Pemikiran Semesta Karaeng Pattingalloang

Makassar International Writers Festival 2015

Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat.

Seorang ibu mencoba memperkenalkan sosok cendikiawan Makassar abad ke-17, Kareang Pattingalloang kepada anaknya. Bersama anaknya, sang ibu mendatangani sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Pattingalloang. Cuaca yang cukup cerah menemani perjalanan mereka ke makam Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Tak berhenti disitu, sang ibu juga mengajak putranya ke museum Karaeng Pattingalloang yang terletak di Benteng Somba Opu.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Adegan ini membawa saya ke masa 20 tahun lalu, dimana saya hanya mengenal Karaeng Pattingalloang sebagai nama pasukan yang  tersemat di seragam pramuka saya. Seperti anak itu, saya pun tak cukup kenal sosok Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654) yang menguasai banyak bahasa asing.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo IV yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang. Sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, menyukai ilmu sains dan belajar secara otodidak, serta update akan temuan-temuan terbaru dunia.  Seorang misionaris Katholik, Alexander Rhodes, pada 1646 menulis “Karaeng Pattingalloang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat…”.

Siapa Karaeng Pattingalloang akan diceritakan secara singkat dalam film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Film berdurasi sekitar 15 menit ini akan ditayangkan saat pembukaan Makassar International Writers Festival 2015, malam ini di Fort Rotterdam. Film garapan Andi Burhamzah ini diproduksi oleh Timur Pictures bekerjasama Rumata’ Art Space atas dukungan Bosowa Foundation.

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

“Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat,” kata Riri Riza, produser film pendek Patingalloang, yang dihubungi Senin lalu. Memproduksi video pendek dari subjek utama yang menjadi tema festival sudah menjadi ciki MIWF setiap tahun.

Setiap tahun, MIWF akan menghadirkan sosok-sosok tokoh inspirasi asal Sulawesi Selatan. Tahun lalu ada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang lurus dan tegas. Tahun sebelumnya ada AM Dg Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar. Tahun 2012, almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada almarhum Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF pertama tahun 2011 lalu.

Pendiri dan Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, tahun ini kami memilih Kareang Pattingalloang  sebagai tokoh dengan tema pengetahuan dan semesta. “Tokoh yang ada dan tak banyak tahu,” ungkapnya dalam jumpa pers di Kafe Mama Bau Mangga, kemarin.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Siapa dan bagaimana kiprah sosok Karaeng Pattingalloang akan dikupas lebih mendalam dalam seminar “Karaeng Pattingalloang : Knowledge & Universe”, Kamis besok di Auditorium Aksa Mahmud. Dengan pembicara Nirwan Ahmad Arsuka, JJ Rizal, dan budayawan Sulawesi Selatan, Alwy Rachman.

Kurator MIWF, Aslan Abidin yang ditemui secara terpisah mengatakan momen ini bisa menjadi langkah awal untuk menelusuri kapasitas intelektual Pattingalloang. “Dari catatan yang akan, Pattingalloang disebut tertarik ilmu pengetahuan, lalu kenapa karakter dan semangat intelektualnya tidak menurun ke masyarakat Sulawesi Selatan.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/03/374260/Pemikiran-Semesta-Karaeng-Pattingalloang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: