Ritual Mendinginkan Alam Ala Kajang

Naskah & Foto : Irmawati

Suku Kajang percaya, jika manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga mereka.

Pagi  yang cerah dan  udara sejuk menyatutnampak kontras dengan suasana di kawasan Tana Toa, Sulawesi Selatan,  di mana masyarakat Kajang Dalam maupun Kajang Luar kompak mengenakan pakaian serba hitam.  Mereka   berbondong-bondong menuju gerbang Tana Toa. Tak jauh dari tempat itu akan digelar prosesi Andingingi,  yakni ritual  mendinginkan alam dan isinya serta memohon keselamatan. Kegiatan sekali  setahun ini digelar pada 23 Oktober lalu sebagai bagian dari Festival Pinisi.

Sebelum memulai upacara, warga Kajang berkumpul tepat digerbang masuk tanah adat Kajang. Bak pagar, lelaki dan kaum perempuan berbaur  dan berbaris membentuk saf. Mereka membentuk lorong sepanjang 10 meter dari gerbang. Ini adalah bentuk penyambutan masyarakat Kajang terhadap tamu yang hadir.

Tamu dalam pakaian serba hitam pun berbaur. Warna hitam dipercaya suku Kajang sebagai warna kesempurnaan yang melambangkan kesederhanaan. Warga ali Kajang tanpa alas kaki.

Rak lama, kami pun tiba di lokasi upacara Andingingi. Dua buah barung-barung atau pondok dibangun di sebelah kiri jalan. Satu barung-barung dipakai untuk para tamu dari luar. Sedangkan  barung-barung satu lagi ditempati oleh warga suku Kajang asli, termasuk pemimpin suku (Ammatoa). Barung-barung ini tergolong rendah jika dibandingkan ukuran barung-barung yang normal. Orang dewasa harus merunduk, dan hanya bisa berdiri jika berada tepatnya.

Tanpa aba-aba, kaum perempuan bersama anak-anak langsung masuk ke dalam barung-barung. Seorang bocah terlihat begitu asyik meneguk minuman dari tempurung kelapa yang bulatannya masih utuh, hanya ada lubang sebesar mulut botol. Tempat minum seperti ini tergantung dibeberapa tiang barung-barung. Masyarakat Kajang, terutama di kawasan Kajang Dalam atau di Tana Toa,  hidup secara alamiah.

Perlengkapan mereka sangat sederhana  dan dibuat dari bahan alam. Seperti tide—piring yang  terbuat dari anyaman daun tala, tempurung kelapa yang dibagi menjadi dua bagian dan menjadi  mangkuk, kemudian gelas terbuat dari bambu. Untuk penerangan,  masyarakat Kajang memanfaatkan kemiri yang dihaluskan, lalu dicampur kapas  dan dibalutkan pada bambu yang dibentuk pipih.

Di dalam barung-barung sudah duduk Ammatoa, didampingi permaisurinya dan para pejabat perangkat adat Kajang. Pemimpin dan rakyatnya duduk bersama dalam satu atap, bedanya, tempat Ammatoa lebih longgar. Di bagian tengah,  ada perangkat upacara,  yakni air suci yang telah didinginkan semalaman, dikenal sebagai prosesi  appalentenge ere. Seikat besar tumbuh-tumbuhan terdiri dari 40 jenis dikenal raung kayu patang pulo. Dan seperangkat kapur sirih di atas talam anyaman daun kelapa. Perangkat upacara ini dijaga oleh permaisuri Ammatoa dan dua perempuan kepercayaannya.

Tiga wanita penjaga perangkat upacara ini tampak sibuk membuat ramuan. Haliah,  misalnya, membuat ramuan bedak.Tangannya tampak lincah mengambil beberapa bungkusan daun yang berisi tepung beras dan kunyit halus. Bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam sai—mangkuk tempurung kelapa– lalu diberi sedikit air suci yang diambil dari dalam katoang tanah atau mirip guci. Bedak basah yang beraroma khas ini kemudian dipakai untuk bacca, yakni penanda  pada dahi dan pangkal leher, bagi semua warga yang ikut ritual Andingingi. Pemberian bacca ini bermakna  agar orang selalu jujur, dengan menyatukan apa yang dipikirkan dan isi hati.

Setelah proses pembuatan bedak selesai. Dua orang pria yang dikenal sebagai Tu’nete melakukan abbebese, yakni prosesi menyiramkan air ke arah empat penjuru mata angin dengan mengelilngi semua yang hadir sebanyak tiga kali. Dua pria ini hanya  menggunakan sarung hitam bergaris biru yang dibalut menutupi dada hingga  bawah lututnya. Tetapi masih lengkap dengan daster, yakni ikat kepala  berupa kain passapu. Satu lelaki bertugas mengangkat katoang atau baskom dari tanah berisi air suci. Satunya  lagi bertugas melakukan kebasan dengan 40 jenis dedaunan yang diikat menjadi satu. Dedaunan ini  telah direndam semalaman bersama air suci tersebut.

Tokoh masyarakat Kajang luar, Tamrin Rais, 34 tahun, mengatakan abbebese ini merupakan kegiatan inti dari ritual Andingingi. Kebasan pada empat penjuru mata angin dan mengelilingi seluruh yang hadir dimaksudkan agar alam akan kembali dingin, aman, tentram dan damai. Penggunaan seikat besar dedaunan bermakna bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sangat bergantung pada alam, sehingga harus menjaga alam. Dimana alam dan manusia bersahabat dan saling menjaga.  “Tiap percikan air diharapkan bisa mendinginkan seluruh alam,” ucap Tamrin.

Adapun jenis dedaunan yang dipakai untuk abbebese adalah tumbuhan khas. Diantaranya tobi—buah pinang muda, biruppa—daun siri, daun paliasa, koddoro buku, dan beberapa dedaunan yang biasa dimanfaatkan sebagai obat. Perlengkapan lain yang juga wajib ada dalam ritual Andingingi adalah padi sikarrang—seikat padi bulir dan loka katiung—pisang.

Prosesi selanjutnya, mengumpulkan hasil kebun dan sawah warga Kajang untuk diberkahi dan didoakan agar panen mendatang hasilnya tetap baik.Sampel hasil panen ini disimpan dalam wadah yang disebut kappara—semacam tempayan yang dibuat dari anyaman rotan kemudian diberi alas daun pisang.  Beberapa hasil panen seperti padi, kacang-kacangan, pisang dan kelapa.

Tak jauh dari tempat Ammatoa duduk,  sekitar 10 perempuan duduk berderet. Di hadapannya  ada kappara berisi pisang, kepala, daun siri, buah pinang, gelas bambu berisi arak dan pelita dari daging buah kemiri.  Bahan sesajen ini kemudian dibagi, ada yang dipersembahkan  untuk bumi, air dan alam gaib.

Di bagian luar barung-barung, beberapa pria  juga menyiapkan sesajen. Para pria ini membagi  sesajen ke dalam keranjang yang dibuat dari anyaman daun kelapa. Sesajen ini disebar dengan cara digantungkan pada pohon. Sesajen untuk bumi ditaruh di bawah pohon. Sesajen untuk penguasa air dihanyutkan ke sungai. Dan  bagi alam gaib ditaruh di balai di dalam hutan.

Proses terakhir adalah mencicipi makanan yang telah disediakan. Diantaranya beras ketan hasil ladang yang telah dikukus. Beras ketan  terdiri atas empat warna, yakni hitam, menyimbolkan tanah; kuning simbol angin; putih simbol air; dan merah simbol api. Kemudian sayur kacang merah kecil dan kacang hijau. Lauknya ada ikan dan ayam.

Tamrin mengatakan semua makanan ini dibawa oleh masing-masing rumpun keluarga suku Kajang. Sebab, selama prosesi Andingingi berlangsung, di kawasan Kajang Dalam tidak diperbolehkan ada kegiatan memasak. Makanan  dinikmati bersama, baik warga maupun pendatang.   Santap bersama ini bermakna kebersamaan.

“Andingingi adalah ritual untuk mendinginkan seluruh isi alam. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk meminta doa terhadap segaja sesuatu yang ada di muka bumi ini,” kata Puto Butong, 56 tahun, Mantan Kepala Dusun Tana Toa. Adapun  doa yang dipanjatkan ini agar alam dan seluruh isinya diberkahi dan dilindungi oleh Sang Pencipta. Menurut Puto, saat upacara berlangsung, masyarakat juga mengganggu dan mengusik binatang karena mereka merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. “Menurut adat kami, pada saat manusia menjaga alamnya, maka alam pun akan menjaga manusia.”

Saat ritual digelar, semua yang hadir,  termasuk para tamu dari luar,  diwajibkan berpakaian hitam. Lelaki  boleh memakai penutup kepala atau passapu. Perempuan memakai baju, sarung dan kerudung, juga berwarna hitam. Warna hitam adalah warna kebesaran yang menyimbolkan kesempurnaan.

Beberapa aturan yang juga harus dipatuhi adalah tidak meludah sembarangan, tidak melewati daerah yang bukan jalur jalan atau setapak karena akan menginjak tanaman, dilarang memetik tanaman tanpa izin, dilarang ribut, bahkan ada beberapa tempat orang dilarang untuk berbicara. Adapun bahasa pengantar yang dipakai selama proses Andingingi yakni bahasa Konjo. Ini adalah bahasa asli masyarakat adat Ammatoa Kajang.

Upacara selesai, warga Kajang Dalam meninggalkan lokasi barung-barung dan menuju ke barat daya menuju Benteng, yang tak lain adalah kediaman Ammatoa.Sementara para undangan dan warga Kajang Luar meninggalkan Desa Tana Toa Kajang.

(Irmawati)

Catatan : Dimuat di halaman Culture, Majalah Travelounge edisi Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: