Menjelajahi Jejak Kepiting Raksasa

Berwisata di Pulau Kapoposan tak lengkap jika tak menjelajahi malam menyusuri jejak kepiting raksasa.

Kepiting Kenari di Pulau Kapoposang. Foto/Irmawati

Langit bertabur bintang tampak di antara pepohonan kelapa, dengan lambaian daunnya yang pelan. Bola lampu di rumah-rumah warga sudah mulai mati, pertanda malam sudah mulai larut. Di Pulau Kapoposang, Kecamatan Liukang Tuppabiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, ini, listrik bersumber dari mesin genset, yang dimatikan saat waktu menunjukkan pukul 21.00 Wita.

Berada dalam suasana gelap ditemani suara ombak tak membuat kami mengantuk. Tiba-tiba muncul Pak Syamsuddin, warga Kapoposang, yang mengajak kami menjelajahi suasana Pulau Kapoposang saat malam. Konon, saat malam seperti ini, kita dapat melihat Kepiting Kenari, dikenal dengan nama latin Birgus latro, atau Kepiting Kelapa yang merupakan artropoda darat terbesar di dunia. Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof Yushinta Fujaya, yang ditemui pada Kamis lalu mengatakan, binatang itu disebut kepiting kelapa karena kepiting ini memang pemakan kelapa.

Bermodalkan dua buah lampu senter, kami berenam menyusuri jalan setapak ke arah hutan. Pepohonan semakin rimbun, jejak jalan setapak tadi putus, kami berjalan pelan, dalam gelap, kaki kami kadang tersangkut ranting dan akar pohon.

Mendekati pohon beringin yang cukup besar, tiba-tiba Pak Syamsuddin, yang berjalan di depan kami, memberikan kode, kami berhenti sejenak. Cahaya lampu senter Pak Syamsuddin menyorot seekor kepiting sebesar wajan berukuran sedang. Seolah terancam, kepiting tersebut lari menuju batang pohon beringin. Dengan lincah, badannya masuk ke celah-celah akar pohon yang melengket pada batang pohon.

Warnanya yang biru cerah membuat kepiting tersebut tetap tampak jelas meski sedang bersembunyi. Beberapa kali Pak Syamsuddin mencoba mengeluarkannya dengan bantuan ranting pohon, tapi kayu-kayu tersebut justru patah oleh capit kepiting. Beberapa lama kami menunggu, kepiting tersebut tetap bertahan di tempat persembunyiannya.

Kami memilih melanjutkan penjelajahan, berharap menemukan kepiting raksasa lainnya. Baru berjalan sekitar 10 meter, Pak Syamsuddin kembali memberikan kode. Seekor kepiting kenari kembali ditemukan, kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna cokelat. Uniknya, sebagian badan kepiting ini menempati botol kaca bening, sehingga sangat mirip kelomang. Mungkin karena merasa sudah cukup terlindung dengan pelindung botol itu, kepiting ini tak terlalu bereaksi dan memilih tetap di tempatnya.

Sebenarnya, kami sudah cukup lelah menjelajahi malam di Kapoposang, tapi rasa penasaran ingin melihat kepiting kenari yang lebih besar membuat kami bersemangat terus melangkahkan kaki. Berjalan dalam gelap seperti ini membuat saya kebingungan. Terkadang kami salah jalan dan kembali ke tempat semula. Sedangkan Pak Syamsuddin sudah berjalan jauh di depan kami.

Semakin jauh berjalan ke dalam hutan akhirnya membuahkan hasil. Seekor kepiting kenari kembali kami temukan di bawah pohon beringin. Uniknya, kepiting ini sedang sibuk mecabik-cabik sabuk kelapa. Menurut Yushinta, kepiting ini memiliki capit yang kuat untuk mengupas kelapa, untuk kemudian memakan daging kelapa.

Kepiting Kenari Mengupas Kelapa di Pulau Kapoposang. Foto/Irmawati

Tampaknya kepiting ini sedikit grogi, apalagi setelah beberapa kali lampu flash kamera mengarah kepadanya. Sang kepiting memilih menghentikan aktivitasnya, tapi tidak beranjak meninggalkan buah kelapanya. Setelah gambar diambil dari beberapa sudut, kami memilih pulang ke pondok untuk beristirahat, juga agar sang kepiting bisa melanjutkan perjuangannya mengupas buah kelapa untuk memperoleh makanan. Berwisata ke Pulau Kapoposang tak akan lengkap jika tak menjelajahi malam menyusuri jejak kepiting kelapa. (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, Edisi 18 April 2012)

Seputar Kepiting Kenari

Jenis kepiting ini banyak ditemui di Kalimantan dan Maluku. Tapi ternyata juga dapat ditemukan di Pulau Kapoposang, Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Yushinta Fujaya, ahli kepiting dari Universitas Hasanuddin, kepiting ini sangat mungkin ada di Kapoposang karena memang mereka memilih pulau-pulau yang banyak kelapanya.

Kepiting kelapa ini adalah jenis kepiting yang pertumbuhannya sangat lambat, sehingga spesies ini dilindungi. Jenis hewan air yang bernapas dengan insang, tapi mampu bertahan di darat. “Insangnya dilengkapi pigmen mirip spons yang selalu membasahi. Kalau kering, kepiting akan turun lagi ke air untuk membasahinya,” ujar Yushinta.

Seperti kepiting pada umumnya, kepiting kenari juga bisa dimakan, dan konon dipercaya mampu menambah tenaga dan stamina yang mengkonsumsi. Tapi kepiting ini tidak bisa diperdagangkan secara bebas, seperti kepiting konsumsi lainnya. Bedanya dengan kepiting biasa, jumlah kakinya hanya 8 buah, lebih sedikit dibanding kepiting biasa, yang berjumlah 10 buah. (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, Edisi 18 April 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: