Liburan Segar di Takapala

Irama air terjun adalah pengantar yoga yang pas.

Udara sejuk menyesaki tubuh. Tepat di depan saya, ada sebuah gerbang bertulisan “Malino Kota Bunga”, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu. Angin bertiup pelan masuk dari jendela mobil yang terbuka setengah. Dinginnya seperti menembus pori-pori. Malam dan dingin adalah perpaduan apik di Kota Malino, yang berada di ketinggian 1.050 meter dari permukaan laut.

Malino 1927, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Malino 1927, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Lalu saya membayangkan secangkir teh manis panas dan jagung rebus yang baru diangkat dari panci. Agar bisa menikmati menu ini, kami melajukan kendaraan menuju kawasan wisata hutan pinus, menembus kabut. Di tempat ini ada banyak warung di tepi jalan yang menyajikan jajanan panas.

Untuk sampai ke kawasan hutan pinus, kami melalui jalan utama, di sisi kiri-kanan jalan masih tumbuh kokoh tanaman peninggalan Belanda, yakni pohon turi yang bunga berwarna oranye. Daunnya tampak jarang sehingga dahannya menghadirkan suasana angker.

Keesokannya, cahaya pagi membangunkan saya. Baru pukul 05.30 Wita, tapi hari sudah begitu terang. Setelah sarapan, saya bergegas mandi di air terjun yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah. Di kawasan ini ada dua air terjun, Air Terjun Takapala dan Air Terjun Ketemu Jodoh. Dua air terjun dipisahkan oleh ruas jalan yang menuju Desa Majannang, Kecamatan Parigi.

Air Terjun Takapala, Malino, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Air Terjun Takapala, Malino, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Sebagai pemanasan untuk merenggangkan otot-otot kaki, saya memilih ke Air Terjun Ketemu Jodoh, mengingat jalannya yang relatif lebih datar. Lokasi ini masih sepi, baru dikunjungi tak lebih dari 10 orang pengunjung, dan hanya 2-3 orang yang mandi. Saat saya menurunkan kaki ke air, bbrrrr. Airnya sangat dingin, seperti diambil dari kulkas.

Seorang kakek mendekati saya, lalu memandu saya menuju pancuran yang sumber airnya dari dinding yang sama, tempat di mana air terjun berada. Ada dua pancuran. Konon, jika sepasang kekasih membasuh wajah dengan airnya, insya Allah akan cepat berjodoh.

Tergoda oleh air jernih yang jatuh dari dinding batu, saya melawan dingin dan menceburkan diri. Walhasil, saya nyaris tak kuat menggerakkan kaki dan tangan lantaran membeku. Tak sampai 5 menit berenang, saya memilih duduk berjemur di atas batu.

Setelah baju cukup kering, saya dan beberapa kawan melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Takapala. Untuk sampai ke Air Terjun Takapala, pengunjung harus melalui seribu anak tangga. Seorang kawan mencoba menghitung. Dari jalan poros menuju Takapala, ternyata hanya 399 anak tangga. Banyak penjaja menawarkan berbagai macam gorengan, ada pisang, singkong, sukun, dan bakwan.

Tempat ini jauh lebih ramai daripada Air Terjun Ketemu Jodoh. Mungkin karena hari sudah lebih siang. Fasilitas lokasi ini jauh lebih lengkap. Juga terdapat berbagai macam jajanan dengan harga relatif terjangkau.

Air Terjun Takapala, Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Air Terjun Takapala, Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Irmawar

Karena pakaian sudah kering, dan tempat ini juga sangat ramai, kami tak lagi menceburkan diri ke air. Kami memilih bersantai duduk-duduk di sebongkah batu besar, seukuran sebuah mobil. Sinar matahari yang sangat terik tak terasa. Seperti terhalang kesegaran udara dan semburan air terjun yang terbawa angin.

Begitu menyegarkan. Meski ramai, tempat ini tetap asyik untuk melakukan yoga. Saya pun memejamkan mata, lalu berkonsentrasi mendengarkan gemericik air.

Sebelum meninggalkan Malino, kami sempatkan diri singgah berfoto di depan prasasti “Malino 1927”. Kota Malino ini sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Terutama saat Gubernur Jenderal Caron memerintah di “Celebes on Onderhorighodon” pada 1927.

Sejak itu, Malino menjadi tempat favorit tetirah para pegawai pemerintah. Malino dulu dikenal dengan nama kampung “Lapparak”, yang dalam bahasa Makassar berarti datar. Malino memang berupa wilayah datar yang diapit oleh lembah dan bukit-bukit hijau yang menjulang. Seharian rasanya tak cukup untuk menikmati kawasan di sini.  (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 25 Oktober 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: