Satu Kata untuk Si Gendut

Ikan mas bakar menjadi sajian favorit dalam perayaan 50 tahun usia Asdar Muis RMS

Sesosok pria berambut putih dengan potongan kain kuning dipinggang dipadukan dengan baju putih memulai aksinya dengan keinginan menyebut satu kata, tapi Simon Abdul Murad mengaku sulit untuk mengucapkannya. “Satu kata itu sulit ku ucapkan, besar…kata itu seperti halilintar. Kata itu mencekam hatiku, sangat mencekam,” ungkapnya.

Satu Kata dari Simon Abdul Murad. Foto/Irmawar

Satu Kata dari Simon Abdul Murad. Foto/Irmawar

Karena sulit untuk diucapkan, Simon akhirnya memilih menggambarkan kata itu dalam bentuk olah tubuh. Ia memulai aksinya dari sebuah dermaga bambu kecil di tepi empang di Tala, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Selasa lalu.

Gerakannya diawali dengan keheningan, lalu tiupan saksofon  dan tabuhan jimbe mengiringi setiap gerak-gerik Simon yang masih menapaki dermaga. Perlahan-lahan ia melangkah meninggalkan dermaga, tetap dengan gerak tanpa kata, tapi ekspresi wajahnya tampak bersuara.

Meski ada banyak anak-anak yang menonton di sekitarnya, Simon seakan tak terganggu dengan keberadaan mereka. Ia selalu bisa menyesuaikan setiap geraknya dengan ruang dan situasi yang ada. Akhir pertunjukan, dia tersungkur bersujud di atas tanah. Tepat dihadapan anak-anak tadi.

Satu Kata dari Simon Abdul Murad. Foto/Irmawar

Satu Kata dari Simon Abdul Murad. Foto/Irmawar

Itulah satu kata dari Simon ini adalah kado ulang tahun buat Asdar Muis RMS—esais, novelis, dan penyiar radio yang lahir 13 Agustus 1963 lalu. Lelaki berbadan tambun ini juga adalah pendiri ‘Komunitas Sapi Berbunyi’.

Menurut Bahar Merdu, ASDAR itu asal datang ramai. Produser Kelompok Sandiwara Petta Puang ini memberi kado puisi ‘Puisi Tanpa Wajah’. Tiga kata ini diucapkan lalu menutup wajahnya dengan kotak kardus. Sekian.

Lalu seniman Syahriar Tato memberi tiga buah puisi bertajuk ‘Testimoni Cinta’ yang agak lambat loading. Karenanya Yudhistira Sukatanya menyela dengan membacakan puisi berjudul ‘Tuhan Disiang Itu’.

Diulang tahunnya yang ke-50 ini, Asdar mendapat banyak kado berupa pembacaan puisi. Selain Bahar, Syahriar, dan Yudhi. Ada juga kado puisi dari seniman Barru Badaruddin Amir, Fasyal Yunus (teaterewan yang juga guru sekolah menengah atas di Barru), Nurdin Abu (kepala sekolah di Pangkep), lalu seniman Ridwan Effendy yang menambahkan sebuah lantunan lagu ‘Gelandangan’.  Sumbang suara Ridwan mendapat saweran Rp 100 ribu dari pemilik acara.

Tak melulu puisi, Asdar juga mendapat kado dua buah cake ulang tahun. Salah satu kue dipersembahkan Asdar buat sang istri Herlina, yang hanya disambut senyum tanda terima kasih dari atas teras rumah panggung di tepi empang tersebut.

Hadiah yang tak kalah kreatif, seni instalasi karya Ahmad Anzul. Benang empat warna putih, kuning, merah, dan hitam—simbol empat unsur yakni air, angin, api dan tanah– diliat ke beberapa penjuru ruang pertunjukan di tepi empang, tepat di depan rumah panggung itu. Tampak sang seniman juga memakai konsep sulapa appa atau dikenal sebagai empat prinsip keseimbangan.

Menurut Anzul, seni instalasi ini memang merupakan konsepsi kebudayaan hidup. “Bagaimana tentang hidup, makanya benang mulai diikatkan pada tanaman. Lalu benang sendiri bersifat mengikat, mempersatukan dan menyimpul,” katanya.

Tak kalah menarik, dan mungkin ini yang menjadi sajian favorit adalah ikan bakar segar. Karena ini perayaan usia ‘emas’, sajian favorit yang paling laris adalah ikan mas bakar. Ada juga kue-kue tradisional seperti putu cangkir, pisang goreng, dan ubi goreng.

Pentas para seniman ini ditutup oleh Asdar dengan menjadi gelandangan kata, yang mengumpulkan 20 kata kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita oleh si Gendut—begitu mereka menyebut si pemilik ‘gawe’. Selamat ulang tahun, semoga usia 50 ini semakin berberkah.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 15 Agustus 2013)

3 Comments

  1. F Daus AR said,

    August 16, 2013 at 12:19 am

    Reportoar yang jernih, Selamat hari lahir, Om Gendut

  2. Jubah Murah said,

    August 25, 2013 at 4:11 pm

    Kadang2 saya rasa hairan … camna blogger dapat idea nak menulis ??
    maaf yeak .. saya baru nak berkecimpung dalam dunia bloggers nie …
    masih mencari2..🙂

  3. August 29, 2013 at 9:25 am

    When someone writes an paragraph he/she keeps the image of a user in
    his/her brain that how a user can know it. So that’s why this piece of writing is
    great. Thanks!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: