Kisah Kirara dan Gagak di Negeri Gigil

Rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang, tapi bagi Mae, semua adalah keajaiban.

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Buku dari Kirara untuk seekor Gagak. Foto/Irmawar

Membaca lembaran demi lembaran, membawa saya berpetualang ke Sapporo—salah satu kota di Jepang yang konon diselimuti gigil. Di sana kita akan bertemu Mae—gadis Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Jurusan Humaniora di Universitas Hokkaido.

Kisah Mae dimulai dengan pertemannya dengan Kakek Yoshinaga, tetangga apartemennya. Kakek ini tinggal sendiri. Melihat wajah Kakek Yoshinaga, Mae terenyuh. Dia membayangkan jika di hari tuanya dia mengalami hal serupa : kesepian, tinggal sendirian, tanpa ada yang menemani. Mae tak ingin itu terjadi. Suatu waktu, Kakek Yoshinaga ditemukan wafat di kamar mandi. Kepergian Kakek Yoshinaga membuat hidup Mae kesepian, dia satu-satunya teman Mae di Sapporo.

Kematian Kakek Yoshinaga menambah catatan kesedihan Mae. Seperti peristiwa menyedikan pada 15 September, hari dimana ayah ibunya meninggal dalam kecelakaan kapal. Ingatannya merekam semua, Mae seperti menonton film kematian demi kematian.

Mae kemudian bertemu Nenek Osano—nenek penjual ramen yang setia merawat kenangannya. Tepat di hari ulang tahun Mae, ia berkenalan dengan Nenek Osano yang memberinya hadiah semangkuk ramen.

Mae percaya, hidup tak lepas dari keajaiban dan kejutan-kejutan kecil. Keajaiban akan muncul satu per satu selama Tuhan belum memutus napas seseorang. Keajaiban akan selalu hinggap dalam hidupnya, seperti burung kecil yang senantiasa kembali ke dahan yang disukainya. Pertemuanya dengan Nenek Osano dan Kakek Yoshinaga adalah bagian dari keajaiban itu.

Apartemen 2054 yang tadinya ditempati Kakek Yoshinaga. Berganti penghuni, sesosok pria misterius yang selalu berpakaian serba hitam, termasuk tas dan motornya. Mae memanggilnya Gagak. Tapi penampilan aneh pria tersebut, justru membuat Mae penasaran, bahkan terobsesi.

Satu per satu puzzle kehidupan Ken diketahui Mae. Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruh, sejak dia menyaksikan sendiri ibunya Kirei mati ditembak seseorang. Sementara ayahnya Shibata Shimotsuke sibuk dengan urusannya sendiri, nyaris tak peduli dengan keluarga, termasuk saat-saat dia diperlukan. Seperti saat ibunya sekarat setelah ditembak seseorang dan Ken yang masih berusia 7 tahun bingung mencari ayahnya.

Dan begitulah, Ken dan Mae kini mengerti, setiap hati menyimpan kekelaman sendiri-sendiri. Dan pada suatu waktu, kekelaman yang menebal harus didobrak, mereka sendirilah pendobraknya. Mereka tahu, Tuhan selalu paham beban beban yang mampu dipikul setiap orang.

Kehadiran Mae membuat hidup Ken seimbang yang dipenuhi kebencian kepada ayahnya. Mae sendiri punya berderet-deret daftar kebencian. “Aku benci perang. Aku benci anggota Dewan di negeriku. Aku benci partai yang membawa-bawa nama agama. Aku benci presiden tambun yang lemah. Aku benci negara yang menyiksa tenaga kerja perempuan dari negeriku. Aku membenci orang yang membuang sampah sembarangan. Aku benci iklan kosmetik,” kata Mae.

Mae terseret arus kehidupan dan persoalan-persoalan Ken. Tapi Mae berterimakasih pada Tuhan untuk semua keajaiban-keajaiban tak terduga ini, terima kasih telah mempercayakan semuanya. Dimulai dengan kematian Kakek Yoshinaga, perjumpaan dengan Nenek Osano, kemudian dengan Ken, Tamia, dan Tuan Shibata. Ada rasa sakit, rasa kehilangan, rasa bahagia, nelangsa, berganti-ganti bertandang ke dalam kehidupan Mae.

Mae punya kebiasaan membuang sedih dengan menulis, hal itu diajarkan mendiang ibunya. Maka, saat Ken dipenjara Mae menuliskan puisi berjudul Dari Kirara Untuk Seekor Gagak. Aku membawa sarang jerami di kepalaku hari ini/ mungkin bisa kita namakan rumah/ dengan beranda lebar menghadap laut/ dengen jendela selebar dinding/ lalu kita akan berbaring, melihat matahari bertamu dan pulang/ apakah kau sepakat, jika rumah itu tanpa televisi, / tetapi sesekali terjadi pertengkaran kecil, pertengkaran manis?/ sehingga kita saling memaafkan/ lalu lebih mesra dibandingkan hari sebelumnya?/ Kirara tahu, burung gagaknya sepakat…” Kirara adalah panggilan sayang Ken pada Mae.

Mae berjanji akan setia menunggu Ken. Penulis, Erni Aladjai sepertinya selalu membuat tokoh utama perempuan dalam novel-novelnya selalu menunggu. Seperti Namira yang menunggu Sala dalam novel berjudul Kei—pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Penulis memiliki imajinasi yang sangat ‘basah’ tentang lokasi-lokasi yang menjadi latar ceritanya. Meski penulis sendiri belum pernah ke Jepang, tepatnya Sapporo, dia mampu membawa pembaca merasakan gigil dan dinginnnya kota itu.

Saat membaca halaman-halaman buku ini, saya sedikit terganggu dengan adanya kata ‘dengan’ yang double di halaman 93. Sepertinya ini salah ketik, kata ‘dengan’ yang pertamanya harusnya ‘dekat’, mungkin. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  08 Oktober 2014)

Judul Buku : Dari Kirara untuk Seekor Gagak

Penulis : Erni Aladjai

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 192 halaman

ISBN : 978-602-03-0750-3

http://koran.tempo.co/konten/2014/10/08/353834/Keping-keping-Keajaiban-Kirara

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: