Politik Menulis dan Menemukan Diri Sendiri

Untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar, dan berani.

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Dalam kisah mitologi Yunani, terciptalah perempuan pertama di dunia. Athena memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memberinya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Poseidon memberinya kalung mutiara, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Hera memberinya rasa penasaran, Hermes memberinya kepandaian berbicara dan menamainya Pandora—mendapat banyak hadiah.

Semua yang dimiliki Pandora memikat Epimetheus lalu menikahinya. Di hari pernikahannya, para dewa memberi hadiah, sebuah kotak tapi Pandora dilarang untuk membukanya. Karena penasaran, Pandora membukanya sekaligus melepas teror ke dunia. Rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, dan berbagai malapetaka. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti manusia. Pandora menyesali, berutung masih ada harapan yang tersisa.

Demikianlah kisah si ‘Yunani Cantik’ seperti yang dikisahkah Yudhistira Sukatanya dalam tulisannya berjudul “Ekstasi Pandora”, Literasi Koran Tempo Makassar, terbit 20 Maret 2014 lalu. Bagaimana proses penulisan Literasi ini, menjadi salah satu pertanyaan titipan peserta dalam ajang Panggung Literasi VI, yang di gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Samata, Jumat lalu.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Acara yang digelar mahasiswa Himpunan Jurusan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin bekerjasama dengan Komunitas Literasi Makassar ini mengangkat tema ‘Tradisi Menulis dan Kebebasan Berfikir’. “Menulislah agar tidak kehilangan gagasan,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, salah satu penulis Literasi yang menjadi pembicara dihadapan sekitar seratus peserta Panggung Literasi.

Sebab menulis itu menyangkut kedaulatan dan kedaulatan itu harus dilacak pada kehendak seseorang. “Menulis itu berpolitik,” ungkapnya. Penulis juga dituntut untuk berpolitik, artinya kalau mau berpolitik harus menyiapkan diri selalu hidup lalu mati. Menurut Alwy, lahirnya pembaca akan membunuh si penulis, lalu ia akan hidup kembali setelah melahirkan karyanya.

Jika menulis adalah bagian dari proses hidup dan matinya si penulis. Ada betulnya kata Muh Quraisy Mathar, Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin  yang juga menjadi pembicara bahwa

untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar dan berani. Muhary Wahyu Nurba menambahkan bahwa seorang penulis juga harus bisa mempertanggungjawabkan karyanya.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Alwy mengungkapkan hal serupa bahwa hanya orang yang jujur yang bisa menulis. Menulis adalah cara untuk mengecek kebebasan, sebab kalimat-kalimat terlalu sempit untuk menampung pikiran manusia. Dosen Linguistik ini juga mengingatkan agar jangan sekali-kali menulis saat Anda sedang marah.  Sebab suasana diri bisa terbawa dalam tulisan, artinya menulis bisa menjadi media untuk kita merefleksi diri sendiri. Dimana kita bisa menemukan diri sendiri dalam tulisan kita.

Menurut Yudhistira yang juga anggota Dewan Kesenian Makassar, kebebasan berfikir hanya ada dalam diri sendiri. Saat tulisan kita diserahkan ke pembaca, Anda harus siap memenjarakan diri sendiri.

Proses penulis sendiri harus dimulai dari membaca. Membaca, kata Muhary mampu menghadirkan kebabasan berimajinasi. Menurut Alwy, kemauan membaca adalah cara untuk menghargai diri sendiri, sebab membaca juga bisa digunakan untuk melacak diri sendiri.

Menulis itu membagi kebaikan, kata Muhary, caranya dengan belajar dulu membangun hal-hal kritis di sekitar kita. Menurut Alwy, penulis dituntut menghadirkan  kedaulatan agar selalu menghadirkan kebaikan. “Ketika kita ingin menyampaikan kebaikan, memang terlalu banyak penggoda,” kata Yudhistira. Seperti Pandora yang tak bermaksud menyebarkan keburukan. Tapi beruntung masih ada harapan. Mari kita menuliskan harapan-harapan kita untuk menemukan diri kita. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  01 April 2014)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: