Mengarungi Lingkaran Api dengan Pinisi



Blair bersaudara juga berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat.

oleh : Dani Kristianto

Ring of Fire . Foto Irmawar

Ring of Fire . Foto Irmawar

Pelayaran kakak beradik Lawrence Blair dan Lorne Blair dimulai di Makassar. Dari tempat ini, mereka mengarungi kepulauan Indonesia dengan kapal Pinisi. Merekam semua cerita yang ditemui. Kisah petualangan mereka dituliskan dalam buku berjudul “Ring of Fire, Indonesia dalam Lingkaran Api”. Buku dengan sampul bergambar gunung api yang tampak di seberang lautan, dan sebuah kapal pinisi yang berlayar mengarungi laut dengan latar jingga.

Petualangan ini, tak lepas dari minat dua bersaudara ini pada bidang ilmu psikoantropologi. Mereka tumbuh besar dengan kisah para penjelajah Eropa ke daerah di ujung timur dunia penghasil rempah-rempah. Memiliki wilayah yang elok serta kemistisan yang menyelimuti penduduknya. Christoporus Colombus, Marcopolo Kapten Cook dan masih banyak lagi. Alfred Russel Wallace melalui bukunya, The Malay Archipelago, menambah isi alam pikir mereka tentang flora fauna diwilayah itu.

Kompleksitas Indonesia dari segi geografi, hukum dan linguistik adalah sisi lain dari wilayah di belahan dunia timur menguatkan keinginan untuk mengeksplorasinya melalui penjelajahan, penelitian dan pembuatan film dokumenter.

Cerita petualangan ini berawal dari rencana mereka memfilmkan Burung Cenderawasih Kuning-Besar yang berada di Kepulauan Aru. Konon, burung ini begitu tersohor di Eropa. Musim dingin di tahun 1972, dari London-Inggris, kota asal mereka, penjelajahan dimulai. Setelah mereka mendapat sokongan dana dari Ringo Star (drummer The Beatles).

Blair bersaudara menjelajahi mistisme dalam masyarakat. Pemaparan tentang Sultan, Sunan, Loro Kidul serta Laut Selatan dan Gunung Merapi adalah salah satu kupasan mengenai Jawa khususnya Jawa Tengah. Melaut dari Jawa menuju Bali mengejar keberadaan Gunung Agung serta kehidupan para dewa di pura-puranya. Mereka juga menuturkan keterkaitan kehidupan rakyat dengan adat seperti Sangyang Dedari.

Dari Bali mereka bergerak ke Celebes mencari para pelaut Bugis, yang kisah dan penjelajahannya banyak diceritakan di lingkungan kerajaan-kerajaan Eropa sebagai pelaut tangguh dengan kapal Pinisinya. Bersama para pelaut Bugis, yang dinyatakan sebagai suku pelaut paling hebat di Asia Tenggara, kakak beradik ini mempelajari kehebatan dan turut berlayar bersama. “Selama kira-kira satu millennium, suku Bugis mengikuti siklus perniagaan muson. Meluncur ke timur seturut muson barat sampai ke Aru yang terletak di bibir angker rawa-rawa Nugini dan kembali ke barat seturut muson timur sampai ke Kalimantan”, tulisan mereka tentang hikayat pelaut Bugis.

“Makassar disarati kehidupan dan perniagaan. Pasar-pasarnya berdengung oleh hal-hal yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Pelabuhan dipadati Pinisi besar” ungkap mereka tentang Makassar. Tak hanya di pesisir, mereka juga terus bergerak ke pedalaman Celebes. Salah satu yang dikupas mendalam adalah suku Toraja, khususnya tentang kepercayaan animisme dan ritual kematian mereka. Dengan Pinisi, mereka menuju ke Maluku, pusat rempah-rempah yang dahulu menjadi sumber persaingan kerajaan-kerajaan Eropa.

Papua adalah tujuan eksplorasi penelitian berikutnya. Awalnya mereka hendak memuaskan keinginan melihat burung berekor emas yaitu Cenderawasih. Tapi penelitian tentang Papua kemudian berkutat tentang kehidupan suku-suku-nya seperti suku Asmat—sang suku kayu. Kabar di Eropa bahwa suku-suku di Papua adalah golongan kanibal (pemakan daging manusia) menggelitik keingintahuan mereka.

Hal menarik lain di buku ini, penulis berupaya mengungkap misteri hilangnya Michael Rockefeller, pewaris klan paling digdaya di Amerika Serikat. Michael hilang saat melakukan ekspedisi perhimpunan karya seni di Papua pada tahun 1961.

Flores dan Sumbawa adalah tujuan berikutnya.Di tempat ini, mereka berharap melihat naga raksasa yang dinamakan Komodo. Tinggal bersama rakyat di rumah mereka, membuat kedua peneliti ini bisa merasakan keberuntungan. Mereka bisa melihat hal terbaik dari adat istiadat dari seni Sumba Timur, seperti makan nyale dan menyaksikan Pasola.

Borneo terekam kisah dalam memori masa kecil mereka sebagai pengayau, penyumpit racun, dan manusia liar. Sungguh menarik mengikuti penjelajahan dan apa yang mereka temukan di Borneo—sebutan untuk Kalimantan. Dari Borneo, kedua peneliti mengarahkan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera. Eksplorasi sejarah dan penelitian tentang seni budaya dan adat istiadat Sumatera seperti Boneka Sigale-gale di Sumatera Utara adalah beberapa yang diungkapkan dalam buku ini.

Saat menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada September 1983. Mengingatkan mereka tentang kisah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883, memacu mereka untuk meneliti sosok Krakatau. Mereka melihat banyak menjelajahi untaian gunung yang aktif di wilayah Indonesia. Mungkin alasan ini sehingga judul buku dan film dokumenternya “Ring of Fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api”.

Buku ini memaparkan keberagaman Indonesia. Mulai dari pelosok wilayah yang belum banyak terjamah manusia. Perjalanan Blair bersaudara berakhir di tahun 1983. Selain menyalurkan hasrat berpetualang, isi buku ini semoga bisa membangkitkan rasa ke-Indonesiaan dan semangat kita untuk menjaga warisan budaya.

Sayang, runtutan wilayah yang didatangi tidak dituliskan waktu-waktunya. Padahal pembaca, mungkin ingin mengetahui periode waktu perjalanan antar wilayah berlangsung, serta jangka waktu penelitian yang dilakukan di suatu wilayah. Dengan begitu, informasi ini mungkin bisa menjadi acuan bila hendak melakukan ekspedisi di Indonesia khususnya di wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi publik. (*) (Resensi Koran Tempo Makassar, edisi  17 September 2014)

Judul Buku : Ring of Fire (Indonesia Dalam Lingkaran Api)

Penulis : Lawrence Blair

Penerbit : Ufuk Press, 2012

Tebal : 420 halaman

ISBN : 978-602-934-607-7

http://koran.tempo.co/konten/2014/09/17/352075/Mengarungi-Lingkaran-Api-dengan-Pinisi


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: