Jejak Rempah Nusantara

Keberadaan rempah-rempah adalah salah satu alasan kolonial Barat menguasai Nusantara.

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Perahu Rempah dari Mandar di ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Foto/Irmawar

Tiga tiang layar perahu Padewakang—cikal bakal perahu Phinisi—berdiri  kokoh di halaman Gedung Museum Nasional. Perahu dengan lambung membulat ini mengantar setiap pengunjung museum mengarungi Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week, yang berlangsung 18-25 Oktober lalu. Sebuah pameran yang mencoba menunjukkan bagaimana keberadaan rempah-rempah menjadi alasan penjelajahan dunia sampai ke bumi Nusantara.

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Pala dari Ternate. Foto/irmawar

Di lobi museum, pengunjung disuguhkan foto-foto tentang wajah Indonesia,  di antaranya hasil jempretan Danny Tumbelaka. Memasuki ruang pameran, pengunjung disuguhkan film pendek tentang jejak rempah Nusantara.  Film berdurasi sekitar tiga menit itu bercerita tentang kehidupan Nusantara mulai dari masa sebelum Masehi hingga sekarang, bagaimana rempah-rempah menjadi komoditi berharga dan mempengaruhi kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Foto/Irmawar

Aroma khas rempah-rempah menganjak saya berpindah ruangan.  Cengkeh, pala, lada, merica, ketumbar, kemiri, kayu manis dan kayu kapur. Sampel-sampel rempah ini ditaruh dalam kotak kaca, bagi pengunjung yang ingin menikmati aromanya, bisa menghirup aromanya melalui lubang kecil yang disiapkan.

Berbicara soal Jalur Rempah Nusantara, kita akan diajak berlabuh ke Barus—salah satu kota kuno yang terkenal di seluruh Asia sejak abad ke-6 Masehi.  Barus menjadi tempat persinggahan dan tempat pemuatan bagi pedagang asing mencari bahan baku, wangi-wangian, dan obat-obatan. Barus didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, berkat hasil hutannya, terutama kamper  dan kemenyan. Tapi sekarang, masyarakat Barus hanya mengenal pembuatan minyak dari kayu kapur yang dikenal juga sebagai minyak umbil.

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Pipisan Rempah yang ditemukan di Karawang. Foto/Irmawar

Dari Barus, ruang-ruang pameran mengajak kita menjelajahi kerajaan-kerajaan di Nusantara, saya ditemani Raden, salah satu pemandu. Mulai dari Banten, Sriwijaya sampai Majapahit.  Di ruang-ruang pameran ini, kita bisa menemukan bagaimana akhirnya kekuasaan kolonial Barat menguasai Nusantara yang mulanya datang untuk berdagang rempah-rempah. Hingga kolonial sampai ke kawasan timur, hal ini bisa dilihat dari ilustrasi penyambutan Admiral Belanda Van Neck oleh Sultan Ternate yang dibuat  oleh Theodore De Bry tahun 1598.

***

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Jalur Rempah ini berkaitan dengan jalur-jalur pelayaran orang-orang Mandar dahulu. Dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937 – 1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar (yang berlangsung sampai saat penjajahan Belanda), bukan hanya terbatas sampai Maluku, tetapi bahkan sampai ke Papua Nugini.

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Seni Instalasi Jalur Rempah. Foto/Irmawar

Dari catatan Caron dan Leijdst, diketahui jalur pelayaran utama para pelaut Mandar mengikuti garis timur-barat, yaitu Mandar – Borneo – Jawa – Sumatera – Singapura ke barat, dan sekembalinya dari Singapura mereka menempuh pula jalur pelayaran ke Ambon, Ternate, Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Irian dan juga ke Australia Utara untuk menangkap/membeli teripang. Didapati juga jalur-jalur pelayaran utara – selatan, yaitu jalur utara ke pelabuhan di Sulawesi Utara (Donggala – Tolitoli) sampai ke Philipina. Jalur ke selatan menuju ke Pulau Jawa dan terus ke pulau-pulau di NTB, NTT, dan Timor.

Lalu apa peran Mandar dalam Jalur Rempah atau perdagangan rempah? Bersama dengan Makassar, Bugis, dan Buton, pelaut Mandar adalah suku yang memiliki peran penting dalam perdagangan maritim di masa lalu. Pada bulan September, JJ Rizal, sejarawan yang terlibat di proyek Pameran Jalur Rempah sebagai kurator, datang ke Mandar bersama pihak event organizer untuk memesan pembuatan perahu yang konstruksinya menyerupai perahu yang dulu digunakan  berdagang. “Awalnya hanya potongan haluannya saja, tapi saya usulkan perahu utuh dengan anggaran yang sama,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, koordinator pembuatan Perahu Rempah.

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Dari hasil kajian pustaka dan sumber referensi termasuk relief Candi Borobudur, maka dipilihlah perahu yang oleh masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar dikenal sebagai perahu Padewakang. Perahu ini digunakan pelaut dan nelayan Mandar dan Makassar ratusan tahun lampau. “Saya perlihatkan desain perahu Padewakang untuk dicocokkan dengan pengetahuan mereka,” ungkap Ridwan.

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Jalur Rempah Nusantara. Foto/Irmawar

Berdasar foto dan teknik pembuatan perahu tradisional, Perahu Rempah dibuat di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Rampung dibuat 8 Oktober, pada hari yang sama, lambung perahu  yang panjangnya 10 meter dipotong menjadi tiga bagian untuk kemudian dimasukkan ke kontainer. Pada 15 Oktober malam, tukang Perahu Rempah Anwar dan Sakaria dibantu tiga pelaut Asad Mana, Yahya dan Arif serta teknisi Muliadi. Proses penyusunan ulang perahu mulai dari lambung, haluan, buritan, atap, dan layarnya berlangsung selama tiga hari.

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Jalur Rempah: the untold story, tema ajang The Museum Week. Foto/Irmawar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memimpin ritual akhir sebagai penanda selesainya perahu. Dengan memahat “sanggilang baine” atau sanggar kemudi bagian bawah Perahu Rempah. “Dalam tradisi pelaut Mandar, tempat kemudi dan nakhoda adalah faktor penting dalam keselamatan pelayaran,” kata Ridwan kepada Anies. (*)  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  06 November 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/11/06/386677/Jejak-Rempah-Nusantara

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: