Cerita Baharuddin Lopa dari Pambusuang

Menyusuri jejaknya di Pambusuang bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar

Orang-orang menyapa dan menyebutnya “Aqbana Khalid”, yang berarti bapaknya si Khalid—nama anak pertama Baharuddin Lopa. Di tanah kelahirannya, di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Makassar, Baharuddin tak dikenal sebagai “Pak Lopa”, karena Lopa adalah nama bapaknya. Selain “Aqbana Khalid”, sapaan akrab lainnya adalah “Jassa Agung” (jaksa agung).

Secara luas, masyarakat memang mengenal Baharuddin Lopa sebagai penegak hukum yang pemberani dan jujur. Tapi, dalam film berdurasi sekitar 15 menit berjudul Baharuddin Lopa, kita akan melihat sisi lain dari mantan jaksa agung itu.

“Mungkin tidak akan menjawab sepenuhnya, tapi sedikit-banyak akan memberi gambaran akan ‘akar’ yang membuat Baharuddin Lopa menjadi sosok yang pemberani dan jujur,” ucap Muhammad Ridwan Alimuddin, pembuat film dokumenter Baharuddin Lopa, kepada Tempo, Selasa lalu, melalui surat elektronik.

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Suasana pembuatan film dokumenter Baharuddin Lopa (alm), film ini akan diputar dalam ajang Makassar International Writers Festival 2014, yang digelar di Fort Rotterdam, 4-7 Juni mendatang. FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Selama ini, sosok Baharuddin banyak dikenal lewat perspektif orang-orang di Makassar dan Jakarta. Tapi, dalam film ini, kita akan melihat perspektif orang-orang di Pambusuang tentang Baharuddin. Pambusuang adalah tanah kelahiran sekaligus tempat dia menghabiskan masa kecil dan remajanya. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, Baharuddin sudah tinggal di Makassar.

Tapi hal itu tak membuatnya terlupakan karena Baharuddin termasuk orang kota yang sering pulang kampung. Cerita mudik ini menjadi penambal kekurangan informasi tentang masa kecil hingga remajanya kala di Pambusuang. Hal ini juga memuat latar belakang keluarganya, tentang Pambususang, dan faktor-faktor budaya yang membentuk karakter Baharuddin.

“Sebagian besar informasi kami dapatkan dari narasumber dalam bentuk wawancara,” kata Ridwan. Menurut penuturan para narasumber di Pambusuang itu, Ridwan menjelaskan, Baharuddin dikenal sebagai orang yang agamanya kuat, menghargai ulama, dan senang bersenda gurau. Setiap kali pulang kampung, Baharuddin selalu mengundang ulama ke rumahnya untuk berdiskusi hingga larut malam.

Bukan hanya kalangan ulama, Baharuddin selalu mengundang sahabat-sahabatnya. Salah satunya Kurrudi, teman sekaligus tukang cerita yang ulung. Kalau dia bercerita, orang pasti tertawa, termasuk Baharuddin. Biasanya, begitu Kurrudi tiba di rumahnya, Baharuddin langsung menyambutnya dan berkata, “Loso-losonni bomaq doloq,” yang berarti, “Coba cerita yang bohong-bohong lagi kepada saya.”

Meski Baharuddin tahu itu cerita bohong atau karangan Kurrudi semata, ia tetap suka karena cerita-cerita itu, selain jenaka, mengandung hikmah. Kalau diambil perbandingan, kira-kira cerita Kurrudi itu seperti Nasaruddin Hoja, kisah dari Timur Tengah yang telah banyak dibukukan. “Sayangnya saya tak bisa mewawancarai Kurrudi karena telah wafat,” kata Ridwan.

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

FOTO : Dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin

Film ini berusaha menghadirkan ruang-ruang kehidupan Baharuddin di Pambusuang, sehingga seluruh lokasi yang menjadi sorotan kamera adalah daerah ini. Menyusuri jejak Baharuddin di Pambusuang juga bukan hal yang mudah, karena rumah aslinya terbakar tak lama setelah Baharuddin meninggal. Musibah ini membuat sebagian besar dokumentasi berupa foto-foto Baharuddin juga ikut terbakar.

Tapi, bagi Ridwan, Dahri Dahlan yang bertindak sebagai narator, dan Irwan Syamsi dari tim teknis, tak sulit menemukan cerita-cerita seputar Baharuddin. Sebab, seluruh personel tim pembuat film dokumenter ini masih sekampung dengan Baharuddin.

Ridwan, yang juga bertindak sebagai periset, penulis narasi, kamerawan, dan editor, mengaku baru sekali bertemu langsung dengan Baharuddin pada awal 1990-an. “Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, saya ikut seminar nasional bertema hak asasi manusia yang digelar di Tinambung, Polewali Mamasa—sekarang Polewali Mandar—Baharuddin Lopa salah satu pembicara.”

Bagi Ridwan, Baharuddin termasuk sosok yang memotivasi dirinya untuk lebih serius mempelajari dan mendokumentasikan kebudayaan bahari, khususnya kebaharian Mandar. “Peran Baharuddin secara tidak langsung yang menjadi faktor utama yang membuat saya seperti sekarang ini.”

Film dokumenter tentang sosok Baharuddin ini menjadi salah satu suguhan dalam pembukaan acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014, semalam, di halaman Fort Rotterdam Makassar.

Inisiator MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan penghargaan tokoh tahun jatuh pada Baharuddin Lopa, karena dia sosok yang lurus dan tegas. Ia merupakan sosok pejabat yang melarang keluarganya menggunakan mobil dinas, melarang anak-anaknya mengambil selembar kertas atau sebuah pulpen dari kantornya.

“Banyak sekali cerita tentang Baharuddin Lopa yang tak hanya jujur, tapi juga sederhana. Kesederhanaan inilah jalan untuk menemukan kesejatian,” kata dia, saat jumpa pers, kemarin, di Makassar. Tahun ini, MIWF telah memasuki tahun keempat dan mengambil tema “Finding Sincerity” (Menemukan Kesejatian).

Tahun lalu, ada A.M. Dg. Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933–1942) dari Makassar. Pada 2012, Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo,dalam MIWF 2011. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  05 Juni 2014)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: