untuk menentukan jalur.

Menyusul tim sandeq Rezeki, tiga sawi mendayung, dua orang melakukan timbang (menjaga keseimbangan)di palatto (bambu lurus, tempat berdiri para awak untuk menjaga keseimbangan)  sebelah kanan. Dalam sekejap,  mereka melaju meninggalkan kami.  Wah, para awak itu begitu lincah berlari diatas sebatang bambu, mereka seperti penari begitu lentur mengikuti arah angin dan mempermainkan ombak, membelah lautan. Konon perahu sandeq adalah kapal bercadik tercepat di dunia. Jika angin baik, maka kecepatannya bisa mencapai 15-29 knot atau 30-40 kilometer per jam.

Mungkin dipengaruhi oleh desainnya yang ramping, panjang, dan ringan. “Kecepatan laju perahu bisa terlihat dari banyaknya awak yang melakukan timbang. Artinya,  angin baik dan tak perlu mendayung karena lima awak melakukan timbang,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, Ketua Panitia Sandeq Race 2010. Atraksi-atraksi passandeq ketika mengarungi lautan ini menjadi daya tarik tersendiri. Pada etape-etape sebelumnya, beberapa turis mancanegara  dari Canada, Rusia, Italia, Australia dan Prancis juga ikut menumpang kapal motor pengiring untuk menikmati objek wisata yang satu ini. Wisatawan asal Prancis malah mengikuti empat etape, mulai dari Mamuju hingga Polewali.

Sandeq race tahun ini dibagi dalam tujuh etape,  mulai start dari Mamuju ,Sulawesi Barat dan finis di Makassar, Sulawesi Selatan. Yakni etape pertama Mamuju-Deking, kedua Deking-Somba, ketiga Somba-Majene, keempat Majene-Polewali, kelima Polewali-Ujung Lero, keenam Ujung Lero-Barru, dan ketujuh Barru-Makassar. Menurut Ridwan, etape terakhir ini berjarak sekitar 60 kilometer.

Pada etapa terakhir ini, kita tak melulu menyaksikan sandeq. Tetapi kita juga akan disuguhi

pemandangan eksotis pulau-pulau karang yang berada disebelah barat jazirah Sulawesi Selatan.

Hamparan pulau membentang selatan-utara, mulai Kabupaten Takalar di Selatan hingga pulau-pulau Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di utara, dikenal sebagai Dangkalan Spermonde, dengan jumlah pulau sekitar 120 pulau, 12 diantaranya merupakan bagian wilayah Kota Makassar. Pulau terbanyak berada di perairan Pangkep.

Mendapat kode dari Ridwan, Syafaruddin Hatta, sang punggawa KM Duta Merlin, menghentikan kapal motor yang kami tumpangi, disekitar Pulau Bate Tiga, yakni tiga pulau kembar di perairan Pangkep. Pemandangan bawah lautnya sangat indah,  terlihat jelas, karena air sangat jernih. Koral-koralnya masih hidup, ada banyak bintang laut yang didominasi warna biru, serta ikan-ikan berukuran kecil bergerombol bermain pada air dangkal. Meski indah, tapi ternyata ini menjadi etape paling sulit bagi peserta lomba sandeq. Lingkungan perairan ini dinilai berbahaya karena dimana-mana ada gusung dan terumbu karang. Melintasi Kepulauan Spermonde, jika tak hati-hati melakukan manuver, bisa-bisa kemudi patah atau perahu pecah sebab kandas di karang.

Matahari tepat lurus di atas kepala, rasa lapar mulai menyerang. Tetapi langsung terobati oleh suguhan menu ala nelayan. Sepiring nasi panas, ikan Cakalang dan Tongkol kering bakar dicampur ulekan lombok, bawang dan garam. Hmmm…, mak nyus. Menu karya koki cilik, Aco, 10 tahun. Dan perahu sandeq peserta lomba jaraknya makin jauh, sekitar 20 kapal masih terjangkau pandangan mata. Itu pun posisinya terpencar. Meski jauh dari sandeq, kami  masih bisa menikmati suasana tenang mengapung di lautan. Menikmati atraksi ikan terbang yang muncul dari dalam air. Beberapa ikan mampu melompat cukup tinggi dan cukup jauh sekitar 10 meter. Penampilannya semakin indah dengan kilauan perak dari  berkas sinar matahari yang memantul pada air laut. Pemandangan seperti ini bisa kita nikmati ketika matahari mulai lengser ke barat.

Sekitar pukul 16.30 Wita, kami merapat di Pantai Losari, tiga peserta lomba sandeq telah masuk tiba mendahului kami. Beberapa perahu sandeq baru tiba pada malam hari. Keesokan harinya, kami  berkesempatan menguji adrenalin dengan mencoba berlayar menggunaan sandeq.  Menumpang Arawungan Pantai Ratu, yang di punggawai Ropong, 52 tahun, kami mengarungi perairan Makassar di sekitar Pulau Lae-lae.

Lima awak terlihat begitu lincah berlari diatas batang bambu, mengikuti irama angin. Sandeq meluncur cepat dan tenang.  Hanya ada suara gemericik  air yang terbelah. Kami ikut awas, memperhatikan layar yang diputar ke kiri dan kanan,  mengimbangi angin, membuat kami terpaksa bangun-tidur di bodi sandeq jika tidak akan terlempar ke laut.

Bagi mereka yang juga ingin mencoba sensasi menumpangi sandeq, beberapa peserta bersedia mewujudkan keinginan itu dengan senang hati.  Tarifnya  sekitar Rp 200 ribu. Ajang sandeq race ini merupakan salah satu objek wisata yang bisa dinikmati sekali setahun. Tahun ini adalah lomba sandeq ke-12. Diprakarsai Horst H Liebner, peneliti Maritim Nusantara, 1995 lalu. “Keberadaan lomba ini menjadi alasan bagi seluruh masyarakat Mandar untuk tidak meninggalkan begitu saja tradisi pelayaran dengan perahu sandeq,” katanya.

Menurut Horst, sekarang nelayan lebih memilih memakai kapal motor dengan kamar dan mesin penggerak yang tidak tergantung pada angin. Buat mereka , kapal motor lebih nyaman. Namun kecenderungan ini akan mengancam hilangnya sandeq sebagai salah satu kekayaan pengetahuan berlayar dan membangun perahu layar yang dikumpulkan para pelaut Mandar sejak ratusan tahun silam. (Irmawati)

Pulau-pulau di  Makassar

Kepulauan Spermonde memiliki 12 pulau yang sebagian besar masih asri. Empat dari 12 pulau itu dikembangkan  sebagai pulau wisata yakni Pulau Lanjukang, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona dan Pulau Kayangan. Sisanya dijadikan pulau hunian yakni Pulau Langkai, Lae-Lae, Lae-Lae Kecil, Bonetambung, Lumu-lumu, Kodingareng Lompo, Barrang Lompo, dan Barang Caddi.

Pulau Lanjukang atau Lanyukang alias Laccukang adalah pulau terluar yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Luasnya mencapai 6 hektar, dengan rata-rata terumbu mengelilingi seluas 11 hektar.  Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang lunak, ikan karang, ikan hias, serta biota laut lainnya.

Biasanya wisatawan memanfaatkan sebagai tempat transit sebelum meneruskan  ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (Pangkep) untuk olahraga memancing. Di Pulau Lanjukang ini terdapat fasilitas resor, yakni dua buah bangunan rumah semipermanen. Meski fasilitasnya sangat terbatas,  bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini salah satu tempat yang ttepat.  Ideal untuk berkemah atau bermain di pantai  pasir putihnya.

Pulau Kodingareng Keke, berjarak 14 kilometer dari Makassar. Luasnya  sekitar 1 hektar. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikil, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh  pasir putih yang berukuran sedang-halus. Bentuk pulau ini  berubah mengikuti musim barat dan timur. Terdapat bangunan semi permanen sebagai resor  yang dikelola  warga Belanda. Tempat ini idela bagi mereka yang senang snorkeling. Kondisi terumbu karangnya masih terjaga dengan baik.

Pulau Samalona, berjarak sekitar 7 kilometer dari Makassar, secara  administratif masuk wilayah Kecamatan Mariso. Bentuknya agak  bulat dengan luas sekitar 2 hektar. Cukup rindang dengan sejumlah pohon besar, seperti  pohon cina, pohon tammate,  dan pohon kelapa.  Di sisi barat laut terdapat hamparan pasir putih yang dimanfaatkan sebagai tempat bermain voli. Di pulau ini dapat dijumpai  sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat Samalona, letaknya disisi utara. Ada rumah penduduk yang bisa disewa serta tempat pemandingan, dan tempat ini nyaman untuk berenang.

Pulau Kayangan, di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang berjarak  sekitar 800 meter dari pelabuhan Soekarno-Hatta,  atau bisa ditempuhnya hanya sekitar 15 menit. Bentuknya agak bulat, luasnya sama dengan Samalona, juga berpasir putih. Dulu pulau ini bernama Marrouw atau Meraux, salah satu tempat wisata bahari favorite sejak tahun 1964. Ada fasilitas penginapan, pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, tempat bermain anak, sarana olahraga, anjungan memancing dan kolam renang air tawar.

Jika ingin mengunjungi pulau-pulau di kawasan Spermonde, kita bisa menyewa kapal dari marine popsa dan dermaga kapal Bangkoa.  Satu unit kapal berkapasitas  sepuluh orang, disewakan Rp 300 untuk rute Pulau Samalona pergi pulang. Tarifnya menjadi  Rp 500 ribu bila  ke Pulau Kodingareng Keke dengan waktu tempu sekitar satu jam. Dan jika ingin mengunjungi kedua pulau ini,  tarif lebih murah , yakni Rp 700 ribu. (Irmawati)

Catatan : Pernah dimuat di halaman Destination, Majalah Travelounge Edisi Oktober 2010

1 Comment

  1. saymawar said,

    March 29, 2012 at 7:55 am

    Reblogged this on !mH3 oN tH3 bLoG and commented:

    Berusaha dan berdoa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: