Tapak Tangan dan Sejarah Manusia Leang

Tapak tangan atau tradisi membedaki rumah adalah penanda bahwa telah berpenghuni.

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Langit biru begitu jernih, hamparan sawah nan hijau berpagar bukit-bukit karst yang menjulang dan cadas, berderet tak beraturan tapi memikat. Gugusan pegunungan karst di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan memiliki ratusan leang—sebutan gua oleh masyarakat setempat—yang menyimpan sejarah panjang manusia di Sulawesi Selatan dan Nusantara.

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-Leang Maros. Foto/Irmawar

Di dinding dan langit-langit leang, kita masih bisa melihat lukisan berupa cap tangan, babirusa, lukisan manusia, juga kerang-kerang laut. “Konon kerang-kerang laut ini adalah sisa makanan manusia penghuni leang,” kata Lahab, sambil menunjukkan beberapa bekas kerang-kerang yang menyatu dengan karst di Leang Pettae, Jumat 5 Februari lalu. Pria berusia 52 tahun ini adalah salah satu juru pelihara di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, yang berada di kawasan Bantimurung-Bulusaraung.

Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Di kawasan Bantimurung, kata Muhtar, Koordinator Taman Prasejarah Leang-leang Maros kepada Tempo, terdapat 67 leang yang memiliki lukisan atau cave art. Dari jumlah ini, baru tujuh leang yang telah diteliti yakni Jarie, Lompoa, Timpuseng, Sampea, Jing, Barugae, dan Salendrang. Tapi sebelum menjelajahi leang-leang yang menyimpan sejarah perjalanan manusia, sejenak kami beristirahat menikmati sejuknya udara di kawasan wisata Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, menunggu Jumatan selesai.

Pematang Sawah Menuju Leng Timpuseng. Foto/Irmawar

Pematang Sawah Menuju Leng Timpuseng. Foto/Irmawar

Untuk sampai ke Leang Timpuseng, kami harus meniti pematang yang menjadi pembatas sawah-sawah yang masih hijau. Berjalan di bawah terik matahari dengan angin yang bertiup lembut, cukup membantu mengusir lelah kaki kami. Setelah melalui pematang sawah yang berkelok-kelok, sampailah kami di mulut leang, tapi sebelum masuk, pintu pagar yang tergembok terlebih dahulu di buka oleh pak Muhtar.

Agar bisa melihat lukisannya dengan jelas, saya mengikuti pak Muhtar dengan memanjat tebing-tebing gua agar lukisan bisa tampak lebih dekat. Tapak-tapak tangan masih cukup jelas, ada juga lukisan babirusa—salah satu hewan purba khas pulau Celebes–, dan satu lagi ada sebuah tapak yang mirip tapak tangan tapi hanya terdiri dari tiga jari yang cukup panjang. Muhtar tak sekedar memberikan penjelasan tentang lukisan-lukisan gua tersebut, tapi juga menunjukkan beberapa bagian lukisan yang menjadi tempat pengambilan sampel untuk bahan penelitian.

Pak Muhtar menunjukkan lukisan di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Pak Muhtar menunjukkan lukisan di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Juni 2015 lalu, peserta The 5th Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium juga diajak melakukan perjalanan sehari ke Leang Timpuseng ini. Trip mereka ditemani langsung oleh Maxime Aubert, arkelog dari Griffith University di Queensland, Australia, salah satu tim peneliti Cave Art di Maros ini.

Kata Maxime, lukisan gua ini diperkirakan dibuat 39 ribu tahun lalu. Penemuan di pulau Sulawesi ini memperluas jelajah eksodus manusia modern dimana lukisan serupa ditemukan terlebih dahulu di Eropa. Menurut Maxime, lukisan-lukisan yang dibuat sama-sama spesies mamalia yang mungkin memiliki peranan penting dalam hidup dan kepercayaan orang-orang saat itu.

Tapak Tiga di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Tapak Tiga di Leang Timpuseng. Foto/Irmawar

Lukisan-lukisan leang ini, kata arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri yang ditemui terpisah di kampus Unhas mengungkapkan, bahan yang dipakai untuk melukis mengandung zat uranium radioaktif. Bentuk leang ini cukup beragam, ada yang hanya berupa mulut, ada juga yang mengandung lorong-lorong yang berliku dengan kedalaman ratusan meter. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang harus dijaga.

Akhir 2014 lalu, Journal Science merilis sepuluh penemuan ilmiah terheboh. Salah satunya adalah lukisan tangan di Gua Salendrang, Maros, Sulawesi Selatan, yang usianya diperkirakan 35 ribu-40 ribu tahun. Goresan tersebut diciptakan dengan mencipratkan dan meniup cat berwarna merah di tangan, kemudian ditempelkan ke dinding gua. Lukisan itu bercampur dengan gambar babirusa berwarna merah serta pigmen berwarna mulberi. Penemuan ini menggambarkan jenis lukisan tersebut sudah dikenal di seluruh dunia, bahkan hingga Afrika, sejak 60 ribu tahun silam.

***

Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Foto/Irmawar

Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Foto/Irmawar

Meninggalkan jejak tapak-tapak tangan, kata Lahab, 52 tahun adalah sebuah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat tradisional di kawasan Bantimurung saat hendak masuk rumah baru, khususnya rumah panggung yang dikenal dengan sebutan bedak rumah. “Tiang-tiang rumah akan diberi penanda tapak-tapak tangan untuk penolak bala,” ungkap pria yang sudah menjadi juru pelihara di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros, sejak 1984 lalu.

Bedak rumah ini menggunakan pewarna alami yang dikenal tanaman tawarrang—semacam tanaman yang mirip cocor bebek. Sebelum membedaki rumah, terlebih dahulu dilakukan ritual menggendong ayam sambil mengelilingi rumah sebanyak 3 kali.

Tradisi membedaki rumah ini adalah salah satu warisan leluhur yang jika ditarik kesamaannya dengan tapak-tapak tangan di leang, adalah sebuah simbol atau penanda bahwa rumah atau leang tersebut sudah memiliki penghuni. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  18 Februari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/02/18/393782/Tapak-Tangan-dan-Sejarah-Manusia-Leang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: