Pemandangan Biru dari Keraton Buton

Daerah aspal dengan potensi  yang mencapai 70 ribu hektar.

Pemandangan Kota Bau-bau dari Keraton Buton. Foto/Irmawar

Pemandangan Kota Bau-bau dari Keraton Buton. Foto/Irmawar

Langit biru menghias pagi, matahari rasanya bersinar lebih terang di Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara, awal Agustus lalu. Saya memilih membuka kaca mobil saat berkeliling kota, kendaraan di kota ini belum padat sehingga udara masih cukup segar. Karena masih terlalu pagi, kami memilih berjalan-jalan ke Kabupaten Buton, untuk melihat daerah baru tersebut. Suguhan pemandangan alam hijau sepanjang perjalanan betul-betul memanjakan mata. Daerah ini betul-betul asyik untuk menetap.

Masjid Agung Wolio ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu’min, dibangun pada 1712 oleh Sultan Sakiuddin Durul Alam Kesultanan Buton. Masjid berusia 300 tahun ini merupakan lambang kejayaan Islam pada masa itu.

Masjid Agung Wolio ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu’min, dibangun pada 1712 oleh Sultan Sakiuddin Durul Alam Kesultanan Buton. Foto/Irmawar

Masjid Agung Wolio ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu’min, dibangun pada 1712 oleh Sultan Sakiuddin Durul Alam Kesultanan Buton. Foto/Irmawar

Masjid ini sedikit berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Agung Keraton Buton ini tak memiliki menara. Tapi saya tertarik dengan tiang tinggi di sisi bangunan, tepatnya di sebelah utara. Mirip tiang bendera, dahulu setiap Jumat dipasang bendera kerajaan berwarna kuning, merah, putih, dan hitam. Konon tiang ini juga difungsikan sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung berdasarkan syariat Islam.

Meski tak memiliki pendingin ruangan, udara di dalam masjid sangat sejuk, mungkin karena memiliki banyak pintu, terdapat 12 pintu.

Angin bertiup sangat ramah siang ini, meski matahari sangat terik, tapi panasnya tak begitu terasa. Sambil menunggu teman yang sedang salat Jumat, saya memilih berkeliling Benteng Keraton Buton.  Benteng  yang dibangun pada abad ke-16 ini berbentuk lingkaran dengan panjang keliling 2,7 kilometer. Benteng yang dibangun Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596) ini adalah salah satu objek wisata bersejarah yang wajib dikunjungi jika ada ke Bau-bau.

Bangunan benteng yang terbuat dari batu kapur gunung ini tersusun sangat rapi. Awalnya batu-batu ini hanya ditumpuk mengelilingi benteng, yang difungsikan sebagai pagar pembatas antara kompleks istana dan perkampungan masyarakat. Tumpukan batu ini kemudian dijadikan bangunan permanen pada masa pemerintahan La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, Sultan Buton IV.  Hingga saat ini, benteng masih berdiri kokoh.

Benteng Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Foto/Irmawar

Benteng Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Foto/Irmawar

Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut lawa, masing-masing nama sesuai gelar orang yang mengawasinya. Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda, ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo yang  di atasnya berfungsi sebagai menara pengamat. Dari tempat ini, pemandangan Kota Bau-bau begitu  rapi dan berserih.Nah, dibenteng ini, kita juga masih bisa menemukan meriam yang disebut badili. Meriam ada yang di atas dan ada juga yang tertanam di dalam bebatuan.

Sangat asyik berkeliling benteng, dari sini saya bisa menikmati pemandangan Kota Bau-bau  hingga laut Banda. Sesekali saya singgah untuk mengambil gambar panorama.

Dari benteng ini, saya juga mengabadikan pulau Makassar. Dari cerita kawan saya, pulau berbentuk lingkaran itu dinamakan Makassar, karena pulau itu, konon adalah tempat pasukan Sultan Hasanuddin bermukim, mereka tak berani pulang ke Gowa karena gagal menemukan Arung Palakka.

Rasanya belum puas menelusuri jejak sejarah di kota ini, karena sedang puasa, saya mengurungkan  niat untuk melihat gua tempat persembunyian Arung Palakka. Di Buton, Arung Palakka dikenal dengan nama Latoondu yang berarti sang penakluk. Gua tempat persembunyian raja Bone ini dinamai Liana Latoondu—guanya Arung Palakka.

Kantor Bupati Buton, Sulawesi Tenggara. Foto/Irmawar

Kantor Bupati Buton, Sulawesi Tenggara. Foto/Irmawar

Buton adalah pulau di yang terkenal akan produksi aspalnya. Kepala Perusahaan Daerah Buton,  L M Sjamsul Qamar potensinya mencapai 70 ribu hektar dan saat ini yang diolah baru sekitar 400 hektar.

Sehari sebelumnya, saya sempat berjalan-jalan ke kawasan hutan Nambo, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton untuk melihat hewan-hewan endemiknya. Di sana saya menemukan lahan-lahan hutan lindung itu dikapling beberapa perusahaan sebagai miliknya untuk kemudian diambil aspalnya.

Di tengah hutan belantara itu, kami sempat bertemu beberapa mahasiswa asing dari Inggris dan Perancis, mereka sedang melakukan pengamatan terhadap kuskus beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) dan kuskus beruang talaud (Ailurops melanotis), kedua jenis ini adalah hewan khas endemik daratan Sulawesi. Dua ekor kuskus tampak asyik  bermain di antara dahan-dahan pohon yang sudah dekat dengan pucuk. (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 30 Agustus 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: