Jangan Membaca Ahyar dengan Linier

Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra.

Kematian tak pernah membuat kita kehilangan orang yang kita cintai. Kehidupanlah yang membuat kita tak saja kehilangan orang yang kita cintai, tapi juga kehilangan diri kita sendiri. 

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Kalimat itu ditulis Ahyar Anwar dalam bukunya, Aforisma Cinta (2013). Senin malam lalu, apa yang ditulisnya itu terbukti: meski ia telah berpulang pada 27 Agustus lalu, orang-orang tetap mengingatnya. Mereka berkumpul untuk mengenang dan mengirim doa kepada lelaki kelahiran 15 Februari 1970 ini dalam acara “Mengenang Ahyar Anwar” di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar. Ada Seniman, budayawan, akademikus, mahasiswa, dan jurnalis .

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

M. Aan Mansyur, misalnya, bercerita tentang sosok almarhum dengan membacakan tulisannya berjudul Ahyar Anwar dan Pesimisme yang dimuat di Koran Tempo Makassar, 29 Agustus lalu. Menurut penyair ini, Ahyar adalah pembaca yang tekun dan penulis yang produktif.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai dosen, Ahyar selalu punya waktu untuk menulis. Setiap minggu, dia membagi pikirannya di media massa. Dia juga telah menerbitkan sejumlah buku. Tulisan-tulisan terakhirnya banyak menyoroti perilaku para politikus menggunakan filsafat dan sastra, bidang yang diajarkannya di Universitas Negeri Makassar.

Suatu kali, ketika pertama kali bertemu dan berbincang di sebuah kafe pada 2004, Ahyar bertanya apakah Chairil Anwar seorang yang optimistis atau pesimistis. Karena Aan tidak menjawab, Ahyar lalu bilang bahwa penyair yang mati muda itu adalah seorang yang pesimistis. Aku ingin hidup seribu tahun lagi, kata Ahyar, adalah ungkapan pesimistis, bukan optimistis.

Penulis Literasi lainnya yang juga dosen ilmu budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman, mengenang almarhum sebagai dosen muda yang punya pemikiran-pemikiran cemerlang. Pemikirannya dipengaruhi dunia filsafat, tapi tidak meninggalkan aspek sosial. Pemikirannya kemudian dituliskan secara santun dengan gaya sastra.

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Sudirman H.N. dari Komunitas Masyarakat Sastra Tamalanrea mengatakan Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra. Almarhum telah melahirkan delapan buku, di antaranya Teori Sastra dan Sosial, Menidurkan Cinta (2007), Kisah Tak Berwajah (2009), serta novel Infinitum (2010) dan Aforisma Cinta (2013).

Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar ini memang sangat produktif menulis. Ia penulis kolom tetap di beberapa media lokal. Di Koran Tempo Makassar, misalnya, Ahyar menjadi penulis tetap setiap Senin. Dalam tulisannya, dia banyak mengkritik perilaku politikus. Tak hanya menulis, Ahyar juga aktif menjadi pembicara dalam sejumlah forum.

A.M. Iqbal Parewangi, senior almarhum saat studi di Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan, di balik kata-kata cinta yang sering diungkapkan, Ahyar sesungguhnya sosok panglima perang. Sementara dulu ia selalu membawa badik, setelah selesai dan menjadi dosen ia membawa pedang samurai. “Jadi jangan melihat Ahyar dengan cara yang linier karena almarhum menguasai filsafat, sosiologi, dan sastra,” tuturnya.

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku 'Kisah Tak Berwajah'. Foto/Irmawar

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku ‘Kisah Tak Berwajah’. Foto/Irmawar

Tak hanya diisi dengan kisah dan testimoni. Ada pula Aslan Abidin—dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra UNM—berkolaborasi dengan Shinta Febriany, sutradara dan penyair, yang membacakan tulisan “Melankoli” dari buku Kisah Tak Berwajah karya almarhum. Ada pula pembacaan puisi oleh Anil Hukma dan Luna Vidya.

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Aksi tiga menit Asdar Muis RMS juga tak kalah mengharukan. Ia muncul dari belakang layar proyektor, dengan membawa gumbang—tong air dari bahan tanah liat—serta ada baskom besi. Dua wadah itu menjadi tempat pembakaran buku-buku yang dimakan rayap. Dia sedih buku-bukunya dimakan rayap, tapi dia lebih sedih kehilangan sahabat, yakni Ahyar.

Sang istri, Risma Niswaty, juga memberi testimoni malam itu. Menurut dia, suaminya punya kerajaan sendiri di rumah. “Jika sudah masuk ke ruangan itu, lalu pintu diberi tanda ditutup atau celahnya hanya 5 sentimeter, maka kami tahu bahwa tak ada alasan untuk mengganggu, kami membiarkannya merdeka. Agar pikiran-pikirannya tidak terpenjara.” (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 September 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: