Bernostalgia di Kolong Tangga

Museum Kolong Tangga memiliki 10 ribu koleksi mainan.

Warna-warni keceriaan dinding bergambar cerita-cerita bernuansa anak menyambut seolah mengajak saya bermain. Apalagi saat memasuki pintu, seolah saya sedang melalui gerbang “Ular Naga”—permainan berbaris bergandeng pegang bak ular naga yang berjalan melewati “gerbang”—dua gambar anak yang menempati daun pintu bertindak sebagai “gerbang”.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Memasuki ruangan Museum Anak Kolong Tangga yang menempati lantai dua Gedung Taman Budaya Yogyakarta, pertengahan Agustusl lalu, seolah membawa saya bernostalgia ke masa kanak-kanak. Kaki saya baru melangkah empat kali, saya menemukan Dakon alias Congklak yang terbuat dari kayu lengkap dengan ukiran dekorasi Cina. Warna kayunya sudah tampak tua, konon ini dibuat pada tahun 1952 di Jawa Timur.

Permainan kesukaan saya yang lain adalah  Puzzle. Saya menyukai permainan ini, sampai sekarang saya masih sering memainkannya, karena dapat merangsang otak, membantu mengembangkan logika dan cara berpikir saya. Di museum ini, saya menemukan berbagai macam mainan puzzle, bahannya pun beraneka ragam, ada yang berbahan plastik, tapi paling banyak yang berbahan kayu. Salah satu permainan puzzle yang cukup tua adalah Puzzle Kawat atau Puzzle Paku, salah satu mainan asal Cina, yang konon diciptakan lebih dari 2.000 tahun lalu.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Jika saya sibuk bernostalgia dengan mainan-mainan tradisional. Kawan saya, Lutfi Retno Wahyudyanti sibuk mengabadikan gambar boneka, lengkap dengan baju tradisional, perabot boneka, hingga aneka topeng. Di antara koleksi tersebut, terdapat penjelasan tentang boneka dan puppet. Boneka adalah mainan yang mampu memberikan kesenangan dan mendidik anak-anak. Sedangkan puppet digunakan untuk pertunjukan, tapi juga bisa membantu melatih kelancaran berbicara bagi anak. Baik boneka maupun puppet dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dan bereksperimen, terutama menjadi kreatif dalam berbagai macam cara.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Foto/Irmawati

Saat memasuki dunia wayang, saya bertemu dengan Cepot (Bagong/Bawor) yakni wayang Golek Sunda Jawa Barat, lalu ada wayang kardus Hanoman, Batarai/ Dewa Brahma—wayang kulit Bali, ada wayang kulit Raden Wrekudara/Bimasena salah satu Pandawa dari cerita Mahabrata, wayang kardus Sakerah—salah satu tokoh cerita rakyat Jawa Timur, dan Angkrek—tokoh Gareng—mainan tradisional yang digerakkan dengan benang.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Mainan lain yang memiliki nilai pendidikan adalah Umbul-umbul. Dengan memainkan “umbul-umbul” ini, membantu saya menghafal nama dan karakter tokoh pewayangan Jawa, termasuk jalan ceritanya. Tapi mainan umbul-umbul sekarang, kebanyakan bergambar tokoh-tokoh fiksi luar negeri. Seperti, Superman, Batman, Bionic Woman dan masih banyak lagi.

Museum ini juga membawa saya bermain ke Afrika, hingga ke Benua Amerika. Salah satunya Katchina—boneka yang mengandung roh yang berasal dari suku Navajo (Indian) di negara Arizona, Amerika. Boneka ini terbuat dari kayu yang dipahat.

Tak melulu mainan tradisional, museum ini juga memiliki etalase dunia robot. Terdapat aneka robot plastik dari karakter transformer versi modern. Ada juga senjata-senjata yang tak bisa terhindarkan.   Tapi  penjelasan dekat mainan senjata ini seolah mengingatkan bahwa mainan ini hanya akan memicu perilaku agresif dan kekerasan dalam permainan anak-anak.

Koleksi museum ini, ada juga yang hanya berupa gambar, seperti permainan egrang, di Sulawesi Selatan dikenal dengan mana longga-longga. Permainan serupa biasa dimainkan penari suku DAN di Pantai Gading, Afrika. Lalu pada tahun 1930, di Bulgaria, di ibukota Sofia, petani yang keluar rumah diwajibkan menggunakan egrang selama musim hujan.

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. FOTO/Irmawati

Berkeliling Museum Kolong Tangga betul-betul mengajak saya kembali bernostalgia ke masa kanak-kanak saya. Museum ini memiliki sekitar 10 ribu koleksi mainan. Untuk masuk, pengunjung cukup membayar retribusi Rp 4 ribu. Museum yang diprakarsai oleh Rudi Corens—seniman berkebangsaan Belgia—ini sangat berpihak pada anak, buktinya pengunjung anak-anak (usia di bawah 14 tahun) tidak dikenakan biaya. Jika berlibur ke Jogja bersama keluarga, museum ini adalah salah satu tempat yang patut dikunjungi. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  22 Agustus 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/22/349783/Bernostalgia-di-Kolong-Tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: