Dunia Kekeluargaan dalam Pasar

Di pasar lokal, pedagang mengidentifikasi pembelinya dengan bahasa ibu mereka.

Aroma buroncong, kayu bakar, asap, dan matahari pagi yang menyatu. Perut keroncongan memaksa saya langsung menyambar buroncong yang baru saja diangkat dengan gancu dari pembakaran. Panas yang masih mengepul dari penganan khas Makassar ini membuat saya sibuk meniup-niup, sebelum mengigitnya. Aroma kelapa yang terbakar dari buroncong begitu wangi dan menggoda.

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Saya tidak sendiri, ada beberapa pembeli lain yang juga berdiri di sekitar gerobak dorong buroncong. Satu, dua, tiga buroncong yang berpindah ke dalam perut saya. Cukup memberi tenaga untuk berkeliling Pasar Cidu yang berada di Kecamatan Ujung Tanah. Saya menyusuri Jalan Tinumbu untuk mencari teman-teman dari Katakerja, di kiri kanan jalan, berjejer lapak-lapak yang didominasi penjual cakar—pakaian bekas pakai. “Buka baru, buka baru,” kata beberapa pedagang. Buka baru—adalah istilah barang yang baru dibongkar dari karung.

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Berdelapan, bersama teman-teman dari Katakerja—sebuah komunitas ruang baca— dan Active Society Institute (AcSI) kami menyusuri lorong-lorong Pasar Cidu yang menjadi bagian dari acara Jappa-jappa ri Pasara—jalan-jalan di pasar—Ahad pagi lalu. Penulis/penyair M Aan Mansyur dan seorang pemerhati pasar lokal Zainal Siko turut dalam acara jalan-jalan kali ini.

Pasar Cidu adalah satu dari empat pasar utama di Makassar. Cidu sendiri adalah bahasa Makassar untuk buah nangka. Menurut Zainal, pemberian nama Pasar Cidu ini, karena di kawasan ini dulu banyak tumbuh pohon nangka. Kawasan Pasar Cidu, dulunya adalah gusung yang menjadi tempat persinggahan orang-orang pulau, pertemuan terjadi begitu pula transaksi. Seperti namanya, Pasar Cidu identik sebagai pasar buah.

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Pasar Cidu ini kemudian melahirkan Pasar Panampu dan Pasar Tinumbu. “Jadi ada pedagang-pedagang ‘pemburu dollar’ yang berjualan pagi di Cidu, siang sampai sore di Panampu, lalu lanjut malam di Tinumbu,” ungkap Enal—sapaan akrab Zainal.

Selain Cidu, tiga pasar utama lainnya adalah Pasar Butung yang merupakan pasar tertua di Makassar berdiri 1917, disebut Butung karena dulu ada banyak orang-orang Buton yang identik dengan kulit hitam. Lalu ada Pasar Kalimbu yang berarti berselimut atau bersarung, dan memang benar, di pasar ini kita akan menemukan banyak orang-orang yang berjualan sambil bersarung. Sebab transaksi di pasar ini sudah berlangsung sejak pukul 02.00 hingga pagi hari. Lalu ada Pasar Lette, yang terletak di Kampung Lette, lette—sendiri berarti berpindah-pindah.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Lette ini melahirkan Pasar Sambung Jawa. Pasar Butung yang identik menjual garmen kemudian melahirkan Pasar Sentral (sekarang dikenal sebagai Makassar Mall), Pasar Sentral ini juga melahirkan Pasar Bacan. Sedangkan Pasar Kalimbu yang berdiri 1920 adalah pasar tertua kedua di Makassar, kemudian melahirkan Pasar Terong yang barang dagangannya didominasi sayur-mayur seperti induknya.

Pasar Terong berdiri pada 1960, kala itu pagandeng dan palapara dari Pasar Kalimbu berkembang sepanjang Jalan Terong. Dalam buku ‘Pasar Terong Makassar: Dunia Dalam Kota’ menyebutkan, Pasar Terong pada tahun 1964 masih berupa rawa-rawa, jika hujan tiba maka kawasan pasar akan tergenang air. Tahun 1970, lokasi bekas kampung warga, oleh pemerintah kemudian dibangun pasar permanen berupa front toko dan los berbentuk huruf U. Setahun kemudian, Pasar Terong berfungsi permanen dan diresmikan oleh Wali Kota Makassar M Daeng Patompo.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Cabai, tomat, dan jeruk nipis adalah komoditi utama yang bisa ditemukan di Pasar Terong. Enal, yang juga pendamping pedagang Pasar Terong mengungkapkan jika jeruk nipis tak ada lagi di Terong, sering kali jeruk nipis dari Makassar yang sudah tiba di Jakarta dikirim lagi ke Makassar. Masyarakat Makassar memang akan sulit menikmati makanan tanpa jeruk nipis, sebab hampir semua makanan khasnya menggunakan jeruk nipis, sebut saja coto, konro, sop saudara, ikan bakar, sampai nasi goreng.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Menurut Enal, pasar itu lahir dari budaya kekeluargaan. Dimana orang-orang yang terlibat, mulai dari pedagang hingga pembeli hidup secara kekeluargaan. Enal yang juga anggota divisi kota di AcSI ini mengungkapkan budaya kekeluargaan ini bisa dilihat saat melakukan transaksi, pedagang biasanya mulai menawarkan barang menggunakan bahasa ibu mereka (misalnya Bugis/Makassar), biasanya pembeli yang masih satu suku akan menjawab dengan bahasa lokal. Tapi jika tak mendapat tanggapan, maka sang pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia. Dari bahasa inilah, pedagang mengidentifikasi pembelinya.

Di era supermaket dan minimarket mengepung Kota Makassar, sekelompok anak muda kembali menjelajah lorong-lorong pasar. Melakukan interaksi kekeluargaan. Ada tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Dan hanya dengan selembar uang 50 ribuan, teman-teman dari Katakerja membawa pulang hasil belanjaan, dimasak untuk makan siang. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

Gogoso Khas Pasar Kampung Baru

Aroma daun pisang yang terbakar sungguh menggoda pagi kami. Segelas teh susu dan gogoso—penganan khas Makassar—adalah sarapan kedua saya, Rabu pagi lalu, di Pasar Kampung Baru, Kecamatan Wajo, Makassar. Sebab, saya sudah sarapan bubur ayam sebelum keluar rumah.

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Membuka daun pisang yang membalut, lalu pada gigitan pertama, aroma wangi daun cemangi langsung memenuhi mulut. Gurih beras ketan bercampur abon ikan tuna adalah perpaduan yang sangat pas.

Gogoso buatan Siti Kasturi adalah salah satu jajanan khas di Pasar Kampung Baru Makassar, yang bersebelahan dengan Fort Rotterdam. “Saya sudah lebih dua puluh tahun berjualan gogoso,” ungkap perempuan berusia 80 tahun ini.

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Turti—sapaan Kasturi—mengaku, sudah punya konsumen sendiri. Dalam sehari, rata-rata ia menjual 300 biji gogoso yang dihargai Rp 7 ribu per biji. Ia akan membuat gogoso lebih banyak dihari Sabtu dan Minggu, karena konsumennya banyak juga orang-orang yang habis olahraga di Taman Macan. “Sebelum jam sepuluh pagi, dagangan saya sudah habis,” ungkap Turi, sembari mengipas pangganan gogosonya. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/01/13/391231/Dunia-Kekeluargaan-dalam-Pasar

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: