Manrongrong ri Riburane

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’.

“Lantang banggi ja ku mat’tinja/ anro ri batarai/ sarea tenne ri tallasata—saya bernazar saat tengah malam/ menemui sang pencipta/ meminta agar saya diberi hal-hal baik dalam hidup,” ucap M Arsyad Kulle Daeng Aca’, 67 tahun, maestro dari Kampung Paropo, yang tampil begitu bersahaja, bertutur sambil menggesek biolanya. Berbeda dengan aksi panggung Abdul Muin Daeng Mile, 61 tahun yang begitu bersemangat menabuh gendangnya. Daeng Serang Dakko, 74 tahun, maestro gendang yang bermukim di Benteng Somba Opu, tak mau kalah, ia tampil sangat agresif saat menabuh gendangnya.

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Kolaborasi sepanggung tiga maestro, Daeng Serang, Daeng Mile, dan Daeng Aca’. Foto/Irmawar

Tiga maestro yang setia melestarikan seni tradisi Bugis-Makassar sejak usia belia, sudah puluhan tahun mereka konsisten. Kali ini mereka tampil sepanggung di pelataran Gedung Societeit de Harmonie Makassar di Jalan Riburane, Makassar, Sabtu malam lalu. Aksi panggungnya ibarat “manrongrong ri Riburane”–membangunkan orang-orang di Jalan Riburane.

Daeng Aca’ bersama rombongannya dari Sanggar Seni Tradisional Ilologading Paropo, menguasai panggung. Menampilkan Pepe-pepeka Ri Makka, yang menggunakan media api. Para penari lelaki beratraksi membakar tubuh mereka dengan obor api. Pasukan berbaju kuning juga menampilkan atraksi paraga—sepak takraw—dengan menggunakan bola api. Aksi-aksi mereka malam itu membakar semangat penonton yang hadir, ini kali pertama saya menyaksikan paraga yang menggunakan bola api.

Jika kelompok Daeng Aca’ mampu membakar semangat penonton. Tabuhan gendang Daeng Mile seperti membangunkan orang yang tidur. Tangan dan jari-jari Daeng Mile tampak sangat cekatan menabuh ‘Manronrong’—nama gendang yang berarti membangunkan orang tidur—mengiringi tarian Pakarena Samborita, sebuah tari yang bercerita tentang persahabatan.

Sekitar 20 menit, pemain musik dan penari saling berhadapan. Mereka kompak mengenakan baju merah. Dua pemain gendang termasuk Daeng Mile, satu peniup pui-pui, dan satu lagi pemukul gong dan katto-katto. Mereka kompak memainkan musik tradisional Makassar. Bunyi pui-pui yang melengking dan nyaring, disambut tabuhan gendang yang cepat tapi lembut.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Daeng Mile tak sekedar menabuh gendang, tubuhnya juga bergerak mengikuti irama. Kepalanya manggut-manggut, bahunya naik turun, dan ekspresi wajahnya juga berbicara, menunjukkan semangat yang tak pernah pupus.

Berbeda dengan gerakan empat penari perempuan Masrita Daeng Tonji dan Murkayati Daeng Kanang yang masih putri Daeng Mile, dua penari lagi adalah cucu sang maestro, Armayanti dan Sriwahyuni. Meski usia mereka sangat belia, tapi tarian dan gerakan mereka tampak sangat anggun. Lambat dengan ekspresi wajah yang datar.

“Tari Pakkarena yang diciptakan orang tua kita dahulu, adalah simbol dari jiwa lelaki yang kerap bergejolak dan berapi-api,” ucap Asmin Amin, usai  penampilan Daeng Mile. Menurut pemrakarsa kolaborasi tiga maestro ini, gaya bermain Daeng Mile yang bersemangat dan kadang jenaka adalah gambaran lelaki Makassar. Tapi masih bisa mengatur irama gendangnya sehingga tetap enak didengar. Para penarinya sendiri menggambarkan perempuan Makassar yang tenang, sabar, dan lebih banyak diam. Mereka menjadi penyeimbang. “Perempuan selalu membawa kipas, artinya ingin mendinginkan suasana,” ungkap Asmin.

Prof. Fumiko Tamura dari Chikushi Jogakuen University di Jepang  memuji penampilan Daeng Mile. “Sangat harmonis, saya merasakan sesuatu yang kuat,” ungkapnya disela-sela pertunjukan. Ia juga mempertanyakan kepada sang maestro makna Pakarena, kenapa pemusik dan penari harus berhadapan. “Ini sudah tradisi, anrong guru—maestro—ibarat menuntun nyanyian, dan penari mengikutinya,” kata Daeng Mile.

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Kolaborasi Daeng Serang dan Daeng Mile, di Gedung Societeit de Harmonie Makassar, 22 Maret 2014. Foto/Irmawar

Berbeda dengan Daeng Serang yang memilih duduk di belakang para penarinya. Maestro yang satu ini selalu tampak percaya diri, dia duduk dibalik gendangnya yang berwarna kuning muda. Memakai jas hitam dan sarung berwarna senada, diadukan dengan pasapu—penutup kepala—bermotif tapi tetap dominan hitam. Di samping kiri-kanannya, juga duduk para pemusik lainnya yang memakai jas biru. Penari dan pemusik adalah anak asuhan dari Sanggar Alam Serang Dakko. Daeng Serang pun beraksi. Wajahnya terus melihat ke depan, dengan kepala yang terus bergoyang mengikuti musik. Sesekali senyumnya mengembang, menampakkan barisan giginya, dengan tabuhan gendangnya yang juga mengiringi tari Pakarena.

Menurut Syarifuddin Daeng Tutu, Daeng Mile mencoba menghadirkan sisa-sisa tradisi Pakarena. Pada zaman animism, Pakarena adalah media untuk memuja pencipta, dimana anrong guru menjadi “imam” Pakarena. Sedangkan Pakarena yang ditampilkan Daeng Serang adalah Pakarena Jangan Leang-leang, dimana posisi anrong guru ada dibeberapa tempat.

Malam itu, Gedung Kesenian disulap bak kampung halaman oleh Asia Ramli Prapanca yang membatasi pusat pertunjukan dengan pagar bambu, sebagai simbol tempat tinggal para maestro. “Menghadirkan mereka dalam satu panggung ini sudah ada sejak tahun lalu, tapi baru terwujud sekarang,” kata Asmin. Ia berharap ini menjadi angin segar agar kita tetap menghargai seni tradisi daerah dan bangsa ini.  (By Irmawati dan Rezki Alvionitasari, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  24 Maret 2014)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: