Mengenang Pemikiran Ahyar

Kepergian  Ahyar Anwar, Selasa malam lalu meninggalkan luka dalam bagi sahabat-sahabatnya. Untuk mengenang pemikiran-pemikiran sastrawan, budayawan, akasemikusm kolumnis, dan kritikus sastra ini. Komunitas Literasi bersama sahabat-sahabat pria kelahiran 15 Februari 1970 ini akan menggelar acara “Mengenang Ahyar Anwar”, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Senin malam (2/9).

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

“Menjadi penting untuk mengenang sosok dan membaca pemikiran serta karya-karya Ahyar Anwar”, kata  Aslan Abidin,  sahabat yang juga rekan sesame dosen si Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar.

Menurutnya, Gagasan-gagasan almarhum, baik lisan maupun terutama yang tertulis, dapat terus membuka ruang kepada kita untuk menerjemahkan, menganalisis, dan memperdebatkannya. Itulah semestinya salah satu “kewajiban” orang yang hidup kepada intelektual yang meninggal. Sekaligus merupakan tanggungjawab sosial kita bagi semakin terbentuknya masyarakat yang lebih tercerahkan. “Hidup dan meninggalnya Ahyar Anwar memberi kita kesempatan untuk senantiasa berada dalam lingkup intelektual,” ungkapnya.

Dalam acara ini, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman akan mencoba merefleksi arti kehadiran Ahyar Anwar selama ini.  Selain Alwy, sahabat-sahabat almarhum juga akan bercerita kesan-kesannya dengan almarhum, ada  A M Iqbal Parewangi , Sudirman, dan  Sabri. Istri almarhum Risma Niswaty bersama empat putranya juga akan hadir malam nanti.

Rencananya, karya-karya almarhum juga akan dibacakan. Di antaranya, ada Hendragunawan S.Thayf  serta Mariati Atkah berkolaborasi dengan Madia Gaddafi membacakan tulisan Literasi almarhum yang dimuat di Koran Tempo Makassar, Shinta Febriany berduet dengan Aslan Abidin membacakan salah satu karya dalam buku “Kisah Tak Berwajah”, M Aan Mansyur, Asia Ramli Prapanca, Fahmi Syarif, dan Asdar Muis RMS yang menjanjikan sebuah kejutan. “Saya akan menawarkan sebuah kenangan,” kata Asdar. (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 2 September 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: