Penulis-Penulis tanpa Pagar

Menghasilkan tulisan yang bagus harus dimulai dengan membaca.

Dari kiri ke kanan--Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Dari kiri ke kanan–Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Setiap kali hendak menulis, Yusnawati selalu kesulitan membuat ending tulisan. Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Makassar ini bakhan sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai menulis. Hal serupa dialami Irfan yang seringkali pikirannya terasa buntu.

Berbeda dengan Fahrul Syarif, mahasiswa Fakultas Psikologi UNM ini justru termasuk mahasiswa yang aktif menulis, sayang karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buletin justru dicekal.

Menurut Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Aslan Abidin, menulis memang harus dibarengi dengan nyali. Penulis tetap kolom Literasi Rabu di Koran Tempo Makassar ini mengungkapkan, dirinya juga terkadang merasa ketakutan setelah tulisannya dipublis. Salah satunya saat ia menulis tema ‘Geng Motor’ di halaman Literasi.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Lalu bagaimana menuliskan pemikiran kita, kata Aslan, kadang imajinasi di kepala itu tidak terbentuk, nah, untuk menuliskannya perlu perangkat yang namanya bahasa dan memiliki kosa kata yang cukup untuk merangkainya menjadi tulisan. Agar memiliki variasi kata-kata diperlukan membaca. “Jadi resep menulis adalah membaca,” ungkapnya dihadapan peserta Panggung Literasi yang digelar di Auditorium Amanagappa, Kampus UNM Gunungsari, kemarin.

Hal serupa diungkapkan Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater yang juga penulis tetap Literasi ini mengatakan proses kreatif dari literasinya itu muncul ketika mendapat stimulan seperti bacaan. Hal itulah yang  menimbulkan rangsangan untuk menulis.

Hendragunawan S. Thayf, penyair  yang  juga anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea ini berpendapat konsep penulisan Literasi dituntut untuk menggalakkan niat membaca dan menulis. “Ada muatan literer dan sastrawi. Ketika tangan menulis, otak menari,” ucap dia. Lalu penggiat di Kampung Sastra Sungai Aksara, Muhary Wahyu Nurba mengatakan membuka tulisan sangat ditentukan oleh bacaan kita sebelumnya.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Dosen Ilmu Budaya dari Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan membaca sama dengan melawan diri sendiri. Begitu pula menulis sama dengan melawan diri sendiri. Proses menulis sama dengan proses dialog dengan diri sendiri. Kebiasaan membaca, kata dia, selalu bisa membuat kita melihat diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain. Literasi membangun karakter, Belajar literasi sama dengan menjalani pendidikan moral. “Bangunlah panggung-panggung di luar kelas (kuliah),” ujarnya.

Di Eropa, kata Alwy, anak-anaknya,  sejak sekolah dasar hingga menengah, diajarkan menulis dengan cara menuliskan pengalaman sehari-harinya di rumah. Sehingga ketika memasuki perguruan tinggi, pendidikan menulisnya sudah selesai. Hasilnya mereka mampu mencetak sarjana-sarjana yang mahir menulis dalam hal apa saja. Contoh fisikawan, sejarawan, antropolog, cara menulis mereka sangat sastrawi.

Tapi itu berbeda yang terjadi di Indonesia, kultur Literasi tidak menjadi ideologi dalam sistem pendidikan di negeri ini . “Anak sekolah diajarkan menghafal, bukan berpikir,” Alwy menambahkan. Menurutnya, pada saat menulislah, orang dibiasakan menulis.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Masih merujuk Eropa, masyarakatnya dibiasakan hidup tanpa pagar, sehingga tercipta ruang-ruang komunikasi yang lapang antar tetangga. Panggung Literasi ini juga bisa dibilang merupakan cara penulis-penulis Literasi hidup ‘tanpa pagar’ yakni berbagi dan menularkan virus-virus positif. Selain para penulis tetap, dua penulis tamu juga turut berbagi yakni Wawan Kurniawan dan Fadhli Amir, keduanya adalah mahasiswa kampus orange ini.  (By Rezki Alvionitasari & Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 Oktober 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: