Takdir Bersemayam di Makassar

Sang Pangeran menghabiskan waktu dengan melahap bacaan dan menulis di Fort Rotterdam.

oleh : Dani Kristianto

Buku Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Buku Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), tapi isi buku ini tidak menggambarkan detail jalannya Perang Jawa yang dikobarkan Sang Pangeran. Peter Carey, lebih menekankan pada dinamika perjalanan hidup dan pergelutan pemikiran Sang Pangeran, kondisi perpolitikan di Kesultanan Yogyakarta, serta penjajahan yang dilakukan kerajaan dari Eropa di tanah Jawa.

Buku ini adalah buah hasil riset yang dilakukan selama 30 tahun oleh penulis yang juga sejarawan Inggris. Dalam lembaran-lembaran halaman, kita akan menemukan penggalian mendalam tentang sosok-sosok yang berkaitan dengan kehidupan Sang Pangeran, seperti para Sultan Yogyakarta, Gubernur Jenderal Kerajaan-Kerajaan Eropa di Indonesia, Residen Yogyakarta dan lain-lain. Beberapa karya tulis serta korespondensi dan sosok-sosok yang berkaitan dengan Sang Pangeran dalam Perang Jawa turut disertakan penulis di buku ini.

Mengawali biografi, kita akan bertemu dengan sketsa arang Diponegoro yang dilukis Adrianus Johannes Bik, Hakim Kelapa. Lukisan sampul ini dibuat pada April 1830, saat Sang Pangeran menjalani masa tahanan di Stadhuis Batavia.

Sang Pangeran lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar. Ayahnya adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono II dari permaisuri Ratu Kedaton. Kakek buyut Sang Pangeran adalah Sultan Mangkubumi, pendiri Kesultanan Yogyakarta yang bergelar Hamengku Buwono I (bertakhta 1749-1792). Dari garis keturunan, semestinya membuat Sang Pangeran berhak atas takhta Kerajaan tapi ia memilih untuk menjadi wali atau penasehat bagi keponakan-keponakannya yang diangkat menjadi Raja Hamengku Buwono III hingga V.

Sang Pangeran pada usia 7 tahun, diangkat anak oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng, dan dibawa serta olehnya meninggalkan Keraton Yogya untuk bermukim di daerah pedesaan Tegalrejo. Ratu Ageng kemudian menanamkan ajaran Islam, mengenalkan pada kehidupan santri dan meneladankan kehidupan yang berbaur dengan rakyat jelata kepada Sang Pangeran. Seiring bertambahnya usia, Sang Pangeran mengembangkan minatnya pada bidang pertanian, pengelolaan keuangan dan siasat perang.

Sang Pangeran juga memulai kesukaannya pada pengembaraan spiritual yang kemudian pada tahun 1805 membawanya pada pendengaran di Parangkusumo akan ramalan tentang runtuhnya tanah Jawa dan takdirnya.

Sebelumnya, 3 September 1803, Kasultanan Yogyakarta meresmikan nama Raden Ontowiryo sebagai nama dewasa Raden Mas Mustahar. Masa dewasa Raden Ontowiryo sebagai ningrat Jawa dimulai. Sayang, bagaimana namanya kemudian bermetamorfosis menjadi Pangeran Diponegoro tak diulas dalam buku ini.

***

Belanda kembali berkuasa di Nusantara, 19 Agustus 1816. Van der Capellen yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal kemudian mencari profit yang sebesar-besarnya di tanah Jawa tanpa memperdulikan hak rakyat dan bangsawan. Meski kecewa, para petinggi Kasultanan umumnya ragu menentang Belanda. Kondisi yang terjadi membuat Sang Pangeran melakukan rangkaian olah batin, penguatan diri, serta kalkulasi diperhitungkan detail. Pada 21 Juli 1825, panji-panji pemberontakan akhirnya dikibarkan Sang Pangeran. Perang Jawa dimulai.

Sang Pangeran melakukan rangkaian olah batin dari kondisi yang terjadi. Penguatan diri dilakukan, kalkulasi diperhitungkan detil. Panji-panji pemberontakan akhirnya dikibarkan Sang Pangeran pada 21 Juli 1825. Perang Jawa dimulai. Selama 5 tahun, pemberontakan terbesar masyarakat Jawa berlangsung yang menguras dan merugikan pihak kolonial.

Saat Johannes van den Bosch tiba di Nusantara untuk menjabat sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Penangkapan Sang Pangeran hidup atau mati semakin di agresifkan. Jenderal De Kock, panglima perang Belanda di Perang ini, mengupayakan Sang Pangeran menyerah dengan cara diplomasi. Siasat dijalankan yang membuat Sang Pangeran bersedia datang ke perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830 dan usai perundingan Sang Pangeran ditangkap Belanda dan hukuman segera dijatuhkan.

***

Dari penjara Semarang ke Batavia, Diponegoro harus meninggalkan tanah Jawa. Bersama keluarga dan beberapa pengikutnya dipindahkan ke Manado. Tahun 1833, peperangan antar kerajaan di Eropa mulai berkecamuk dan berefek hingga ke Hindia Belanda, membuat pemindahan lokasi penahanan  Sang Pangeran ke Fort Rotterdam di Makassar.

Diponegoro dan keluarga ditahan di ruang perwira dekat dengan pos jaga utama. Dari loteng ruang tahanan, pemandangan mengarah ke Teluk Makassar tapi tembok bagian dalam benteng menghalangi pemandangan ke arah kota Makassar. Naik ke loteng melihat kapal uap yang rutin datang bersandar di Teluk Makassar, begitu tulis Sang Pangeran dalam surat kepada ibunya.

Siang hari, Diponegoro memperoleh waktu berolahraga di dalam benteng. Walau dilarang berkomunikasi dengan warga Makassar, Sang Pangeran dapat melakukan komunikasi dan berkorespondensi. Para pengikut Sang Pangeran tinggal di blok para pelayan benteng, di situ mereka bergaul dengan para anggota garnisun dan orang sipil setempat sehingga banyak kesempatan untuk menyelundupkan surat serta berita ke dalam dan keluar benteng.

Kesalehan Diponegoro terhadap Islam dan perlawanan Diponegoro terhadap Belanda di Jawa mendatangkan rasa hormat dari orang Makassar. Rasa hormat yang sama datang dari Sang Pangeran kepada rakyat Makassar. April 1844, Diponegoro menolak tawaran Belanda untuk memindahkannya ke daerah lain di Hindia Belanda. Sang Pangeran menghabiskan waktu dengan melahap banyak bacaan dan menulis.

Pada 8 Januari 1855, jam 06.30, Pangeran Diponegoro wafat di Fort Rotterdam. Jenazah Sang Pangeran dikebumikan di pemakaman umum Kampung Melayu di antara Jalan Andalas dan Jalan Irian sekarang. Sebuah petak lahan dikhususkan bagi area pemakaman Pangeran Diponegoro. Setelah Sang Pangeran wafat, istri dan anak-anak Sang Pangeran meminta untuk tetap tinggal di Makassar agar tetap dekat dengan makam almarhum kepada Gubernur Celebes, Van der Hart.

10 November 1973, Pangeran Diponegoro resmi dinobatkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional. 22 Juni 2013, Babad Diponegoro dimasukkan sebagai salah satu dari 299 naskah dari seluruh dunia yang menjadi Daftar Ingatan kolektif Dunia oleh UNESCO. Takdir Sang Pangeran pun berlaku, “terbilang di antara para leluhur”. Buku ini bagaikan mengingatkan kembali pesan Presiden Sukarno, “Jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) dan Peter Carey memberikan ke rakyat Indonesia suatu bahan “Jasmerah”. [] (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  27 Agustus 2014)

Judul Buku : Takdir (Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855)

Penulis : Peter Carey

Penerbit : Penerbit Buku Kompas, 2014

Tebal : xxxviii + 434 halaman

ISBN : 978-979-709-799-8

http://koran.tempo.co/konten/2014/08/27/350226/Takdir-Bersemayam-di-Makassar

1 Comment

  1. waskita mulya said,

    February 11, 2015 at 5:12 am

    iya, saya juga sedang baca buku ini. Buku yang menarik. Review yg objective. Trims


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: