Menyapa Lewat Esai Tanpa Pagar

Dia punya keindahannya sendiri, dengan unsur sentuhan personal yang kuat. 

Pada suatu malam yang terbungkus gelap dan temaram lampu-lampu Kota Makassar, Nurhady Sirimorok bertanya kepada saya, “Menurut Bapak, apa aliran politik pencipta lagu anak-anak Layang-layangku?” Saya betul-betul terhenyak! Kalau dia bertanya tentang lagu kebangsaan Cina, Zhi Lai, ciptaan Nie Her, barangkali saya akan lebih siap menjawab, kata Amarzan Loebis, editor senior Tempo, dalam prolognya di buku Esai Tanpa Pagar100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Komunitas literasi disela peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Komunitas literasi disela peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Jawaban Amarzan ini kemudian diolah Dandy—sapaan akrab Nurhady—menjadi tulisan Literasi berjudul “Membayangkan Masa yang Menciptakan Layang-layang” yang dimuat di Koran Tempo Makassar pada 24 Juli 2013. Dalam tulisannya, Dandy mengungkapkan, bagaimana lagu Layang-layang dan permainan layang-layang bisa menjadi ilustrasi tentang latar masa yang mendasari penciptaannya dan bagaimana ia kian dilupakan seiring dengan berubahnya masyarakat.

Ingatan kolektif tentang pembuatannya jadi susut. Nyaris bersamaan, serangan lain datang dalam bentuk permainan bermesin dan kelak berkontrol jarak jauh. Pembangunan kota pun membuat tanah lapang untuk menerbangkannya menyempit. Aktivitas rekreasi anak-anak perlahan beralih menjadi nirgerak, antisosial, dan konsumtif, dimanjakan beragam fitur di telepon seluler, tablet, televisi, dan berbagai jenis video game. Ruang gerak mereka semakin terkurung teknologi. Bersama permainan rakyat lainnya, layang-layang takluk, lalu terkurung di museum dan festival-festival—menjadi tontonan, entah sampai kapan.

Sangat sedikit keterangan mengenai layang-layang di dunia maya. “NN” adalah pencipta lagunya dan mulai dikenal pada 1960-an. Itu saja. Jejak paling awal justru saya peroleh dari penuturan Amarzan Loebis, yang mengaku mendengarnya pertama kali ketika ia berusia belasan tahun pada pertengahan 1950-an—beberapa orang lain menyebutkan awal hingga akhir 1960-an sebagai masa pertama kali mereka mendengarnya. Jadi, anggaplah lagu ini dibuat pada paruh kedua 1950-an.

Begitulah salah satu kisah proses tulisan literasi bisa terbentuk. Amarzan mengatakan, dalam prolognya,

“literasi” pada akhirnya menjadi semacam “taman olah pikir” para intelektual Makassar, para jauhari dari berbagai disiplin, dengan cara yang rendah hati dan menginspirasi. Kemikroan sikap pandang mereka bukanlah representasi kesempitan berpikir, melainkan semacam ijtihad merayakan kedalaman dan ketajaman.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Seperti apa kedalaman dan ketajaman masing-masing penulis, itu bisa dilihat dalam buku Esai Tanpa Pagar ini. Dalam buku ini terdapat 100 tulisan literasi, yang dipilih dari 261 tulisan literasi yang terbit di Koran Tempo Makassar selama 2013. Buku ini diluncurkan pertama kali Sabtu sore lalu di Fort Rotterdam Makassar.

Buku seratus literasi ini menghimpun 20 kara penulis, yakni Ahyar Anwar (almarhum), Alwy Rachman, Andi Sri Wahyuni Handayani, Anwar Jimpe Rachman, Aslan Abidin, Dul Abdul Rahman, Erni Aladjai, Fadhli Amir, Fitrawan Umar, Hendragunawan S.Thayf, Idham Malik, M. Aan Mansyur, Mohd. Sabri A.R., Muhary Wahyu Nurba, Muin Kubais M. Zeen, Mulyani Hasan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany, Wawan Kurniawan, dan Willy Kumurur.

Kata Aslan, salah satu penulis, tulisan dalam literasi kebanyakan mengenai hal-hal serius yang kita lewatkan dan dianggap sepele. Misalnya, tentang membuang sampah di sembarang tempat dan tentang geng motor yang merisaukan warga Makassar. Dari pengalaman dan pengamatan yang disaksikan dalam masyarakat itu, kemudian dituliskan dengan menambahkan referensi, baik dari bacaan, pengalaman, maupun film.

Menurut dia, literasi punya niat dan punya manfaat secara sosial, karena pada umumnya menyentuh kepentingan banyak orang. “Kolom ini semacam ruang publik, kita bisa membicarakan masalah-masalah masyarakat,” tuturnya.

Selain untuk berbagi kepada masyarakat, kata Aslan, literasi dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan penguasa. “Penguasa kita tidak berfungsi dengan baik, anggota Dewan kita, pemerintah kita, tidak berfungsi dengan baik,” ucap Aslan. Selain itu, literasi diharapkan menjadikan pembacanya tergerak untuk membaca kenyataan sosial dan membaca buku.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Luna Vidya, salah satu penanggap buku Esai Tanpa Pagar, mengatakan literasi adalah media menuangkan kecerdasan subyektif. “Penulis dalam buku ini memberi pemahaman yang baik kepada pembaca,” tuturnya.

Lain lagi pendapat penulis dan seniman Moch Hasyimi Ibrahim. Menurut dia, literasi dalam buku Esai Tanpa Pagar ini sangat jeli mengangkat tema sosial. “Erni Aladjai, misalnya, mengangkat kebiasaan membuang nasi (tak menghabiskan nasi),” ucap Ami—sapaan akrabnya.

Rubrik literasi ini selalu dinikmati Ami setiap sore, menemaninya menunggu waktu mengurai kemacetan Makassar. Ditulis oleh penulis yang terpikat pada sesuatu gejala alam, lalu dimaksudkan untuk membagi, secara subyektif.

Literasi semacam ruang untuk menyapa, menyampaikan pandangan ke publik. “Dia punya keindahannya sendiri, unsur sentuhan personalnya kuat, serta memiliki rasa Makassar yang khas,” ujar Ami. Sesuai dengan namanya, tulisan literasi harus disertai rujukan, “Kami bisa menemukan bacaan-bacaan dunia yang menjadi literatur.” Umumnya tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki rujukan peristiwa sehingga terasa sangat segar. “Ini harus kita sambut dengan baik, saya kira rubrik ini jangan sampai mati. Enak dibaca dan perlu.”

Dewan Penasihat Komunitas Literasi Makassar, M. Iqbal Parewangi, yang datang agar tak kehabisan buku, mengungkapkan penilaiannya secara subyektif, bahwa literasi adalah godaan terhadap Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  10 Juni 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: