Perjalanan Ekspresif Musik Sergey

Menyajikan genre musik Indie beard folk rock dengan gitar okulele.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Angin bersembunyi dalam sepi di sebuah sore yang mendung. Gedung-gedung kuliah mulai murung, hanya ada beberapa mahasiswa yang melintas. Suara ombak berkejaran tiba-tiba mengusik sore yang sepi itu. Irama deburan ombak laut itu berasal dari salah satu alat musik koleksi Sergey Onischenko, tak ketinggalan gitar okulele yang setia menemani dalam perjalanannya.

Selasa sore itu, musisi asal Ukraina ini menggelar mini show di taman Himpunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin. Bertajuk Make Like A Tree adalah sebuah project musik travelling. Sergey berhasil menahan sejumlah mahasiswa hingga Magrib. Tapi Sergey tak sendiri, dia juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal setempat. Sore itu Sergey bersama Next Delay. Bahkan beberapa dosen tak mau kalah dari mahasiswanya, mereka juga turut menghibur sore.

Malam itu, Sergey melanjutkan mini shownya di Coffeegrafer di Jalan Sungai Saddang Baru.

Sebelumnya, Senin malam, Sergey menggelar mini show di Kedai Buku Jenny. “Perjalanan adalah salah satu cara untuk menemukan ide dalam menciptakan musik,” katanya kepada Tempo.

Dalam melakukan pengembaraan selama dua tahun ini, Sergey sekaligus menyebarluaskan karyanya. Sebuah musik bergenre Indie beard folk rock. Sudah ada 12 negara yang pernah dikunjungi di antaranya Malaysia, Singapura, Vietman, Thailand, dan Jepang.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Aswin Baharuddin dari Kedai Buku Jenny mengatakan, di Indonesia sendiri, Sergey sudah memasuki bulan ke lima. Ia mulai mini shownya di Kota Medan. Dibulan pertama, tepatnya Agustus, Sergey berkeliling di kota-kota di pulau Sumatera. Desember ini, tur digelar di Malang tepatnya  Legipait, Oxen Free di Yogyakarta, Beehive di Jakarta,  C2O Surabaya, lalu terbang ke Makassar.

Beberapa lagu dalam album Make Like A Tree, di antaranya Grow a Beard, Saigon, Im a Fish, Sea a Hore, On The Run, Take it Over, Hode & Seek,  A Map, Water Thieves, dan Passing by.  Semua lagu-lagu Sergey memang melukiskan apa-apa yang dia temukan dalam perjalanannya, misalnya bagaimana dia melarikan diri, tentang pesawat, tentang kecintaan pada anjingnya, serta tentang adanya kekuatan ajaib dalam diri setiap orang.

Make Like a tree adalah nama yang terinspirasi dari filosofi hidup Sergey. “While one man was traveling, the seed of a tree fell into his heart, It grew up and reached God”. Sergey juga mendokumentasikan semua lagu-lagu Make Like A Tree di setiap tempat dan daerah yang pernah dikunjunginya. “Saya senang dengan respon penonton di Makassar,” ungkapnya.

Salah satu kelebihan Sergey, dia mampu berkomunikasi dan mengajak penontonnya terlibat dalam pertunjukannnya.  Ia juga menghasilkan warna berbeda dari setiap lagu yang dimainkan. Petikan irama gitar okulelenya dipadu padankan dengan sejumlah alat-alat musik yang menghasilkan bunyi-bunyi di luar nada diatonis dan pentatonis. Make Like A Tree adalah sebuah perjalanan musik ekspresif yang luar biasa.

***

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree  di Universitas Hasanuddin.

Sergey Onischenko dengan project musik travelling, bertajuk Make Like A Tree di Universitas Hasanuddin.

Menariknya, ekspresi-ekspresi yang ditemukan Sergey dalam perjalanannya, tak hanya dituangkan dalam bentuk alunan musik dan lagu. Tapi juga diabadikan dalam bentuk foto-foto. Dari frame-framenya, terlihat jika Sergey sangat menikmati panorama alam yang dijumpainya, terutama pegunungan dan laut. Dalam beberapa fotonya, terdapat sosok feminis. Perempuan yang menatap ke lautan lepas.

Karya-karya fotonya ini dicetak, kemudian dijadikan ornamen-ornamen pelengkap di atas panggungnya. Sebagian foto lagi dicetak dalam bentuk stiker. Untuk bisa memilikinya, Anda harus menebusnya dengan nilai Rp 5 ribu-15 ribu. Hasil penjualan ini digunakan untuk melanjutkan perjalanannya ke Papua. Dari Papua, musisi yang juga fotografer dan jurnalis ini akan melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini. Di tempat inilah, Sergey merayakan pergantian tahun. (*) ((Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  19 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/19/360037/Perjalanan-Musik-Sergey

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/21/112629961/Perjalanan-Musik-Sergey-Onischenko/1/0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: