Wisata Malam ala Pramuka

Tak sekadar bertualang, secara tidak langsung peserta belajar sejarah.

Hiking Nightmare 2012

“Rangers scout is the best for the best,” kalimat yel-yel ini berkumandang begitu tim Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Sungguminasa tiba di pos Paccalaya—lokasi sumur tua kembar yang konon airnya selalu seimbang dan biasa digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka kerajaan Gowa—pada Sabtu malam lalu. Rabiatul Adawia memimpin anggotanya, yaitu Widya Andini, Sitti Safwa, Trifani, dan Nurul Annisa, menghadap penjaga pos.

Di tempat ini mereka harus menyelesaikan permainan seni melipat kertas menjadi robot tiga dimensi. Bukan sekadar keterampilan, permainan ini juga menuntut kecepatan dan kekompakan karena waktu dibatasi hanya 15 menit. Saat proses pembuatan, jari telunjuk kiri Nurul sampai teriris karena penerangan tak begitu memadai. Tim ini hanya berbekal sebuah senter berukuran sedang.

Lain lagi kisah tim Melati dari SMPN 1 Palangga, yang ditemui di pos Katangka—lokasi masjid tertua di Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu bukti masuknya Islam di Kabupaten Gowa pada 1603. Ketua tim Melati, Nahda Alya Rahyanti, sempat memarahi anggotanya, yaitu Lisa Nurul Fausiah, Nuraflaha Noviyanti, Fitriyani Hamzah, dan Ina Yusniawati, karena mereka dinilai lamban.

Di tempat ini diperlukan kecepatan dan kekompakan tim karena mereka harus melalui sebuah terowongan dengan berjalan jongkok sambil berpegangan. “Ada empat lubang terowongan dan hanya satu di antaranya yang tembus dan merupakan jalan keluar,” kata Hasrul Halik, penjaga pos di Katangka.

Hiking Nightmare 2012

Di tempat ini diperlukan kecepatan dan kekompakan tim karena mereka harus melalui sebuah terowongan dengan berjalan jongkok sambil berpegangan. “Ada empat lubang terowongan dan hanya satu di antaranya yang tembus dan merupakan jalan keluar,” kata Hasrul Halik, penjaga pos di Katangka.

Permainan terowongan ini dikhususkan untuk peserta Penggalang. Sementara itu, peserta Penegak diminta mencari bendera bertulisan “Hiking Nightmare 2012”, yang diletakkan panitia dalam kompleks makam tua di sekitar Masjid Katangka.

Ada empat warna bendera yang memiliki nilai berbeda, yakni putih bernilai 100 poin, merah 75, kuning 50, dan hijau 25. “Semakin banyak bendera yang didapat, semakin tinggi poin dan semakin besar peluangnya untuk menjadi juara,” kata Khaerun Hanafiah, Ketua Panitia Hiking Nightmare 2012.

“Hiking Nightmare” adalah lomba Pramuka Penggalang dan Penegak yang digelar Gugus Depan Sehati Gowa pada 29-30 September lalu. Lomba itu dikemas dalam bentuk perjalanan malam yang harus melalui beberapa rintangan dan menyelesaikan beberapa permainan di setiap pos. “Tak sekadar bertualang, secara tidak langsung peserta juga bisa belajar sejarah dengan mengunjungi situs-situs tua peninggalan leluhur,” katanya.

Rute perjalanan peserta dimulai dari Museum Balla Lompoa Gowa, menuju Masjid Tua Katangka, lalu ke kompleks makam raja-raja Gowa—salah satunya adalah makam pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. Selanjutnya, peserta dengan berbekal skenario melanjutkan perjalanan menuju Paccalaya, terus ke kuburan Paccinongan, Bukit Manggarupi, kuburan Dato, kuburan Karaeng Tappa, dan berakhir di Museum Balla Lompoa.

“Seru! Saya dapat banyak pengalaman baru dan dapat wawasan sejarah,” kata Wayan Santi, yang bersama saudara kembarnya, Ilo Sinta, baru pertama kali ikut kegiatan Pramuka. Rasa lelah berjalan belasan kilometer terbayar karena timnya, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Somba Opu, meraih gelar juara Penegak putri. Satu tim SMK Somba Opu lain meraih peringkat kedua, disusul SMAN Bontonompo. Untuk Penegak putra, Rover Combat menjadi juara, diikuti dua tim dari SMKN 2 Somba Opu.

Hiking Nightmare 2012

Untuk tingkat Penggalang, perwakilan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Balang-Balang putri meraih poin tertinggi, disusul SMPN 1 Palangga dan SMPN 3 Sungguminasa. Untuk Penggalang putra, gelar juara diraih SMPN 1 Palangga, disusul MTsN Balang-Balang dan SMPN 3 Sungguminasa. (By Irmawati-Komunitas, Koran Tempo Makassar, Edisi 5 Oktober 2012)

Berbagi dalam Sehati

Hari ini, Gugus Depan Sehati—organisasi Pramuka luar sekolah—yang berpangkalan di Kabupaten Gowa, tepat berusia 30 tahun. Kelompok ini didirikan pada 5 Oktober 1982 oleh Khaerun Hanafiah, Abdul Mutthalib, Jackson Siwalette, dan Muliadi Mahmud.

Khaerun mengatakan keberadaan organisasi ini merupakan wadah untuk membina generasi muda. “Kami ada sebagai kesatuan organik dan wadah yang bisa menjadi solusi masalah-masalah kaum muda,” katanya. Agar tetap bertahan, organisasi ini terus mengikuti perkembangan dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan dan pelatihan.

Meski berpangkalan di luar sekolah, organisasi ini kerap dipercaya melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya Lomba Cerdas Cermat Pramuka Penegak 2003 di Sungguminasa dan Lomba Asah Terampil Pramuka Penggalang 2008 di Cadika Limbung. Sejumlah prestasi juga telah diukir, di antaranya peraih gelar juara umum Kemah Lomba Kreativitas Pramuka Universitas Hasanuddin 2000 dan urutan kedua Lomba Pramuka Keterampilan Saka Bhayangkara 2003. (By Irmawati-Komunitas, Koran Tempo Makassar, Edisi 5 Oktober 2012)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: