Kota Sahabat Pejalan Kaki

Bukan hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga sangat mendukung kalangan disabled.

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Merasakan kenyamanan berjalan kaki adalah salah satu kemewahan yang saya temukan di Jepang, awal September lalu. Jalur khusus pejalan kaki akan kita temukan disemua sisi ruas jalan. Tak peduli jalan utama maupun jalan-jalan kecil. Setiap hari, berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap, menuju GRIPS—perguruan tinggi sekaligus lembaga kajian di Tokyo—tempat saya belajar, adalah hal yang menyenangkan. Meski menggunakan sepatu high heels, saya nyaris tak mengalami kesulitan.

 

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Di jalur khusus para pejalan kaki, kaki saya mendapatkan kemerdekaan melangkah. Di jalur ini, pejalan kaki mendapatkan prioritas utama. Jika ada kendaraan yang hendak melintas, mobil itu harus menunggu hingga tak ada lagi pejalan kaki yang melintas di jalur tersebut. Selama menunggu, pengendara mobil tidak akan membunyikan klakson atau meninggikan bunyi mesin kendaraannya.

Jalan-jalan di Tokyo dan kota-kota besar lain di Jepang, tak hanya ramah kepada pejalan kaki, tapi juga bagi orang-orang yang secara fisik memiliki keterbatasan. Pengguna kursi roda bisa mandiri melajukan kursinya tanpa bantuan orang lain, karena jalan-jalannya sangat mendukung. Seluruh fasilitas umum di Jepang sangat mendukung kalangan disabled. Tak hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga memungkinkan bagi orang cacat.

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya nyaman di jalan, di Tokyo saya juga menemukan keteraturan dan kenyamanan transportasi. Meski sistem keretanya tergolong rumit, tapi pemerintahnya berhasil mengintegrasikan sistem transportasi masalnya dengan kegiatan berjalan kaki.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Selama berada di Tokyo, sedikitnya dalam sehari, jika diakumulasikan, saya berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer. Hal yang belum tentu saya lakukan di Makassar, kecuali saat-saat tertentu khusus untuk berolahraga. Sistem transportasi, memaksa warganya untuk berjalan kaki ke stasiun. Jika jaraknya cukup jauh, warga Jepang biasanya akan menggunakan sepeda. Mungkin, karena banyak berjalan kaki, warga Jepang berumur panjang.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kebiasaan berjalan kaki bagi warga Jepang, membuat kota ini dijuluki kota sejuta pejalan kaki. Saya menyaksikan pemadangan ini dipersimpangan Shibuya, Tokyo. Di wilayah ini, kita akan menemukan kerumunan orang yang begitu banyak saat berjalan kaki dan mulai menyeberang. Sedikitnya ada delapan persimpangan saling silang. Yang akan tiba-tiba kosong, lalu hanya hitungan tiga menit akan dipenuhi lautan manusia. Jika Anda berjalan bersama teman, berhati-hatilah, sering kali kita akan terpisah karena banyak dan begitu cepatnya orang-orang berjalan. (*)

Antrian Foto di Patung Hachiko

Di antara saling silang keramaian jalan di Shibuya yang dipenuhi lautan manusia. Salah satu sudut yang juga ramai dikunjungi adalah tempat patung Hachiko berada. Hanya sekitar 30 meter dari persimpangan depalan Shibuya. Patung Hachiko adalah sebuah simbol kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan patung ini adalah sebuah kisah nyata. Dulu di stasiun Shibuya ini, Hachiko setiap hari akan bertemu tuannya Profesor Ueno di Universitas Tokyo. Hingga suatu hari di tahun 1925, sang majikan tidak pernah muncul karena sakit dan meninggal. Namun, Hachiko tetap setia datang dan menunggu selama sepuluh tahun hingga akhir tewas, tepatnya 8 maret 1935. Cerita Hachiko ini sangat terkenal, sehingga untuk berfoto saja, kita harus antri. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

Sekali Mandi di Haneda Rp 120 Ribu

Sekitar tujuh jam kemudian, pesawat yang menerbangkan kami dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, tiba di Bandara International Haneda, Tokyo. Malam yang sudah sangat larut membuat kami menunda perjalanan kami menuju Yodhida, titik awal pendakian menuju puncak Gunung Fuji. Satu-satunya pilihan saya dan teman-teman adalah tidur di bandara Haneda.

Tak hanya kami berlima, ada banyak penumpang yang memilih menginap di bandara malam itu. Dan hampir setiap malam, kursi ruang tunggu bandara disulap menjadi tempat tidur bagi para penumpang yang kemalaman. Pemandangan ini sepertinya sudah menjadi hal biasa, karena petugas sama sekali tak mengusik, bahkan tetap siaga 24 jam. jadi jangan khawatir terlelap tidur, dijamin barang-barang bawaan Anda juga akan aman.

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya kalangan backpacker seperti kami, kalangan eksekutif muda juga banyak yang memilih tidur di bandara. Bandara Haneda sepertinya memang sudah didesain, agar penumpang bisa menginap jika kemalaman. Lihatlah saja salah satu fasilitasnya, di bandara ini disiapkan shower rooms alias kamar mandi. Jadi jangan sekali-kali mandi di toilet, karena pasti akan kena denda.

Sekali mandi shower rooms, saya harus merogoh kocek 1.030 yen atau setara dengan Rp 118.450. Itupun, waktunya dibatasi hanya 30 menit. Jika lewat, meski semenit saja, akan didenda 540 yen. Baru kali ini saya mandi dengan bayaran semahal ini. Terpaksa saya lakukan, selain karena penasaran untuk mencoba dan mengetahui fasilitasnya, saya akan lebih memilih tidak sarapan daripada tidak mandi pagi. (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

3 Comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: