Tubuh di Atas Manuskrip

Lukisan rusak itu bagian dari proses  dalam berkarya.

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Perupa Zam Kamil . Foto/Irmawar

Manusia berkepala singa itu berlutut, pandangannya fokus menatap sosok lelaki dengan mahkota di kepalanya. Sang lelaki tak peduli jika sedang diamati. Ia fokus menjaga menjaga keseimbangan tubuhnya. Posisinya jongkok dengan kaki jinjit dan tangan direntangkan ke samping. Di dada lelaki bertubuh kekar itu, bertengger seekor kupu-kupu.

Sosok manusia berkepala singa dan lelaki bermahkota ini saya temukan dalam lukisan yang terpajang di ruang makan. Masing-masing berjudul “Perburuan” dan “Kink of Butterfly”. Kedua lukisan ini dibuat oleh Zam Kamil pada tahun 2004 lalu. Berbeda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan kanvas polos, sarjana Jurusan Seni Rupa Murni di Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia ini memanfaatkan manuskrip jadi media lukisnya. Tak melulu huruf-huruf abjad, tapi manuskrip itu ada yang ditulis dengan huruf-huruf lontarak—huruf khas suku Bugis-Makassar.

Awal Desember lalu, salah satu dari seri manuskrip yang berjudul “Homo Hamini Lupus” turut dipamerkan dalam ajang Cross Border. Dalam lukisannya ini, Zam mencoba mengeksplorasi tubuh-tubuh manusia. Lima tubuh manusia yang berkelapa binatang—ayam, kambing, tikus, rusa, dan anjing—dan  dua manusia yang berkepala manusia tapi geraknya binatang. “Ini adalah parodi sipakatau—saling mengingatkan–,” ungkap lelaki kelahiran Soppeng, 5 Agustus 1969.

Lukisan yang dibuat 2002 lalu ini, mencoba menunjukkan jiwa-jiwa yang sakit, dimana nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan. Menurut sang pelukis, perkembangan peradaban manusia tidak diiringi dengan perkembangan mental serta kualitas kemanusiaan. Meski peradaban sudah canggih, tapi hukum rimba tetap terjadi, siapa yang kuat dia yang kenyang. Homo Hamini Lupus ini mencoba menunjukkan bahwa manusia hidup seperti ‘berkepala binatang’, tanpa pikiran dengan hanya nafsu yang membara.

Sang pelukis seolah berpesan, bahwa manusia harus mampu mengendalikan dan menahan diri. Dengan menutupi bagian kemaluan tubuh-tubuh bugil ini menggunakan selembar daun. Dari ruang seni rupa Makassar di Losari, “Homo Hamini Lupus” ini berpindah ke kamar tidur.

Masih di seri yang sama, setahun kemudian, Zam menyatukan 12 manuskrip di atas kanvas. Tiap manuskrip terdapat tubuh-tubuh manusia yang sedang mencari ketenangan. Lukisan yang dibuat 2003 ini berjudul “Mencari Pencerahan”.

Berbeda dengan empat lukisan sebelumnya, lukisan berjudul “East, Elegy and Energy” ini, tak tampak ada tulisan-tulisan manuskrip. Ternyata lukisan yang diperbaharui 2011 ini, pernah rusak, akhirnya, sang pelukis mencoba memperbaikinya, dengan terpaksa harus menutupi permukaan manuskripnya dengan cat putih. “Lukisan rusak itu bagian dari proses berkarya,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya di Kompleks IDI Tello, Rabu malam lalu.

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Seri manuskrip kayu karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Sepotong kayu yang terbaring berselimutkan plastik menghentikan langkah saya. Kayu yang diletakkan di ruang perantara antara ruang tengah dan ruang makan, adalah hal yang tak biasa. Saat membuka selimutnya, saya mendapati tubuh-tubuh putih tanpa identitas. Hanya geraknya yang membedakan tujuh sosok tubuh manusia ini. “Saya bisa memanfaatkan apa saja,” ungkap Zam.

Kali ini, ayah dua anak ini menggunakan sepotong kayu jati tua sebagai media lukisnya. Meski menggunakan media kayu, tapi unsur manuskripnya tetap ada. Menjadi pemanis, seolah menceritakan gerak tubuh-tubuh di sampingnya.

Lukisan yang dibuat 2010 ini belum selesai, kata Kamil, kelak kayu ini akan ditambahkan kaki-kaki berukuran kecil dalam jumlah yang banyak untuk menyanggahnya. Kaki-kaki ini serupa ombak yang menyanggah perahu.  “Saat membuat karya ini, saya membayangkan, kayu ini menolak jadi perahu, sehingga sekarang ada di sini,” ungkap perupa yang baru setahun terakhir ini berdomisili di Makassar. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

***

Menghapus Wajah

Zam Kamil, perupa yang lahir dan besar di Makassar. Kesukaannya terhadap dunia seni terlihat dari mejanya yang penuh gambar. Setelah tiba di Makassar dari Soppeng, ia pun mencari tau melalui radia, dimana dia bisa belajar melukis. Saat itu ada yang menyarankannya ke Fort Rotterdam. Di tempat ini dia belajar dan sempat ikut pameran sekali. Suatu hari ia jalan-jalan ke Yogyakarta, dan tinggal didekat Institut Seni Indonesia. Di tempat ini, Zam sering membantu mahasiswa perupa, terkadang ia ikut kuliah, dari sinilah ia mulai bisa menandai karya yang baik dan tidak.

Ia tercatat sebagai sarjana Jurusan Seni Rupa Murni angkatan 1990. Ia memiliki gaya melukis yang unik. Memanfaatkan gesture tubuh dan menghadirkan ritme gerak, dan menghilangkan detil-detil figurnya. Tanpa atribut yang jelas, bahkan kadangkala tak jelas kelaminnya, apakah perempuan atau lelaki.

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

“Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me” karya Zam Kamil. Foto/Irmawar

Tubuh-tubuh tanpa atribut ini muncul dengan proses menghapus. “Setiap menemukan ide, langsung saya gambarkan dengan media apapun, setelahnya dituangkan di atas kanvas, seluruh simbol-simbol wajahnya dihapus,” jelas Zam. “Dari ada menjadi tidak ada.” Seperti sosok perempuan dalam keramaian yang gerak tubuhnya seolah-olah sedang bermain biola. “Sketsa awal ada biolanya, lalu saya hilangkan,” ungkapnya.

Menurut Zam, semakin sedikit coretan, maka semakin berhasil sang perupa. Salah satu yang irit coretan dan warna adalah lukisannya yang berjudul “White on White”, lukisan ini sudah menjadi milik orang lain.

Bermain-main dengan tubuh manusia, membuat Zam juga sering kali menghadirikan dirinya sendiri dalam beberapa karyanya. Dalam karyanya berjudul “Auvers, Someday, Somebody, Vincent and Me”. Bagi Zam, berkarya adalah bagian dari cara untuk menyampaikan harapan-harapan.

Zam sudah beberapa kali menggelar pameran tunggal, di antaranya tahun 1998 bertema “Terapung” di Leangleang Art Studio di Yogyakarta,  “Dance of Life” di Aryaseni Gallery Singapura pada 2005, dan pameran tunggal “Aphostrophe” di CG Art Space Plaza Indonesia Jakarta pada 2008. Ia juga ikut beberapa pameran penting seperti, Behind The Myth di Athena; Indonesian Art today di Verona, Italy dan Jerman; dan beberapa kali ikut serta dalam Singapore Art Fair. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  23 Desember 2014)

http://koran.tempo.co/konten/2014/12/23/360355/Tubuh-di-Atas-Manuskrip

 

1 Comment

  1. zam kamil said,

    April 21, 2015 at 2:18 pm

    🙂 baru sempat buka-buka…bravo Imhe🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: