Dg Myala tanpa Wajah

Film dokumenter ini berpesan, betapa pentingnya mengarsipkan karya sastra.

“…Demikian asyik menulis harta

Bukan harta punya sendiri

Hanya harta punya majikan

Harta sendiri hanya tenaga

Tenaga badan dan pikiran…”

Pencarian Khrisna Pabichara terhadap jejak-jejak Dg Myala--angkatan Pujangga Baru dari Makassar--di PDS H.B Jassin. Foto/Irmawar

Pencarian Khrisna Pabichara terhadap jejak-jejak Dg Myala–angkatan Pujangga Baru dari Makassar–di PDS H.B Jassin. Foto/Irmawar

AM Dg Myala alias A.M. Thahir adalah salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar yang karya-karyanya banyak melukiskan kehidupan kaum pekerja, bisa diwakili dengan sepotong bait puisi berjudul Buruh di atas. Karya lain yang cukup dikenal berjudul O, Manusia. Sajak-sajaknya ini dimuat dalam Pandji Poestaka majalah Indonesia.

Meski pendidikan pria kelahiran Ujungpandang, 2 Januari 1909, ini hanya sampai Sekolah Rendah Kelas II, secara autodidaktik ia terus belajar. Sampai akhirnya ia bisa menghasilkan sejumlah karya puisi yang kemudian dimuat pada buku Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana (bungarampai, 1946). Lalu dalam Tonggak IV Linus Suryadi A.G. (bungarampai puisi, 1987).

Konon, ia juga pernah menjadi guru Holland Inland School Muhammadiyah pada 1928. Serta membantu majalah Pujangga Baru, majalah kesastraan dan bahasa serta kebudayaan umum. Yang diprakarsai oleh Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana pada 1933.

Pencarian Aslan Abidin terhadap jejak-jejak Dg Myala--angkatan Pujangga Baru dari Makassar--di Makassar. Foto/Irmawar

Pencarian Aslan Abidin terhadap jejak-jejak Dg Myala–angkatan Pujangga Baru dari Makassar–di Makassar. Foto/Irmawar

Itulah sebagian jejak singkat Dg Myala, kemudian ditelusuri lebih jauh oleh Aslan Abidin dengan mendatangi ruang dokumentasi milik Anis Kaba, lalu ke Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Sultan Alauddin, dilanjutkan ke perpustakaan kampus Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar, tapi tidak ada jejak yang ditemukan.

Minggu malam lalu, Aslan melanjutkan pencariannya ke rumah Fahmi Myala, anak almarhum Dg Myala yang berada di kawasan Hertasning. “Tapi kami tidak menemukan gambar atau foto Dg Myala,” kata Arfan Sabran, sutradara yang bersama Aslan.

Pencarian Aslan dilanjutkan oleh Khrisna Pabichara di Tanah Jawa. Beberapa tempat yang disambangi adalah Indonesia Buku di Yogyakarta, tapi karena pengarsipan berdasarkan media yang memuat karya, sulit untuk menemukan.

Khrisna melanjutkan pencarian ke Pusat Dokumentasi Sastra Hans Bague Jassin. Di tempat ini pun tidak langsung ditemukan, Khrisna harus membuka satu per satu majalah kebudayaan Indonesia yang terbit pada 1950-an.

Usaha Khrisna tidak sia-sia, akhirnya jejak-jejak Dg Myala ditemukan antara 1920-1950. “Karya-karyanya keren,” kata Khrisna. Sajak-sajaknya konsisten pada kaum buruh dan kemanusiaan, kalaupun ada percintaan, warnanya pun berupa perlawanan. Bukan hanya puisi, prosa, dan cerpen, ada juga roman yang berjudul Leburnya Keraton Aceh, semuanya tercatat sebagai karya Dg Myala.

Tapi, lagi-lagi di tempat ini pun tidak ditemukan wajah Dg Myala. “Kita syuting dalam sehari dari Bogor sampai Jakarta,” kata Yandy Lauren, sutradara yang mendampingi pencarian Khrisna.

Dari kiri ke kanan Moch Hasymi Ibrahim (Moderator), Yandy Lauren (Sutradara), Khrisna Pabichara (Penulis), Aslan Abidin (Penulis dan Dosen), di ajang MIWF 2013. Foto/Irmawar

Dari kiri ke kanan Moch Hasymi Ibrahim (Moderator), Yandy Lauren (Sutradara), Khrisna Pabichara (Penulis), Aslan Abidin (Penulis dan Dosen), di ajang MIWF 2013. Foto/Irmawar

Perjalanan pencarian Aslan dan Khrisna ini kemudian direkam menjadi sebuah film dokumenter yang disutradarai Arfan Sabran dan Yandy Lauren. Film dokumenter yang diarahkan ini berdurasi sekitar 15 menit. Akan diputar malam ini saat pembukaan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, di Fort Rotterdam, Makassar. “Pesannya adalah bagaimana pentingnya mengarsipkan karya sastra,” kata Yandy.

Salah satu inisiator MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan sosok Dg Myala diangkat sebagai bentuk penghargaan intelektual Bugis-Makassar. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada Muhammad Salim (almarhum), penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF 2011. Tahun lalu, bahkan almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi.

Seperti apa kisah perjalanan Dg Myala? Mengenal lebih jauh penyair angkatan Pujangga Baru ini akan menjadi salah satu pokok bahasan dalam MIWF kali ini, yang mengangkat tema My City My Literature. Acara ini akan berlangsung 25-29 Juni mendatang.(By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 25 Juni 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: