Memori Penghujung Musim Panas di Puncak Fuji

Bagi warga Jepang, mendaki Fuji adalah bagian dari wisata.

Malam berselimut kabut, ditemani gelap, dingin dan gigil. Hujan mengiringi langkah kami berlima, saat bertolak dari Stasiun 5 rute Yoshida, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Penghujung musim panas, September lalu, kami mencoba menaklukkan puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yakni 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebelum mendaki, kami harus membayar restribusi 1.000 Yen atau Rp 115 ribu per orang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Jaket dan mantel membalut tubuh kami, tak ketinggalan headlamp yang siaga di kepala masing-masing. Gelap betul-betul menyelimuti pandangan, tanpa cahaya headlamp, hanya gulita yang kami temukan. Jangankan panorama, bulan dan bintang-bintang pun bersembunyi pada malam. Gelap membuat kami betul-betul tergantung pada cahaya untuk menuntun kami mengikuti jejak jalur pendakian.

Baru sekitar 500 meter kami berjalan menikmati dingin, salah satu teman langsung mengingatkan agar kami tak berjalan di tepian. Tanah berpasir sangat rawan longsor. Setelah melalui Stasiun 6 yang merupakan pusat bimbingan keselamatan. Medan pendakian menanti. Saatnya untuk mengatur pernafasan. Setiap kali menghirup dan melepas udara, maka mulut akan mengepulkan asap. Salah satu sensasi dari udara dingin. Tapi segar memenuhi paru-paru dan pikiran ini.

Dari kejauhan, kerlap-kerlip deretan cahaya memanjakan mata. Memberikan semangat untuk terus mendaki jalan yang semakin terjal. Semula saya mengira, itu adalah cahaya-cahaya tenda para pendaki. Ternyata, cahaya itu adalah deretan pondok penginapan. Hal berbeda yang saya temukan, saat mendaki gunung di Indonesia. Di Fuji, nyaris tak ada ruang untuk membangun tenda.

Sejumlah pondok yang tadi tampak hanya berupa cahaya, kami temukan saat mendekati Stasiun 7. Pondok ini menjual berbagai kebutuhan para pendaki, seperti tongkat, mantel, air minum, makanan. Kebanyakan, pendaki sudah membeli tongkat sejak di tempat star, Stasiun 5. Tongkat ini tak hanya media untuk berbagi beban tubuh, tapi juga media untuk menorehkan stempel dari setiap stasiun. Setiap stempel, harus ditebus senilai 300 yen setara dengan Rp 35 ribu.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Dingin merasuki tulang-tulang dan mulai membekukan langkah kaki ini. Tapi semangat untuk mencapai puncak, serta pendaki-pendaki lain yang terus berjalan membuat saya mengumpulkan semangat melawan gigil dan menembus badai yang mengancam perjalan kami. Hujan kembali mengguyur, saat kami sampai di Stasiun 8, di ketinggian 3.100 meter. Badai membuat saya terpisah dari kelompok. Dingin yang sudah mencapai minus 3 derajat Celcius, membuat kami menghentikan perjalanan. Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendakian menuju puncak ditutup.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Rencana untuk menunggu sunrise di puncak Fuji batal. Kami memilih menginap di Gonsu-muro, tarif yang cukup sensasional, 7.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu per orang permalam. Dengan seharga itu, kami hanya mendapat ruang untuk berbaring seukuran tubuh beralaskan papan. Beruntung kami membawa sleeping bag untuk memberikan kehangatan. Kami hanya sempat istirahat dua jam, karena kami baru masuk pondok pukul 02.00 WIT dan harus segera check out pada pukul 05.00 WIT.

Alarm berbunyi, memaksa kami bangun dan melawan dingin. Kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian. Kabut pagi masih menyelimuti sebagian punggung gunung. Kami kembali menebus kabut dan melawan dingin. Tapi panas tubuh saya tak kuasa mengalahkan dingin, membuat wajah dan tangan saya membeku. Badai dan hujan terus menghadang perjalanan kami menuju puncak. Setelah berjalan empat jam, kami baru bisa tiba di puncak yang juga tetap berselimut kabut.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Cuaca yang kurang bersahabat, membuat kami tak bisa berlama-lama. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun segera turun gunung. Tubuh saya mulai “memprotes”, terutama kaki saya yang makin berat melangkah. Cedera kaki tak terhindarkan akibat keseleo. Agar sakit tak begitu terasa, saya terpaksa berjalan mundur.

***

Gunung Fuji memiliki daya tarik abadi dan dianggap sebagai lambang Jepang. Setiap tahun, banyak warga Jepang dan orang luar yang mendaki. Pemandangan Gunung Fuji konon mampu menenangkan jiwa manusia, dan konon telah menjadi objek ibadah selama berabad-abad tahun lalu. Sebelum abad ke-17, orang-orang dilarang menginjakkan kaki di Gunung Fuji. Khusus perempuan, tidak diizinkan melakukannya sampai awal abad ke-19.

Kini, siapapun diperbolehkan mendaki Gunung Fuji. Tak hanya orang dewasa, banyak anak-anak juga turut serta untuk mencapai puncak Fuji. Bahkan orang-orang tua renta sekalipun tampak masih sangat bersemangat untuk mencapai puncak. Saat musim panas, mendaki Fuji adalah bagian dari kegiatan wisata di Jepang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan Gunung Fuji telah menjadi subyek dari banyak sekali karya seni, salah satu yang sangat terkenal adalah Ukiyoe (kayu-blok cetakan) dari Katsushika Hokusai (1760-1849). Tercatat ada 36 karya yang tercipta hingga 1831.

Gunung Fuji bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satu yang mempengaruhi adalah musim. Konon, Gunung Fuji tidak pernah menunjukkan wajah yang sama dua kali. Wajahnya bisa ditentukan oleh lokasi, sudut, musim, dan waktu. (*)(Koran Tempo Makassar, edisi  5 Desember 2014)

Tips Menuju Puncak Fuji Dengan Aman

  • Kondisi suhu dan cuaca di gunung rentan terhadap perubahan drastis. Jadi sebaiknya tetap siapkan pakaian dan peralatan untuk cuaca dingin dan hujan.
  • Jika langit menunjukkan tanda-tanda petir, berlindunglah di salah satu pondok samapi badai berlalu.
  • Jangan menyimpang dari jalur hiking, sebab sangat berbahaya, tak hanya bisa membuat tersesat tapi juga bisa menyebabkan batu jatuh.
  • Pilihlah daerah aman untuk beristirahat, jangan berhenti di jalan sempit, waspadai batu jatuh.
  • Jika merasa kurang sehat, jangan paksakan untuk melanjutkan pendakian. Terutama jika merasa mengalami gejala penyakit ketinggian.
  • Jika Anda naik berkelompok, jangan terpisah dari kelompoknya.
  • Pastikan Anda membawa air minum yang cukup.
  • Siapkan bekal yang cukup, tapi jangan sampai bawaan Anda terlalu berat.
  • Siapkan uang receh, ketika menggunakan toilet, tinggalkanlah Rp 200 yen atau Rp 23 ribu untuk pemeliharaan toilet di Mt.Fuji.
  • Jangan meninggalkan sampah Anda.

(imhe)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/menikmati-tokyo-dari-ketinggian/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: