Menonton Tari Kolosal di Balla Lompoa

Rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka mengisahkan sejarah Kerajaan Gowa.

Matahari baru saja tergelincir dari atas kepala, pertanda sore mulai menjemput. Suasana teduh langsung terasa di halaman  Balla Lompoa—dalam bahasa Makassar berarti rumah besar—,sinar matahari tak sampai karena terlindung di balik Istana Tamalate—duplikat Balla Lompoa yang terletak di sebelahnya dengan ukuran yang lebih besar.

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Tari Pepe-pepeka Ri Makka oleh penari dari Sanggar Sirajuddin Bantang. Foto/Dani Kristianto

Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu pada 1936. Arsitektur dua bangunan ini berupa rumah panggung, yang seluruhnya terbuat dari kayu ulin dan kayu besi.  Bekas istana raja ini, kini berfungsi sebagai museum, tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa.

Tapi kedatangan saya kali ini bukan untuk menengok koleksi museum ini, tapi untuk melihat pertunjukan tarian kolosal yang konon mengisahkan perjalanan sejarah Kerajaan Gowa yang sengaja ditampilkan  untuk memperingati hari ulang tahun Gowa ke-693 tahun, di kawasan Museum Balla Lompoa, 17 November lalu.

Tari kolosal ini merupakan rangkaian tari Pakarena, Paraga, dan Pepe-Pepeka ri Makka yang merupakan kolaborasi siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan Somba Opu, sanggar seni Katangka, dan sanggar Sirajuddin Bantang.

Pertunjukan yang dimulai dengan tari Pakarena ini ditampilkan di halaman Balla Lompoa. Pakarena berasal dari dua kata yakni pa berarti orang dan akkarena yang berarti permainan atau tarian. Iringan gandrang atau gendang dan  puik-puik—semacam suling, mengiringi gerakan-gerakan artistic para penari yang gemulai dan halus. Tarian ini terbagi dalam beberapa gerakan, dimana setiap gerakan memiliki makna khusus. Misalnya gerakan berputar mengikuti jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia, lalu gerakan naik turun adalah simbol irama kehidupan.

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Tari Pakarena di Hut Gowa ke-693. Foto/Dani Kristianto

Almarhum guru saya, Sirajuddin Bantang yang kebetulan pemilik salah satu sanggar yang memainkan tari kolosal ini, dulu pernah bercerita bahwa tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (negeri kayangan) dengan penghuni lino—sebutan untuk bumi. Nah, sebelum perpisahan, penghuni kayangan mengajarkan kepada penghuni bumi mengenai tata cara hidup, mulai dari bercocok tanam hingga cara berburu.

Tapi hingga kini, tak ada yang bisa memastikan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang menciptakan. Yang pasti, versi tarian ini ada beberapa macam, tari Pakarena di Gowa yang dilestarikan oleh almarhum Mak Coppong. Ada juga Tari Pakarena Gantarang dari Kabupaten Selayar.

Lalu, ada permainan paraga yang dimainkan 6 penari lelaki. Seperti Pakarena, Paraga ini juga sudah ada sejak zaman kerajaan Gowa. Tari Paraga ini dimainkan dengan konstruksi bola raga atau bola takraw berpindah-pindah dari satu kaki ke kaki lainnya, terkadang juga bola singgah di atas kepala. Tak hanya itu, para pemainnya bersusun hingga tiga tingkat, membuat atraksi makin menarik dan banjir tepuk tangan penonton.

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Tari Paraga, Gowa, Sulawesi Selatan. Foto/Dani Kristianto

Yang tak kalah menarik adalah pertunjukan tari Pepe Pepeka ri Makka. Konon  tarian ini menggunakan mantra magis, sebab tubuh  dan baju tak terbakar meski disulut api. Biasanya, tarian ini dilakonkan oleh penari laki-laki, tapi kali ini pertunjukan tari dilakukan oleh kaum hawa.

Busana penari Pepe Pepeka ri Makka yang biasanya identik dengan warna merah, tapi kali ini tampil dengan busana warna ungu. Dengan gerakan yang gemulai dan pandangan tajam ke depan, rapa penari ini nyaris tak ada keraguan menyulurkan obor yang menyalah ke tubuhnya masing-masing.

Tak hanya itu, dua penari Pepe Pepeka ri Makka secara bergantian mengajak penonton untuk ke depan untuk disulut api. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo juga diajak ke depan untuk merasakan sulutan obor yang menyala. Pertunjukan tari yang berdurasi sekitar 20 menit ini sungguh meriah dan menghibur.

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mencoba tari Pepe-pepeka ri Makka. Foto/Dani Kristianto

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah keberadaan Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, yang menjadi salah satu tamu adat HUT Gowa. Yang unik, di belakang sang Datu selalu mengikut bassi pakka—semacam tongkat pusaka Kerajaan Luwu. Salah satu pemangku adat Luwu yang bergelar Opu Matoa Cenrana, Andi Oddang Opu Tossesungriu mengatakan tongkat ini memang harus selalu mengikuti kemana pun Datu Luwu pergi, tongkat dipegang oleh seorang pengawal yang akan selalu mengikut di belakang Datu.

Kekayaan khasanah budaya dan adat istiadat kita memang perlu dijaga dan dilestarikan, agar generasi muda tetap mengenalnya, betapa Indonesia sangat kaya dengan keberagamannya. (By Irmawati, Oleh-oleh Koran Tempo Makassar, edisi 22 November 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: