Adong Pulang! Petta

Penonton kesulitan menikmati pertunjukan karena suara tak terdengar jelas.

“Adong Pulang” oleh rombongan sandiwara Petta Puang pertunjukan penutup pergelaran Art’s Day Festival  2013. Foto/Irmawar

“Adong Pulang” oleh rombongan sandiwara Petta Puang pertunjukan penutup pergelaran Art’s Day Festival 2013. Foto/Irmawar

Sosok lelaki perlente muncul di antara penonton. Ya, Adong pulang kampung, menyapa setiap warga yang ditemuinya. Mengenakan setelan serba hitam berikut kacamata hitamnya, ia tampak berbeda dengan Conga dan Gimpe yang berpakaian oranye khas lelaki Bugis-Makassar.

Adong pulang Petta, Adong pulang menemui Petta Puang—ayahnya—untuk meminta restu atas hubungannya dengan Yuli, kekasihnya di kota. Adong, yang diperankan oleh Aco Zulsafri, mencoba membujuk sang Petta dengan membawakan oleh-oleh, tapi itu tak melunakkan hati Petta yang sudah mempersiapkan calon istri buat Adong.

Membangkang pada Petta, berarti Adong harus mengembalikan semua pemberian sang ayah. “Mulai sekarang gelar Andi-mu dan doktorandus-mu tak ada, cukup Adong saja,” kata Petta. “Kamu mendapat gelar sarjana karena kuliah dan sekolah, semua biaya sekolahmu, biaya kosmu, baju-bajumu, semua dari sapi-sapiku, jadi kembalikan semua.”

Pertunjukan “Adong Pulang” oleh rombongan sandiwara Petta Puang. Foto/Irmawar

Pertunjukan “Adong Pulang” oleh rombongan sandiwara Petta Puang. Foto/Irmawar

Sosok lelaki perlente muncul di antara penonton. Ya, Adong pulang kampung, menyapa setiap warga yang ditemuinya. Mengenakan setelan serba hitam berikut kacamata hitamnya, ia tampak berbeda dengan Conga dan Gimpe yang berpakaian oranye khas lelaki Bugis-Makassar.

Adong pulang Petta, Adong pulang menemui Petta Puang—ayahnya—untuk meminta restu atas hubungannya dengan Yuli, kekasihnya di kota. Adong, yang diperankan oleh Aco Zulsafri, mencoba membujuk sang Petta dengan membawakan oleh-oleh, tapi itu tak melunakkan hati Petta yang sudah mempersiapkan calon istri buat Adong.

Membangkang pada Petta, berarti Adong harus mengembalikan semua pemberian sang ayah. “Mulai sekarang gelar Andi-mu dan doktorandus-mu tak ada, cukup Adong saja,” kata Petta. “Kamu mendapat gelar sarjana karena kuliah dan sekolah, semua biaya sekolahmu, biaya kosmu, baju-bajumu, semua dari sapi-sapiku, jadi kembalikan semua.”

Yuli, Adong, Lela. Foto/Irmawar

Yuli, Adong, Lela. Foto/Irmawar

Kisah “Adong Pulang” yang dimainkan oleh rombongan sandiwara Petta Puang di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Senin malam lalu, adalah pertunjukan penutup pergelaran Art’s Day Festival 35 Tahun Sanggar Merah Putih yang berlangsung sejak 16 Mei lalu.

Pertunjukan Petta Puang kali ini terasa lebih segar. Aktor dan aktrisnya lebih ramai. Kalau biasanya hanya ada 4-5 pemain, kali ini mereka menggunakan sembilan pemain. Kemasannya juga lebih kreatif dengan menghadirkan sosok produser atau sutradara, yang beberapa kali muncul menyela pertunjukan. Misalnya kemunculannya membagi-bagikan amplop berisikan honor kepada para pemain sandiwara. Kemunculan lain, ketika ia kembali ke atas panggung untuk meminta kepada semua pemain yang telah mengambil honor.

Yuli, Conga, dan Gimpe. Foto/Irmawar

Yuli, Conga, dan Gimpe. Foto/Irmawar

Sayangnya, pertunjukan itu tak dapat dinikmati dengan baik. Percakapan di atas panggung kurang terdengar. “Saya seperti menonton pertunjukan pantomim,” kata salah seorang penonton. Belum lagi ditambah kesulitannya memahami dialek-dialek bahasa Bugis-Makassar yang digunakan. Sering kali beberapa penonton sudah tertawa, tapi sebagian penonton lain kebingungan dengan apa yang ditertawakan, dan akhirnya akan bertanya kepada penonton lain perihal kelucuan di atas panggung.

Andai para pemain sandiwara Petta Puang episode Adong Pulang itu menggunakan pengeras suara, penonton mungkin tidak akan pulang dengan rasa kecewa dalam pertunjukan puncak Art’s Day Festival kali ini. “Akustik gedung memang kurang bagus, sehingga tak mendukung pertunjukan,” kata Djamal Dilaga, Direktur Art’s Day Festival.

Adong dan Yuli. Foto/Irmawar

Adong dan Yuli. Foto/Irmawar

Tapi, bagi Anda yang ingin menyaksikan pertunjukan Petta Puang, tak perlu khawatir. Produser kelompok sandiwara Petta Puang, Bahar Merdu, mengatakan pertunjukan episode “Petta Puang Jadi Wali Kota” akan hadir September mendatang. Di luar itu, kelompok yang telah berusia 20 tahun ini juga menerima panggilan pentas.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 22 Mei 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: