Mulut di Perut Asdar

Pesan tak tersampaikan dengan baik karena perangkat pengeras suara kurang mendukung.

Asdar Muis RMS dan pantomim. Foto/Irmawar

Asdar Muis RMS dan pantomim. Foto/Irmawar

Sebuah gambar wajah Asdar Muis R.M.S. tergeletak di lantai lobi Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Sabtu malam lalu. Tadinya saya ingin memungut gambar hitam putih itu, tapi sepertinya sang pemilik wajah memang sengaja menebarnya. Rupanya ada gambar-gambar Asdar lainnya yang berserakan. Mungkin ini salah satu cara Asdar menarik perhatian orang-orang.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, sang pemilik wajah tampak sedang sibuk menandatangani bukunya yang berjudul Tuhan Masih Pidato. Lumayan, harganya didiskon 50 persen, sehingga Anda cukup merogoh kocek Rp 50 ribu untuk mendapatkan buku tersebut.

Di lobi, saya juga bertemu sosok lelaki yang mengajak saya berbicara dengan bahasa gerak tubuh. Seorang pemain biola mengikuti si aktor pantomim  tersebut. Sayang, irama biolanya nyaris tak terdengar, padahal jarak kami kurang dari dua meter.

Tepat di tengah lobi, sesosok lelaki tua tampak khusyuk melakukan serangkaian ritual. Di depan altar, si lelaki tua memanfaatkan seni instalasi karya Firman Djamil. Di sana, ia duduk di depan altar, mata dan wajahnya seolah berkomunikasi, disertai serangkaian gerakan yang seolah menceritakan sebuah kisah.

Asdar Muis RMS, Simon Murad, dan Aswani. Foto/Irmawar

Asdar Muis RMS, Simon Murad, dan Aswani. Foto/Irmawar

Inilah kisah Perut Bicara, sebuah pertunjukan kolaborasi esai perkusi yang dipentaskan oleh Komunitas Sapi Berbunyi, yang menjadi bagian dari rangkaian acara Art’s Day Festival untuk memperingati 35 tahun Sanggar Merah Putih Makassar.

Irama musik magis mengantarkan kita ke ruang utama pertunjukan. Senada dengan suara meliuk-liuk itu, si lelaki tua, yang diperankan oleh Simon Murad, tampak begitu padu dengan irama—berjalan di antara penonton, lalu naik ke panggung. Turut mengikuti dua penari perempuan dengan gerak-gerik gemulai dan sedikit erotis. Aktor pantomim juga turut naik ke atas panggung bersama sosok lelaki dengan berbagai macam topeng.

Rekaman esai  Beri Aku Nama menggema seolah dibacakan langsung oleh sosok lelaki tambun yang membelakangi penonton. Menutup pembacaan esai, selembar kain putih turut menutup sosok Asdar. Kain putih tadi berubah fungsi menjadi layar. Di sana, ada adegan Asdar yang sedang mandi. Seperti adegan kamar mandi pada umumnya, Asdar memakai sabun, sampo, sikat gigi, dan sabun pencuci muka. Ia berceloteh banyak dalam pertunjukan kamar mandi bertajuk Topeng ini. Ia menciptakan topeng dengan busa sabun di wajahnya.

Topeng-topeng dalam pertunjukan Perut Bicara. Foto/Irmawar

Topeng-topeng dalam pertunjukan Perut Bicara. Foto/Irmawar

“Topeng! Itu artinya, kita sedang memainkan diri sebagai topeng,” kata sosok lelaki parlente dengan setelan jas rapi. “Siapakah kita ini jika hanya topeng?” Beberapa penonton tampak mengacungkan selembar kertas dengan berbagai jenis wajah.

Sosok lelaki tambun tadi muncul dengan rambut kribo ungu, seolah membubarkan suasana. Muncul dengan telepon seluler, Asdar membacakan esai Bocah Pasar dan berkolaborasi dengan tim pembunyi, yang terdiri atas Basri B. Sila, Solihin, Hamrin Samad, dan Aco Ober. Lalu, sosok lelaki tua dan penari bergerak sebagai latar aksi Asdar.

Setelah membacakan esai, Asdar memilih duduk di tepi panggung. Suasana tiba-tiba hening, panggung menjadi gelap. Lampu fokus menyorot Asdar. Ia mengangkat kain kuning yang membalut tubuhnya, lalu menutup wajahnya. Di atas perutnya, muncul wajah baru. Gambar wajah di perut itu berbicara dan mencoba berkomunikasi dengan penonton.

Sang penulis naskah, Asdar, mencoba menyampaikan bahwa salah satu masalah manusia masa kini adalah terjebak dalam prinsip “hidup untuk makan”.  Perut diisi, ditimbuni apa saja. Tak hanya makanan, tapi juga istri, anak, televisi, pencitraan, kekuasaan, nepotisme, hingga segala bentuk korupsi. Korupsi bermula dari perut, demi perut, danuntuk kepentingan perut.

Mulut di Perut Asdar Muis RMS. Foto/Irmawar

Mulut di Perut Asdar Muis RMS. Foto/Irmawar

“Perutku lapar…!” Pertunjukan ditutup dengan aksi para aktor membagi-bagikan nasi dus ke seluruh penonton untuk mengobati rasa lapar.  Sayang, lapar saya sudah berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 Wita.

Salah satu hambatan dalam menikmati esai yang dibacakan Asdar adalah alat pengeras suara yang kurang mendukung. Akibatnya, komunikasi dan apa yang hendak disampaikan kepada penonton tak tersampaikan dengan baik. Beruntung, aksi-aksi spontan sang aktor utama cukup menghibur. Beberapa penonton di sekitar saya merasa sangat terhibur oleh kelucuan pertunjukan Perut Bicara ini.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 20 Mei 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: