Ahad Tenang di Halaman Rumata’

Ini mungkin sebuah renungan, bagaimana menjadi Indonesia?

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Ami Ibrahim (kanan) membawakan pidato “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Selalu ada alasan untuk berkunjung ke Rumata’ artspace di Jalan Bontonompo No 12 Makassar.  Ahad lalu, sekitar 30 orang berkumpul di halaman belakang Rumata’, menikmati “Minggu Tenang” bersama pertunjukan music Fandy, ada juga pembacaan puisi hingga pidato. Tapi ini bukan pidato seorang Caleg—calon anggota legislatif—, Moch Hasymi Ibrahim berpidato tentang “Mengalami Indonesia”.

Ami Ibrahim, sapaan akrab Moch Hasymi, dalam pidatonya melempar kita ke masa lalu, bagaimana pentingnya Indonesia bagi warga Desa Binanga Benteng, Kecamatan Bonto Sikuyu, Kabupaten Selayar.

Konon kakek buyut warga Binanga pernah disapu rata dengan stigma-merah, pendukung partai terlarang, karena mereka pemeluk teguh keyakinan lama, lalu mereka terprovokasi jadi pemilih partai berlambang palu dan arit pada pemilu 1955. Usai pemerintahan Soekarno, mereka yang lolos dari penangkapan dan penjarahan, anak cucu dan kerabatnya wajib lapor ke Kodim setempat di Benteng Selayar dan mungkin terpaksa menjadi Islam. “Bagi mereka, Indonesia adalah Islam,” ungkap Ami.

Lalu apakah Indonesia bagi kita? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita jawab, 9 April besok, kita bisa memilih orang-orang yang akan mewakili suara rakyat dari dalam bilik suara. Tapi bisa jadi, pilihan kita juga tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

Kata Ami, Indonesia bgai sejumlah ahli adalah sebuah komunitas-terbayangkan, sebuah entitas yang nyaris permanen. Ada juga yang menyebut semua yang berlangsung dalam altar nusantara ini adalah proses berkesinambungan menuju Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukan sebuah proyek yang sudah final. Tapi seperti warga Binanga, Indonesia mungkin bisa dipandang sebagai identitas-tunggal.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita bisa jadi mengalami banyak guncangan dalam kehidupan sehari-hari kita. Apalagi harus mengenali sekitar 200 ribu Caleg yang akan memperebutkan 19 ribu kursi ditahun 2014 ini. Dari Sulawesi Selatan saja ada 9.240 Caleg yang bersaing memperebutkan 924 kursi parlemen di Dewan Perwakilan Rakyat RI, DPRD Sulawesi Selatan, dan DPRD kabupaten/kota.

Beberapa hari ini, bahkan sebelum masa kampanye dimulai, mereka hadirnya disemua titik kehidupan. Nyaris tak ada jalan, lorong, dan ruang yang bersih dari baliho, spanduk mereka. Di layar televisi mereka bisa muncul setiap saat. Hari ini adalah “Ahad Tenang” hingga tulisan ini diterbitkan masih menjadi hari yang tenang, tapi masih saja kita temukan slogan-slogan mereka menempel di pohon, berdiri di tepi jalan. “Pandanglah gambar-gambar Caleg itu, baca slogan-slogan mereka, sakikan selintas advertensi televise mereka dan engkau akan tiba pada titik tertinggi tragedy yaitu komedi,” kata Ami.

Tapi Rumata’ mengajak kita menikmati “Minggu Tenang”. Kata Ami, mungkin ini untuk mendorong kita menciptakan sejenak sunyi dalam diri kita, mengendapkan pengalaman ke-Indonesiaan kita masing-masing, ada baiknya kita menjernihkan diri sebelum menentukan pilihan. “Kita bisa mengelak dari prosedur mutlak demokrasi ini. Tapi mari kita menentukan pilihan melalui jalur lain,” kata Ami.

Mengisi “Minggu Tenang”, ada teman yang memilih jalan puisi. Seperti Ami Ibrahim yang menutup pidatonya dengan sebuah puisi “Post Scriptum Ibu Pertiwi” yang dibuatnya 6 Juni 1994 lalu. “…di tebing mana aku mesti berpijak/ menangkal turunnya senja/ agar tersedia waktu bagi pelayaran/ menahan laju kesangsian…”.

Sebait puisi juga dipersembahkan penyair Muhary Wahyu Nurba yang mengisahkan kepedihan saat Tsunami Aceh. Bagi Muhary, berbagi bait-bait sajak di halaman Rumata’ adalah sebuah kemewahan tak ternilai ditengah kepungan kebisingan kota. “Ini mungkin salah satu cara yang baik untuk merenungkan kembali Indonesia, agar kita tidak cepat ‘bunuh diri’,” katanya kepada Tempo.

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Lily Yulianti Farid membawakan lagu pada “Minggu Tenang” di halaman belakang Rumata’ artspace. Foto/Irmawar

Sajak berjudul “Petak Umpet” juga dikirimkan M Aan Mansyur—seorang  penulis, penyair dan penyiar—melalui telepon seluler Lily Yulianti Farid, penggagas Rumata ‘ artspace. Aan tak bisa ikut “bermain” di halaman belakang Rumata’ karena harus menjenguk ibunya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini, Lily juga mengajak komunitas-komunitas yang ingin memanfaatkan halaman belakang, pihak Rumata’ terbuka.

Meski pertanyaan-pertanyaan di atas tak sepenuhnya terjawab. Fandy  menutup dengan manis “Minggu Tenang” dengan lantunan lagu Aku Papua ciptaan Franky Sahilatua. Dilanjutkan lagu ciptaan Fandy sendiri berjudul Jangan Memaki. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  08 April 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: