Wasiat Cinta Para Penyair

Penerbitan buku dilakukan secara swadaya.

“Cinta bisa menjadi apa pun yang belum terkatakan, itulah sebabnya puisi adalah jaring-jaring yang menjala saripati hati yang hilang ataupun tersembunyi di balik mekarnya bunga-bunga, diamnya dedaunan, kuncupnya tunas-tunas, hingga kosongnya bangku-bangku taman di kota. Puisi mengeja dan menafsirkan segala yang hilang dari suara menjadi simfoni kata-kata…,” Ahyar Anwar mengungkapkan dalam esainya yang berjudul “Cinta yang Menetes pada Kecemasan Puisi”. Esai ini menjadi pengantar dalam buku antologi penyair Makassar: Wasiat Cinta.

Luna Vidya membacakan sajaknya dalam buku 'Wasiat Cinta' dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Luna Vidya membacakan sajaknya dalam buku ‘Wasiat Cinta’ dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Ada 33 penyair asal Makassar, yakni mereka yang asli dari Makassar, juga dari luar tapi pernah tinggal dan beraktivitas di Kota Daeng ini. Buku yang diprakarsai oleh Muhary Wahyu Nurba dan Asia Ramli Prapanca ini diluncurkan di panggung utama Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, di Fort Rotterdam Makassar, Rabu malam lalu.

Buku yang memuat sajak-sajak sejumlah penyair yang sudah punya nama dan beberapa penyair pemula ini digarap dua bulan lalu. “Kami memanfaatkan media sosial untuk menjaring karya-karya penyair pemula,” kata Muhary. Seluruh karya tersebut kemudian diseleksi oleh tiga kurator, yakni Muhary sendiri, Asia, dan Ahyar.

Setelah menemukan karya-karya yang sesuai dengan kriteria, pekerjaan Mimbar Penyair Makassar ini tak berhenti. Mereka harus mengumpulkan anggaran secara swadaya untuk bisa menerbitkan buku Wasiat Cinta ini.

Ilham Anwar membacakan sajaknya dalam buku 'Wasiat Cinta' dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Ilham Anwar membacakan sajaknya dalam buku ‘Wasiat Cinta’ dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Jalan Cinta tidaklah meminta, Jalan Cinta adalah memberi, ….” kata Hendragunawan S. Thayf dalam puisinya yang berjudul Qayla. Hendra sudah aktif menulis sejak 1990-an bersama Masyarakat Sastra Tamalanrea. “…Dia berhenti saat mencium bahaya, lalu berjalan kembali karena cinta membuatnya buta….” ucap Jamil Massa, pria kelahiran Gorontalo, yang menekuni puisi saat berkuliah di Makassar.

Berbicara tentang cinta, Moch. Hasymi Ibrahim lain lagi. Dalam puisi berjudul Malam, ia berkata, “… tak ada tabu dinihari bagi kelelakianmu, karena engkaulah pencipta sunyi, titian bagi cinta yang segera tiba.

Shinta Febriany membacakan sajaknya dalam buku 'Wasiat Cinta' dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Shinta Febriany membacakan sajaknya dalam buku ‘Wasiat Cinta’ dalam ajang MIWF 2013 di Fort Rotterdam, Makassar. (Foto/Irmawar)

Ada lagi Shinta Febriany, yang dalam puisinya, Kumpulan Hasutan, berkata, “Apakah yang kini kau percaya, kekasih?/Cinta adalah debu yang melekat di kulit/Lenyap oleh airmata dan rasa sakit.

Di atas panggung, di tengah taman yang dipagari Benteng Rotterdam, 12 dari 33 penyair ini membacakan sajak-sajaknya untuk menghibur mereka yang sedang jatuh cinta, bagi mereka yang mencari cinta dan kehilangan cinta, bagi semua yang punya cinta.

M. Aan Mansyur tampil dengan gayanya sendiri. Di panggung ini, ia bercerita, datar, tapi penuh makna. Sangat berbeda dengan gaya Luna Vidya yang sangat ekspresif. Perempuan kelahiran Papua yang tinggal di Makassar ini memang dikenal sebagai pemain teater dan monologis. Tak kalah ekspresif, Ram—panggilan Asia Ramli Prapanca—tampil membacakan sajaknya dengan gaya teater yang sangat berwarna. Seperti itulah panggung mimbar penyair Makassar.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 28 Juni 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: