Merawat Tradisi di Asakusa

Meski dikepung oleh kehidupan yang serba modern, tapi masyarakat Tokyo tetap merawat tradisinya.

Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo. FOTO/Irmawar

Suasana riuh lalu lalang manusia menyambut, saat kami keluar dari stasiun subway di kawasan Asakusa, Tokyo, Jepang. Tempat ini adalah salah satu kawasan paling populer bagi wisatawan. Terdapat pintu gerbang besar Kaminarimon yang legendaris dan Kuil Sensoji—memiliki lampion terbesar di Tokyo.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pertengahan September lalu, beberapa jam sebelum terbang ke Indonesia, saya menyempatkan datang ke Asakusa. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini, kali pertama 2011 lalu. Bagi Anda yang suka belanja, menyusuri Jalan Nakamise menjadi hal menyenangkan. Sepanjang jalan, kurang lebih 500 meter ada banyak toko yang berjualan souvenir seperti yukata, kimono, baju kaos, gantungan kunci, makanan tradisional Jepang seperti Ningyoyaki (sejenis kue kacang merah). Konon, toko-toko ini sudah ada sejak abad 18, saat itu orang mulai diizinkan untuk berjualan berbagai macam barang untuk keperluan peziarah.

Asakusa adalah pusat hiburan di Tokyo. Pada masa Edo, daerah ini menjadi pusat pertunjukan teater Kabuki dan pertunjukan modern seperti bioskop. Saat perang Dunia II terjadi, kawasan ini musnah, hanya menyisakan Kuil Sensoji, yang kemudian dibangun ulang.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sebelum menjelajah kawasan kuil lebih jauh, bersama kawan saya dari Jambi. Menikmati es krim rasa anggur adalah pilihan paling tepat, menemani siang yang cukup panas. Untuk menikmati sebuah es krim berwarna anggur ini, kami harus menebusnya seharga 350 Yen atau setara dengan Rp 40 ribu. Saya kira harga yang pas untuk mendapatkan kesegaran buah anggur yang begitu lembut di lidah. Yummy.

Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo. Selain wisatawan asing, di tempat ini, kita bisa bertemu banyak warga Tokyo yang mengenakan kimono, mulai dari yang bermotif modern hingga tradisional. Banyak wisatawan yang tidak melewatkan untuk berfoto bersama perempuan-perempuan Jepang ini dengan latar Kuil Sensoji.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sensoji adalah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Di tempat ini, kita bisa melihat tradisi masih dirawat oleh masyarakat Jepang. Mereka yang datang tak sekedar berwisata, sebagian datang untuk beribadah. Kita bisa melihat serangkaian prosesi ibadah. Mulai dari mencuci tangan, mulut, bahkan ada yang meminum sumber air yang terdapat patung Sun Go Kung. Di dalam kuil utama, orang-orang berdoa, melempar koin, membakar lilin, serta mengambil ramalan. Dan saya sibuk mengambil gambar mereka menggunakan ponsel.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Setelah puas mengambil gambar, saya kembali menyusuri Kaminarimon Gate. Karena rasa haus kembali menyerang, sekarang giliran es krim teh hijau menjadi pilihan saya. Awalnya saya mengerutkan wajah, tapi lama-lama lidah saya terbiasa dengan rasa tehnya yang sangat kuat.

 

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Bagi Anda yang tidak cukup kuat menjelajahi Asakusa dengan berjalan kaki. Anda bisa menyewa Jinrikisha—becak berkapasitas dua orang yang ditarik oleh seorang lelaki. Harganya lumayan, saya sempat ditawari dengan harga 4500 Yen setara dengan Rp 500 ribu.

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Kegiatan merawat tradisi tak hanya saya temukan di Asakusa. Saban sore, begitu kelas di The National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS)—sebuah lembaga riset dan pendidikan pascasarjana milik pemerintah Jepang—tempat pelaksanaan Pertemuan Jurnalis Sains Asia. Saya selalu singgah Kediaman Nogi—salah satu aset budaya—konon tempat yang terletak di kawasan Akasaka, Tokyo ini adalah rumah seorang samurai. Sore itu, sebelum matahari terbenam, saya mendapati mereka menggelar upacara yang sepertinya hanya diikuti oleh anggota keluarga, jumlah mereka tak lebih dari sepuluh orang. Meski Tokyo adalah salah satu kota metropolitan, tapi di tengah kehidupan modern, mereka tetap merawat tradisinya. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  31 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

 

 

 

2 Comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: