Perempuan yang Menenangkan Rindu

Bait-bait puisi Aan dengan ilustrasi Emte tampak saling menguatkan satu sama lain.

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

Penyair M Aan Mansyur kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Foto/Irmawar

“Aku tidak percaya kepada orang-orang yang senang memamerkan kebahagiaan keluarga mereka…”. Selarik kalimat yang membuka puisi berjudul Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia. Barangkali ketidakpercayaan M Aan Mansyur punya alasan kuat. “Saya tak punya foto keluarga,” ungkapnya disela-sela peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Foto keluarga di peluncuran buku kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 15 April 2015. Foto/Irmawar

Melihat Api Bekerja adalah sebuah kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Ada 54 puisi Aan yang ditemani 60 gambar Emte. Perpaduan bait-bait puisi dengan gambarnya tampak saling menguatkan satu sama lain. Padahal mereka hanya bertemu di dunia maya. Pertemuan fisik keduanya baru terjadi pada peluncuran kali ini.

Puisi dan ilustrasi yang saling menguatkan terlihat pada frame foto keluarga. Di sana, tampak sebuah keluarga dengan pakaian-pakaian modern.  Tapi, seperti kata Aan dalam puisinya, bahwa tidak ada yang mampu mereka lakukan selain berpura-pura. Emte menggambarkan anggota keluarga itu adalah manusia-manusia tanpa wajah dengan kepala yang menguap. Sebuah gambaran yang mengharukan.

Foto keluarga adalah salah satu ilustrasi favorit Aan, karena menggambarkan serupa keluarganya. Dia tidak pernah bisa memiliki foto keluarga, karena anggota keluarganya tidak pernah berkumpul lengkap. Jika foto keluarga adalah sebuah simbol kebahagian, maka ada benarnya jika Aan menganggap kebahagiaan sebagai sebuah kejahatan. “Kebahagian itu berbahaya sekali.”

“…Alasan utama mereka bahagia adalah tidak peduli. Mereka  tidak mau tahu kau masih punya alasan lain/ Mereka punya berlembar-lembar foto keluarga yang penuh hal tiruan.”

Sebaliknya, bagi Emte, Menenangkan Rindu adalah puisi favoritnya.  Emte menggambarkan menenangkan rindu adalah sosok perempuan yang tampak dari belakang dengan kedua tangannya saling berpegangan. Emte banyak menggunakan perempuan untuk mendampingi puisi-puisi Aan. “Puisi Aan itu naluriah banget, makanya banyak perempuan,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/Irmawar

Saat membaca puisi Aan, Emte sering kali menemukan dirinya seperti sedang berbicara dengan seseorang dan itu perempuan.  Emte juga menemukan banyak kemarahan.  Dari 60 gambar, hanya 42 karya ilustrasi yang dipajang di Edwin’s Galllery. Pameran akan berlangsung hingga 26 April mendatang.

Emte membuat ilustrasi lebih banyak dari jumlah puisi Aan yang hanya 54. Alasannya, sebab ada beberapa puisi yang melompat-lompat, sehingga Emte tak mampu menggambarkannya hanya dengan satu gambar, butuh beberapa gambar.  Misalnya puisi Menunggu Perayaan, Senja Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam, Hantu Penyanyi, dan Mengunjungi Ambon, masing-masing dengan dua puisi.

Ada juga satu puisi yang digambarkan dengan tiga ilustrasi yakni Mengunjungi Museum, Ketika, Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir Ini Sebagai Dirinya. Bahkan puisi Seorang Lelaki dan Bintang-Bintang yang Hidup dalam Jasnya, Emte menggambarkannya dengan empat ilustrasi. “Ada rasa penasaran yang membuat saya bersemangat,” ungkapnya.

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Kolaborasi puisi dan ilustrasi, penulis M Aan Mansyur dan pelukis Muhammad Taufiq alias Emte. Foto/irmawar

Emte adalah ilustrator dan desainer grafis freelence yang terkenal selalu bermain warna. Tapi kali ini kita melihat warna berbeda dari Emte, hanya putih-coklat. “Saat ini saya sedang memasuki fase dua warna, dan kebetulan mengerjakan buku ini,” ungkapnya. Tapi percayalah, bahwa warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus.

Menurut Denny, salah satu pengunjung menilai bahasa yang diungkapkan melalui ilustrasinya sangat jelas, apalagi dengan permainan detail yang tampaknya sengaja dibangun, sangat membantu pengunjung untuk menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Aan sendiri, melalui puisinya, ia memberikan pintu untuk orang menginterpretasikan karyanya, sebanyak-banyaknya. Seperti puisi Melihat Api Bekerja yang juga dipakai menjadi judul  buku ini. Berbeda dengan ilustrasi Emte yang memilih dua warna, puisi Aan justru mewakili banyak warna. Tentang kekasih, ketergesa-gesaan, kemarahan. Aan mengaku melalui karyanya ini, dia secara tidak langsung mewakili kemarahan ibunya, kemarahan bapaknya, kemarahan tentang masalah publik.

Di ajang ini, Aan juga mengungkapkan keheranannya pada orang-orang Jakarta yang tiap hari mengeluhkan tentang kemacetam, tapi dia tak menemukan satupun karya sastra yang menuliskannya. Salah satu puisinya di buku ini, berbicara tentang kemacetan Jakarta.

Bagi Aan, tulisan itu bagian dari lapisan. Penyair asal Makassar ini sengaja tak menerahkan tahun untuk menyembunyikan sejumlah lapisan-lapisan. “Banyak puisi di buku ini yang menunggu teman-temannya. Ada yang saya buat sejak tahun 2007,” ungkapnya.

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Perempuan yang Menenangkan Rindu. Me

Tak hanya menjadi tempat bersembunyi. Bagi Aan, puisi adalah alat untuk berkomunikasi dengan ibunya. Setiap kali menelpon, Aan selalu membacakan puisi barunya kepada sang ibu. Jika dalam dua pekan tak ada komunikasi, sang ibu pasti menelpon dan bertanya, apakah tak ada puisi baru yang hendak dia bacakan. “Begitulah ibu saya dia tak pernah mau bilang rindu,” kata Aan. Dia  perempuan yang mampu menenangkan rindu. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  17 April 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/04/17/370571/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

http://www.tempo.co/read/news/2015/04/18/114658632/Perempuan-yang-Menenangkan-Rindu

 

3 Comments

  1. nafskafha said,

    May 6, 2015 at 1:53 pm

    siiiip….aku pingin menirunya..

  2. nafskafha said,

    May 7, 2015 at 4:55 pm

    moga dapat kesempatan lagi untuk ngobrol dan tukar cerita tentang literasi

    • saymawar said,

      November 11, 2015 at 10:06 am

      semoga bisa jumpa dan bertukar cerita


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: