Menerjemahkan Diri dalam Naskah

Memperpanjang karya sastra bisa dilakukan dengan cara selalu membacanya.

Kain-kain hitam seolah menyelimuti ruang Capitol Theater di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Sabtu malam lalu. Asdar Muis RMS memecah malam dengan membaca beberapa karya esainya. Tak hanya itu, ia juga meramaikan suasana Diskusi dan Kolaborasi Baca Sastra Landung Simatupang bersama beberapa seniman Makassar dengan aksi ‘pemulung kata’—mengumpulkan kata, lalu dirangkai menjadi cerita—Asdar menceritakan dirinya sendiri.

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Asdar Muis RMS membacakan puisi di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seperti Asdar, Asia Ramli Prapanca alias Ram, yang menjadi penampil kedua, juga bercerita tentang dirinya. “Saya tak bisa banyak berimprovisasi karena sedang sakit,” tuturnya sebelum mulai bercerita.

Ram memulai cerita dari kampung halamannya di kampung Bajo yang melimpah hasil laut. “Di tempat saya, bukan suku Bajo yang mencari ikan, tapi ikan yang mencari suku Bajo.” Ia bahkan pernah menjadi ikan, “Saya pernah ikat dengan tali lalu digantung dan diasapi, saya juga pernah dimasukkan ke karung, lalu digantung dan diasapi.”

Saya lahir di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kata Ram. Dari tangga belakang rumahnya, ia biasa memancing ikan, lalu langsung memanggangnya di atas tungku dekat pintu belakang rumahnya. Begitulah masa-masa kecil Ram tumbuh sebagai anak suku Bajo, kini berdomisili di Makassar yang kesehariannya sebagai seniman dan pengajar di salah satu perguruan tinggi di kota ini.

Sang penyair menutup ceritanya dengan puisi “Jati Cinta”.

Kalau cintaku tak sampai padamu/ Di atas keranda/ Telah kusiapkan kain kafan/ Kemarin kubeli dengan nuraniku.

Di belakang rumah / Ada sepetak tanah/ Warisan nenek moyangku.

Kubur aku di sana/ Kelak, bakal tumbuh sebatang pohon / Tanpa nama / Tanpa ujung pangkal.

Pintaku/ Sebut ia jati cinta.

Tak mau kalah, penyair Irwan A.R. alias Brutus juga menyampaikan sajak-sajak rindunya. Penyair Muhary Wahyu Nurba juga memilih tema puisi yang senada. Melalui bait-bait puisinya, Muhary mencoba menceritakan dirinya yang menemukan pasangan bernama istri.

Berbeda dengan para penyair Ram dan Brutus, Yudhistira Sukatanya memilih tetap setia di tempatnya. Ia bercerita tentang “Perkawinan Kembar Emas” dalam Sure Galego—yang lebih dikenal sebagai kisah I La Galigo.

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman, Yudhistira Sukatanya membacakan kisah I La Galigo di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Sawerigading dan We Tenriabeng adalah anak kembar emas, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Dari cerita ini diketahui, Batara Guru berpesan untuk membesarkan kedua anak kembar emas ini secara terpisah, agar kelak bila dewasa tak saling jatuh cinta.

Benar saja, saat melihat saudara kembarnya, Sawerigading langsung jatuh cinta dan bermaksud mengawininya. Tapi keinginannya itu mendapat tentangan dari orang tua dan rakyat banyak. Alasannya, mengawini saudara kandung adalah pantangan, dan jika dilanggar bisa terjadi bencana di seluruh negeri ini.

Lebih dari setengah jam cerita Yudhistira mengheningkan ruangan. Beruntung, ada suguhan singkong dan pisang goreng serta teh manis panas menemani penonton. Sambalnya yang pedas membuat mata terbebas dari kantuk.

Soeprapto Budisantoso, yang bertindak sebagai pemandu acara ini, mengatakan bahwa kehadiran Landung Simatupang berhasil membangkitkan Yudhistira Sukatanya, salah satu pencerita radio yang ulung di eranya. Cerita “Perkawinan Kembar Emas” oleh Yudhistira ini diiringi oleh pemusik Daeng Basri.

Sebelum Landung, Luna Vidya tampil lebih dulu. Ia minta didengar lalu berbagi cerita. “Membiarkan kerinduan menunggu dan melapuk. Kerinduan yang tidak selesai, itu seperti bangun pagi lalu ada peluh,” ucapnya dengan suara lirih.

Luna mengaku selalu menuliskan keintiman dirinya tapi tak mahir membacakan karyanya sendiri. Jika membaca karya sendiri, ia akan merasa ujung jari-jari pembaca akan menyentuhnya. “Saya tak sanggup menghadirkan diri saya, meski forum seperti ini membuat saya lebih nyaman. Saya selalu gagap menceritakan diri saya. Saya jagonya menerjemahkan diri saya dalam naskah orang lain,” tuturnya.

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Seniman asal Yogyakarta, Landung Simatupang saat tampil di gedung kesenian, Societeit de Harmonie, Makassar, Sabtu (7/6) malam. TEMPO/Irmawati,20140610

Landung Simatupang, yang menjadi penampil berikutnya, mencoba menerjemahkan dirinya dalam naskah Seno Gumira Ajidarma. “Saya bangga kepada Mas Landung, yang bisa melepas dirinya lalu menjadi Chairil Anwar, bisa juga menjadi Seno,” kata Asdar. Begitulah karya-karya sastra dibacakan agar usianya makin panjang.

Membaca diri sendiri, serta membanggakan budaya lokal kita, adalah hal yang perlu dilestarikan. Saya kira kita harus mulai memperkenalkannya kepada orang luar, tak melulu membawa budaya luar untuk kita perkenalkan di sini di Makassar. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  11 Juni 2014)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: