Cerita Penulis dari Timur

Enam penulis ini menawarkan kesegaran dalam karya sastranya.

Mereka membawa angin segar kepada dunia sastra. Di antara 50-an penulis yang mengirimkan karyanya ke Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, tersebutlah enam penulis dari Indonesia bagian timur yang menyodorkan hal baru dalam karya-karyanya.

“Kesegaran, kebaruan, dengan warna lokal yang khas dalam karyanya,” kata Aslan, koordinator kurator. Mereka adalah Mario F. Lawi (Kupang), Christian Dicky Senda (Kupang), Amanche Franck O.E. Ninu (Kupang), Muhary Wahyu Nurba (Makassar), Mariati Atkah (Makassar), dan Jamil Massa (Gorontalo).

Sejalan dengan tema MIWF kali ini, yakni “My City My Literature”, di Fort Rotterdam Makassar, 25-29 Juni 2013, menurut Aslan, mereka bercerita tentang perkembangan kotanya melalui karya-karya sastra yang disajikan.

Panggung para penulis di ajang MIWF 2013 yang di gelar di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Panggung para penulis di ajang MIWF 2013 yang di gelar di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

“Saya akan bercerita tentang karya di mana saya sebagai anak pasar,” kata Muhary, yang ditemui di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar, Senin malam lalu. Sebagian ceritanya akan disajikan dalam bait-bait puisi yang dibacakan langsung oleh penulis dan penyair asal Makassar ini.

Perkembangan Kota Makassar juga akan disajikan dalam bentuk potongan-potongan foto yang bertutur tentang sudut-sudut Kota Makassar, yang diabadikan oleh kawan-kawan dari Komunitas Boya-boya.

Lalu bagaimana perkembangan sastra di Kupang, Nusa Tenggara Timur? Mario F. Lawi mengatakan geliat sastra mulai bangkit pada 2008, ditandai dengan munculnya sejumlah penulis muda di beberapa media cetak NTT yang mempublikasikan cerpen dan puisi. “Kami bertiga dari Kupang, berasal dari satu komunitas sastra di Dusun Flobamora,” kata Mario. Komunitas ini terbentuk pada 19 Februari lalu.

Menurut Mario, Kupang sebagai ibu kota provinsi tidak bisa dikatakan sebagai kiblat dan barometer perkembangan sastra di NTT, karena ditunjang oleh kemudahan akses. Tapi, dirinya sendiri, dari segi lokalitas, lebih memilih mengambil dari daerah ibu, yakni Sawu—terkenal dengan tenun ikatnya. Nah, sebagai proses kreatif, dia juga menggunakan kisah dalam Alkitab sebagai basis penciptaan puisi.

Jamil Massa lain lagi. Dalam karya puisinya, ia berbicara tentang pelayanan rumah sakit yang buruk, soal pemilihan kepala daerah yang sia-sia, soal jebakan rutinitas yang dialami masyarakat kota, soal kerusuhan lingkungan, kemiskinan, dan konflik sosial. “Itulah cerita lokal saya,” dia mengungkapkan melalui surat elektronik.

Mengenai perkembangan sastra di Gorontalo sendiri, kata Jamil, bisa dikatakan masih sangat lambat, bahkan mengalami kemunduran. “Jangankan tertarik akan sastra, minta baca warga saja masih sangat rendah. Diperparah karena Gorontalo tak memiliki perpustakaan umum yang menyediakan karya sastra bermutu.”

Belum lagi media nyaris tak memberikan ruang untuk apresiasi sastra dan budaya. Perlombaan sastra di sekolah-sekolah masih lesu. Kini tumpuan sastra di Gorontalo bertumpu pada aktivitas mahasiswa sastra di kampus-kampus yang tidak seberapa sering, serta geliat beberapa komunitas sastra yang jumlahnya masih sedikit. Salah satu komunitas pencinta sastra di Gorontalo adalah Tanggomo, yang didirikan oleh Jamil.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk mendekatkan warga dengan sastra yakni meluncurkan media komunitas bernama Jurnal Kebudayaan Tanggomo. Selain itu, menggelar kegiatan pembacaan puisi, pemutaran film, diskusi-diskusi masalah sosial, serta kelas menulis. (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 26 Juni 2013)

Puisi, Fotografer, dan Film

Muhary Wahyu Nurba dan Agustinus Wibowo dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Muhary Wahyu Nurba dan Agustinus Wibowo dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Pelaksanaan MIWF diawali kegiatan diskusi mengenai puisi dan fotografer oleh Agustinus Wibowo yang didampingi Muhary Wahyu Nurba. Kepada 30-an peserta diskusi yang menempati ruang III Fort Rotterdam, Agustinus menyajikan beberapa karya fotonya yang direkam di Afganistan. “Melihat dunia itu harus berhadapan dengan realitas, lalu bagaimana menyampaikan realitas itu yang lebih memanusiakan manusia,” Agustinus mengungkapkan.

Di ruang I Fort Rotterdam, Moch. Hasymi Ibrahim memandu diskusi mengenai A.M. Dg. Myala, salah seorang anggota angkatan Pujangga Baru. Tampil sebagai pembicara adalah Khrisna Pabichara, Aslan Abidin, serta salah satu sutradara yang menggarap film dokumenter Dg. Myala, Yandy Lauren. “Pengalaman ini membuat saya jatuh cinta kepada sastra,” kata Yandy.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 26 Juni 2013)

1 Comment

  1. June 4, 2014 at 11:09 pm

    […] Sumber Foto : Shamawar […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: