Membaca Literasi Kopi Nusantara

Teguk selagi hangat agar sensor perasa bekerja maksimal.

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Aroma kopi Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua mampu memikat orang-orang untuk singgah di salah satu stand di Festival Indonesia Membaca, yang berlangsung 22-24 Oktober di Karawang, Jawa Barat. Penulis yang juga berprofesi sebagai barista, Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi nusantara.

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Faiz menyajikan kopi-kopi kualitas premium yang diproses secara natural. Tak sekedar meracik, tapi sang barista juga menjelaskan bagaimana rasa sebuah kopi sangat dipengaruhi tempat dimana kopi. Jadi meski semua jenisnya arabika, tapi rasa arabika yang ditanam di Gayo, Toraja, dan Baliem, pasti memiliki cita rasa yang berbeda.

Sambil menunggu airnya mendidih, Faiz menggili kopi dengan mesin grinder. Untuk 10-14 gram biji kopi, dibutuhkan 150 milliliter air. Kopi yang telah digiling dimasukkan ke dalam rockpresso—alat untuk memeras sari kopi—lalu siram dengan air yang telah dididihkan. Sebelum menuangkan air panas, air diamkan sejenak. Untuk suhu air, sang barista tampak begitu ketat, dia bahkan mengukur suhu air dengan termometer, setelah menunjukkan 95 derajat celcius, barulah dituang ke wadah rockpresso. Lagi-lagi didiamkan sejenak, lalu ditekan agar sari kopinya keluar.

Aroma sari kopi mulai terasa. Sebelum meminum, Faiz menganjurkan agar menghirup dan menikmati aromanya terlebih dahulu. “Kopi bisa menjadi aroma terapi bagi saraf kita,” ungkapnya. Selanjutnya bisa diminum. Untuk mendeteksi kekhasan rasa kopi, kumur sari kopi sebelum ditelan.“Kopi sebaiknya diteguk selagi hangat agar sensor perasa kita bekerja maksimal.”

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Untuk menikmati citarasa kopi, kata Faiz, sebaiknya jangan langsung diberi gula. Lalu bagi Anda yang sudah terbiasa dengan sajian kopi susu atau latte, sebaiknya gunakan susu jenis UHT.  Jangan kental manis, karena memiliki kadar asam, kurang cocok dengan arabika yang juga memiliki kadar asam yang tinggi.

***

Sejak April lalu, Faiz yang juga pustakawan dan perintis Radio Buku, membuka Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”—nama yang diambil dari artefak pers Indonesia di kawasan Yogyakarta yang tahun ini genap berusia satu abad.

Sebelum membuka kafe, Faiz sendiri sudah aktif bersama teman-teman di Komunitas Kopi Lover—sebuah komunitas pencinta kopi—para pencinta kopi ini membangun jaringan dalam bentuk komunitas yang sifatnya tidak mengikat. Bersama-sama para pecinta kopi di komunitas ini, Faiz juga aktif memberikan edukasi kepada petani, terutama proses pasca panen. “Bagaimana kami mengajak mereka melakukan proses yang dianggap tepat yang baik.

Living Library. Foto/Irmawar

Living Library. Foto/Irmawar

Proses pengolahan kopi yang dikenal ada dua yakni hani dan natural proses. Hani adalah proses petik masak, cuci, pengupasan, dan penjemuran lagi yang dilakukan sekitar seminggu. Proses hani ini mampu mengurangi kadar air biji kopi hingga 40 persen. Sementara untuk kopi yang melalui natural proses, kadar airnya lebih rendah. Untuk natural proses, kata Faiz butuh waktu yang lebih lama yakni 2-3 tahun penyimpanan, lalu dijemur lagi. “Semakin kurang kadar airnya, maka kadar kafein kopi juga semakin rendah,” ungkap Faiz. Tak sekedar pengolahan, komunitas ini juga menganjurkan ke petani untuk memanen buah kopi kualitas cerry atau petik masak.

Selain literasi kopi yang disuguhkan oleh Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”, di stand ini, Anda juga bisa membaca buku-buku terbitan Komunitas Literasi Makassar, Inninawa dan Radio Buku, ada mading Pelangi, juga bisa menonton video dokumenter karya teman-teman di Kampung Halaman. Mengenal citarasa nusantara melalui kopi.  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

Kopi dan Kekuasaan

Keberadaan kopi di Nusantara sangat erat kaitannya dengan kekuasaan, terutama di kawasan Timur Indonesia. “Kopi dan kekuasaan sangat terlihat di wilayah Timur dibanding Jawa,” kata Faiz Ansoul, penulis dan pustakawan Radio Buku, saat ditemui di Festival Indonesia Membaca di Karawang, Jawa Barat, Jumat lalu.

Menurut Faiz yang juga berprofesi sebagai barista ini, di Jawa, seperti Yokyakarta, tanah-tanah dikuasai oleh keraton, sedangkan di luar Jawa, lahan kebanyakan dikuasai tuan tanah. Lahan kopi di Jawa juga tak sebanyak di Sumatera. “Rasa kopi sangat dipengaruhi tempatnya dimana ditanam,” ungkap Faiz. Karena setiap daerah punya citarasa kopi yang khas.

Di Sulawesi juga terkenal dengan kopi Arabika asal Toraja. Menurut peneliti genetik kopi dari Universitas Hasanuddin, Andi Ilham Latunra, di Sulawesi Selatan tepatnya di Enrekang terdapat areal purba yang dikenal sebagai tanah Lixisol Podzolik. Keberadaan perkebunan rakyat di Enrekang dan Toraja mulai dikenal sebagai penghasil kopi Kalo sejak 1750.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

Pada abad XIV, keberadaan perkebunan kopi Arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, poselen, tembikar dan kain, untuk dituker dengan kopi. Tahun 1887-1888, pasar kopi di Toraja didominasi Kerajaan Luwu. Mengakibatkan meletusnya Perang Kopi 1, dimana terjadi persaingan merebut sumber kopi oleh pedagang, hal ini menimbulkan banyak kerusakan di Toraja.

Pasukan kerajaan Bone dibawa pimpinan La Maddukelleng Petta Ponggawa memasuki Toraja pada 1898, mengakibatkan Perang Kopi II, karena masyarakat Toraja bersama Puang Tallu Lembangna melakukan perlawanan.

Tahun 1890, La Tanro Puang Mallajange ri Buttu Mario, Raja Agung Enrekang XVI menghentikan perang kopi dan mengatur tata niaga baru perdagangan kopi di Toraja dan Enrekang. Kerajaan Enrekang dan Kerajaan Tallu Lembangna takluk pada pasukan Belanda pada 1906. Penjajah kemudian membangun onderneming  di Bolokan dan Pedamaran. Selanjutnya, pada 1912, tata niaga kopi Toraja dilaksanakan oleh saudagar Cina, di antaranya Baba Pamarrasadan, Kwie Tjai Hind an Ing Goe An.

“Masih terdapat pohon induk Tipika yang berusia 250 tahun di Toraja dan Enrekang,” ungkap Ilham yang dihubungi terpisah. Kopi tipika alias Arabika Tipika dikenal juga sebagai Kopi Kalosi.(Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: