Sajak-sajak yang Bernyanyi

“…aku sedang belajar mencintai mendung

yang membiarkan langit ragu hendak berbaju apa

sementara ia meranumkan kemuraman

ke sajak-sajak para penyair yang putus asa

yang merasa terlahir sengsara

seperti kekasihmu atau kekasih seseorang

yang diam-diam kau inginkan…”

Shinta Febriany

Shinta Febriany

Sebait petikan sajak Shinta Febriany yang sedang ‘Belajar Mencintai Mendung’, sajak yang ditulis ini seolah mengikuti jejak-jejak penghujung hujan di bulan Maret lalu. Ini adalah salah satu dari tiga sajak karya sang penyair yang dibacakan sendiri, Minggu malam, pekan lalu di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar.  Pembacaan karya-karya sastra ini masih bagian dari Art’s Day Festival 35 Tahun Sanggar Merah Putih.

Dua karya lain yang dibacakan Shinta adalah “Kumpulan Hasutan” dan “Dinihari Meracau di Belakangmu”. Dibawakan secara datar, tapi tetap terdengar nyaman dengan suara feminin Shinta yang khas.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin ini menggunakan senia terutama sastra dan teater untuk mengungkapkan ide-ide feminis. Salah satu buku puisi yang telah diterbitkan ‘Aku Bukan Masa Depan’, ia juga menulis lakon ‘Namaku Adam Tanpa Huruf Kapital’, seputar wacana lelaki yang harus menjadi kepala rumah tangga.

Luna Vidya

Luna Vidya

Sebelum Shinta, beberapa penyair lelaki tampil. Diawali penampilan Aslan Abidin, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar ini yang juga membacakan karyanya sendiri dengan suara dan ekspresi yang sangat datar.

Aslan adalah penyair yang masuk dalam angkatan abad 21. Memiliki karakter karya khas yang kerap kali menggunakan ‘tubuh’ sebagai latar, salah satu yang cukup akrab adalah ‘Bahaya Laten Malam Pengantin’, yang merupakan kumpulan puisi perdananya, diterbitkan Penerbit Ininnawa. Ada 79 sajak dalam buku setebal 114 halaman tersebut, sajak-sajak ini dituliskan sejak 1993 hingga 2006.

Tak ketinggalan Muhary Wahyu Nurba, rekan Aslan di komunitas Masyarakat Sastra Tamalanrea, juga membacakan karya-karya sajaknya yang bertema cinta, cinta buat almarhum istrinya dan cinta buat calon istrinya kelak. Tema yang sangat ‘ngepop’ dan sedikit ‘lebay’ buat seorang Muhary. Andai pilihan puisinya lebih beragam, mungkin lebih bisa menghadirkan sosok penyair yang sudah malang melintang di belantara kepenyairan sejak 1990-an.

Sebenarnya, selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, esei, dan membuat desain grafis. Tapi sejak kematian istrinya, ia memilih membuat syair-syair yang kebanyakan bertema cinta, sebagian diunggah ke media sosial facebook. Penyair lain yang juga memanfaatkan media sosial adalah Wawan Mattaliu, tampil membacakan karyanya yang dicontek dari gadget di tangannya.

Lalu ada Moch. Hasymi Ibrahim yang tampil membaca Asia–Asia Ramli Prapanca, penyair Sulawesi Selatan yang karya-karyanya bercerita tentang laut–, salah satu puisinya yang sangat terkenal berjudul ‘Sukmaku di Tanah Makassar’. Negeri bayang-bayang…, bayang-bayang mengenai kisah laut juga diangkat dalam pertunjukan teaternya berjudul ‘Tragos of Bagang’. “Apa keluhanmu hari ini Asia,” kata Hasymi. Bait demi bait keluhan yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ke belahan negara lain. Terlalu berputar-putar dan sangat panjang, sampai-sampai saya bosan menunggu ujung puisi.

Luna Vidya

Luna Vidya

Pembacaan karya-karya sastra ditutup oleh Luna Vidya “Peluk waktu meletakkanmu dan diriku berdampingan. Kita saling rengkuh dan menenun tubuh. Sentak, tubuhmu, tubuhku. Sentak,” ungkap gadis kelahiran danau Sentani, Papua ini, sambil memainkan kain merah panjang yang menjuntai di atas mimbar.

Perhatian penonton tak hanya pada ekspresi wajah dan suara, serta permainan kain dan kayu di tangan Luna. Perhatian penonton terpecah pada layar proyektor yang menampilkan slide-slide budaya kultur Tana Toraja mulai dari upacara kematian ‘Rambu Solo’ hingga proses pembuatan kain tenun. “Utas benang salah, adalah kita, yang selalu dapat ditemukan ditemapt pertama cinta diletakkan,” sepenggal bait puisi Luna.

“Saya sedang mencoba hal baru,” kata Luna yang sukses menutup pembacaan puisi malam itu dengan kekuatan ekspresi dan suaranya.  Dua puisi penghujung yang berhasil mengusir kantuk para penonton.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 29 Mei 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: