Melahirkan Perahu Pustaka

Makassar International Writers Festival 2015

Menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau di pesisir Sulawesi dan Kalimantan.

Semua berawal dari obrolan dunia maya antara Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin, Kamaruddin Azis, dan Anwar Jimpe Rachman. Tepatnya sekitar dua bulan lalu, Nirwan mengusulkan tentang Perahu Pustaka. “Urusan pembuatan perahu, pelayaran hingga pengelolaan saya yang tangani. Kak Nirwan bantu mencarikan pendanaan pembuatan perahu,” kata Ridwan, Pustakawan Perahu Pustaka kepada Tempo, Senin lalu.

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Penulis dan pengamat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan usul itu muncul karena melihat masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Saya sering ketakutan ketika bertemu anak-anak, mereka tidak bisa bercerita dan mimpi. Padahal kalau mereka membaca, mereka bisa menjelaskan dunia mereka dan mungkin punya mimpi yang lain,” ungkapnya dalam sesi Passion in Action, Makassar International Writers Festival, yang digelar di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, kemarin.

Sekitar pukul 07.00 Wita, Rabu kemarin, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh di dermaga depan Fort Rotterdam, Makassar. Ini adalah pelayaran perdana dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang ditempuh selama 14 jam perjalanan mengarungi lautan di selat Makassar. Menurut Ridwan yang juga peneliti maritime dan kelautan Mandar, perkiraan kecepatan kapal mencapai 7-8 knot atau 8 mil per jam.

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka adalah jenis perahu lambung lebar yang dikenal sebagai baqgo oleh orang Mandar dan pattorani oleh orang Makassar. kata Ridwan, jenis perahu ini sudah jarang digunakan karena dari segi hidrodinamis, perahu ini tidak laju. Tapi dahulu disukai karena bisa memuat banyak barang, berbeda dengan jenis phinisi.

Dahulu, nelayan mencari teripang ke Australia dengan kapal baqgo, orang Makassar sendiri menggunakannya untuk mencari ikan terbang. Kelebihan lainnya, kata Ridwan karena perahu ini relatif stabil dan bisa masuk ke sungai. Menurutnya, sampai tahun 80-an, jenis kapal ini masih banyak di Mandar. “Sekarang sudah jarang, tapi saya pernah melihat di Mandar, Bira dan Galesong.”

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Dalam budaya adat Mandar, perahu itu serupa anak. Karenanya, kata Ridwan, saat proses awal pembuatan perahu dipakai simbol-simbol kesuburan yang identik dengan hubungan suami-istri. “Kayu lunas disentuhkan ke putting susu tukang sebagai simbol disusui. Lalu saat penyambungan lunas, ada pemeran laki-laki dan juga perempuan. Saat memasukkan lunas, terlebih dahulu dilumuri dengan kelapa dan air yang sebelumnya direndam emas, ini simbol sperma,” jelas Ridwan.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

***

Adapun penggunaan nama Pattingalloang, kata Ridwan, sebagai pengingat adanya hubungan antara Mandar dan Makassar dalam sejarah kemaritiman. Dan kebetulan ada momen MIWF yang juga mengangkat tokoh inspirasi Karaeng Pattingalloang. “Dalam masa pembuatan perahu, kemudian ada ide memperkenalkan Perahu Pustaka di ajang MIWF 2015 ini,” ungkap Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang rencananya akan digunakan untuk menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau yang berada di pesisir Sulawesi dan Kalimantan. Kapal ini diperkirakan mampu memuat ribu-10 ribu buku. “Kebanyakan buku anak-anak, karena targetnya memang anak-anak pesisir,” ungkap Ridwan yang memilih resign sebagai jurnalis untuk lebih fokus mengurus Perahu Pustaka ini.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Selain perpustakaan, kata Ridwan, Perahu Pustaka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar teknik-teknik pelayaran tradisional. Salah satu peserta diskusi di Unhas, kemarin, siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian studi di Perahu Pustaka. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  04 Juni 2015)

 

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/04/374352/Melahirkan-Perahu-Pustaka

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: