Perahu-perahu Lintas Batas

Perupa Makassar sering membuat gebrakan-gebrakan melalui karyanya.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Lukisan berjudul “Kampung Garam #39” yang menyambut di depan pintu masuk ruang pameran perupa di Anjungan Toraja-Mandar, Makassar, Senin malam lalu. Seolah mengajak saya bermain-main, ada banyak perahu yang siap membawa saya berlayar. Sebuah perahu dengan layar payung yang lekat dalam ruang kanvas, seolah menghalau hujan senja. Satu lagi perahu terdampar di bibir merah. Perupa Ahmad Anzul tak hanya mengajak saya bermain dalam bidang kanvas, lukisannya ini juga dilengkapi karya instalasi.

Sepotong kain kafan dengan percahan tinta cumi, di atasnya  perahu-perahu kertas tertempel. Di lantai, sepiring garam dengan huruf-huruf tersuguh di lantai yang beralaskan kain kafan. Kain kafan ini sempat dipakai Asdar Muis RMS pentas di Fort Rotterdam, akhir Oktober lalu. Karya Anzul ini memang didedikasikan untuk almarhum. “Bicaramu laut, inginmu hujan.”

Di sisi kanan pintu kedua, perupa Firman Djamil mencoba melayarkan perahunya di atas gelombang rambut. Perahu dalam lukisan berjudul Transmission ini hanya bisa berlayar jika dua figura digabungkan. Dimana batas figura seolah berfungsi sebagai cermin, dua lukisan ini nyaris persis sama. Perempuan di sisi kiri, lelaki di kanan. Yang membedakan antara perempuan dan lelaki  hanya bentuk dada pinggulnya yang lebih berisi. Tubuh dan rambut dua sosok manusia ini adalah satu kesatuan. “Rambut adalah bahtera, perahu adalah bagian dari lambang pencipta,” ungkap Firman.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Tak hanya Firman, Zam Kamil juga mencoba mengeksplorasi tubuh-tubuh manusia dalam karyanya yang berjudul “Homo Hamini Lupus.” Lima tubuh manusia yang berkelapa binatang—ayam, kambing, tikus, rusa, dan anjing—dan  dua manusia yang berkepala manusia tapi geraknya binatang. “Ini adalah parodi sipakatau—saling mengingatkan–,” ungkap sarjana Jurusan Seni Rupa Murni di Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia.

Tapi bukan tubuh-tubuh bugil yang kemaluannya yang ditutup selembar daun ini yang mencuri perhatian saya. Tapi manuskrip berupa tulisan-tulisan tangan yang bertebaran di atas kanvas. Tak melulu huruf-huruf abjad, tapi manuskrip itu ada yang ditulis dengan huruf-huruf lontarak—huruf khas suku Bugis-Makassar. “Ini hanya satu dari lima seri lukisan ini,” ungkap Kamil.

Budi Haryawan, melalui lukisannya, mengajak kita ke kampung halamannya di Desa Ballabulo, Kabupaten Selayar. Untuk sampai ke sana, kita harus menyeberang dengan feri dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.

Budi yang juga dipercayakan sebagai ketua panitia pameran Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 ini mengatakan ada sekitar 30 lukisan yang dipamerkan. Setiap pelukis hanya bisa diwakili satu karya. Pameran yang bertajuk Humanitas Revitalisasi Lintas Batas ini, kata Budi, lebih menekankan perbedaannya. Makanya, setiap pelukis dibebaskan untuk memilih karyanya sendiri untuk dipamerkan.

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Cross Border Makassar-Balikpapan 2014 . Foto/irmawar

Dimana peserta pameran tak hanya perupa-perupa Makassar, tapi juga sejumlah perupa dari Balikpapan, Kalimantan. Di antaranya Abi Ramadan Noor dengan karyanya yang berjudul “Jejak Masa Lalu”, Achmad Gani dengan “Signal Merah”, Adji Pranyoto “Anggrek Hitam”, Arrif Ismail dengan “Dynasty”, Heriadi “Databilang”, Ifrian Chacha “Diujung Batas”, dan  Marty “Pesona #9”.

“Secara teknis, perupa-perupa Kalimantan lebih kuat, tapi visinya tak jelas,” ungkap Firman Djamil. Sebaliknya, koordinator tim perupa Kalimantan, Jully Purnama  menilai, perupa Makassar sering membuat gebrakan-gebrakan melalui karyanya. “Tema dan visualisasi perupa Makassar berkembang bagus,” ungkap Jully. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/03/358552/Perahu-perahu-Lintas-Batas

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/04/114626258/Beda-Perupa-Makassar-dan-Balikpapan/1/1

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: