Menyanyikan Sapardi, Menghidupkan Chairil

Penyatuan puisi dan musik membuat sastra meloncat-loncat dinamis di atas panggung.

Sapardi Djoko Damono dan Muhary Wahyu Nurba saat acara musikalisasi puisi di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Sapardi Djoko Damono dan Muhary Wahyu Nurba saat acara musikalisasi puisi di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

“Ada gadis kecil diseberangkan gerimis/ di tangan kanannya bergoyang payung/ tangan kirinya mengibaskan tangis/ di pinggir padang, ada pohon/ dan seekor burung…” Bait-bait puisi berjudul Gadis Kecil karya Sapardi Djoko Damono ini dinyanyikan empat seniman muda, yakni Yulia Yunita Yusuf (vokal), Windah Cutamora (biola), Fandi WD, dan Fandi Wowor pada gitar.

Kolaborasi keempatnya disatukan oleh acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, yang mempersembahkan musikalisasi puisi di panggung utama Fort Rotterdam, Kamis malam lalu. Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengaku bahagia menemukan mereka berempat.

Ada puisi Sapardi Sajak Kecil Tentang Cinta, lalu Hujan Bulan Juni. “…tak ada yang lebih bijak/ dari hujan bulan juni/ dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu,…”

Yuyun dan kawan-kawannya juga menyanyikan puisi-puisi karya Chairil Anwar, di antaranya Sajak Putih, Rumahku, dan Taman. Melodi lagu-lagu ini diciptakan oleh Lily. “Saya ingin membuat Chairil hidup 1.000 tahun lagi,” ucap Lily di atas panggung. Dan betul, Chairil tetap hidup, karya yang ditampilkan dalam bentuk musikalisasi puisi itu berhasil menghipnotis mereka yang hadir malam itu.

Setelah menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi dan Chairil. Penyair yang disebut sebagai legenda hidup yang ada di Indonesia, Sapardi, hadir di panggung. Ia menceritakan kisah di balik salah satu karyanya, Tentang Mahasiswa yang Mati (1996).

“Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut rame-rame di hari itu,” kata Muhary Wahyu Nurba membacakan bait puisi Tentang Mahasiswa yang Mati. Penyair asal Makassar ini lalu membacakan puisi-puisi Sapardi lainnya, seperti Ketika Jari-jari Bunga Terbuka dan Pada Suatu Pagi Hari. Aku Ingin menjadi puisi favorit pada malam itu yang dibacakan Muhary. “…aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan,…”

Joko Pinurbo juga tidak mau kalah. Dia tidak hanya bercerita, tapi juga membacakan karyanya. Dengan dingin dan santai, ia memulai dengan Selepas Usia 70 yang ia persembahkan untuk Sapardi. Sebenarnya puisi ini berjudul Selepas Usia 60. Sepuluh tahun lalu Jokpin membuat puisi ini untuk memperingati ulang tahun Sapardi.

Seperti itulah Jokpin, selalu hadir memberi kejutan, kali ini penonton dibuat lebih santai dan sesekali tertawa oleh candaannya. Celana Ibu dan Telepon Tengah Malam juga dibacakan.

Khairani Barokka membawakan musikalisasi puisi di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Khairani Barokka membawakan musikalisasi puisi di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Penulis dari luar juga hadir. Khairani Barokka, tampil energik dengan Seronok-nya. Seronok dalam bahasa Melayu berarti bahagia. Sebelumnya, Luka Lesson dari Australia mengawali pertunjukan dengan puisi bergaya hip-hop.

Jika Muhary membacakan puisi Sapardi, giliran karya Muhary yang dinyanyikan grup musik asal Makassar, Bonzai. Dua karya Muhary yang dimusikalisasi adalah NOKTURNO—yang berarti nyanyian malam—dan Riwayat. “Semua puisi saya bisa dinyanyikan,” ungkap Muhary.

Bagi Sapardi, puisi adalah nyanyian, jadi harus memiliki irama. Jika iramanya ada, dengan sendirinya banyak orang yang mampu membuat musikalisasi puisinya, terutama puisi-puisi awal. “Dan itu sudah tertanam di benak saya, menulis puisi mesti berirama,” ujarnya.

Khrisna Pabichara membawakan puisi Kelly Lee Hickey--penyair asal Australia dalam bahasa Makassar di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Khrisna Pabichara membawakan puisi Kelly Lee Hickey–penyair asal Australia dalam bahasa Makassar di ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam. Foto/Irmawar

Malam semakin larut, tapi benteng Rotterdam masih terjaga. Kali ini giliran penyair asal Australia, Kelly Lee Hickey, yang menguasai panggung. Tiga puisi telah dibacakan, tapi penonton tidak mau ia berhenti. Belum sempat Kelly membacakan puisi selanjutnya, Khrisna Pabichara tiba-tiba muncul dari sebuah menara berwarna merah.

Tanpa pengeras suara, Khrisna membacakan bait-bait dalam secarik kertas. “…kuboyai kalengku ilalang kalengnu/ kucari diriku di dalam dirimu…” Sepenggal puisi itu ditulis Kelly dengan judul Shadow yang berarti bayangan. Kelly terharu karena sajaknya disampaikan Khrisna dalam bahasa Makassar.

Setelah menikmati kejutan dari Khrisna, perhatian penonton kembali ke panggung. Ada Melismatis yang menyanyikan sajak-sajak Shinta Febriany berjudul, Aku dan Luka, Arah Tak Kentara, dan Siasat Kesedihan. Melismatis dengan genre “eksperimental” membuat syair-syair kelam Shinta seakan meloncat-loncat dinamis di atas panggung. (By Irmawati dan Rezki Alvionitasari, Koran Tempo Makassar, edisi 2 Juli 2013)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: