Palari Pengejar Ikan

Gambaran nenek moyang pelaut menggambarkan sejarah Indonesia yang pernah berjaya sebagai negara maritim karena memiliki lautan luas. Tradisi kelautan pun beragam, yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap daerah punya keunikan tradisi dan legenda kelautan. Tulisan di bawah ini adalah tradisi nelayan di Nusantara bagian terakhir.

Namanya melegenda di kalangan masyarakat Kajang, salah satu suku khas di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Orang menyebutnya Palari. Ia pengusaha ikan terkaya di Bulukumba dan kini berusia 81 tahun. Ia dipercaya berteman dengan “Dewa Laut”.

Saban tahun, Palari menggelar prosesi Paccera Binanga sebagai ekspresi syukur kepada Dewa Laut yang sudah melimpahinya tangkapan ikan berlimpah. Prosesi ini sebenarnya ritual khas masyarakat nelayan di Desa Kassi, Kecamatan Kajang, Bulukumba. Tapi, yang paling mendapat perhatian adalah Paccera Binanga ala Palari karena digelar besar-besaran. “Ia biasa menggelar acara tiga hari tiga malam,” kata Kepala Desa Bialo, Agus Riadi, yang pernah menyaksikan prosesi itu pada 2010.

Puncak prosesi berupa melarung kepala kerbau ke laut serta sesajian lainnya, seperti pisang, songkolo (nasi beras ketan), ayam utuh yang matang, ikan tangkapan khas perairan di Bulukumba yang disebut bale lajang, dan beberapa olahan makanan dari ikan. Puluhan perahu Palari akan mengantarnya melarung sesajian. Palari menggelar prosesi ini sejak 50 tahun lalu.

Dulu, Palari nelayan miskin. Pada suatu senja ia berangkat melaut dengan kapal lepa-lepa (kapal bercadik dengan layar satu). Berhari-hari ia menghilang tanpa jejak. Penduduk desanya mengira ia ditelan laut. Tapi, ia tiba-tiba muncul dengan kondisi amat sehat.

Sejak saat itu pula tangkapan ikannya selalu melimpah. Dia mempunyai kemampuan menebak lokasi kaya ikan.

Menurut cerita masyarakat Kajang, Palari menikah dengan penguasa laut. Karena itu, ia tak pernah menikah dan amat tertutup. Palari dipercaya memiliki kamar khusus yang tak seorang pun diperbolehkan masuk. Jika pintu kamar tersebut terbuka, akan tercium bau amis.

IRMAWATI (Pojok Nusa, Koran Tempo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: