Imitasi Gerak-gerak Alam

Pentingnya sebuah narasi dalam menata alam.

“Tok, tok, tok, tok, tok…,” bunyi ini semakin lama semakin ramai, seiring bertambahnya manusia-manusia yang berlalu-lalang di atas panggung. Suara ini bersumber dari benturan kerang-kerang laut yang ada dikedua tangan manusia-manusia bernaju hitam ini. Bunyi-bunyi ini, jika dihayati,  seperti bercerita tentang manusia-manusia yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Ada juga cerita yang disampaikan lewat irama tepukan tangan, telapak tangan bertemu telapak tangan, telapak tangan mendarat di lengan, dan telapak tangan yang mendarat dip aha. Semua tepukan-tepukan ini juga bercerita tentang kehidupan manusia.

Selain cerita dari bunyi, cerita-cerita manusia juga disimbolkan dalam gerakan-gerakan tubuh. Ada yang memakai alat bantu berupa selendang, ada juga yang menggunakan tongkat hingga membentuk bingkai kehidupan manusia. Tarian kontemporer  berjudul “Bingkai” yang dibawakan oleh mahasiswa anggota Komunitas Seni KisSa, turut meramaikan  Dialog Seni dan Budaya ‘Refleksi dan Aksi’ yang digelar oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, akhir Desember lalu.

Ini adalah cara Komunitas KisSa membaca alam yang kemudian dibahasakan dengan gerak-gerak manusia, baik dengan atau tanpa bunyi. “Seni itu meniru alam,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu BUdaya Universitas Hasanuddin, salah satu pembicara dalam dialog ini.

Menurut Alwy, manusia bisa mengimitasi alam, baik dalam bentuk kesenian, kebudayaan, dan juga pewarisan. “Alam itu dibaca oleh manusia, seluruh gerak-gerak alam itu diimitasi oleh manusia,” ungkapnya. Kata Alwy, jika ingin menemukan kebenaran, jangan mencarinya pada peristiwa, karena kebenaran terdapat dibalik lipatan-lipatan alam.

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Tarian Kontemporer berjudul Bingkai oleh Komunitas Seni Kissa UIN Alauddin Makassar. Foto/Irmawar

Produk kesenian sendiri sesungguhnya adalah kembaran dari alam. Karena itu, Alwy mengajak para seluruh peserta dialog untuk kembali menghormati alam, karena dari alamlah manusia belajar.  Ia mencontohkan banjir yang terjadi setiap kali hujan turun, diakibatkan manusia mulai tak menghormati alam dengan tidak menjaga lingkungannya.

Lalu bagaimana warisan Islam tentang peradaban-peradaban alam, kata Alwy, Al-Quran  sudah mengajari kita secara simbolik. Seperti Kabbah, tapi jika tidak ada kebudayaan atau kisah, keberadaan simbol ini hanya menjadi ‘berhala’. Menurut Alwy, di sinilah bagaimana pentingnya sebuah narasi itu ikut menata alam.

Pakar Tafsir dari Universitas Islam Negeri Alauddin, Profesor Mardan  mengatakan menjunjung kesenian selama sejalan dengan fitra manusia. Adapun seni Islam itu tidak harus berbicara soal islam, tak harus menganjurkan untuk berbuat bagus. Tapi seni dapat menyampaikan kata-kata Islam dan sesuai fitrah manusia.

Salah seorang seniman yang juga menjadi pembicara, Yudistira Sukatanya menyayangkan, ruang publik untuk berkreasi kesenian semakin terbatas di Makassar.  (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 8 Januari 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: